Google

Optimalisasi Pendidikan Jasmani dan Olah Raga Berdasarkan Ilmu Faal

Written on:June 23, 2011
Comments
Add One

Oleh Prof. Dr. Beltasar Tarigan, M.S.,A.I.F.O.

Pidato Pengukuhan Guru Besar/Profesor dalam Bidang Pedagogi Olah Raga pada Fakultas Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia

Akhir-akhir ini pentingnya aktivitas pendidikan jasmani dan olahraga untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, kebugaran jasmani, serta dampaknya terhadap pembentukan tubuh yang lebih baik dan proporsional semakin disadari terkait dengan kehidupan manusia yang dikelilingi oleh teknologi berupa perangkat-perangkat yang didesain dan diciptakan agar kegiatan kita serba mudah dan praktis, tanpa mengeluarkan banyak energi. Kemajuan dalam bidang teknologi menyebabkan aktivitas hidup menjadi lebih mudah dan sederhana. Pada sisi lain sering terabaikan upaya penting yang sangat diperlukan untuk mencapai hidup sehat, yaitu aktivitas jasmani dalam kehidupan sehari-hari.  Berkaitan dengan fenomena tersebut Loland Sigmund (2008) dalam Kongres Dunia ke-12 di Kuala Lumpur dengan tema “Sport for All” – “for life”, mengemukakan kembali relevansi olahraga dalam kehidupan masyarakat yang menggunakan teknologi tinggi untuk menanggulangi dampaknya yang menimbulkan kecenderungan perilaku masyarakat yang memiliki gaya hidup kurang aktif atau kurang gerak dalam kegiatan kehidupan sehari-hari..

Dewasa ini kegiatan berolahraga, dalam makna luas telah berubah dari alasan moral ke alasan yang lebih bersifat epidemiologis. Tuntutan baru ini merupakan dampak negatif akibat berkurangnya gerak atau aktivitas jasmani sehari-hari, yang menyebabkan  terjadinya penyakit kurang gerak yang disebut hipokinesia. Hipokinesia akan menyebabkan timbulnya peningkatan penyakit degeneratif, antara lain berupa : penyakit jantung koroner, stroke, tekanan darah tinggi, kencing manis dan lain-lain (Astrand, 2003 dan Foss & Keteyian, 1998). Penyakit yang diakibatkan oleh kurang gerak ini, menurut Ching, Mingkai (2008) sangat merisaukan karena berdasarkan angka statistik, di negara Asia seperti Cina, Jepang, India, Bangladesh, Pakistan dan Indonesia berada dalam urutan 10 besar yang mengalami prevalensi tertinggi penyakit yang diakibatkan kurang gerak tersebut. Oleh karena itu untuk menanggulangi masalah tersebut, Ching menyarankan perlunya  keterpaduan antara pendidikan jasmani, pendidikan kesehatan dan olahraga di sekolah.

Kenyataan  ini merupakan alat uji terutama bagi Indonesia dan bangsa-bangsa di Asia, untuk mencari solusi bagaimana mendorong masayarakat agar termotivasi untuk melakukan aktivitas jasmani dan olahraga secara teratur dalam kehidupannya sehingga terhindar dari penyakit akibat kurang gerak tersebut. Oleh karena itu dari perspektif  filosofi, Supandi (1991) mengemukakan  gerak sebagai kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia seperti halnya minum dan makan. Hal ini berarti gerak dan olahraga merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi pada setiap hari dan sangat penting agar kita hidup sehat. Semakin banyak kita melakukan gerak, maka semakin tinggi kualitas kesehatan kita. Oleh karena itu melakukan aktifitas jasmani dan olahraga yang cukup, akan memberikan sumbangan terhadap kesehatan, dan apabila dilakuan secara teratur dan terukur akan meningkatkan kesehatan dinamis atau sering disebut kebugaran jasman, serta meningkatkan prodiktivitas kerja (Tarigan,2003).

Berkaitan dengan pentingnya aktivitas jasmani Bompa (1999) dan Astrand (2003) mengemukakan: apabila aktifitas jasmani atau olahraga memenuhi prinsip-prinsip latihan, misalnya melakukan jalan selama 30-60 menit dengan beban latihan ringan dan sedang serta dilakukan tiga sampai lima kali perminggu, maka kegiatan tersebut dapat meningkatkan derajat kebugaran jasmani.

 

Hadirin yang berbahagia

Akhir-akhir ini para ahli sepakat, agar terhindar dari penyakit degeneratif, maka olahraga aerobik yang dilakukan misalnya jalan, jogging, berenang dan lain sebagainya sebaiknya lebih dari satu jam dengan beban latihan ringan atau sedang. Beban latihan yang ringan dan sedang yang dilakukan lebih dari satu jam menyebabkan sumber energi diperoleh, berasal dari metabolisme aerobik  dengan bahan baku dari asam lemak rantai pendek. Pada keadaan ini terjadi pembakaran lemak dan peningkatan kadar hormon adrenalin (Sherwood, 2004). Peningkatan kadar hormon adrenalin mengaktifkan ensim lipase, sehingga pembakaran lemak meningkat. Mekanisme inilah yang dapat menjelaskan bagaimana seseorang dapat terhindar dari penyakit degeneratif (penyakit jantung koroner, stroke, tekanan darah tinggi, kencing manis dan lain-lain) sebagai akibat dari hipokinesia. Contoh paparan dapat di simak  dalam buku “Walk There Today” yang dikeluarkan Departemen Olahraga dan Rekreasi dan Yayasan Jantung Australia (2008), ditegaskan bahwa : agar tetap bugar dan terhindar dari penyakit degeneratif, dianjurkan setiap orang sebaiknya melakukan aktivitas jasmani atau olahraga sekurang-kurangnya 1 jam setiap hari dengan beban latihan ringan atau sedang. Kondisi kurang gerak ini tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang, tetapi ditemukan juga pada anak sekolah di Amerika Serikat. Foos dan Keteyian (1998) menemukan  bahwa rata-rata 10% anak sekolah laki-laki tidak melakukan aktivitas fisik atau olahraga pada waktu luang, dan pada siswa putri sebanyak 14%. Sehubungan dengan hal tersebut, ternyata di Amerika ditemukan anak sekolah memiliki tingkat kebugaran jasmani yang rendah, dan bentuk tubuh yang gemuk. Sebaliknya   pada orang dewasa ditemukan sekitar 20-24% yang melakukan aktivitas fisik atau  olahraga secara teratur dengan intensitas rendah selama 30 menit, serta mereka melakukannya lima kali dalam seminggu, dan sebagai dampaknya jumlah orang dewasa yang memiliki tubuh gemuk relatif lebih rendah dibandingkan dengan anak sekolah.

Amstrong, Timothy (2008) dari WHO yang dikutip oleh Rusli (2009) mengemukakan bahwa yang dihadapi oleh masyarakat dunia sekarang ini adalah maraknya jenis “penyakit tak menular” atau non-communicable diseases  (NCD) termasuk penyakit jantung atau cardiovascular diseases (CVD), diabetes, obesitas, dan beberapa tipe kanker tertentu yang dihitung menjadi penyebab sebanyak 60% dari 58 juta kematian per tahun, dan 80%  dari kematian tersebut terdapat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.  Jumlah ini setara dengan sekitar 36 juta orang yang meninggal akibat penyakit tersebut dan 28 juta orang berasal dari negara berpenghasilan rendah dan menengah. Laporan WHO tersebut menekankan bahwa NCD merupakan faktor resiko, dan secara global diperhitungkan terdapat sebanyak 22 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami kelebihan berat badan (overweight) dan dari jumlah tersebut sebanyak 75% tinggal di negara-negara  berpenghasilan rendah dan menengah.

Untuk mengantisipasi penyakit degeneratif, cara praktis yang dilakukan di Australia Barat adalah menganjurkan warganya agar memenuhi standard jumlah langkah seseorang  setiap hari. Sebagai target untuk orang dewasa agar kesehatan tetap terjaga dengan baik, dibutuhkan 10.000 langkah setiap hari dan dapat dihitung  dengan alat sederhana  yang disebut Pedometers. Kebijakan dan anjuran ini menunjukkan bahwa pemerintah Australia telah memahami betapa pentingnya aktivitas jalan setiap hari dan gaya hidup aktif yang dilakukan oleh setiap warganya dalam kehidupan sehari-hari dalam upaya menjaga agar tetap sehat dan terhindar dari penyakit degeneratif (penyakit jantung koroner, stroke, tekanan darah tinggi, kencing manis dan lain-lain).

Dari uraian yang telah dikemukakan, dapat menggambarkan betapa pentingnya aktivitas jasmani atau olahraga dalam kehidupan manusia, karena apabila manusia kurang melakukan gerak, akan berakibat terhadap penurunan tingkat kebugaran jasmaninya, dan hal ini menyebabkan seseorang tidak mampu melakukan tugas sehari-harinya dengan baik, karena tidak memiliki daya tahan yang prima, cepat lelah yang berlebihan, tidak memiliki daya tahan yang baik terhadap penyakit (penyakit degenaratif), kurang bergairah, tidak gesit, tidak energik, kekuatan otot menjadi lemah, dan timbul kegemukan.  Sehubungan dengan hal tersebut, sangat menarik untuk direnungkan sebagaimana yang dikemukakan oleh Santosa Giriwijoyo (1991), “apalah artinya sehat kalau orang itu hanya sehat sewaktu beristirahat, atau sehat sewaktu tidur…”, karena seyogyanya orang tersebut sehat pada waktu melakukan aktifitas jasmani. Hal ini berarti, setiap manusia membutuhkan sehat dinamis (sehat pada saat bergerak) artinya fungsi organ tubuh berjalan dengan normal tatkala seseorang melakukan aktifitas jasmani atau olahraga. Seorang yang memiliki sehat dinamis tentu akan membantu pelaksanaan tugas sehari-harinya dengan cerdas tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dapat digambarkan bahwa salah satu penanggulangan yang efektif untuk mencegah kegemukan dan penyakit degeneratif (penyakit jantung koroner, stroke, tekanan darah tinggi, kencing manis dan lain-lain) adalah melalui gaya hidup sehat dengan melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur, terencana dengan intensitas dan takaran yang cukup (Ahmad & Bath, 2005; Newman dkk, 2006). Dalam kaitan inilah pentingnya insan olahraga termasuk guru pendidikan jasmani seyogyannya memahami aktivitas olahraga dari sudut ilmu faal (fisiologis) sehingga proses pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dapat berlangsung secara efektif dan aman dengan memenuhi kaidah-kaidah fisiologis yang berdampak terhadap pencapaian hasil yang maksimal, serta efisien dan efektif bagi para siswa. Dengan demikian program pendidikan jasmani dan olahraga disekolah akan memberikan sumbangan bagi peningkatan kualitas hidup peserta didik, terkait dengan pencapaian tujuan pendidikan jasmani dan pendidikan pada umumnya.

 

Keterkaitan   Krisis   Global   Dengan Pendidikan Jasmani

 

Hadirin yang berbahagia

Pengertian krisis global dalam tulisan ini mengacu pada pengertian yang dikemukakan oleh Rusli Lutan (2001), yaitu: suatu kondisi yang menunjukkan kesenjangan antara aspirasi dan tujuan yang diharapkan dengan realitas yang dialami oleh sekelompok masyarakat, komunitas dan bahkan suatu bangsa. Menarik untuk dicermati bahwa ternyata kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang terjadi dalam pendidikan jasmani tidak hanya dialami oleh bangsa Indonesia akan tetapi dialami juga oleh bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Pertanyaannya adalah: Krisis apa sebenarnya yang menimpa dunia pendidikan jasmani secara global pada abad modern ini? Masalah inilah yang menjadi inti pembahasan dalam bagian ini.

Para ahli ilmu faal (fisiologi) olahraga sepakat bahwa olahraga yang dilakukan secara teratur, terukur dan terprogram dengan baik akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak (Foss & Keteyian, 1998 dan Astrand, 2003, Tarigan, 2008). Hasil penelitian mengukapkan bahwa tidak terdapat dampak negatif pengaruh olahraga terhadap fungsi jantung, paru dan organ tubuh lainnya pada anak usia muda. Hal ini berarti bahwa pendidikan jasmani yang diberikan secara teratur sesuai dengan kemampuan setiap individu anak sekolah akan mencapai tujuan pendidikan jasmani.

Namun dibalik itu, kelihatannya tidak semua anak sekolah memperoleh kesempatan untuk berolahraga sesuai dengan prinsip-prinsip latihan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan guru pendidikan jasmani dalam bidang fisiologi olahraga dan keterbatasan waktu dan frekuensi anak sekolah mengikuti pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah (Tarigan, 2003). Di Indonesia selain waktu yang terbatas, frekuensinya juga hanya satu kali dalam seminggu. Mengenai keterbatasan waktu tersebut, Rusli Lutan (2001) mengemukakan bahwa krisis global yang menimpa dunia pendidikan jasmani adalah ketidak seimbangan alokasi waktu dalam kurikulum dan ditempatkannya pendidikan jasmani pada posisi marjinal sehingga eksistensi pendidikan jasmani dan olahraga benar-benar terancam. Pendidikan jasmani dan olahraga tidak lagi dipahami sebagai mata pelajaran yang sama pentingnya dengan mata pelajaran yang lain dan bahkan ada kecenderungan pemikiran agar mata pelajaran yang bersifat eksaklah yang perlu mendapat prioritas.

Masalah tersebut diatas terkait pula dengan konteks krisis global yaitu  kemampuan ekonomi masyarakat menjadi sangat lemah. Akibatnya terjadi perubahan prioritas kebutuhan yaitu kebutuhan yang paling utama adalah sandang dan pangan sedangkan kebutuhan anggaran untuk pendidikan jasmani dan olahraga ditempatkan pada prioritas yang paling akhir.

Hasil survai Hardman dan Marshall (2001) menguatkan pendapat tersebut yaitu adanya kesenjangan antara kebijakan resmi dengan implementasi dan praktik pendidikan jasmani dan olahraga di beberapa negara. Selain itu pelaksanaanya tidak sesuai dengan status legal dari kurikulum pendidikan jasmani dan olahraga. Hal ini disebabkan adanya  pandangan skeptis terhadap nilai-nilai akademik dari pendidikan jasmani dan olahraga yang berkaitan dengan waktu pembelajaran dalam kurikulum. Ditemukan pula ada kecenderungan persaingan mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga dengan mata pelajaran lainnya. Hal ini berimplikasi terhadap pengurangan biaya pendidikan jasmani dan olahraga serta fasilitas yang serba kekurangan, khususnya di tingkat sekolah dasar.

Terkait dengan hal tersebut, adalah benar apa yang dikumandangkan para pakar dan ahli pendidikan jasmani selama ini agar upaya untuk kembali ke asal (back to basic) masih sangat relevan untuk diperjuangkan. Sejalan dengan hal tersebut WHO (2001), mengingatkan kita betapa pentingnya pengembangan pendidikan jasmani melalui sekolah, yang membutuhkan landasan yang kuat dan merupakan sebuah strategi mendasar untuk mempromosikan kesehatan dalam bentuk kehidupan aktif dalam semua sistem kehidupan, sehingga memperoleh manfaat kesehatan dari aktivitas yang dilakukan tersebut. Begitu juga Reimund Scheumann menggarisbawahi tentang pentingnya tujuan pendidikan jasmani untuk kesehatan, dan menegaskan pula bahwa partisipasi seseorang dalam pendidikan jasmani adalah membina kebiasaan untuk aktif sepanjang hidupnya.

Hal yang menarik adalah apa yang  dikemukakan oleh Foos dan Keteyian (1998) bahwa keikutsertaan atlet berusia sangat muda pada cabang olahraga senam dan renang di  0limpiade bukanlah cerminan anak-anak masa kini. Sebab pada kenyataanya tingkat kebugaran anak-anak masa kini cukup memprihatinkan. Di Amerika Serikat, hanya 40 % anak pelajar sekolah yang mengikuti pendidikan olahraga di sekolahnya, angka ini 10 % lebih rendah dari jumlah angka yang hendak dicapai pada program masyarakat sehat 2000. Kedepan, kegiatan olahraga tidak hanya ditekankan pada pelajaran berolahraga namun juga tetap beraktivitas fisik pada waktu luang di luar sekolah. Sedangkan yang bertanggungjawab terhadap  masalah ini  ditegaskan oleh Foos dan Keteyian (1998) yaitu orang tua dan lingkungan pendidikan. Dari uraian tersebut ternyata peran orang tua memang sangat penting dalam menjaga kebugaran anak-anaknya dan seyogianya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Para orang tua harus berprilaku sebagai orang yang aktif berolahraga sehingga anak-anaknya pun akan tertarik untuk lebih aktif lagi. Hal ini berarti orangtua harus memberi teladan, mengontrol dan  mampu mengurangi waktu bermain anaknya yang biasanya diisi dengan bermain video game atau menonton televisi selama lebih 3 jam setiap harinya. Oleh karena itu saya menganjurkan agar seluruh civitas akademika Universitas Pendidikan Indonesia menjadi teladan bagi anak-anak kita dan masyarakat sebagai insan yang berprilaku aktif berolahraga. Sehingga Universitas Pendidikan Indonesia tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga unggul dalam bidang fisik, kesehatan dan kebugaran jasmani serta menjadi pelopor untuk menjadikan olahraga sebagai budaya gerak dalam kehidupan sehari-hari.

 

Hadirin yang berbahagia

Berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan jasmani disekolah, kelihatannya program pendidikan jasmani seyogiannya dapat membangkitkan motivasi anak sekolah untuk mencapai pola hidup sehat.  Hal ini merupakan pekerjaan rumah bagi kita insan olahraga Indonesia dan seluruh dunia, untuk meyakinkan dan mengkomunikasikan pentingnya olahraga untuk kesehatan diantaranya dari sudut fisiologi  olahraga. Kepada setiap lapisan masyarakat baik orang tua, masyarakat umum, politisi, rohaniawan, kalangan profesional, dan anggota DPR serta pimpinan organisasi, diharapkan dapat mendorong pengambil kebijakan agar menghindari penilaian yang rendah dan sikap skeptis terhadap pendidikan jasmani mengalami perubahan kearah yang lebih positif.

Tanpa adanya perubahan sikap tersebut dan termasuk peningkatan profesionalitas guru pendidikan jasmani dan olahraga pada setiap jenjang pendidikan, maka krisis global yang menimpa  pendidikan jasmani dan olahraga, dan keinginan untuk melakukan pembaharuan tidak akan pernah terselesaikan.

Lalu muncul pertanyaan, faktor apa saja yang mempengaruhi kondisi pelaksanaan pendidikan jasmani dan olahraga yang sangat rendah.  Uraian berikut ini mencoba menjelaskan dari aspek kurikulum dan profesionalitas guru pendidikan jasmani.

 

Faktor Kurikulum Pendidikan Jasmani dan Olahraga

 

Hadirin yang berbahagia

Untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani yang berkaitan dengan peningkatan keterampilan gerak, kebugaran jasmani dan kesehatan, diperlukan sebuah kurikulum yang baik. Kurikulum ditinjau dari aspek perencanaan dan penerapan, merupakan sebuah program jangka panjang yang berisi berbagai pengalaman belajar, seperti model pembelajaran, tujuan, materi, metode, evaluasi, serta sumber yang digunakan. Melalui program ini diharapkan tujuan pendidikan yang telah digariskan dapat tercapai secara maksimal. Namun kenyataannya untuk mencapai tujuan tersebut banyak kendala yang dihadapai, antara lain jumlah dan heterogenitas siswa dalam setiap kelas, baik kemampuan dan keterampilannya, kesenangannya, motivasinya, minatnya, kebutuhannya, maupun jenis kelaminnya (Tarigan,2009).

Penerapan  model pembelajaran yang diberikan kepada siswa  adakalanya tidak sesuai dengan karakteristik siswa, sebab para guru  menerapkan model atau pendekatan pembelajaran yang pernah mereka dapatkan pada saat mengikuti perkuliahan di Perguruan Tinggi. Tentu hal ini tidak sesuai dengan kondisi, tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak pada tataran pendidikan dasar atau lanjutan. Misalnya, pembelajaran bola voli yang lebih difokuskan untuk penguasaan teknik dasar, sehingga yang di tekankan adalah pengulangan sebanyak mungkin, membuat lengan para siswa menjadi merah dan terasa sakit. Akibat pendekatan pembelajaran yang tidak tepat tersebut, pertemuan berikutnya sebagian siswa tidak mau ikut olahraga karena takut pengalaman tersebut terulang kembali. Dampak negatifnya adalah apabila ada pelajaran olahraga, mereka selalu mencari alasan agar diberi dispensasi untuk tidak mengikuti olahraga, termasuk minta surat keterangan sakit dan tidak boleh berolahraga kepada dokter (Tarigan,2009). Pengalaman lain yang pernah terjadi yaitu satu kelas tidak bisa pergi kesekolah. Dan ternyata diperoleh informasi bahwa sehari sebelumnya, guru olahraganya menyuruh siswa melakukan lompat kodok sepanjang satu keliling lapangan yang luas, dan besoknya si anak merasakan pegal-pegal diseluruh tubuhnya dan bagian tungkainya terasa sakit serta susah berjalan. Sehingga tidak ada satu siswa pun yang hadir disekolah

Mudah dipahami bahwa rasa sakit tersebut disebabkan terjadinya cedera atau kerusakan pada jaringan otot karena beban latihan yang diberikan guru terlalu berat dan tidak proporsional.  Perlu diketahui oleh guru pendidikan jasmani bahwa rangka anak-anak usia muda belum matang dan sedang mengalami pertumbuhan yang pesat dan umumnya sangat riskan terhadap cedera, sehingga apabila beban yang diberikan tidak tepat dan berlebihan akan menyebabkan cedera atau kerusakan yang permanen, khususnya pada tulang rawan yang terdapat pada ujung setiap tulang panjang yang disebut epifise. Oleh karena itu latihan kekuatan yang berlebihan seperti yang dilakukan oleh guru tersebut sebaiknnya dihindari karena akan mengakibatkan cedera pada tulang siswa.

Untuk menghindari cedera pada anak, seyogiannya diberikan latihan kekuatan dengan beban ringan tetapi frekuensi pengulangannya lebih banyak yaitu antara 13 sampai 15. Cedera epifise merupakan satu-satunya resiko kesehatan yang berkaitan dengan kegiatan olahraga pada anak-anak (Anderson dkkl., 2000; Fairclough dan Stratton, 2005).

Berdasarkan beberapa pengalaman tersebut maka seyogianya tugas dan beban ajar yang diberikan pada setiap siswa harus disesuaikan dengan kemampuan, tingkat pertumbuhan dan perkembangannya sehingga tidak menimbulkan cedera. Pada sisi lain sering pula, para siswa tidak mengerti dan tidak jelas apa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan jasmani dan olahraga yang dilakukan oleh guru. Demikian juga halnya masalah jumlah siswa yang terlalu banyak dalam satu kelas, dan peralatan yang minim, serta model pembelajaran yang mengharuskan siswa menunggu giliran dalam waktu lama, sehingga jumlah waktu aktif belajar siswa sangat terbatas merupakan masalah tersendiri dan klasik dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga di Indonesia.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rusli Lutan dkk, (2001) menunjukkan bahwa waktu aktif belajar pada siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Atas berkisar 1/3 dari seluruh jumlah alokasi waktu yang disediakan untuk pendidikan jasmani. Berdasarkan kenyataan ini sungguh sulit untuk dicapai tujuan pendidikan termasuk peningkatkan kebugaran jasmani siswa melalui program pendidikan jasmani dan olahraga. Diantara tujuan pendidikan jasmani yang penting adalah tercapainya derajat kebugaran jasmani yang berimplikasi pada kesenangan siswa untuk menerima tugas-tugas gerak dengan baik. Masalah rendahnya kualitas pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah diperparah lagi dengan alokasi waktu yang hanya dilakukan satu kali dalam seminggu dengan lamanya 2 kali 40 menit atau 2 kali 45 menit. Hal demikian mengakibatkan rendahnya tingkat kebugaran jasmani siswa yang umumnya berada pada kategori kurang.

Dari sudut fisiologis, mewujudkan tujuan pendidikan jasmani untuk meningkatkan kebugaran jasmani siswa sangat sulit  tercapai sebab untuk meningkatkan kebugaran jasmani misalnya, frekuensi latihannya harus dilakukan tiga-lima kali dalam seminggu, beban latihannya harus cukup dan dilakukan dalam waktu lama. Oleh karena itu saya menganjurkan agar pendidikan jasmani dan olahraga memberikan dampak yang positif pada perkembangan fisik dan kebugaran siswa maka harus diterapkan  rumusan atau konsep FITT dalam setiap pembelajaran pendidikan jasmani. Konsep FITT ini berarti : F = Frekuensi latihan yaitu harus dilakukan 3 – 5 kali/perminggu; I = Intensitas, dilakukan dengan intensitas ringan dan sedang dengan  zona denyut nadi latihan  (Target Heart Range) : 50% – 70% x (220-Usia); T = Time adalah  waktu lamanya melakukan aktivitas olahraga yaitu 30- 60 menit; Type = Tipe latihan yaitu jenis olahraga yang dilakukan harus bersifat aerobik, antara lain: jalan, joging, lari, berenang, poco-poco, dansa, bermacam-macam senam seperti,  senam kesegaran jasmani, senam osteoporosis, senam tai chi dan sejenisnya, gerak jalan dan lain sebagainya.

Bagi siswa di sekolah perlu dirancang program olahraga aerobik dan anaerobik dengan memperhatikan  prinsip-prinsip latihan yang benar, sementara para siswa dianjurkan agar melakukan kegiatan olahraga di luar jam pelajaran sekolah, minimal 3-5 kali dalam seminggu. Karena itu perlu dirancang keseimbangan dalam kurikulum sekolah sehingga setiap anak mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang menyeluruh dengan baik. Khusus untuk anak sekolah yang mengikuti program pembinaan cabang olahraga prestasi yang predominan aerobik atau anaerobik, seyogyanya pemberian beban latihan disesuaikan dengan prinsip-prinsip latihan.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan,  para guru seyogiannya memahami secara mendalam tentang fisiologi olahraga serta menerapkannya dalam setiap pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga. Selain itu perlu juga dikembangkan kurikulum pendidikan jasmani model pelatihan fisik yang spesifik dan berorientasi biologis. Model dan konsep pendidikan jasmani ini memandang bahwa perkembangan fisik dapat dicapai melalui gerak yang terpilih dengan baik,(Crum ,1992). Tubuh kita ibarat sebuah mesin yang merupakan suatu instrumen dan karena itu melalui suatu gerak yang dilakukan dengan takaran yang tepat, dapat menyempurnakan kualitas intrumen tersebut yaitu meningkatnya kualitas kesehatan dan kebugaran, sehingga  terhindar dari penyakit kurang gerak dan penyakit degeneratif yang sangat berbahaya bagi masa depan siswa.

Berkaitan dengan model pendidikan jasmani yang telah dikemukakan, ternyata model pendidikan jasmani sudah berkembang di Eropa dan Amerika Utara sejak awal abad ke 20, dan dalam perkembangannya terjadi kebangkitan pola pikir di beberapa negara tentang pentingnya pendidikan jasmani dan olahraga yang beorientasi pada perkembangan fisik biomedis. Menurut Foss & Keteyian, (1998), respon fisiologis terhadap olahraga akan tercapai secara optimal apabila diberikan dengan model latihan yang terukur dan terprogram dengan baik. Sedangkan olahraga yang melebihi dari takaran latihan akan menyebabkan siswa mengalami cedera atau sakit. Adapun ciri-ciri dan tujuan model pendidikan jasmani dan olahraga tersebut adalah agar memberikan efek anatomis dan fisiologis terhadap peningkatan fungsi komponen kebugaran jasmani yang berupa: peningkatan daya tahan jantung-paru, kekuatan dan daya tahan otot, kelentukan dan komposisi tubuh yang seimbang. Peningkatan kualitas fisik dan kebugaran siswa yang merupakan generasi penerus bangsa akan menyebabkan negara dan bangsa kita menjadi kuat di antara negara-negara di duni di masa yang akan datang. Dengan demikian agar peningkatan kemampuan kebugaran jasmani dapat tercapai maka penerapan prinsip latihan dan fisiologis yang berkaitan dengan FITT menjadi hal penting yang harus diterapkan pada setiap pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga karena telah teruji dapat meningkatkan kebugaran jasmani masyarakat (Tarigan, 2010). Untuk mengetahui perkembangan kebugaran setiap siswa dan keberhasilan proses pembelajaran seyogiannya dilakukan evaluasi pada setiap akhir semester dengan menggunakan tes yang spesifik untuk mengukur komponen kebugaran jasmani (Astrand, 2003).

Keberhasilan pendidikan jasmani sebagaimana telah diuraikan, dapat dievaluasi dengan tes pengukuran komponen kebugaran jasmani siswa. Adapun indikator yang ditetapkan National Association for Sport and Physical Education (NASPE 1992) yang dikutip oleh Rusli Lutan (2001) dapat mencerminkan derajat kebugaran siswa yang terlihat dari kemampuan fisik serta memiliki keterampilan dalam melakukan berbagai kegiatan jasmani dan memiliki gaya hidup sehat.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, hal penting yang harus diketahui dan dilakukan oleh guru adalah kemampuan untuk melakukan evaluasi terhadap kemajuan-kemajuan dan perkembangan kebugaran yang dicapai oleh setiap siswa. Hasil evaluasi ini sangat penting untuk merencanakan dan menyesuaikan program pendidikan jasmani dan olahraga serta menentukan intensitas  atau beban latihan yang cocok  bagi siswa, sehingga dapat meningkatkan kebugaran jasmani dan tidak mengalami cedera. Apabila telah terjadi peningkatan kemampuan komponen kebugaran jasmani. maka beban berikutnya harus ditingkatkan sehingga diharapkan terjadi adaptasi atau respon fisiologis tubuh yang meningkat terhadap beban yang lebih berat. Hal ini berarti kemampuan fisik dan kebugaran siswa telah meningkat dari sebelumnya.

Apabila fasilitas di sekolah sangat terbatas untuk mengukur semua komponen kebugaran jasmani (8-10 komponen), menurut Astrand (2003) terdapat parameter tunggal yang dapat mencerminkan kebugaran jasmani siswa yaitu melalui pengukuran daya tahan jantung-paru. Kenyataan menunjukkan bila daya tahan jantung-paru siswa cukup baik secara tidak langsung kemampuan komponen kebugaran jasmani lainnya relatif cukup baik pula. Jenis tes daya tahan jantung-paru yang dapat mencerminkan derajat kebugaran siswa dapat berupa tes lapangan dan tes di laboratorium. Tes kebugaran jasmani yang dapat dilakukan di lapangan, yang murah dan mudah adalah tes lari 2,4 km atau lari 12 menit. Sedangkan tes kebugaran jasmani yang sering dilakukan di laboratorium dapat berupa tes Bangku Astrand, tes bangku Harvard, tes Ergometer sepeda, tes dengan Treadmill, dan lain-lain.

Agar model pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga tersebut dapat berlangsung dengan baik dan efektif maka guru pendidikan jasmani seyogiannya memiliki pengetahuan yang  mendalam tentang ilmu faal olahraga, dan  teori latihan, serta memahami berbagai tes kebugaran jasmani baik tes lapangan maupun tes di laboratorium, namun kenyataan menunjukkan belum semua guru pendidikan jasmani menguasai dan menerapkan pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu faal tersebut dalam proses pembelajaran.

 

Faktor Ketenagaan dan Profesionalitas Guru Pendidikan Jasmani Dan Olahraga

 

Hadirin yang berbahagia

Pendidikan jasmani disekolah akan berhasil apabila dilaksanakan oleh guru pendidikan jasmani dan olahraga yang bermutu dan profesional. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai serta ditunjang oleh sumber belajar yang cukup turut memberikan kontribusii terhadap percepatan pencapaian keberhasilan tersebut.

Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru pendidikan jasmani antara lain  kemampuan mengelola proses pembelajaran, membangkitkan motivasi  dan memberikan berbagai pengalaman belajar bagi siswanya baik dilapangan maupun diruangan kelas atau bangsal yang digunakan untuk aktivitas jasmani yang berlandaskan ilmu faal olahraga. Berkaitan dengan hal tersebut maka guru harus cerdas dalam mengelola lingkungan belajar siswa agar tujuan pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga tercapai secara optimal. Termasuk dalam dalam hal ini penetapan metode yang tepat sesuai dengan kondisi di lapangan, serta mampu membangkitkan motivasi siswa agar mengikuti pendidikan jasmani secara serius dan bersemangat. Selain itu, hal lain yang penting adalah bagaimana seorang guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, sehingga para siswa tertarik mengikuti pendidikan jasmani dan  melakukan olahraga, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Hal ini disebabkan jam pelajaran disekolah hanya sekali dalam seminggu dan dilakukan selama 2 kali 40-45 menit, dan secara fisiologis tidak mungkin dapat mengembangkan kebugaran jasmani siswa. Melalui pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga yang menyenangkan diharapkan minat dan keinginan berolahraga siswa diluar sekolah akan semakin tinggi dan gaya hidup aktif akan tertanam dalam diri merka, dan lama kelamaan akan mendarah daging dan secara sadar melakukannya diluar jam olahraga sekolah secara rutin.

Salah satu kelemahan guru pendidikan jasmani dan olahraga adalah rendahnya pemahaman tentang penerapan fisiologi olahraga pada pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah. Akibatnya para guru tidak pernah melakukan inovasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga baik bebannya, metode dan pendekatan, peralatan yang digunakan dan evaluasi termasuk beban latihan yang diberikan. Hal ini terlihat jelas dari dokumen fortofolio para guru pendidikan jasmani yang saya nilai dalam rangka sertifikasi guru pendidikan jasmani dan olahraga sejak tahun 2008. Selain itu kelemahan lainnya adalah para guru relatif jarang mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah berupa seminar maupun diskusi tentang pendidikan jasmani dan olahraga. Ditemukan pula guru pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah yang diampu oleh guru kelas yang tidak berlatar belakang pendidikan jasmani dan olahraga. Semuanya ini menimbulkan dampak negatif yaitu ditemukan sangat rendahnya tingkat kebugaran siswa di sekolah.

Ditemukannya fakta-fakta tersebut dapat dipredikasi bahwa pelaksanaan kurikulum pendidikan jasmani dan olahraga belum sesuai penerapannya dengan harapan dan ketentuan yang digariskan oleh pemerintah. Hal yang sangat mendasar adalah pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga diberikan oleh tenaga pengajar yang tidak profesional. Menurut survei Hadmand dan Marshall yang dikutip oleh Rusli Lutan, (2001), kondisi pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga di Indonesia  dialami pula oleh negara-negara lain. Sebagai contoh: di Kanada guru yang mengajar pendidikan jasmani dan olahraga diberikan oleh guru kelas. Selain itu ditemukan pula di Kanada, dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga yang seharusnya tiap hari sesuai dengan kurikulum tidak terlaksana secara teratur dan guru yang memberikan pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga sebagaimana disebutkan di atas tidak berlatar belakang pendidikan jasmani dan olahraga. Di Amerika Latin ditemukan pula hambatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga yang disebabkan kekurangan guru yang memenuhi kualifikasi pendidikan jasmani dan olahraga, kekurangan sumber belajar (buku-buku tentang pendidikan jasmani dan olahraga, peralatan), dan kekurangan sarana dan prasarana.

Demikian pula halnya di Botswana, pendidikan jasmani dan dan olahraga diberikan oleh guru yang tidak terlatih. Di Malaysia pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga kurang terkoordinasi oleh karena pada waktu pembelajaran siswa dibiarkan melakukan kegiatan olahraga tanpa pengawasan guru pendidikan jasmani dan olahraga. Keadaan ini dikenal dengan istilah “a remote control teacher” artinya guru tidak berada di tempat pada saat siswa melakukan olahraga. Demikian pula halnya di Philipina, pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga diberikan oleh guru yang tidak terlatih dan bahkan kadang-kadang diberikan oleh seorang atlet.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diperoleh gambaran bahwa rendahnya kualitas pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga bukan saja di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain. Hal ini disebabkan guru pengajar pendidikan jasmani dan olahraga tidak profesional dan pemerintah relatif kurang memberikan perhatian untuk meningkatkan preofesionalisme guru pendidikan jasmani dan olahraga. Keadaan ini semakin diperburuk oleh krisis ekonomi global yang memberi dampak negatif terhadap kemampuan negara, sehingga lebih mengutamakan kebutuhan sandang dan pangan dan relatif kurang memperhatikan peningkatan kualitas pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah.

Manfaat Pendidikan Jasmani Terhadap Kesehatan

Hadirin yang berbahagia

Kekurangan gerak atau ketidakaktifan fisik merupakan perhatian utama dari masalah kesehatan saat ini. Perkumpulan-perkumpulan yang bergerak dalam bidang kesehatan olahraga bermunculan, karena mulai dirasakan dan disadari betapa pentingnya gaya hidup aktif dalam kehidupan. Sebab orang yang memiliki gaya hidup tidak aktif, mengalami peningkatan resiko penyakit degeneratif (Singh dkk, 2006; Takata dkk, 2007). Untuk mengurangi resiko tersebut, salah satu caranya adalah meningkatkan  pemeliharaan kebugaran  jasmani melalui aktivitas fisik atau melakukan olahraga yang bersifat aerobik.

Berkaitan dengan hal tersebut, di Amerika Serikat ada konsensus dari beberapa lembaga kesehatan antara lain the Centers for Disease Control and Prevention dan the ACSM, the National Institutes of Health, dan the surgeon general’s report pada tahun 1996, yang dikutip oleh Tarigan (2002)  menegaskan bahwa : Aktivitas fisik memainkan peran yang penting dalam mengurangi resiko untuk terkena penyakit kardiovaskuler, termasuk arteri koronaria, stroke, dan hypertensi. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa resiko dari penyakit arteri koroner berhubungan erat dengan aktivitas fisik dan hampir sama resikonya dikaitkan dengan merokok, kelebihan lemak yang tidak normal, dan hypertensi.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah orang yang tidak aktif sekitar dua sampai tiga kali lebih besar dibandingkan dengan orang  merokok, kelebihan  lemak yang tidak normal, atau pengidap hypertensi. Selain itu mereka juga sepakat bahwa aktivitas fisik, sangat penting dalam pencegahan dua jenis penyakit metabolisme primer yaitu: kegemukan (obesity) dan diabetes. Prevalensi overweight (kegemukan) dan obesitas di Amerika Serikat mengalami peningkatan yang signifikan dalam 20 tahun terakhir. Pada tahun 2002, sebanyak 67% dari pria dan 62% dari wanita mengalami overweight atau obesity (body mass index [BMI] ≥ 25.0 kg/m2).  Masalah yang Iebih signifikan terjadi pada pria dan wanita “Mexican Americans” dan wanita kulit hitam. Kecenderungan yang sama  juga dilaporkan terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yaitu antara tahun 1976-1980 dan tahun 1999-2000, prevalensi overweight pada anak usia 6-10 tahun meningkat dari 6.5% menjadi 15.3%, dan pada usia 12-19 tahun (remaja) meningkat dari 5.0% menjadi 15.5%, dan penigkatan terbesar terjadi pada orang kulit hitam dan “Mexican Americans”. Begitu juga tentang diabetes, terjadi peningkatan yang signifikan dan telah mencapai taraf mengkhawatirkan seperti peningkatan pada obesitas. Diabetes tipe 2 mulai  muncul pada anak-anak dan prevalensinya juga meningkat pada remaja. Keadaan ini dikemukakan oleh Ming-kai Ching (2008) seorang pakar dari University of Northern Iowa yang dikutip oleh Rusli (2008)  bahwa  obesitas telah terjadi bukan hanya di negara maju tetapi juga di negara berkembang. Obesitas telah melanda semua kelompok umur, pria dan wanita. Di kalangan orang dewasa, obesitas diikuti oleh berbagai masalah kesehatan seperti diabetes, penyakit pada sistem cardio-vascular, ischemic heart diseases, hipertensi, kolesterol tinggi, dan kematian yang terjadi pada dasarnya terkait dengan obesitas.

Berdasarkan data tersebut terlihat betapa pentingnya aktifitas jasmani atau pendidikan jasmani bagi siswa sebagai fundasi dalam upaya mengurangi resiko terjadinya obesitas dan diabetes serta kematian pada usia muda dan penyakit kronis. Sedangkan bagi orang dewasa pungsi aktivitas fisik selain mencegah obesitas dan diabetes, juga dapat mencegah penyakit kardiovaskuler, stroke, hipertensi, dan oesteoporosis. Ini berarti melaksanakan pendidikan jasmani dan olahraga dengan dosis dan takaran yang tepat, serta melaksanakan gaya hidup aktif akan menjadikan kehidupan kita lebih nikmat, karena sehat dan bugar serta jauh dari penyakit. Keuntungan kegiatan pendidikan jasmani, selain kesehatan juga menghindari keterlibatan siswa dalam kegiatan sosial negatif seperti melakukan kejahatan dan menjadi pemadat narkoba. Temuan hasil penelitian Wolf-Dietrich dalam Rusli Lutan (2001) menunjukkan bahwa anak-anak muda yang lebih aktif dalam olahraga memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk mengatasi stres, gejala kenakalan dan penyimpangan prilaku remaja. Sedangkan dari sisi ekonomi akan mengakibatkan penurunan pengeluaran biaya perawatan kesehatan karena tubuh lebih sehat, dan menjadi produktif bila kelak menjadi tenaga kerja.

 

Isu Propaganda Tujuan Pendidikan Jasmani

Hadirin yang berbahagia

Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari proses pendidikan secara keseluruhan, sehingga tujuan pendidikan jasmani seyogiannya selaras dengan tujuan yang ingin dicapai dalam dunia pendidikan di Indonesia. Terdapat tiga ranah yang menjadi tujuan pendidikan jasmani yaitu tujuan dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

Tujuan kognitif meliputi kegiatan yang menuntut para siswa untuk menggunakan dan melatih kemampuan intelektualnya. Ranah kognitif meliputi kegiatan yang dimulai dari mengingat informasi baik yang  sederhana maupun kompleks sampai pada tahap penafsiran, yang disusun secara rapih dan canggih serta selanjutnya sampai kepada penarikan kesimpulan tentang informasi yang diterima. Dalam setiap proses pembelajaran, seorang guru pendidikan jasmani akan memulai dengan memberikan informasi atau penjelasan tentang sesuatu teknik/gerak  atau konsep yang akan dipelajarai siswa.

Melalui kecerdasan yang dimiliki, para siswa menafsirkan setiap informasi yang diterima, baik yang berkaitan dengan apa, mengapa dan bagaimana. Berdasarkan informasi tersebut setiap siswa akan menafsirkan informasi yang diberikan oleh guru, kemudian membuat perencanaan gerak dalam benaknya tentang bagaimana pelaksanaan gerak yang akan dilakukan sesuai dengan penjelasan yang diberikan oleh guru.

Hal ini berarti siswa menggunakan inteletualitasnya untuk merencanakan tentang gerakan, maka kegiatan seperti mempelajari peraturan permainan, pengembangan strategi permainan dan penggunaan informasi yang telah dipelajari merupakan ranah tujuan koknitif yang perlu dicapai berkaitan dengan kegiatan pendidikan jasmani dan olahraga. Berkaitan dengan perkembangan kognitif siswa, ternyata melalui keikutsertaan siswa dalam pendidikan jasmani memberikan sumbangan terhadap daya konsentrasi dan prestasi akademik siswa. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan di Australia yang menemukan bahwa sumbangan pendidikan jasmani terhadap sistem pendidikan disekolah dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi dan memacu perkembangan kemampuan akademik dan perkembangan kognitif siswa, (Bonhauser dkk, 2005; DSR, 2006; Chatzisarantis, 2007).

Sedangkan pembelajaran afektif merujuk kepada perubahan-perubahan atau perkembangan reaksi emosional anak terhadap situasi-situasi tertentu, dan biasanya berlangsung sehubungan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan bidang lainnya dan meningkatkan prilaku siswa yang tepat serta sejalan dengan perkembangan efektif tersebut.  Gerakan merupakan media alamiah yang dilakukan anak untuk menemukan, mempelajarai, meneliti lingkungan dunia disekitar mereka. Gerakan yang dilakukan setiap hari memberikan pengaruh besar terhadap peningkatan pertumbuhan fisik, kebugaran jasmani dan interaksi sosial anak. Selain itu gerakan-gerakan tersebut dapat juga dinikmati oleh anak dalam upaya menurunkan tingkat ketegangan dan kecemasan. Oleh karena itu tujuan afektif sangat penting dalam pembelajaran pendidikan jasmani, karena berkaitan dengan pembinaan perasaan dan emosi serta membina kemampuan untuk melakukan interaksi sosial dengan teman dalam satu kelas, dalam kelompok atau dalam satu tim olahraga sekolah.

Keterampilan afektif sangat penting dalam kehidupan sosial anak. Keberhasilan dalam pelaksanaan pendidikan jasmani akan melahirkan pertumbuhan emosional anak yang baik seperti menambah rasa percaya diri, bertambahnya konsep diri dan meningkatnya rasa harga diri. Penekanan yang penting dalam pembelajaran afektif adalah keikutsertaan anak secara aktif dalam setiap kegiatan sebab setiap kegiatan yang diikuti, akan mencari dan menemukan tantangan-tantangan baru serta merasa yakin bahwa dirinya mampu melakukannya.

Selanjutnya dalam aktivitas pendidikan jasmani mereka harus bersosialisasi, bekerja sama, salaing membantu satu dengan yang lainnya, dan semua ini akan meningkatkan pertumbuhan ranah afektif. Hasil temuan Wolf-Dietrich. B (1992) yang dikutip oleh Rusli (2001) menunjukkan bahwa anak muda yang lebih aktif dalam olahraga memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk mengatasi stres, gejala kenakalan dan penyimpangan prilaku remaja. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan jasmani dalam mengatasi ketimpangan sosial yang terjadi dikalangan anak muda. Tetapai sayang bahwa tujuan afektif ini tidak pernah dimasukkan dalam komponen tujuan yang perlu dicapai dan dievaluasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Kita lupa bahwa ketiga ranah tujuan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Adanya kecenderungan guru pendidikan jasmani menekankan pada pencapaian aspek psikomotorik sebagai tujuan utama keberhasilan pendidikan jasmani  perlu perubahan dan pembaharuan.

Tujuan pendidikan Nasional yang sangat erat kaitannya dengan pendidikan jasmani dan merupakan bidang garapan dari asfek fisiologis adalah kesehatan dan kebugaran jasmani  para siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut  maka pendidikan jasmani tidak boleh terlepas dari pendidikan gerak manusia, seperti yang dikemukakan Cholik Mutohir (1990) yang mengemukakan bahwa tidak ada pendidikan yang lengkap tanpa pendidikan jasmani dan tidak ada pendidikan jasmani tanpa media gerak, karena gerak sebagai aktivitas jasmani merupakan dasar alami bagi manusia untuk belajar mengenal dunia dan dirinya sendiri. Lebih lanjut Rusli Lutan (2001) menegaskan bahwa pendidikan jasmani itu tak lain adalah proses belajar untuk bergerak, dan belajar melalui gerak.

Dari aspek fisiologis dapat dijelaskan bahwa tanpa gerak, atau  gerak yang  dilakukan tidak memenuhi persyaratan prinsip-prinsip latihan seperti jumlah atau volume gerak, dan lamanya waktu bergerak, serta intensitas gerak, maka tujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani para siswa tersebut mustahil akan tercapai. Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan diperlukan oleh setiap orang termasuk para siswa dalam  mempertahankan kesehatannya, mengatasi stress ling-kungan, dan melakukan aktivitas sehari-hari. Selain itu, kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan diperlukan sebagai komponen dasar dalam mengembangkan dan mencapai prestasi  dalam bidang olahraga. Karhiwikarta (1988) menyatakan bahwa kualitas hidup dalam konsep fisiologis ditentukan oleh kondisi kesehatan dan kebugaran jasmani, pada khususnya kebugaran jasmani-kesehatan atau yang disebut sehat bugar (health-fitness) atau sehat dinamis. Kebugaran jasmani yang berkaitan dengan kesehatan terdiri dari lima komponen yaitu: daya tahan kardiovaskular, kekuatan otot, daya tahan otot, kelentukan, dan komposisi tubuh. Oleh karena itu guru pendidikan jasmani dan olahraga harus memahami  pendidikan gerak atau pendidikan jasmani tersebut dari sudut fisiologis. Sebab kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak guru pendidikan jasmani yang belum memahami dan menerapkan aspek fisiologis olahraga dalam proses pembelajarannya, sehingga peran pendidikan jasmani dan olahraga dalam meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani para siswa belum seperti yang diharapkan.

Hal ini jelas terlihat dari hasil penelitian yang dipulikasikan oleh kantor Menegpora (1997) antara lain ditemukan bahwa terjadi penurunan tingkat kebugaran jasmani siswa. Hasil penelitian terhadap kebugaran jasmani siswa secara nasional menunjukkan bahwa 45,9% siswa yang berusia antara 16 – 19 tahun, memiliki tingkat kebugaran jasmani dengan ketegori  kurang dan kurang sekali; sedangkan siswa yang berusia antara 13 – 15 tahun, sejumlah 37% memiliki tingkat kebugaran jasmani yang berada pada kategori kurang dan kurang sekali, kemudian secara keseluruhan siswa yang berusia 13 – 19 tahun tidak ada yang memiliki tingkat kebugaran jasmani  yang berada pada kategori baik sekali. Hasil penelitian ini tentunya sangat memprihatinkan bagi dunia pendidikan jasmani di Indonesia sekaligus merupakan dampak krisis global dan kegagalan kita dalam mewujudkan tujuan pendidikan secara umum dan tujuan pendidikan jasmani  khususnya. Pada hal orientasi pembelajaran yang diberikan selama ini umumnya terfokus pada pencapaian ranah psikomotor, namun hasilnya juga tidak seperti yang diharapkan.

Kondisi Pelaksanaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga Di Indonesia

 

Hadirin yang berbahagia

Secara umum guru pendidikan jasmani dan olahraga memiliki pemahaman yang sama tentang betapa pentingnya pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan kreatifitas siswa. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek seperti perkembangan pengetahuan, penalaran, kerjasama, emosional, sikap sportif, menghargai perbedaan, saling menolong , keterampilan, kesehatan, kebugaran jasmani bahkan meningkatkan perkembangan inteligensia. Namun perlu diingat, bahwa dampak positif pendidikan jasmani dan olahraga tidak akan diperoleh dalam waktu singkat seperti  semudah membalik telapak tangan.

Apabila dikaitkan dengan pembinaan sumber daya manusia pada masa yang akan datang, maka pelaksanaan pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah merupakan investasi jangka panjang. Hal ini berarti hasilnya tidak akan diperoleh dalam waktu singkat akan tetapi memerlukan waktu yang panjang. Oleh karena itu setiap guru atau insan olahraga yang terlibat didalam proses pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga seyogianya profesional dan memiliki sifat-sifat yang dapat menyejukkan suasana belajar.misalnya memiliki kesabaran, keuletan, penuh kasih sayang dan rela berkorban baik waktu maupun energi dalam memberikan pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga. Sebab selama ini ada kecenderungan suasana sejuk dan menyenangkan jarang diperoleh siswa dan lebih banyak mengalami suasana yang mencekam akibat pendekatan otoriter yang diterapkan oleh guru pendidikan jasmani dan olahraga. Hal ini menyebabkan kesan guru olahraga dikenal dengan istilah guru olahraga yang “galak”. Walaupun demikian saya melihat masih banyak guru yang baik, bertanggungjawab, penuh kasih sayang sehingga disayangi dan disenangi oleh siswanya.

Masalah lain adalah pemahaman siswa tentang pentingnya pendidikan jasmani dan olahraga dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani masih rendah. Sebagian besar siswa dalam melaksanakan pendidikan jasmani dan olahraga karena merasa terpaksa dan tuntutan kurikulum. Minat siswa berolahraga semakin rendah apabila pelaksanaan olahraga pada siang hari dibawah panas terik matahari yang dapat membuat kulit menjadi hitam. Berkaitan dengan hal tersebut seyogyanya guru pendidikan jasmani menekankan betapa pentingnya keikutsertaan siswa dalam berolahraga untuk membina kebiasaan hidup aktif selama hidupnya dan untuk tujuan kesehatan yang lebih sempurna (Karteroliotis, 2008; Lonsdale, Hodge, dan Rose, 2008). Dalam kenyataannya ditemukan kesulitan untuk meningkatkan motivasi siswa agar tetap hidup sehat. Hal ini diperparah lagi oleh sikap guru olahraga yang berlebihan dan kesan guru  “galak” membuat siswa tegang dan stres pada saat mengikuti pendidikan jasmani dan olahraga.

Kondisi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga yang menyebabkan siswa mengalami stress, akan memberikan dampak negatif yaitu siswa tidak menyenangi mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga. Dampak negatif lainnya yaitu berpengaruh terhadap fungsi otak yang berkaitan dengan kecerdasan dan kreatiifitas siswa. Suasana pembelajaran yang membuat siswa stress akan menyebabkan menurunnya jumlah neurotransmitter, pertumbuhan dendrit dan akson serta terganggunya pembentukan reseptor di otak sehingga menyebabkan kecerdasan dan kreatifits siswa menurun (Bekinschtein, 2008). Sebagaimana kita ketahui neurotransmiter yang terdapat di otak maupun saraf berfungsi untuk membawa informasi yang didapat dari lingkungan luar ke otak kiri dan otak kanan. Informasi ini tersimpan dan merupakan proses terbentuknya  Long Term Memory pada siswa. Kemampuan Long Term Memory sangat diperlukan agar siswa dapat berprestasi. Oleh karena itu seyogyanya pendidikan jasmani dan olahraga dapat merangsang pembentukan neurotransmiter. Hal ini sesuai dengan pendapat Bekinschtein, (2008) yang menyatakan: olahraga dapat meningkatkan kecerdasan oleh karena terjadinya peningkatan neurotransmiter (Brain-Derived Neurotrophic Factor) di otak kiri maupun otak kanan. Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) adalah protein khusus yang akan menstimulasi  pertumbuhan dendrit dan akson. Kedua komponen ini merupakan jembatan menghantarkan informasi dari satu sel otak ke sel otak lainnya (Edmunds, /ntoumanis dan Duda, 2007; Bekinschtein, 2008).

Selain itu olahraga dapat pula meningkatkan pembentukan reseptor di otak. Reseptor tersebut berperan menangkap informasi yang dibawa dari satu sel otak ke sel otak yang lain. Apabila proses pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga dalam suasana stres yang mengakibatkan produksi adrenalin meningkat akan menyebabkan gangguan pembentukan neurotransmiter, denrit dan akson serta reseptor. Teori inilah yang dapat menjelaskan anak yang relatif jarang berolahraga tingkat kecerdasan dan kreatifitasnya lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang teratur berolahraga. Berkaitan dengan kondisi pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga yang belum optimal di Indonesia akan menimbulkan kekhawatiran generasi penerus bangsa Indonesia tidak memiliki kecerdasan dan kreatifitas yang optimal. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biomolekuler telah dapat menjelaskan betapa pentingnya aktifitas fisik misalnya : pendidikan jasmani dan olahraga untuk tumbuh-kembang anak sehingga memiliki tingkat kecerdasan dan kreatifitas yang tinggi.

Pengalaman dan pengamatan penulis menunjukkan bahwa kondisi pelaksanaan pendidikan jasmani dan olahraga di berbagai sekolah di Indonesia belum optimal menerapkan faal olahraga dalam proses pembelajarannya. Hal inilah yang dapat menjawab masalah rendahnya kebugaran jasmani siswa di Indonesia.

 

Implikasi Terhadap Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah

 

Hadirin yang berbahagia

Kajian fisiologis pendidikan jasmani dan olahraga yang telah diuraikan, berimplikasi terhadap pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga sebagai berikut:

Guru pendidikan jasmani dan siswa seyogiannya memahami pentingnya penerapan ilmu faal olahraga pada setiap kegiatan pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah dan diluar sekolah. Untuk itu diperlukan alokasi waktu pembelajaran yang waktu cukup, dan tersedianya prasarana dan sarana yang memadai untuk menunjang pelakasanaan pendidikan jasmani dan olahraga serta adanya dukungan pemerintah, masyarakat dan semua pihak yang berkepentingan serta seluruh insan olahraga.

Profesionalitas guru pendidikan jasmani dan olahraga, memegang peran yang sangat strategis dan merupakan kunci sehingga terhadap keberhasilan pelaksanaan pendidikan jasmani di sekolah. Oleh karena itu seyogiannya memiliki sifat-sifat yang dapat menyejukkan suasana belajar seperti kesabaran, penuh kasih sayang,keuletan dan rela berkorban baik waktu maupun energi. Citra guru pendidikan jasmani sebagai penjaga keamanan yang menakutkan bagi siswa perlu diubah.

Kelemahan guru pendidikan jasmani yang menyebabkan rendahnya tingkat kebugaran jasmani siswa seperti telah diuaraikan sebelumnya, terletak pada lemahnya sub sistem penyelenggaraan yang berkaitan dengan lemahnya kompetensi dalam bidang ilmu faal olahraga, kurangnnya jumlah frekuensi dan waktu berolahraga, kurang kreatif, dan jarang mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah tentang perkembangan ilmu keolahragaan. Akibatnya para guru tidak melakukan inovasi dalam pembelajarannya, terutama kurang menerapkan ilmu faal olahraga dalam proses pembelajaran, materi yang diberikan kurang bervariasi dan tidak menarik dan menyenangkan bagi siswa.

Berkaitan dengan hal tersebut maka, guru harus cerdas dalam mengatur lingkungan belajar siswa, termasuk dalam menetapkan metode yang tepat sesuai dengan kondisi di lapangan, serta mampu membangkitkan motivasi siswa agar melakukan olahraga secara serius dan bersemangat. Kemampuan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan sangat diperlukan, sehingga para siswa tertarik untuk melakukan olahraga baik disekolah maupun diluar jam sekolah. Sebab jam pelajaran disekolah yang hanya sekali dalam seminggu, tidak mungkin dapat meningkatkan kebugaran jasmani siswa. Mengenai kesiapan siswa untuk mau berlatih, Rusli Lutan (2001) mengemukakan adanya sikap positif siswa terhadap aktivitas jasmani dan faktor dorongan untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga tersebut.

Menciptakan pembelajaran yang menyenangkan akan menarik minat dan keinginan siswa untuk berolahraga. Semakin tinggi minat siswa untuk melakukan olahraga, maka gaya hidup aktif akan tertanam dalam diri merka, sehingga lama kelamaan akan mendarah daging dan muncul kesadaran untuk melakukan olahraga secara rutin di sekolah dan diluar sekolah. Lebih jauh ditekankan oleh Rusli Lutan (2001) bahwa untuk meningkatkan motivasi berlatih pada anak-anak, guru pendidikan jasmani dan olahraga perlu merancang aneka variasi tugas yang menarik perhatian anak serta faktor dorongan orang tua ikut berperan. Oleh karena itu, peningkatan profesionalitas guru pendidikan jasmani dan olahraga dapat dilakukan melalui keikutsertaan dalam berbagai seminar dan diskusi olahraga, serta adanya kesempatan untuk mengikuti pendidikan lanjutan bagi guru pendidikan jasmani  yang belum sarjana. Kebijakan pemerintah seyogianya memberi peluang seluas-luasnya bagi guru pendidikan jasmani dan olahraga untuk meningkatkan pendidikan dan keterampilannya, sehingga semua guru pendidikan jasmani mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah harus berkualifikasi sarjana pendidikan olahraga. Sehingga diharapkan tidak ada lagi guru agama, guru kesenian, guru fisika, matematik yang mengajar pendidikan jasmani. Dengan demikian guru pendidikan jasmani adalah benar-benar memiliki keahlian dalam bidang pendidikan jasmani dan olahraga serta memiliki pengetahuan yang mendalam tentang fisiologi olahraga dan teori latihan olahraga, sehingga mampu memberdayakan setiap kemampuan yang dimiliki siswa melalui budaya gerak untuk tumbuh kembang siswa.

Peningkatan kualitas guru pendidikan jasmani dan olahraga tidak hanya untuk  guru siswa regular, akan tetapi termasuk pula untuk guru pendidikan jasmani adaptif yang mengajar di sekolah luar biasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95% guru pendidikan jasmani yang mengajar di sekolah luar biasa bukan berlatar belakang pendidikan jasmani dan olahraga, tetapi pada umumnya adalah tamatan Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (PLB) atau Sarjana Pendidikan Luar Biasa, dan tingkat kebugaran jasmani para siswa berada pada kategori sangat rendah (Tarigan, 2003). Peningkatan profesionalitas guru pendidikan jasmani adaptif tersebut sangat mendesak dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah luar biasa yang selama ini terkesan pemerintah diskriminatif. Untuk tujuan tersebut peran pemerintah sangat strategis serta diperlukan kerjasama antara berbagai lembaga yang berkaitan dengan pendidikan jasmani adaptif.

 

Hadirin yang berbahagia

Beban dan beratnya pembelajaran pendidikan jasmani perlu mendapat perhatian dari guru pendidikan jasmani, sebab hal itu akan berpengaruh terhadap prestasi dan masa depan siswa. Tulang anak-anak usia muda belum matang, dan sedang mengalami pertumbuhan yang pesat dan umumnya sangat riskan terhadap cedera. Apabila beban yang diberikan tidak tepat dan berlebihan akan menyebabkan cedera atau kerusakan pada pusat pertumbuhan yaitu pada discus epifisialis. Apabila discus epifisialis robek akan menyebabkan kerusakan permanen pada tulang, sehingga pertumbuhan anak menjadi berhenti. Oleh karena itu beban latihan kekuatan yang berlebihan sebaiknya dihindari karena akan mengakibatkan cedera.

Berkaitan dengan beban ajar yang diberikan pada setiap siswa seyogianya disesuaikan dengan kemampuan setiap siswa, tingkat pertumbuhan dan perkembangannya sehingga tidak menimbulkan cedera. Begitu juga mengenai intensitas, prinsif ini jarang diperhatikan oleh guru pendidikan jasmani, sehingga pencapaian daerah latihan yang bersifat individual jarang tercapai. Oleh karena itu, agar pendidikan jasmani dapat meningkatkan kebugaran jasmani siswa perlu dipenuhi penerapan prinsif yang sesuai dengan rumus FITT yang telah dikemukakan yaitu, frekuensinya harus minimal tiga kali dalam seminggu sebab kenyataan selama ini pendidikan jasmani di sekolah hanya diberikan satu kali dalam seminggu. Untuk itu harus ada terobosan dan keberanian untuk melakukan perubahan dalam kurikulum mengenai jumlah jam pelajaran pendidikan jasmani, atau adanya kebijakan nasional yang mewajibkan para siswa melakukan olahraga massal atau senam setiap pagi selama 15-30 menit sebelum masuk kelas dan atau dapat juga dipertimbangkan untuk mengaktifkan ekstrakurikuler bagi seluruh siswa pada sore hari setelah jam pelajaran selesai.

Selanjutnya intensitas pembelajaran pendidikan jasmani harus betul-betul dipantau oleh guru, untuk meyakinkan bahwa setiap siswa telah berlatih pada daerah latihannya (zona training) masing-masing, sehingga memberikan ransangan latihan yang positif dan juga merupakan alat untuk memantau apakah latihan yang dilakukan telah melebihi daerah latihannya yang dapat membahayakan kselamatan siswa. bagi siswa yang sehat, intensitas dapat bervariasi mulai 50% sampai 85% dari VO2max reserve (VO2max reserve = VO2max –VO2rest). Namun karena kurangnya peralatan yang dimiliki sekolah, maka pengukuran VO2max secara umum dapat ditentukan berdasarkan denyut jantung yaitu zona denyut jantung (Target Heart Range) biasanya  220- Usia dengan range 50% – 85%. Sedangkan  Time atau waktu lamanya melakukan aktivitas olahraga adalah 30- 60 menit.

Mengenai tipe atau jenis olahraga yang dilakukan tergantung pada kurikulum dan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan. Oleh karena itu guru merancang program olahraga bagi siswanya baik yang bersifat aerobik maupun anaerobik berdasarkan prinsip-prinsip latihan yang benar. Kemudian dianjurkan agar para siswa melakukan kegiatan olahraga di luar jam pelajaran sekolah (gaya hidup aktif), minimal tiga kali dalam seminggu. Dari aspek fisiologis dapat dijelaskan bahwa apabila pendidikan jasmani yang tidak dilakukan sesuai dengan rumus FITT maka tujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani mustahil akan tercapai. Sedangkan pada sisi lain, kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan diperlukan oleh setiap siswa dalam  mempertahankan kesehatannya, mengatasi stress lingkungan, dan melakukan aktivitas sehari-hari serta sebagai komponen dasar dalam mengembangkan dan mencapai prestasi  dalam bidang olahraga. Teori latihan yang sudah mapan dan kita percayai selama ini menganjurkan untuk meningkatkan kebugaran jasmani siswa, maka aktivitas jasmani atau olahraga harus dilakukan minimal tiga kali dalam seminggu. Berkaitan dengan hal tersebut, pada saat penulis melakukan studi banding tentang pendidikan jasmani ke Cina tahun 2008 yang lalu, ternyata di Cina pembelajaran pendidikan jasmani dilakukan tiga kali dalam seminggu dengan alokasi waktu 1 kali 45 menit. Kegiatan pendidikan jasmani berjalan dengan dinamis dan disiplin waktu serta ditunjang oleh fasilitas yang memadai. Pakaian sekolah sehari-hari siswa adalah pakaian olahraga lengkap dengan sepatu olahraga. Dengan  kondisi seperti ini, para siswa dapat bergerak dengan leluasa setiap saat dan tidak membutuhkan waktu untuk mengganti pakaian pada saat terjadi pertukaran jam pelajaran. Di Indonesia untuk mengganti pakaian dan berjalan menuju lapangan olahraga diperlukan waktu sekitar 20-30 menit.

Selain jam pelajaran pendidikan jasmani dilakukan tiga kali dalam seminggu, mereka juga diwajibkan mengikuti ektrakurikuler olahraga dan bagi mereka yang berprestasi dalam cabang olahraga tertentu, mereka masuk ke klub olahraga sekolah yang memiliki pula jadwal tersendiri. Berdasarkan model pembelajaran pendidikan jasmani di Cina tersebut, dapat digambarkan bahwa jumlah waktu aktif dan frekuensi melakukan pendidikan jasmani dan olahraga sangat memadai ditinjau dari sudut fisiologi olahraga.

Pada setiap pembelajaran para siswa harus mengerti agar jelas apa tujuan pembelajaran yang ingin dicapai melalui kegiatan belajar tersebut. Apabila tujuannya jelas, misalnya meningkatkan kebugaran jasmani, maka siswa akan mempersiapkan diri dan mengikuti setiap kegiatan dengan sunguh-sungguh. Pencapaian tujuan kognitif yang meliputi kegiatan menggunakan dan melatih kemampuan intelektual siswa yaitu melatih agar mampu mengingat informasi, baik yang  sederhana maupun kompleks sampai pada tahap penafsiran, dan penarikan kesimpulan tentang informasi yang diterima. Kemampuan seperti ini perlu dilatih karena sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan keterampilan afektif sangat penting dalam kehidupan sosial anak. Keberhasilan dalam pelaksanaan pendidikan jasmani akan melahirkan pertumbuhan emosional anak yang baik seperti menambah rasa percaya diri, bertambahnya konsep diri dan meningkatnya rasa harga diri. Penekanan yang penting dalam pembelajaran afektif adalah keikutsertaan anak secara aktif dalam setiap kegiatan sebab setiap kegiatan yang diikuti siswa akan mencari dan menemukan tantangan-tantangan baru serta merasa yakin bahwa dirinya mampu melakukannya(Richardson dkk, 2005; Pelletier, Vallerand dan Sarazzin, 2007).

Selanjutnya dalam aktivitas pendidikan jasmani mereka harus bersosialisasi, bekerja sama, saling membantu satu dengan yang lainnya, dan semua ini akan meningkatkan pertumbuhan ranah afektif. Tetapai sayang bahwa tujuan afektif ini tidak pernah dimasukkan dalam komponen tujuan yang perlu dicapai dan dievaluasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Kita lupa bahwa ketiga ranah tujuan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pencapaian tujuan afektif ini harus dimasukkan dalam setiap tujuan pembelajaran seperti tujuan psikomotor yang menjadi fokus tujuan utama dalam setiap pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah.

 

Hadirin yang berbahagia

Masalah jumlah siswa yang terlalu banyak dalam satu kelas harus dicarikan jalan keluarnya, dari sudut fisiologi misalnya diadakan pembagian antara siswa putra dan putri, sebab dilihat dari kemampuan fisik, maka antara siswa putra dan putri terdapat perbedaan yang signifikan. Namun dampak pembagian ini harus tersedianya dua orang guru penjas dalam satu kelas dan resikonya terjadi penambahan guru dan biaya yang harus dikeluarkan. Selama ini, masalah jumlah siswa yang terlalu banyak dalam satu kelas dan minimnya fasilitas belajar serta pemdekatan konvensional (pendekatan teknis) yang mengharuskan siswa menunggu giliran dalam waktu lama untuk melakukan suatu aktivitas teknik, sehingga jumlah waktu aktif belajar siswa hanya sedikit dari seluruh alokasi waktu yang tersedia, dan hal ini menjadi kendala dalam keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran.   Kondisi minimnya waktu aktif siswa dalam setiap pembelajaran ini harus ditingkatkan, termasuk penambahan kelengkapan peralatan dan fasilitas belajar.

Komitmen pentingnya program pendidikan jasmani dalam membangkitkan motivasi siswa untuk mencapai pola hidup sehat perlu mendapat perhatian dari masyarakat luas. Apabila tidak ada komitmen dan perubahan sikap masyarakat, maka krisis global yang menimpa  pendidikan jasmani, dan keinginan untuk melakukan pembaharuan tidak akan pernah terselesaikan, sebab apabila kita ingin melakukan pembaharuan dalam pendidikan jasmani, maka harus ada perubahan sikap dan komitmen dari masyarakat, dan tanpa perubahan sikap dan komitmen yang tinggi tersebut maka pembaharuan dalam pendidikan jasmani tidak akan pernah terlaksana. Oleh karena itu peran pemerintah dan ahli olahraga sangat penting dalam merubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat (Pelettier, Slovinec dan Reid, 2007). Sedangkan peran orang tua sangat penting dalam menjaga kebugaran anak-anaknya dan seyogiannya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Para orang tua harus memberi motivasi kepada anaknya agar rajin melakukan olahraga dan berprilaku sebagai orang yang aktif berolahraga sehingga anak-anaknya pun akan tertarik untuk lebih aktif lagi seperti yang dilakukan orangtuannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Wessel dkk,(2004);Thogersen & Nikonstoumanis,(2006) menegaskan: berikan motivasi bagi setiap siswa agar melakukan gaya hidup aktif dalam kehidupannya sehingga  tetap sehat dan bugar sepanjang masa.

 

Hadirin yang berbahagia

Melakukan aktivitas pendidikan jasmani dan olahraga secara teratur dengan dosis dan intensitas yang cukup dan melaksanakan prinsip FITT  membuat faal jantung, pembuluh darah dan sistem pernafasan akan bekerja dengan baik sebab jantung selalu beradaptasi terhadap olahraga yang dilakukan dengan cara meningkatkan kekuatan dan efisiensinya, sehingga jantung dapat memompa lebih banyak darah dalam setiap denyutnya. Dengan demikian kebutuhan oksigen dan nutrisi bagi otot yang bekerja pada saat berolahraga, terpenuhi dengan baik.

Optimalisasi pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kebugaran siswa, dapat dilakukan berlandaskan fisiologis olahraga. Penerapkan prinsip FITT (Frekwensi, Intensitas, Time, dan Tipe) dapat meningkatkan kebugaran yang berkaitan dengan kesehatan yang meliputi daya tahan jantung paru,  kekuatan, daya tahan otot dan fleksibilitas serta komposisi tubuh yang baik dan tidak kegemukan serta dapat mengurangi resiko terkena penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, stroke, diabetes melitus, hipertensi, paru, dan lain sebagainya.

 

Profesionalitas guru pendidikan jasmani dan kualitas proses pembelajaran pendidikan jasmani perlu ditingkatkan melalui peningkatan kualifikasi, dan kompetensi guru pendidikan jasmani terutama dalam bidang fisiologi olahraga, teori latihan serta perlu ditunjang sarana dan prasarana olahraga yang memadai.

Bagi guru pendidikan jasmani yang belum sarjana seyogianya diberi peluang seluas-luasnya dan dibantu oleh pemerintah untuk meningkatkan pendidikan dan keterampilannya, sehingga semua guru pendidikan jasmani berkualifikasi sarjana pendidikan olahraga yang menguasai fisiologi olahraga, dan tidak ada lagi guru agama, guru kesenian, guru fisika, guru BP dan lain-lain yang tidak berkompeten mengajar pendidikan jasmani. Dengan demikian para guru pendidikan jasmani mampu memberdayakan setiap kemampuan yang dimiliki siswa melalui budaya gerak untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan setiap siswa serta meningkatkan kebugaran jasmani secara optimal.

Pemahaman siswa tentang pentingnya pendidikan jasmani dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani perlu ditanamkan oleh guru pendidikan jasmani. Hal ini agar para siswa memiliki sikap positif, menyukai aktivitas jasmani, berprilaku hidup sehat, dan hidup aktif sepanjang hayat, serta memiliki kesadaran yang tinggi untuk mengikuti pendidikan jasmani  dengan sungguh-sungguh dalam rangka meningkatkan kesehatan dan kebugaran, sehingga dapat melaksanakan tugas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan dan terhindar dari penyakit kurang gerak (hipokinesia), dan pembentukan tubuh yang lebih baik dan proporsional

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad R. & Bath P.A. (2005). Identification of Risk Factors for 15-years Mortalitiy Among Community-Dwelling Older people Usina Cox Regression and a Genetic Algortihm. Journal of Gerontology. Vol 60A, No.8, 1052-1058.

Anderson S.J., Griesemar B.A., Johnson M.D., Martin T.J., Mclain L.G., Rowland T.W.,Small E. (2000). Physical Fitness and Activity in Schools. American Academy of Pedriatrics. Committee on Sports Medicine and Fitness. Vol. 105 No. 5.

Astrand, P.O. and Rodahl, K. (2003). Textbook of Work Physiology, Physiological Base of Exercise. New York : McGraw-Hill.

Bekinschtein, (2008). BDNF is Essential for Long Term Memory. Journal of Pasific National America Services.Vol. 8(3): 1134-1178.Bill Pearl (2003). Getting Stronger. Weight Training for Men and Women. Random House, Inc. New York.

Bompa, Tudor. (1999). Theory and Methodology of Training. USA : Kendall / Hunt Publishing.

Bonhauser M., Fernandez G., Püschel K., Yanez F., Montero J., Thompson B., and Coronado G. (2005). Improving Physical Fitness and Emotional Well-being in Adolescents of Low Socioeconomic Status in Chile: results of a School-based controlled Trial. Health Promotion International. 20( 2) : 113-122. doi: 10.1093/heapro/dah 603.

Boreham C.A.G., Kennedy R.A., Murphy M.H., Tully M., Wallace W.F.M., Young I. (2005). Training effects of short bouts of stair climbing on cardiorespiratory fitness, blood lipids, and homocysteine in sedentary young women. British Journal of Sports Medicine. Vol.39:590-593. doi:10.1136/bjsm.2002.001131.

Bovet P., Auguste R., and Burdette H. (2007). Strong Inverse Association between Physical Fitness and Overweight in adolescents: a Large School-based Survey. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, 4:24. doi: 10.1.1186/1479-5868-4-24.

Chatzisarantis N.L. & Hagger M.S. (2007). The moral worth of sport reconsidered: Contributions of recreational sport and competitive sport to life aspirations and psychological well-being. Journal of Sports Sciences. Vol. 25(9):1047-1056.

Cleland V., Venn A., Fryer J., Dwyer T., and Blizzard L. (2005). Parenteral exercise is associated with Australian children´s extracurricular sports partipation and cardiorespiratory fitness: A cross-sectional study. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical  Activity. Vol. 2:3. doi:10.1186/1479-5868- 2-3.

Edmunds J., Ntoumanis N., and Duda J.L. (2007). Testing a self-determination theory-based teaching style intervention in the exercise domain. European Journal of Social Psychology. Vol. 38, 375-388. doi: 10.1002/ejsp.463.

Fairclough S. and Stratton G. (2005). ´Physical Education makes you Fit and Healthy´. Physical Education´s Contribution to Young People´s Physical Activity Levels. Health Education Research. Vol. 20 no.1 pages 14-23.

Foss, M.L., Keteyian, S.J. (1998). Fox’s Physiological Basis for Exercise and Sport. McGraw-Hill Companies.

Giam, C.K., and Teh, K.C. (1993). Sports Medicine, Exercise and Fitness. Singapore : P.G. Publishing Pte. Ltd.

 

Griwijoyo, Y S Santoso. (1991). Kesehatan, Kebugaran Jasmani dan Olahraga dalam Manusia dan Olahraga. ITB dan FPOK/IKIP Bandung.

Guyton, A.C., Hall J.E. (2006). Fisiologi Kedokteran. Textbook of Medical Physiology. Ed 11. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.

Harsono, (2000). Coaching dan Aspek-aspek Psikologi dalam Coaching. Jakarta : CV. Tambak Kesuma.

Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. (1971). Seminar Kebugaran Jasmani. Jakarta.

Karteroliotis K. (2008). Validation of the Physical Self-Perception Profile Among College Students. Journal of Education and Human Development. Vol 2, issue 1. ISSN 1934-7200.

Khomsin. (2000). Paradigma Baru Pendidikan Jasmani di Indonesia dalam Era Reformasi. Jakarta. Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia.

Kim J., Must A., Fitzmaurice G.M., Gillman M.W., Chomitz V., Kramer E., et al. (2005). Relationship of Physical Fitness to Prevalence and Incidence of Overweight among Schoolchildren. Obesitas Research. Vol. 13:1246-1254.

Lane A.M., and Whyte G.P. (2006). From Education to Application: Sport and Exercise Sciences Courses in the Preparation of Applied Sport Scientists. Journal of Hospitality, Leisure, Sport and Tourism Education. Vol. 5, No. 2. ISSN: 1473-8376. DOI:10.3794/johlste.52.per.

Lonsdale C., Hodge K., and Rose E.A. (2008). The Behavioral Regulation in Sport Questionnaire(BRSQ): Instrument Development and Initial Validity Evidence. Journal of Sport & Exercise Psychology. Vol.30,323-355.

 

Lutan R. (2009). Ringkasan Laporan dan Re-Interpretasi. 12TH World Sport For All Congress 2008. “Sport for All-for Life”. Genting Highlands, Malaysia

Mooren F.C & Volker K. (2005). Molecular and Cellular Exercise Physiology .Human Kinetics. United States of America. ISBN: o-730-4518.

Mutohir, Toho Cholik dan Rusli Lutan(1996). Buku Teks D II PGSD: Pendidikan Jasmani danKesehatan. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Newman A.B., Kupelain V., Visser M., Simonsick E.M., Goodpaster B.H., Kritchevsky S.B., Tylavsky F.A., et al. (2006). Strength, But Not Muscle Mass, Is Associated with Mortality in the Health, Aging and Body Compotition Study Cohort. Journal of Gerontology. MEDICAL SCIENCES. Vol. 61A, No.1, 72-77.

Pelletier L.G., Vallerand R.J., and Sarrazin P. (2007). The revised six-factor Sport Motivation Scale: Something old, something new, and something borrowed. Psycology of Sport and Exercise. Vol 8:615-621. doi:10.1016/j.psychsport.2007.03.006.

Pelletier L.G., Slovinec M., and Reid R.D. (2007). A Model for Exercise Behavior Change Regulation in Patients with Heart Disease. Journal of Sport & Exercise Psyhology, 29,208-224.

Powers, S.K., Howley E.T. (2001). Exercise Physiology: Theory and Application to Fitness and Performance. 4th edition. New York: Mc Graw Hill Company.

Purba, A. (2007). Kardiovaskuler dan Faal Olahraga, Fisiologi Kedokteran. Bagian Ilmu Faal/ Faal Olahraga. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Bandung.

 

Richardson C.R., Faulker G., McDevitt J., Skrinar G.S., Hutchinson D.S., Piette J.D. (2005). Integrating Physical Activity Into Mental Health Servies for persons with Serious mentall Illness. Psychiatric Services. Vol. 56. No.3.

Rusli Lutan. (2001). Pembaharuan Pendidikan Jasmani di Indonesia. Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Dikdasmen dan Dirjen Olahraga

Rusli Lutan. (2001).Mengajar Pendidikan Jasmani: Pendekatan Pendidikan Gerak di Sekolah Dasar. Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Dikdasmen dan Dirjen Olahraga.

Rusli Lutan. (2001).Asas-Asas Pendidikan Jasmani: Pendekatan Pendidikan Gerak di Sekolah Dasar. Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Dikdasmen dan Dirjen Olahraga

Sherwood L (2004). Human Physiology.From Cells to Systems. Fifth edtion. Thomson Learning, Inc. United States of America.

Singh A.S., Chin A Paw M., Bosscher R.J., and van Mechelen W. (2006). Cross-sectional relationship berween Physical Fitness Components and Functional Performance in older Persons living in long-term Care Facilities. BMC Geriatrics 6:4. doi:10.1186/1471-2318-6-4.

Supandi. (1991). Landasan Ilmiah Olahraga dalam Manusia dan Olahraga. ITB dan FPOK/IKIP Bandung

Takata Y., Ansai T., Akifusa S., Soh I., Yoshitake Y., Kimura Y., et al. (2007). Physical Fitness and 4-Year Mortality in an 80-Year-Old Population. Journal of Gerontology: MEDICAL SCIENCES. Vol. 62A, No.8, 851-858.

Tarigan, Beltasar. (2000). Penjaskes Adaptif, Depdiknas, Direktorat PLB, Jakarta.

Tarigan, Beltasar. (2002). Pelaksanaan Pendidikan Jasmani Adaptif di Indonesia, FPOK UPI Bandung,

Tarigan, Beltasar. (2003). Profil Guru Pendidikan Jasmani dan Kebugaran Jasmani Siswa Tuna Netra, Tuna Rungu, dan Tuna Grahita, FPOK UPI Bandung,

Thogersen-Ntoumani C. & Nikosntoumanis. (2006). The role of self-determined motivation in the understanding of exercise-related behaviors, cognitions and physical self-evaluations. Journal of Sports Sciences. Vol.24(4):393-404.

Wessel T.R., Arant C.B., Olson M.B., Johnson B.D., Reis S.E., Sharaf B.L., et al. (2004). Relationship of Physical Fitness vs Body Mass Index With Coronary Artery disease and Cardiovascular Events in Women. Journal of American Medical Association. Vol.292,No.10:1179-1187. doi:10.1001/jama.292.10.1179.

Wilmore J.H., Costill, L.D. (2004). Physiology of Sport and Exercise. USA : Human Kinetics.

Wilson P.M., Rogers W.T., and Wild T.C. (2006). The Psychological Need Satisfastion in Exercise Scale. Journal of Sport & Exercise Psychology. Vol. 28,231-251.

Winnick., Joseph P.,(1990). Adapted Physical Education and Sport, Human Kinetics Books, Champaign, Illinoise

Wisloff U., Castagna C., Helgerud J., Jones R. and Hoff J. (2004). Strong Correlation of maximal squat strength with sprint performance and Vertical jump Height in Elite Soccer Players. British Journal Sports Medicine. Vol. 38: 285-288.

 

 

Penutup

Hadirin yang berbahagia

Pada hari ini, saya merasa sangat berbahagia dan penuh sukacita untuk menerima pengukuhan sebagai Guru Besar dalam Bidang Pendidikan Olahraga. Oleh karena itu, mohon doa dan dukungan agar saya mampu mengemban tugas yang mulia ini untuk berperan serta dalam pengembangan ilmu pendidikan, khususnya pendidikan olahraga dan kesehatan.

Hadirin yang berbahagia

Anugrah jabatan Guru Besar yang saya peroleh merupakan berkat dan anugrah yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Panyayang serta adanya dukungan, dorongan, dan doa dari semua pihak yang berkepentingan. Pada kesempatan yang baik ini perkenankanlah saya memanfaatkan kesempatan orasi ini untuk mengungkapakn rasa syukur, terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah memungkinkan saya berada di mimbar yang terhormat ini sebagai Guru Besar dalam Ilmu Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia. Untuk itu perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada :

-          Pemerintah RI, khususnya Bapak Mendiknas yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk memangku jabatan akademis sebagai guru besar dalam ilmu Paedagogok Olahraga

-          Rektor dan para Pembantu Rektor, serta Ketua, Sekretaris dan para anggota Senat Akademik Universitas Pendidikan Indonesia.

-          Dekan dan para pembantu Dekan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UPI.

-          Ketua, Sekretaris, dan para Dosen Jurusan Pendidikan Olahraga dan Rekreasi FPOK UPI

Penghargaan dan terima kasih saya sampaikan kepada bapak-bapak pembimbing skripsi, tesis dan disertasi yang secara formal merupakan rangkaian panjang untuk mencapai jabatan akademis guru besar ini. Kepada Prof. Drs. H.M.Tahir Djide (Alm),selaku pembimbing skripsi; Prof.Dr. Wahyu Karhiwikarta, dr .,Prof. H. Soedjatmo Soemowerdojo, dr (Alm) dan Dr. H.A. Hamid Yoesoef, dr (Alm) dari UNPAD sebagai pembimbing tesis; Prof. Dr.H. Abdul Kadir Ateng,MPd., Prof.  Dr.B .E Rahantoknam,MPd., dari FIK UNJ dan Dr. Iwan Setiawan, MSc. (Alm) selaku promotor disertasi.

Penghargaan dan terima kasih juga saya sampaikan kepada guru dan para senior saya Prof. Drs.Harsono,MSc., Prof. H. Santoso Giriwijoyo,dr.,Drs., Prof. Dr.Supandi Kartamiharja (Alm)., Prof. Imam Hidayat,Drs.,MPd., Prof.Dr. Rusli Lutan., Prof.Dr.Iwan Setiawan (Alm) dan Prof. Danu Hudaya,MSc.,PhD, yang senantiasa memberikan dorongan kepada saya untuk memperoleh jabatan guru besar ini.

Penghargaan dan terima kasih saya sampaikan kepada teman-teman pengurus Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Jawa Barat, Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia Pusat (IAFI), Perhimpunan Ahli Ilmu Faal Olahraga Indonesia Pusat (PAIFORI), Forum Insan Olahraga (FIO) Jawa Barat.

Saya sampaikan pula penghargaan dan ucapan terima kasih kepada semua guru dan dosen yang telah mendidik saya, baik di SD Negeri Tigapanah, SMP Negeri Kabanjahe, SMA Negeri Kabanjahe yang semuanya di Tanah Karo, Sumatera Utara, para dosen STO Medan, FPOK IKIP Bandung, Pascasarjana Ilmu Kedokteran Dasar UNPAD, dan Pascasarjana IKIP Jakarta, sehingga saya dapat sampai ke jenjang jabatan guru besar ini.

Secara khusus penghargaan dan terimakasih saya sampaikan kepada Prof.Dr. Rusli Lutan; Prof.Dr. Ambrosius Purba, dr.,MS.,AIFO (UNPAD) dan Prof Dr. Delphi Bandi sebagai Peer Group yang telah menghantarkan saya untuk memperoleh jabatan guru besar ini.

Terima kasih saya sampaikan kepada kedua mertua Kol. R. Soerachmat (Alm) dan Toeti Sekarningsih(Alm), yang senantiasa memberikan dorongan dan doanya.

Secara khusus, penghargaan dan terima kasih ini, saya sampaikan kepada istri, Dra. Hesty Indarjati dan anak-anak :Benny Febrianta Tarigan, SE., Robert Erianta Tarigan, Tri Andrianto Tarigan yang dengan penuh kesabaran dan cinta kasih telah memberikan dukungan, dorongan, dan doanya, sehingga memberikan inspirasi dan kekuatan kepada saya untuk meniti karir hingga sampai memperoleh jabatan guru besar ini.

Ungkapkan rasa hormat dan terima kasih  yang tak terhingga saya sampaikan kepada kedua orang tua saya yaitu ayahanda Galse Tarigan (Alm) seorang guru SD yang sangat saya kagumi dan banggakan telah banyak mewarnai kehidupan saya dan memberikan pondasi yang kokoh terhadap perkembangan pendidikan saya, demikian juga ibunda yang saya cintai Tahari Br Karo (Alm) yang telah mencurahkan begitu banyak perhatian dan kasih sayangnya sejak saya kecil. Perawatan, asuhan, bimbingan, tuntunan dan doa beliaulah yang mengantarkan saya kepada kehidupan yang berbahagia ini namun mereka berdua tidak bisa menyaksikannya pada hari ini .

Pada kesempatan ini juga, saya ingin mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada seluruh keluarga, Abang dan kakak: Daniel Tarigan/M br Ginting; Dra. Soniaty Tarigan/Drs. Retim Pinem., adik-adik Dra. Linariaty Tarigan,Apt/Drs. Efendy Sembiring,Apt; Asnariaty Tarigan, SPd/Idaman Purba, MBA; Missioriaty Tarigan/Sabar Sembiring, Eng; Aprilayti Tarigan, SPd/Naibaho, SH; Zetplayers Tarigan, SH.,SpKn/Sari Ulina, SE, yang semuanya telah memberikan dukungan luar biasa walaupun dalam penantian yang cukup lama namun akhirnya harapan kita semuanya terkabul juga berkat doa seluruh keluarga.

Akhirnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, yang namanya tidak bisa saya  sebut satu-persatu, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya semoga Tuhan memberkati kita semua dalam melaksanakan tugas dan pengabdian kita kepada negara dan bangsa Indonesia yang tercinta ini. Amin.

Demikianlah buah pikiran yang dapat saya sampaikan dalam pengukuhan yang penuh sukacita  ini semoga Tuhan senantiasa melindungi dan memberkati kita semua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CURRICULUM VITAE

 

 

 

 

 

 

A.  Identitas

  1. Nama                            : Prof. Dr. Beltasar                                                      Tarigan,MS.,AIFO
  2. Tempat /tanggal lahir     : Kabanjahe/ 03 Maret 1956
  3. Nomor Induk Pegawai  : 1956003031983031005
  4. Jabatan                           : Guru Besar Pada Fakultas

Pendidikan Olahraga dan    Kesehatan

(tmt 1 Agustus 2009)

  1. Alamat                           : Jl. Plered 14 No. 1Antapani
  2. Nama orang tua             : Bapak :Galse Tarigan (Alm)

Ibu     :Tahari Br Karo (Alm)

  1. Status                             : Kawin

Istri                               : Dra. Hesty Indarjati

Anak                                          :Benny Febrianta Tarigan,SE.

Robert Erianta Tarigan

Tri Andrianto Tarigan

B.  Riwayat Pendidikan

  1. Sekolah Dasar Negeri di Tigapanah, lulus tahun 1969
  2. Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabanjahe, lulus tahun 1972
  3. Sekolah Menengah Atas Negeri di Kabanjahe, lulus tahun 1975
  4. Sarjana Muda Olahraga di Medan, lulus tahun 1980
  5. Sarjana Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Bandung, lulus tahun 1982
  6. Program Akta Mengajar Lima, lulus tahun 1985
  7. Program Magister Sains (S2) dalam bidang Ilmu Faal dan Kesehatan Olahraga di Pascasarjana UNPAD, lulus tahun 1992
  8. Program Doktor (S3) dalam bidang Pendidikan Olahraga di Pascasarjana IKIP Jakarta, lulus tahun 1998 (Cumlaude)
  9. Mendapat Gelar Ahli Ilmu Faal (AIF) dari pengurus pusat Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia tahun 2006

10.  Mendapat Gelar Ahli Ilmu Faal Olahraga (AIFO) dari pengurus pusat Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia tahun 2007

 

C.  Pekerjaan

  1. Dosen FPOK UPI Bandung terhitung mulai tahun 1983
  2. Dosen Olahraga ITB tahun 1991-2003
  3. Dosen Pascasarjana UNPAD dalam bidang Ilmu Kedokteran Dasar/Ilmu Faal dan Kesehatan Olahraga sejak tahun 1997sampai sekarang
  4. Dosen Pascasarjana UPI Bandung sejak tahun 2009 sampai sekarang
  5. Guru Besar FPOK UPI Bandung terhitung mulai 1 Agustus 2009

 

D.  Pengalaman Organisasi

  1. Pengurus BAPOMI Jawa Barat sejak tahun 1994 sampai sekarang
  2. Ketua bidang teknik kontingen BAPOMI Jawa Barat ke POMNAS Medan tahun 1995
  3. Ketua kontingen BAPOMI Jawa Barat ke POMNAS Sulsel tahun 1997
  4. Ketua bidang teknik kontingen BAPOMI Jawa Barat ke POMNAS Kaltim tahun 1999
  5. Ketua kontingen BAPOMI Jawa Barat ke POMNAS Bali tahun 2001
  6. Ketua kontingen BAPOMI Jawa Barat ke POMNAS Riau tahun 2003
  7. Ketua I Bidang Pertandingan POMNAS di Bandung tahun 2005
  8. Pengurus KONI Jabar ( bidang pendidikan dan penataran) tahun 2002-2006
  9. Wakil ketua Bidang Teknik kontingen Jawa Barat pada PON XV di Surabaya tahun 2000

10.  Bidang Teknik Kontingen Jawa Barat pada PON XIV di Palembang tahun 2004

11.  Offisial Kontingen Olahraga Mahasiswa Indonesia ke Universiade di Turki tahun2005

12.  Berperan aktif dalam berbagai seminar, temu ilmiah dan diskuai olahraga mahasiswa yang dilaksanakan pada setiap Pelaksanaan POMNAS

13.  Mewakili BAPOMI Jawa Barat dalam kegiatan KONI Jabar sejak tahun 1996 sampai dengan sekarang

14.  Penatar guru-guru olahraga SMP dan SMA tingkat Nasional yang dilaksanakan oleh Depdiknas sejak tahun 2001 sampai dengan sekarang

15.  Penatar guru-guru Penjas Adaptif tingkat Nasional yang dilaksanakan oleh Depdiknas sejak tahun 2001 sampai sekarang

16.  Ketua Bidang Organisasi Masyarakan Pendidikan Jasmani Adaptif  Indonesia Pusat tahun 2003 sampai sekarang

17.  Penatar dokter-dokter Sport Medicine dalam bidang Teori Latihan dan Cedera Olahraga

18.  Pengurus Ikatan Ahli Ilmu Faal Indinesia cabang Bandung tahun 2007 sampai sekarang

19.  Ketua Bidang Organisasi Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia pusat tahun 2006 sampai 2008

20.  Dosen Teori dan Praktek Olahraga di ITB tahun 1991 sampai dengan tahun 2003

21.  Koordinator pelatih dan penanggungjawab pelatihan di Fitnes IDEAL Universitas Padjadjaran Bandung tahun 2005 sampai sekarang

22.  Ketua Forum Insan Olahraga (FIO) Jawa Barat tahun 2007 sampai sekarang

23.  Ketua Bidang Evaluasi dan IPTEK Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Jawa Barat tahun 2007-2011

24.  Wakil Ketua Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia Pusat tahun 2009-2012

25.  Ketua Harian Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia Jawa Barat 2008-2012

26.  Ketua Perhimpunan Ahli Ilmu Faal Olahraga Indonesia   Pusat Tahun 2010-2014

27.  International Membership American Society of Exercise Physiologists (0003/INT/ASEP) sejak tahun 2010

28.  Sebagai Penilai Buku Teks Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan SD, SMP, dan SMA dari BSNP mulai 6 April 2009

 

E. Hasil penelitian/Jurnal

1.  Strategi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif bagi Penderita Cacat (Jurnal Mimbar Pendidikan,  Nomor 03, Tahun XX 2001. Hal.24.36. Akreditasi No.050/CI/1998 Tgl.13 Januari 1998

2.  Perbedaan Respon Kardiovaskuler dan Physical Working Capacity pada Siswa setelah diberi Facial Cooling dan Air Minum Waktu Latihan Ergocycle Berbeban Progresif Hollman di Siang Hari (Jurnal IPTEK OLAHRAGA, ISSN: 1412-5145, vol.2. No.2 Juni 2004 hal. 13-35) (anggota)

3.  Pengaruh Pendidikan Matakuliah Olahraga terhadap Kebugaran Jasmani dan Hubungannya dengan Indexs Prestasi Mahasiswa TPB ITB (Jurnal IPTEK OLAHRAGA, ISSN: 1412-5145, Vol.3. No 1 Maret 2005 hal 5-38)

4.  Dampak Penerapan Model Pendekatan Keterampilan Taktis dalam Pembelajaran Sepak Bola terhadap Partisipasi Belajar Mahasiswa Kinerja Dosen dan Hasil Belajar Mahasiswa (Jurnal Penelitian Pendidikan, ISSN: 1412-565X, Vol.3 No. 1 April 2003, jal. 24-36

 

Menulis Makalah untuk Ceramah, Seminar, Konferensi dan Diskusi Panel Nasional dan Internasional :

  1. The Acclimatization of Basket Players Viewed for their Physical Education (A Case Study on Male Basket Ball Player of SMUN I Talaga, Majalengka West Java (dipresentasikan International Confrence on Sport Scence and Physical Education Professions, Bandung, March 10-12, 2003)
  2. The effects of Sport Subject Towards Physical Fitnes Improvmentand The Corelation With Student Academic Achievment of TPB ITB ( dipresentasikan International Confrence on Sport Scence and Physical Education Professions, Bandung, Marc 10-12, 2003)
  3. The Effect of Intensive Badminton Exercise to the Physical Development of Early Age Badminton Athlete (dipresentasikan International Confrence on Sport Scence and Physical Education Professions, Bandung, Marc 10-12, 2003)
  4. The Impact of Tactical Approach on Student’ Learning, Partipation, Lectures’ Teaching performance and students’ Learning Acievment in Football (dipresentasikan International Confrence on Sport Scence and Physical Education Professions, Bandung, Marc 10-12, 2003)
  5. Teaching Practice of Adpted Physical Education in Indonesia (dipresentasikan International Confrence on Sport and Sustainable Develovment Yogyakarta, march 10-13 , September 2003
  6. Comparison The effect of BM77 and Conventional Learning Model on Badminton Playing Skills Among Early-Age Children (dipresentasikan International Confrence on Sport and Sustainable Develovment Yogyakarta, march 10-13 , September 2003
  7. The Different of Cardiovascular and Physical Working Capacity to The Student After taking of Facial and drinking Water While Taking Ergo Cycle Practice Loaded Progressive Hollmann at Day Light (dipresentasikan International Confrence of Asian Society for Physical Education And Sport (ASPES) Bandung, July, 22-24 ,2004)
  8. Implementation of Adapted Physical education for Disabled Student in Indonesia (dipresentasikan The 8th International Symposium 1-3 August 2004,Bali-Indonesia)
  9. The Profile of Physical Education Adapted Teachers , Learning Implementation and fitness Level of Disabled Student in Bandung (dipresentasikan The 8th International Symposium 1-3 August 2004,Bali-Indonesia)

10.  .Improvement of Indonesian achievement in Sport (depresentasikan International Symposium, on Sport Science 6-8 August 2008, Medan)

11.  Methodology of Weight Training (dipresentasikan International Seminar, SEAES-IPS,23-25 May, 2005,Bali

12.  Annual Plant of Training (dipresentasikan International Seminar, SEAES-IPS,23-25 May, 2005,Bali

13.  Perbedaan Daya Tahan Jantung Paru, Kekuatan, Daya Tahan dan Kelenturan Antara Siswa Tuna Grahita, Tuna Netra dan Siswa Normal (dipresentasikan Seminar Nasional Keolahragaan 2007, di Singaraja-Bali :Sabtu, 26 Mei 2007)

14.  Pengaruh Latihan Senam Tai Chi dan Wai Tan Kung Terhadap Daya Tahan Jantung Paru dan Komposisi Tubuh (Persentase lemak Tubuh) Pada Lanjut Usia (dipresentasikan Seminar Nasional Keolahragaan 2007, di Singaraja-Bali :Sabtu, 26 Mei 2007)

15.  Implementasi Takaran dalam Weight Training untuk Mencegah Cedera dan Meningkatkan Prestasi Atlet (dipresentasikan Seminar Nasional Sport Medicane Pencapaian Prestasi Elite PON XVII Sumatra Utara 2007, di Unimed 26 Juni 2007)

16.  Penerapan Prinsip Latihan Untuk Meningkatkan Prestasi Atlet dan Mencegah Cedera  (dipresentasikan Seminar Nasional Sport Medicane Pencapaian Prestasi Elite PON XVII Sumatra Utara 2007, di Unimed 26 Juni 2007)

17.  Metode Latihan Kondisi Fisik untuk Atlet (dipresentasikan Seminar Nasional Sport Medicane Pencapaian Prestasi Elite PON XVII Sumatra Utara 2007, di Unimed 26 Juni 2007)

18.  Pengaruh Pemberian Vitamin B1, B2 dan B6 Terhadap Daya Tahan Otot Tungkai Kapasitas Aerobik (VO2-Max) dan Perubahan Laktat (dipresentasikan Seminar Nasional IAIFI, Tanggal 26-28 Juli 2007 di Hotel Holiday Inn Bandung)

19.  Pengaruh Pemberian Vitamin B1, B2 dan B6 Terhadap Daya Tahan Otot Tungkai Kapasitas Aerobik (VO2-Max) dan Perubahan Laktat Laktat (dipresentasikan Seminar Nasional IAIFI, Tanggal 26-28 Juli 2007 di Hotel Holiday Inn Bandung)

20.  Perbedaan Daya Tahan Jantung Paru, Wktu Reaksi dan keseimbangan Antara Siswa Tuna Grahita, Tuna Netra dan Siswa Normal. (dipresentasikan Seminar Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia (IAIFI) ke 16 di laksanakan di Hotel Holiday Inn Bandung, 26-28 Juli 2007)

21.  Metode Weight Training Untuk Meningkatkan Prestasi Atlet (dipresentasikan dalam International Symposium & Seminar dengan Tema “The Holistic Interaction Between Living Organism And Environment For better Quality of Living” yang dilaksanakan di Bogor 2009)

22.  Prinsip-prinsip Latihan Dalam Olahraga Prestasi (dipresentasikan dalam The 20th International Meeting of Physiology Palembang, South Sumatera, Indonesia October 14-17,2010)

 

Buku yang diterbitkan adalah:

  1. Pendekatan Keterampilan Taktis dalam Pembelajaran Sepak Bola Konsep dan Metode, Agustus 2001 (Penerbit: Direktorat Jendral Olahraga. Jakarta Pusat, ISBN:97903048-15-89)
  2. Teori Latihan Olahraga Bahan Ajar Program Pascasarjana Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan Olahraga Universitas Padjadjaran Bandung Tahun 2003
  3. Pendidikan Jasmani Adaptif Bahan Ajar, FPOK UPI Bandung Tahun 2002
  4. Permainan Sepak Bola Bagi Siswa Cacat, Depdiknas Direktorat PLB tahun 2005
  5. Penelitian Pendidikan Jasmani, Depdiknas Dirjen Dikdasmen tahun 2002
  6. Pendidikan Kesehatan Siswa Cacat, Depdiknas Direktorat PLB tahun 2006
  7. Modul Pendidikan Jasmani Adaptif, FPOK UPI Bandung tahun 2008.

 

Hasil Penelitian Lima Tahun Terakhir:

  1. Pengaruh Pendidikan Matakuliah Olahraga terhadap Kebugaran Jasmani dan Hubungannya dengan Indexs Prestasi Mahasiswa TPB ITB. Tahun 2005
  2. Implementasi Pembelajaran Individual Sebagai Strategi Untuk Meningkatkan Layanan Pendidikan Jasmani Bagi Siswa Cacat (Sekolah Luar Biasa) Di Indonesia. Tahun 2005
  3. Studi Pendapat Mahasiswa Mengenai Pemetaan Penelitian di Universitas Pendidikan Indonesia. Tahun 2006 (Ketua Peneliti)
  4. Pengaruh Pemberian Vitamin B1, B2 dan B6 Terhadap Daya Tahan Otot Tungkai Kapasitas Aerobik (VO2-Max) dan Perubahan Laktat. Tahun 2006 (Anggota)
  5. Pengaruh Pemberian Vitamin B1, B2 dan B6 Terhadap Daya Tahan Otot Tungkai Kapasitas Aerobik (VO2-Max) dan Perubahan Laktat Laktat. Tahun 2007 (Anggota)
  6. Pengaruh Latihan Senam Tai Chi dan Wai Tan Kung Terhadap Daya Tahan Jantung Paru dan Komposisi Tubuh (Persentase lemak Tubuh) Pada Lanjut Usia (2007)
  7. Perbedaan Daya Tahan Jantung Paru, Waktu Reaksi dan Keseimbangan Antara Siswa Tuna Grahita, Tuna Netra dan Siswa Normal. Tahun 2009

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>