Google

Mengapa Guru Harus Profesional?

Written on:January 13, 2011
Comments
Add One

MENGAPA guru harus profesional? Berikut penjelasan Dr. Agus Taufiq, M.Pd. Kepala Divisi Pendidikan Profesi dan Jasa Keprofesian Universitas Pendidikan Indonesia di tengah acara sosialisasi dan koordinasi penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru, di Gedung Pertemuan UPI, Rabu (12/1):

Pertama, sebab, saat ini terjadi perubahan yang sangat cepat dalam segala aspek kehidupan. Perubahan tersebut berdampak terhadap tuntutan akan kualitas pendidikan secara umum, dan kualitas pendidikan guru secara khusus untuk menghasilkan guru yang profesional.

“Itulah sebabnya, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dan, tuntutan peraturan perundangan bahwa guru harus berkualifikasi S-1/D-IV dan memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh melalui program pendidikan profesi guru,” kata dia saat mendampingi Prof. Dr. Tjuju Yuniasih, Direktur Akademik UPI.

Dikemukakan, program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan bertujuan menghasilkan guru yang memiliki kemampuan mewujudkan fungsi  pendidikan nasional, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Secara khusus, katanya, program ini bertujuan menghasilkan calon guru yang memiliki kompetensi dalam merencanakan, melaksanakan, menilai pembelajaran, menindaklanjuti hasil penilaian, melakukan pembimbingan dan pelatihan peserta didik, serta melakukan penelitian, dan mampu mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan.

Menjelaskan tentang calon peserta program PPG, Agus Taufiq mengungkapkan, yaitu mereka yang lulus (1) S-1 Kependidikan yang sesuai dengan program pendidikan profesi yang akan ditempuh; (2) S-1 Kependidikan yang serumpun dengan program pendidikan profesi yang akan ditempuh, dengan menempuh matrikulasi; (3) S-1/D-IV Nonkependidikan yang sesuai dengan program pendidikan profesi yang akan ditempuh, dengan menempuh matrikulasi; (4) S-1/D-IV Nonkependidikan yang serumpun dengan program pendidikan profesi yang akan ditempuh, dengan menempuh matrikulasi; dan (5) S-1 Psikologi untuk program PPG pada PAUD atau SD, dengan menempuh matrikulasi.

Seleksi penerimaan peserta didik program PPG dilakukan oleh program studi/jurusan di bawah koordinasi LPTK penyelenggara, kata Agus Taufiq. Mahasiswa yang lulus seleksi kemudian dilaporkan kepada Dirjen Dikti untuk mendapatkan nomor registrasi Program PPG.

Sedangkan prosedur rekrutmen peserta dilakukan dengan cara seleksi administrasi yang terdiri atas seleksi: (1) Ijazah S-1/D-IV dari program studi yang terakreditasi, yang sesuai atau serumpun dengan mata pelajaran yang akan diajarkan (2) Transkrip nilai, (3) Surat keterangan kesehatan, (4) Surat keterangan kelakuan baik, dan (5) Surat keterangan bebas napza.

“Peserta kemudian mengikuti tes penguasaan bidang studi yang sesuai dengan program PPG yang akan diikuti; Tes potensi akademik; Tes penguasaan kemampuan berbahasa Inggris; Penelusuran minat dan bakat melalui wawancara dan observasi kinerja disesuaikan dengan mata pelajaran yang akan diajarkan serta kemampuan lain sesuai dengan karakteristik program PPG; Dan terakhir mengikuti asesmen kepribadian melalui wawancara/inventory atau instrumen asesmen lainnya,” ujar Agus.

Sedangkan matrikulasi dilakukan hanya bagi PPG prajabatan, diikuti lulusan S-1 Kependidikan dan S-1/D-IV Nonkependidikan yang tidak sesuai dengan program PPG yang akan diikuti, harus mengikuti program matrikulasi.

“Matrikulasi adalah sejumlah matakuliah yang wajib diikuti oleh peserta program PPG yang sudah dinyatakan lulus seleksi untuk memenuhi kompetensi akademik bidang studi dan/atau kompetensi akademik kependidikan sebelum mengikuti program PPG,” kata Agus Taufiq.

Matrikulasi diperuntukkan bagi calon peserta Program PPG Pra Jabatan yang belum memenuhi persyaratan yang ditetapkan berdasarkan hasil asesmen (berdasarkan standar kompetensi lulusan melalui tes penguasaan SKL). Sedangkan kurikulum matrikulasi adalah kurikulum S1 kependidikan (dapat berupa matrikulasi matakuliah akademik kependidikan, maupun akademik bidang studi). (ADB)*

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>