Google

Wirausaha Didorong Mampu Mengatasi Pengangguran

Written on:June 13, 2011
Comments
Add One

Bandung, UPI

Salah satu masalah terbesar ekonomi Indonesia adalah pengangguran, sehingga sering muncul istilah “pertumbuhan tanpa pekerjaan”. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, tahun 2010 tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,14% atau 8,3 juta orang dari 116,5 juta orang angkatan kerja. Angka BPS tersebut menurut para pengamat, sebenarnya undervalue, artinya jumlahnya jauh lebih besar karena beberapa indikator tidak dimasukkan, seperti para pekerja informal yang sebenarnya sedang mencari pekerjaan.

“Itulah sebabnya, kita berupaya mengatasi masalah tersebut dengan meluncurkan website Wirausaha Muda Indonesia dan menggelar dialog kewirausahaan mahasiswa se-Bandung Raya, Senin, 20 Juni 2011 di Auditorium Jica FPMIPA, UPI, Bandung,” kata Ketua Panitia Muhammad Mutofid, M.T., di Bandung, Senin (3/6/2011).

Di samping itu, mereka juga menggelar Temu Wirausaha Muda Indonesia bertema, “Membangun Wirausaha Muda Indonesia untuk Kemandirian Bangsa” Selasa-Kamis, 12-14 Juli 2011 di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya, Jawa Barat. Acara ini bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.

Menurut Muhammad Mutofid, setiap tahun ada 2 juta orang Indonesia mencari pekerjaan. Berarti sejak krisis ekonomi 1998, ada 22 juta pengangguran, sedangkan yang yang mendapat pekerjaan hanya 5,5 juta orang (Tempo Interaktif, 2 April 2010).

“Realitas pengangguran tersebut tidak terlepas dari kondisi dalam masyarakat dan pendidikan kita, baik formal maupun informal, termasuk pendidikan di pondok pesantren yang kurang membekali lulusannya sebagai pembuka lapangan (job creators) pekerjaan bagi orang lain,” kata Muhammad Mutofid, M.T.,

Dikatakan, pada sebagian orang, pondok pesantren identik dengan santri yang mempelajari agama dan kitab kuning. Persepsi yang ada pada masyarakat lebih dari itu, yaitu sebagai tempat pendidikan calon guru agama. Banyak orang tua yang menitipkan anaknya (yang nakal) untuk menjadi santri ke kiai tertentu dengan tujuan agar anaknya bisa menjadi lebih baik. Pondok pesantren itu adalah tempat rehabilitasi dan sampai saat ini, pesantren masih hidup dengan persepsi sebagai sekolah peringkat kedua yang dipandang lebih rendah dibandingkan sekolah umum, dan masih ada yang dipilih ketika pilihan lain sudah tidak ada.

Padahal, kata Muhammad Mutofid, M.T., menurut Undang-Undang Nomor 20/003 tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya Pasal 17 ayat 2 dan Pasal 18 ayat 3 menyebut jelas bahwa madrasah (pesantren) statusnya sederajat dengan sekolah umum. Artinya, selain memberi bobot pelajaran agama Islam yang lebih banyak, madrasah juga menjalankan kurikulum yang sama dengan sekolah umum.

Berkaitan dengan pengembangan dan peningkatan daya kewirausahaan nasional dalam persaingan ekonomi yang lebih ketat di era globalisasi saat ini, kata Muhammad Mutofid, M.T., selanjutnya, diperlukan terobosan dan pendekatan baru yang salah satu di antaranya pengembangan kewirausahaan melalui pondok pesantren. Diharapkan dengan terobosan baru ini dapat mempercepat pencapaian suatu kewirausahaan mandiri nasional yang berkarakter dapat membentuk wirausaha yang lebih mandiri, inovatif dan berwawasan global.

“Untuk mencapai harapan tersebut, diperlukan berbagai dukungan banyak pihak untuk terlaksananya “Temu Wirausaha Muda  Indonesia” di Pondok Pesantren Miftahul Huda  Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat,” kata Muhammad Mutofid.

Dikatakan, acara ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan budaya dan gerakan kewirausahaan di kalangan santri Pondok Pesantren, agar menjadi wirausaha baru yang kreatif, inovatif dan berwawasan global. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan jejaring (networking) antara pelaku wirausaha muda  dengan para pemangku kepentingan bisnis (pengusaha, lembaga keuangan, akademisi dan pemerintah).

“Dalam kesempatan ini, kita bias menganalisis berbagai isu (peluang dan tantangan) yang mungkin timbul di lapangan mengenai kewirausahaan yang dilakukan oleh wirausaha muda; Melalui kegiatan seperti ini, mereka bisa meningkatkan pengetahuan mengenai kewirausahaan: pengetahuan mengenai manajemen usaha (aspek finansial, pemasaran, produksi dan SDM); Bahkan, kita dapat merumuskan pilihan program kreatif dan inovatif untuk mencetak wirausaha muda baru di perdesaan dan perkotaan,” ujar Muhammad Mutofid.

“Dengan menggelar acara ini, kita bisa merumuskan pilihan program pengembangan kewirausahaan, untuk menaikkan kelas wirausaha muda dari usaha mikro ke kecil, dari kecil ke menengah dan dari menengah ke besar; Kita juga bisa merumuskan berbagai program nasional kewirausahaan yang dapat dilaksanakan oleh berbagai elemen pemerintah, institusi pendidikan, pelaku bisnis dan masyarakat luas, terutama dari kalangan strategis santri Pondok Pesantren; Bahkan, kita bisa memberikan rekomendasi yang dapat dilakukan para pemangku kepentingan dalam meningkatkan kewirausahaan di kalangan santri pondok pesantren, mahasiswa dan pemuda pada umumnya,” ujar Muhammad Mutofid.

Acara ini, kata Muhammad Mutofid, didukung Kementerian Koperasi  dan UKM RI; Kementerian Dalam Negeri RI; Kementerian Perindustrian RI; Kementrian Pemuda dan Olahraga RI; Kementerian Pendidikan Nasional RI; Kementerian Pertanian RI; Kementerian Keuangan RI; Kementerian Agama RI; Kementerian Kelautan dan Perikanan RI; Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal RI; Kementerian Perdagangan RI; Bank Indonesia; Kadin; Dewan Masjid Indonesia; Gubernur Jawa Barat; Rektor Universitas Pendidikan Indonesia; dan Bupati Tasikmalaya. (WAS)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>