Google

Dibutuhkan, Pemikir Seni

Written on:March 4, 2011
Comments
Add One

Bandung, UPI

Kesenian sesungguhnya kebutuhan sekunder, bahkan mungkin tertier dalam urutan kebutuhan manusia, setelah pangan dan sandang. Namun pada kenyataannya, perhatian manusia dewasa ini sebagian besar dicurahkan kepada seni. Sejak bangun tidur, seseorang sudah disentuh oleh jam weker dengan lagu kesukaan. Pergi bekerja mengendarai mobil sambil mendengarkan musik. Di tempat kerja, seseorang bekerja ditemani lagu kesukaan. Bahkan sembari bekerja di mana pun, seseorang dapat mendengarkan musik melalui walkman.

“Perhatikan pula, anak dalam sehari menonton TV rata-rata 6 sampai 8 jam, bahkan ada anak yang menghabiskan waktu sampai 14 jam dalam sehari. Ini semua menunjukkan bahwa manusia memberikan perhatian yang sangat kuat kepada kesenian. Lebih dari 50% perhatian manusia ditujukan kepada kebutuhan tertier ini, bahkan mungkin lebih,” kata Ketua Program Studi Kesenian Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) Dr. Kiki Sukanta, M.Hum di Kampus UPI Jln. Setiabudhi 229 Bandung, Jumat (4/2/2011).

Menurut pria yang berprofesi sebagai sutradara ini, banyak remaja yang lebih mencintai seni daripada mencintai Tuhan atau kepada keluarganya. Fenomena ini bisa dilihat di televisi, di mana para remaja gandrung terhadap para bintang pujaan mereka di panggung. Itulah sebabnya, siaran musik di pagi hari, siang hari, malam hari, bahkan sampai larut malam pun, musik selalu dihadiri remaja secara massal. Tak mustahil, musik dan kesenian ini menjadi thaghut, tuhan baru yang lebih dicintai daripada yanag lainnya.

“Meskipun seni telah menjadi perhatian sebagian besar umat manusia, namun sampai saat ini belum muncul para pemikir di bidang seni. Para pemikir seni sangat penting untuk memberikan bobot dan memuat nilai yang penting bagi kehidupan manusia. Itulah sebabnya, para seniman berjalan sendiri mengikuti kaidahnya. Apalagi kalau seniman dikejar target tayang, maka produk yang dihasilkannya bisa jadi keluar dari nilai kemanusiaan, dan bahkan kerap keluar dari norma agama yang dijunjung tinggi bangsa Indonesia,” ujar Sukanta.

Ketimpangan antara kesenian yang menjadi titik perhatian umat manusia dibandingkan dengan ketiadaannya pemikir di bidang pendidikan seni mendorongnya untuk menggagas berdirinya Sekolah Pascasarjana yang mampu mencetak para doktor.  “Berdirinya SPs program S3 saat ini sangat urgen, mengingat produk kesenian semakin digilai masyarakat. Tanpa pemikir bidang seni, kesenian akan mengalami disorientasi. Jika kesenian mengalami disorientasi, maka masyarakat pada gilirannya mengalami situasi yang sama,” ujar Kiki.

Itulah sebabnya, Prodi Kesenian terus berjuang membangun jenjang S3. Sebab, pemikir bidang kesenian merupakan keniscayaan. Di samping itu, mahasiswa yang berminat masuk di Prodi Kesenian juga semakin banyak. Setelah menyelesaikan S2, mereka tidak memiliki jalan lagi menuju S3.

“Beberapa perguruan tinggi membuka S3 untuk kesenian. Namun itu seni murni. UPI sebagai lembaga pendidikan yang mendidik para tenaga pendidik memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan arah kepada kehidupan manusia menuju manusia Indonesia yang berkarakter dan mampu bersaing dalam era global,” kata Kiki. (WAS)

One Comment add one

  1. kiki rizki moechamad says:

    seni merupkan kebudayaaan yg tak tyernilai harganya…… ku sadari untuk melakukan hal itu sangatlah membutuhkan ketekunaan….l.. org yg seni haruslah senantiasa diiringi dengan jiwa dan agama

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>