Google

Prof. Dasim Presentasikan Hasil Studi di Australia

Written on:April 16, 2011
Comments
Add One

Bandung, UPI

Dosen Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan dan Pascasarjana UPI Prof. Dr. H. Dasim Budimansyah, M.Si presentasikan hasil studinya di Australia kepada dosen dan mahasiswa Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan Jumat (15/04/2011) bertempat di Ruang Pertemuan Lantai V Gd. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia Jln. Setiabudhi No.229, Bandung. Presentasi ini juga dihadiri oleh Dekan FPIPS Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si., Pembantu Dekan I Dr. Elly Malihah, M.Si., dan juga para dosen MKDU yang merupakan lulusan Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan.

Dalam presentasinya, ia memberikan paparan mengenai belajar dan pembelajaran di Australia yang mencakup tentang layanan pendidikan di kelas, naplan, ignite program, high school, university, class room management, values education, dan shifting paradigm.

Banyak hal yang patut dijadikan sebuah wawasan bagi pendidik maupun calon pendidik untuk melakukan peningkatan dan inovasi pembelajaran dalam presentasinya ini. Misalnya saja mengenai pembuatan reading oleh para dosen dan guru, mengingat sangat pentingnya reading untuk diberikan kepada mahasiswa sebagai player knowledge. Kemudian dalam penataan ruangan kelas (class room management), ruangan di sana didesain khusus sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Untuk itu ia pun mengharapkan adanya ruangan yang didesain khusus, misalnya untuk Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan diterapkan sesuai dengan konsep kewarganegaraan.

Di Australia, tidak hanya tes tertulis yang dijadikan bahan penilaian peserta didik, tapi performance test pun merupakan salah satu acuan yang sangat penting dalam sebuah penilaian. “Kita lihat di Indonesia, tes tertulis seringkali menjadi acuan satu-satunya dalam penilaian kepada peserta didik,” ujar Prof. Dasim.

Pada saat di sana, ia juga menyempatkan waktunya untuk bertemu dengan mahasiswa asal Indonesia yang sedang berkuliah di Australia. Namun ia sangat prihatin melihat lulusan mahasiswa yang kuliah di luar negeri, karena mayoritas malah memilih bekerja di negara lain. Seakan mahasiswa yang seharusnya membangun negara sendiri atas kemampuannya itu malah dibajak oleh negara lain untuk dipekerjakan di dalam negara tersebut.(Aris Fadly/PKN)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>