Google

Belajar Matematika Menggunakan Komputer Lebih Efektif

Written on:January 31, 2011
Comments
Add One

Bandung, UPI

Peningkatan kemampuan komunikasi matematik siswa yang mendapat pembelajaran kontekstual  berbantuan komputer (PKBK) lebih baik daripada pembelajaran kontekstual (PKnt), dan keduanya lebih baik dari pembelajaran biasa (Peks). Pada level sekolah atas, rata-rata pencapaian dan peningkatan kemampuan komunikasi matematik siswa yag mendapat PKBK lebih baik daripada siswa yang mendapat PKnt dan keduanya lebih baik dari pembelajaran PEks.

“Sedangkan pada level sekolah tengah, rata-rata pencapaian kemampuan komunikasi matematik siswa yang mendapat PKnt lebih baik daripada siswa yang mendapat PKBK. Perbedaannya cukup kecil, bahkan keduanya memiliki rata-rata peningkatan yang sama, tetapi keduanya lebih baik dari Peks,” kata Dr. Yonandi, M.T. saat mempertahankan disertasi berjudul “Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pembelajaran Kontekstual Berbantuan Komputer pada Siswa Sekolah Menengah Atas”, di Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Jln. Setiabudhi, Bandung, Senin (31/1/2011).

Dalam siding senat akademik yang dipimpin Asisten Direktur Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Didi Suryadi, M.Ed., Yolandi mengemukakan, terdapat interaksi antara pembelajaran (PKBK, PKnt, dan PEks) dengan level sekolah (atas dan tengah) terhadap pencapaian kemampuan komunikasi matematik siswa. Perbedaan pencapaian tersebut disebabkan oleh perbedaan pendekatan pembelajaran yang digunakan dan perbedaan level sekolah.

Tidak terdapat interaksi antara pembelajaran (PKBK, PKnt, dan PEks) dengan pengetahuan awal matematik siswa (tinggi, sedang, dan rendah) terhadap pencapaian kemampuan komunikasi matematik siswa. Perbedaan pencapaian tersebut, kata Yolandi, disebabkan oleh perbedaan pendekatan pembelajaran yang digunakan dan perbedaan pengetahuan awal matematika (PAM) yang siswa miliki.

Dikemukakan, ditinjau dari keseluruhan siswa, rata-rata pencapaian dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang mendapat PKBK lebih baik daripada PKnt, dan keduanya lebih baik dari PEks. Pada level sekolah atas, rata-rata pencapaian dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yag mendapat PKBK lebih baik daripada siswa yang mendapat PKnt dan keduanya lebih baik dari PEks. Sedangkan pada level sekolah tengah, rata-rata pencapaian dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang mendapat PKnt lebih baik daripada siswa yang mendapat PKBK, dan keduanya lebih baik dari PEks.

Terdapat interaksi antara pembelajaran (PKBK, PKnt, dan PEks) dengan level sekolah (atas dan tengah) terhadap pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematik siswa, ujar Yolandi. Perbedaan pencapaian tersebut disebabkan oleh perbedaan pendekatan pembelajaran yang digunakan dan perbedaan level sekolah.

“Namun tidak terdapat interaksi antara pembelajaran (PKBK, PKnt, dan PEks) dengan pengetahuan awal matematik siswa (tinggi, sedang, dan rendah) terhadap pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematik siswa. Perbedaan pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematik siswa disebabkan oleh perbedaan pendekatan pembelajaran yang digunakan dan perbedaan PAM yang siswa miliki,” kata pria kelahiran Garut , 6 Februari 1976 ini.

Ditinjau dari keseluruhan siswa, rata-rata pencapaian disposisi matematik siswa yang mendapat PKnt lebih baik daripada PKBK, dan keduanya lebih baik dari PEks. Demikian juga berlaku pada level sekolah, yaitu bahwa rata-rata pencapaian disposisi matematik siswa yang mendapat PKnt lebih baik daripada siswa yang mendapat PKBK dan keduanya lebih baik dari PEks.

“Dalam hal ini, terdapat interaksi antara pembelajaran (PKBK, PKnt, dan PEks) dengan level sekolah (atas dan tengah) terhadap pencapaian disposisi matematik siswa. Perbedaan pencapaian tersebut disebabkan oleh perbedaan pendekatan pembelajaran yang digunakan dan perbedaan level sekolah,” kata Yolandi.

Dalam sidang senat akademik dengan memperoleh yudisium “Sangat Memuaskan” ini. Yolandi menambahkan, terdapat interaksi antara pembelajaran (PKBK, PKnt, dan PEks) dengan pengetahuan awal matematik siswa (tinggi, sedang, dan rendah) terhadap pencapaian disposisi matematik siswa. Perbedaan pencapaian tersebut disebabkan oleh perbedaan pendekatan pembelajaran yang digunakan dan perbedaan PAM yang siswa miliki.

“Juka terdapat asosiasi yang positif antara kemampuan komunikasi matematik dengan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa. Asosiasi antara kedua kemampuan juga terjadi pada kelompok siswa yang mendapat PKBK. Tetapi tidak terdapat asosiasi antara kedua kemampuan pada kelompok siswa yang mendapat PKnt,” ujar Yolandi.

Namun tidak terdapat asosiasi antara kemampuan komunikasi matematik dengan disposisi matematik, baik untuk data seluruh siswa maupun untuk data siswa yang mendapat PKnt. Asosiasi antara kedua kemampuan hanya terjadi pada kelompok siswa yang mendapat PKBK. “Tidak terdapat asosiasi antara kemampuan pemecahan masalah matematik dengan disposisi matematik, baik pada data seluruh siswa, pada kelompok siswa PKBK, maupun pada kelompok siswa PKnt,” kata Yolandi.

Ia menjelaskan, penerapan PKBK dan PKnt dapat meningkatkan respons positif siswa dalam mengikuti proses pembelajaran matematika. Penerapan kedua pendekatan pembelajaran ini membuat siswa: (1) lebih mengetahui dan menyadari manfaat matematika bagi kehidupan; (2) dapat saling tolong-menolong, sharing idea, saling berbagi informasi, adopsi, negosiasi, dan adaptasi solusi serta mampu mengemukakan pendapat; dan (3) tertarik dan termotivasi untuk belajar matematika dan tertantang untuk memecahkan masalah yang disajikan. (WAS)


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>