Google

Menanamkan Kejujuran Kepada Siswa di Kelas

Written on:July 14, 2011
Comments
Add One

Oleh Drs. Trisnahada, M.Pd.

(Makalah Disampaikan dalam Konvensi Nasional Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (Konaspipsi) ke-1 di Auditorium Fakultas Pendidikan IPS Kampus UPI Jln. Setiabudhi No. 229 Bandung, Rabu, 14 Juli 2011)

PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan penyebaran informasi secara menyeluruh dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan sikap serta perilaku. Maka, masyarakat pun dapat bersikap krisis terhadap “erosi nilai-moral-norma”  dan “dehumanisasi. Saat ini terjadi krisis kepercayaan, krisis kualitas kemandirian atau krisis karakter, krisis nilai yang menjadi pegangan dan acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (Djahiri, 2008).

Undang-Undang Sistem Pendidikan Naional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 menyatakan, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.”  Isi pasal di atas, mengamanatkan pendidikan sebagai proses pemberdayaan dan pembudayaan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, menjadikan manusia beriman dan bertakwa dan berakhlak mulia atau aspek afektif di samping aspek kognitif dan aspek psikmotorik. Aspek afektif atau sikap dan nilai atau aspek moral merupakan aspek yang sangat menentukan kualitas manusia. Bagaimanapun luasnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki anak, jika moralnya kurang baik, maka ilmu dan ketrampilannya itu tidak membawa manfaat bagi pemiliknya maupun orang di sekitarnya.

Melihat gejala kurang baiknya moral dewasa ini, kemerosotan nilai akhlak sudah benar-benar mengkhawatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan, tolong menolong dan kasih sayang sudah tertutup oleh penyelewengan, penipuan, penindasan, saling menjegal dan saling merugikan (Nata, 2001:189). Lebih mengkhawatirkan lagi, kemerosotan nilai akhlak bukan hanya menimpa kalangan orang dewasa dalam berbagai jabatan, kedudukan dan profesinya, melainkan juga telah menimpa kepada para pelajar tunas muda yang diharapkan dapat melanjutkan perjuangan dengan jujur membela kebenaran, keadilan dan perdamaian masa depan.

Ini berarti pembelajaran di sekolah harus dapat membekali siswa, di samping aspek pengetahuan, sikap, juga nilai iman dan takwa. Dengan demikian, siswa dapat berkesempatan menggunakan dan mengomunikasikan nilai yang menjadi keyakinannya melihat alam semesta untuk berperilaku yang baik dan jujur sesuai dengan nilai, moral, dan norma di masyarakat.

Yang menjadi pertanyaan adalah, Implementasi pendidikan nilai dalam pembelajaran di sekolah bagaimana yang dapat dibangun dan diinternalisasikan guna memenuhi tuntutan pembelajaran yang menyertakan penanaman nilai karakter kejujuran dalam rangka membina kedisiplinan dan kemandirian siswa guna mempersiapkan peserta didik yang taat dan jujur untuk menghadapi tantangan zaman?

Secara operasonal dapat dijabarkan dalam beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimanakah program penanaman nilai karakter kejujuran dalam upaya membina disiplin dan kemandirian di sekolah?

2. Seperti apa sajakah proses strategi penanaman nilai karakter kejujuran dalam upaya membina disiplin dan kemandirian melalui pembelajran di kelas?

3. Bagaimana pengembangan strategi penanaman nilai-nilai kejujuran dalam upaya membina disiplin dan kemandirian siswa?

 

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan akhir penelitian ini secara umum adalah, untuk menghasilkan strategi penanaman nilai karakter kejujuran dalam pembelajaran di sekolah sebagai implementasi pendidikan nilai, dengan harapan dapat menjadi sebuah model atau strategi alternatif program pendidikan nilai dalam membentuk insan yang senantiasa disiplin dan mandiri buah hati dari berlaku jujur, beriman, dan bertakwa.

Hasil penelitian ini diharapkan. dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi siswa, guru, kepala sekolah, dan bagi penelitian berikutnya, serta dapat menjadi informasi awal untuk menindaklanjuti yang masih perlu diperdalam baik dari sisi metodologi maupun implikasi penerapan penanaman atau internalisasi nilai-nilai akhlak lainnya dalam pembelajaran di sekolah.

 

Menanamkan Nilai Kejujuran

Winescoff (dalam Djahiri, 2004: 8-9) merumuskan enam tujuan pendidikan nilai. Pertama, membantu siswa mengembangkan perangkat nilai umum yang akan membantu membimbing mereka menuju kehidupan. Kedua, membantu siswa lebih memahami siapa mereka dan buat apa mereka hidup. Ketiga, membantu siswa menjadi warga negara yang lebih baik, yang secara aktif berpartisipasi dalam proses pemerintahan. Keempat, melatih bagaimana mengonfirmasikan aturan, perundang-undangan dan nilai kemasyarakatan yang berlaku. Kelima, membantu siswa mengembangkan urutan keterampilan berpikir yang lebih tinggi dan proses menganalisa segala hal yang berkaitan dengan masalah nilai, baik perorangan, masyarakat, nasional maupun internasional.

Keenam, membantu siswa mengembangkan nilai moral ke tingkat lebih tinggi melalui restrukturisasi kognitif menuju nilai universal tentang keadilan. Melalui pengajaran pendidikan nilai dalam pembelajaran di kelas, diharapkan dalam diri anak tertanam sikap dan perilaku yang baik. Bukan berarti bahwa selama ini sikap dan perilaku siswa itu tidak baik, akan tetapi sikap tersebut harus dimunculkan oleh anak didik dalam perilakunya di sekolah, keluarga, dan masyarakat secara berkelanjutan dan kesadaran yang tinggi, tanpa harus selalu ada dalam pengawasan orang dewasa (guru dan orang tua atau yang lainnya).

Nilai yang diberikan kepada siswa dalam pembelajarannya bukan untuk mengubah nilai karakter siswa, tetapi untuk membantu mengembangkan pribadi anak yang sadar norma. Anak memahami batas norma, dan mampu berperilaku sesuai dengan batas norma tersebut. Dengan kata lain, anak dapat mengendalikan diri dalam perilaku yang menyimpang dari ketentuan norma, dan bersungguh-sungguh melakukan perbuatan yang dituntut norma.

Dari uraian di atas, arah sasaran pendidikan nilai yang akan dicapai melalui pembelajaran di kelas yang menyertakan penanaman nilai karakter kejujuran dalam membina disiplin dan kemandirian siswa yang akan diberikan kepada siswa adalah sebagai berikut:

  1. unya di sekolah, keluarga, dan a di KelasMembina, menanamkan dan melestarikan nilai, moral dan norma luhur pada diri peserta didik dan kehidupannya.
  2. Meningkatkan dan memperluas tatanan nilai dan keyakinannya.
  3. Membina dan meningkatkan jati diri peserta didik /masyarakat/bangsa.
  4. Menangkal, memperkecil dan meniadakan nilai moral yang negatif.
  5. Membina dan mengupayakan ketercapaian nilai moral dan norma yang diintegrasikan dengan mata pelajaran.
  6. Mengklarifikasikan dan mengoperasionalkan nilai, moral dan norma dalam kehidupan sehari-hari.
  7. Mengklarifikasi dan mengkaji keberadaan nilai, moral dan norma dalam diri peserta didik dan kehidupannya (disarikan dari Djahiri, 1996:44)

Strategi Penanaman Kejujuran

Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dick & Carey (Depdiknas, 2008:4) menyatakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu di perhatikan oleh guru dalam proses pembelajaran. Paling tidak ada 3 jenis strategi yang berkaitan dengan pembelajaran, yakni (a) strategi pengorganisasian pembelajaran, (b) strategi penyampaian pembelajaran, dan (c) strategi pengelolaan pembelajaran.

Salah satu cara mengembangkan nilai yang ada pada siswa adalah dengan melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan langsung, sehingga diharapkan dapat menemukan konsep atau prinsip moral yang positif. Keterlibatan siswa merupakan faktor penting, karena moralitas tidak dapat dijadikan secara langsung dengan ceramah.

 

Strategi Penanaman Kejujuran

Model yang akan menjadi pelengkap dari pengembangan strategi penanaman nilai karakter kejujuran pembelajaran. Pertama, klarifikasi nilai yang dikembangkan oleh Djahiri (1996). Model ini memiliki keunggulan pada pencapaian target hasil belajar siswa yang dapat dimiliki. Model Klarifikasi nilai ini juga memperhatikan aspek keterampilan proses. Kedua, model Analisis Nilai untuk pengembangan selanjutnya, karena model tersebut memiliki keunggulan yang mampu merangsang siswa untuk melakukan analisis nilai moral. Ketiga, model pembelajaran ‘ibrah. Keunggulan model ini pada upaya pembinaan nilai karakter kejujuran yang bersumber dari agama Islam. Model ini sudah sangat lazim digunakan pada tradisi pendidikan Islam untuk menanamkan nilai keimanan melalui objek materi pembahasan termasuk berupa ciptaan-ciptaan Allah.

Dari pengembangan beberapa model tersebut sebagai bahan penyempurnaan pada strategi pembelajaran di sekolah, secara konseptual merupakan perpaduan antara model teoritik dari model pembelajaran Analisis Nilai, Klarifikasi Nilai dan ‘Ibrah. Di mana orientasi model sebagai pola penanaman nilai karakter kejujuran dalam membina disiplin dan kemandirian ini menekankan perlunya keterampilan proses pada pencapaian tujuan target nilai dan sikap (akhlak) yang harus dikembangkan kepada siswa.

Metode dan Bentuk Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan naturalistik kualitatif, sebab ”sifat data yang dikumpulkan bercorak kualitatif”, tidak menggunakan alat pengukur (Nasution, 1992: 18). Adapun yang disebut pendekatan naturalistik, situasi lapangan penelitian bersifat natural atau “wajar”, tanpa dimanipulasi, diatur dengan eksperimen. Penelitian kualitatif acapkali disebut naturalistik, sebab peneliti tertarik menyelidiki peristiwa sebagaimana terjadi secara natural (Bogdan & Biklend, 1982: 3).

Penelitian kualitatif sebagai payung yang menaungi beberapa strategi penelitian memiliki karakteristik tertentu antara lain, datanya bersifat deskriptif dan mengutamakan perolehan data langsung. Data yang dikumpulkan melalui penelitian ini lebih berupa kata-kata yang memiliki karakteristik tertentu, antara lain data yang terkumpul tidak mudah ditangani secara statistik. Berdasarkan hal itu perhatian dipusatkan pada ucapan dan tindakan subjek penelitian, serta situasi yang dialami dan dihayatinya dengan berpegang pada kekuatan observasi, dokumentasi, dan wawancara.

 

Subjek penelitian

Subjek yang dijadikan target dalam penelitian ini dilakukan pada siswa MTs Negeri se-Kabupaten Sumedang. Maka sumber data dalam penelitian adalah:

  1. Para guru pada MTs. Negeri se-Kabupaten Sumedang yang ditetapkan sebagai guru mata pelajaran.
  2. Siswa masing-masing satu kelas yang didapat dari hasil penggabungan kategori siswa sedang dan kurang.

 

Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini bersifat terbuka sehingga tidak menggunakan instrument tertentu yang harus diuji validitasnya melainkan hanya menyiapkan garis besar program sebagai pengarah dalam proses pengumpulan data. Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah: Observasi, Wawancara, Studi Pustaka, Studi Dokumentasi, dan Studi Lapangan.

 

Prosedur dan Tahapan Penelitian

Dalam prosedur pelaksanaan penelitian di MTs.N Kabupaten Sumedang, sebagaimana telah dikemukakan di atas, pengumpulan data dilaksanakan menggunakan teknik wawancara, observasi, maupun dokumentasi. Pada tahap awal pelaksanaan penelitian ini, observasi dan wawancara masih bersifat umum. Selanjutnya dalam pelaksanaan ini peneliti mengadakan tahapan eksplorasi untuk memperoleh informasi secara mendalam mengenai elemen yang ditentukan untuk dicari keabsahannya dalam implementasi pendidikan nilai dalam pembelajaran.

Karena pendidikan karakter itu lebih mengutamakan pengembangan afeksi dan perilaku, maka sistem penilaiannya dalam penanaman nilai karakter kejujuran melalui pembelajaran lebih mengutamakan penggunaan alat penilaian non-tes seperti laporan pribadi, laporan teman, evaluasi diri dan portofolio (kumpulan pengalaman yang dilakukan). Alat penilaian yang berupa tes yang cocok untuk digunakan adalah skala sikap.

Analisis Data

Untuk menjamin tingkat kepercayaan penelitian ini, digunakan teknik seperti triangulasi, member chek, dan pengamatan yang terus menerus guna pengkajian lebih lanjut. Setelah diadakan triangulasi dan member check, peneliti mentranskrip, mencatat, dan menelaah hasil pengamatannya kemudian peneliti mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan memaknai data secara tertulis.

Selanjutnya, tahap akhir dalam pengumpulan data yang akan disusun adalah memeriksa kesesuaian data guna mengonfirmasikan bahwa laporan atau data yang diperoleh dari subjek penelitian sesuai dengan data yang ditampilkan di lapangan sehingga menampilkan data yang terpercaya.

 

  1. 1. Program Pembelajaran Kaitannya dengan Nilai Kejujuran

Program sekolah yang menyangkut pembinaan dan penanaman nilai kejujuran bagi siswa harus tersedia secara khusus dan dilakukan secara sistematis dan terencana. Program itu diimplementasikan pada setiap pembelajaran, sehingga guru harus lebih banyak diarahkan kepada kemampuan  kognitif, afektif, dan psikomotor siswa yang menunjang program sekolah dalam rangka mencapai ketuntasan minimal.

Selain itu, kompetensi guru. Hubungannya dengan ini, tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya.

Dari faktor tersebut yang paling berpengaruh terhadap kualitas sikap ilmiah dan perilaku siswa adalah faktor guru. Karena, gurulah yang paling berkuasa mengelola dan menciptakan kondisi kelas sebagai wahana tumbuh dan berkembangnya sikap berpikir ilmiah, kritis dan perilaku siswa. Oleh karena itu, dalam upaya mengembangkan kemampuan sikap ilmiah dan perilaku siswa untuk jujur, disiplin dan mandiri, diperlukan kajian yang menggagas inovasi model pembelajaran berupa strategi belajar dan mengajar.

Dengan mengembangkan strategi pembelajaran yang efektif dengan menyertakan penanaman nilai karakter kejujuran merupakan kemampuan sikap ilmiah dan perilaku yang baik dapat dimiliki siswa secara optimal. Jika harapan ini dapat terwujud dalam setiap pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas dan di luar kelas, setidaknya akan menjadi konstribusi yang berarti bagi masyarakat, bahkan bangsa dan negara yang sedang dilanda masalah rendahnya kualitas sumber daya manusia yang berkarakter jujur dalam berperilaku, disiplin dalam beraktifitas dan mandiri dalam bekerja.

 

  1. 2. Proses Pelaksanaan Pembelajaran yang Dilakukan Guru

Pelaksanaan pembelajaran yang telah dikembangkan ini didasarkan pada desain model pembelajaran yang telah disusun. Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah ini, terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Adapun pendekatan dan strategi yang digunakan dalam pelaksanaan pengajaran di kelas, yaitu menggunakan model Analisis nilai, Klarifikasi nilai dan Ibrah.

Dalam pendekatan ini, siswa dibina kesadaran emosional nilainya melalui cara yang kritis rasional dengan klarifikasi dan menguji kebenaran, kebaikan, keadilan, dan lain-lain dalam kehidupan atau pengalamannya sehari-hari. Target nilai karakter inilah yang akan menuntun proses atau kegiatan belajar mengajar serta penentuan pilihan stimulus. Wujud pengarahan menuju target tersebut, dilakukan guru melalui berbagai upaya dan di antaranya ialah melalui pertanyaan nilai. Dan ini melahirkan tuntutan lain lagi bagi setiap guru dalam mengajarkan nilai kejujuran ialah keharusan mahir dalam bertanya (keterampilan bertanya).

Mengingat tujuan akhir penelitian ini adalah mengembangkan strategi pembelajaran, yaitu strategi penanaman nilai karakter kejujuran melalui pembelajaran di kelas dan untuk memperoleh gambaran efektivitas penerapan strategi pembelajarannya itu dalam upaya membina disiplin dan kemandirian siswa, dipersiapkan desain (skenario) yang telah dikembangkan hasil kolaboratif dan modifikasi beberapa model pendidikan nilai, dengan harapan dapat menjadi model alternatif program pendidikan dalam membentuk insan yang senantiasa berlaku jujur, beriman, dan bertakwa.

Dalam kaitannya dengan nilai kejujuran yang akan disertakan pada materi pembelajaran, hasil pengembangannya bertujuan untuk menanamkan seperangkat nilai kejujuran yang meliputi bersikap dan berperilaku tulus hati, dan murni dalam mengerjakan sesuatu perbuatan yang baik. Dapat dipercaya untuk melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh orang tua, guru dan teman dengan baik. Mau mengakui bahwa prestasi yang dicapainya bukan hanya hasil jerih payah diri sendiri, tetapi juga berkat pertolongan Allah SWT dan peran orang lain. Mengakui kekeliruan dan kesalahannya sendiri serta mengakui kelebihan orang lain. Tulus hati dalam berucap dan bertindak serta hanya mengharap rida Allah SWT.

Untuk pembinaan disiplin dan kemandirian siswa sebagai refleksi dari penanaman nilai kejujuran adalah: Belajar dan bekerja secara teratur, tertib, dan bertanggung jawab. Mematuhi ketentuan dan tata tertib yang berlaku di lingkungan keluarga, sekolah, maupun di masyarakat. Menghindari diri dari tindakan dan perbuatan yang bersifat plinplan atau tidak konsekuen. Taat terhadap orang tua, guru dan tata tertib sekolah. Tidak terlambat dan mengerjakan tugas sekolah tepat pada waktunya.

 

  1. 3. Dampak pengembangan strategi penanaman kejujuran

  1. Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, dapat diketahui bahwa skor hasil belajar siswa jauh lebih baik dari nilai tes rata-rata pada ulangan harian dibandingkan dengan nilai tes hasil belajar pada pembelajaran IPA yang menyertakan penanaman nilai. Begitu pula pada sikap dan tanggapan/kesan siswa yang diberikan sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan penanaman nilai kejujuran dalam pembelajaran IPA yang dijaring melalui kuesioner/angket dan tugas dalam lembar kerja siswa/portofolio.

  1. Sikap dan Perilaku Siswa

Perubahan sikap atau perilaku, khususnya terhadap mata pelajaran di kelas dan kehidupannya sehari-hari baik di sekolah maupun di luar sekolah tidak dipengaruhi oleh tinggi rendahnya kemampuan awal siswa dari nilai hasil ulangan harian. Perbedaan perubahan sikap atau perilaku terjadi karena adanya perlakuan yang diberikan. Jadi, perubahan sikap atau perilaku terhadap mata pelajaran di kelas dan kehidupannya, dalam penelitian ini pada umumnya dipengaruhi oleh variasi perlakuan dan tidak dipengaruhi oleh kemampuan awal siswa.

  1. Tanggapan Siswa Terhadap Pembelajaran di Kelas

Pertama, tanggapan yang diberikan siswa pada umumnya memberikan tanggapan positif terhadap pola strategi pembelajaran yang menyertakan penanaman nilai kejujuran. Sehingga setelah mengikuti proses pembelajarannya, siswa memberikan tanggapan lebih bermakna dan menarik, menimbulkan keinginan pada setiap mata pelajaran ada muatan nilai karakternya.

Kedua, pengembangan strategi pembelajaran yang menyertakan penanaman nilai kejujuran dalam proses pembelajarannya seperti itu dapat menciptakan pembelajaran yang bervariasi, sehingga penjelasan materinya menjadi jelas dan mudah dipahami, dan tidak membosankan jika sedang belajar di kelas.

 

  1. Temuan Hasil Pengembangan

Dari hasil proses pembelajaran yang mengembangkan strategi pembelajarannya dengan menyertakan penanaman nilai karakter kejujuran selama ini, kondisi yang dirasakan sudah menampakkan hasilnya, di mana para siswa berperilaku baik dan disiplin, jujur pada diri sendiri dan orang lain baik pada waktu di dalam kelas, lingkungan madrasah, bahkan ada laporan orang tua siswa menanggapi positif. Selain itu sudah terlihat perilaku siswa, sopan santun baik pada waktu masuk ruangan kantor, bertemu di jalan dan dalam pertemuan lainnya, menunjukkan sikap hormat kepada seluruh warga sekolah/madrasah.

Selain itu, terlihat adanya frekuensi belajar, ada kesungguhan untuk selalu mengikuti dan memperhatikan materi ajar yang disampaikan guru. Adanya suatu perubahan, di mana siswa memperlihatakan perilaku yang positif. Menurut sebagian orang tua, ada kesungguhan untuk menghafal dan mengerjakan pekerjaan rumah, selalu membimbing adik-adiknya dan membantu orang tuanya dengan disiplin dan mandiri.

 

  1. Peningkatan Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan data hasil penelitan di lapangan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran yang menyertakan penanaman nilai kejujuran dalam membina disiplin dan kemandirian siswa khususnya dalam perubahan sikap yang diperlihatkan terhadap pelajaran dan perilaku siswa di dalam kelas dan di luar kelas telah dapat meningkatkan hasil belajar, baik aspek pengetahuan dan nilai. Selain itu penguasaan bahan ajar dapat mengantarkan siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai kepada pengalaman belajar yang optimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok.

Dalam hal proses juga dapat dilihat bahwa dengan penanaman nilai karakter kejujuran dalam pembelajaran di kelas telah mampu mengembangkan aspek keterampilan sosial yang dimiliki siswa. Hal ini terlihat dari hasil pengamatan pada setiap sebelum dan sesudah pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas, adanya saling menghargai dan saling tolong menolong dalam setiap kegiatan. Timbulnya kebersamaan ini mewujudkan pemahaman di antara peserta belajar itu sendiri untuk jujur, disiplin dan mandiri.

Hasil belajar lain yang tercermin dalam diri siswa adalah adanya keberanian untuk mengakui bila melakukan kekeliruan. Bersikap dan berperilaku tulus hati, dan murni dalam mengerjakan sesuatu perbuatan. Selalu melaksanakan tugas yang diberikan oleh orang tua, guru dan teman-temannya dengan baik.

Mau mengakui bahwa prestasi yang dicapainya bukan hanya hasil jerih payah diri sendiri, tetapi juga berkat pertolongan Allah SWT dan peran orang lain. Dan tulus hati dalam berucap dan bertindak serta hanya mengharap rida Allah SWT.

Selain itu, siswa selalu memperlihatkan untuk mau belajar dan bekerja secara teratur, tertib, dan bertanggung jawab. Mematuhi ketentuan dan tata tertib yang berlaku di lingkungan madrasah, maupun di masyarakat. Menghindari diri dari tindakan dan perbuatan yang bersifat plin plan atau tidak konsekuen. Taat terhadap orang tua, guru dan tata tertib sekolah. Tidak terlambat dan mengerjakan tugas sekolah tepat pada waktunya.

  1. Pandangan Siswa Terhadap Pembelajaran yang Menyertakan Nilai

Mayoritas siswa dalam mengikuti pembelajaran yang menyertakan penanaman nilai kejujuran, menyenangi dan menganggap pembelajaran topik Tata surya yang terintegrasi dengan nilai lebih menarik. Para siswa merasa lebih termotivasi dan berminat untuk mempelajari agama dan kehidupan sosialnya di masyarakat untuk berlaku jujur, disiplin dan mandiri. Lebih dari itu, banyak siswa telah memperlihatkan rasa kekagumannya akan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT dan seluruh ciptaan-Nya yang mencerminkan kejujuran, disiplin dan kemandirian.

Temuan ini dapat diperkuat juga oleh hasil pengamatan proses pembelajaran di kelas. Para siswa aktif mengajukan berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan fenomena alam yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa di masyarakat dalam hubungannya dengan kejujuran, disiplin dan kemandirian dan ayat-ayat Alquran. Mereka tampak termotivasi untuk menjangkau pemahaman yang lebih jauh atau menambah wawasan yang lebih luas lagi.

 

  1. 4. Kendala-kendala
  1. Kendala yang dihadapi Guru

Berdasarkan pengamatan, ada beberapa kendala yang timbul dalam pelaksanaan pembelajaran ini, terutama yang dirasakan guru pada pengembangan nilai dan mengaitkannya pada konsep atau materi ajar. Selain itu, mereka merasa kekurangan waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran itu, termasuk pencapaian target nilai yang ingin diajarkan.

Kendala lainnya yang berhubungan dengan kegiatan penanaman nilai dalam pembelajaran di kelas: Pertama, sebagian guru di sekolah menyadari belum berperan penuh sebagai fasilitator, director, maupun sebagai mediator bagi siswa.

Kedua, menuntut agar dalam merencanakan program pembelajarannya harus secara matang, apalagi dikaitkan dengan mata pelajaran yang akan diajarkan terletak pada perencanaan pembelajarannya, agar proses pembelajaran yang diharapkan dapat berjalan sesuai rencana.

Ketiga, keterampilan dalam menunjukkan fakta sosial masyarakat yang menarik melalui media film/gambar/alat peraga yang relevan dengan nilai materi yang akan dipelajarinya. Sehingga motivasi sebagian siswa untuk mempelajari nilai melalui pembelajaran di kelas belum terbangkitkan.

Keempat, sebagian besar siswa hanya memahami nilai religius saja karena ditunjang dengan materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan kegiatan agama lainnya.

Kelima, tidak adanya umpan balik dari siswa tentang kemampuan mengkaji atau menemukan nilai kehidupan dan mengaitkannya pada konsep yang dipelajarinya.

 

  1. Permasalahan Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran Nilai

Secara umum permasalahan yang dihadapi siswa cukup banyak, karena telah terbiasanya siswa mendengarkan penjelasan materi dengan ceramah yang hampir seluruhnya dilakukan guru dalam proses belajar mengajar. Hal ini berakibat lemahnya keberanian siswa, baik dalam mengajukan pertanyaan, maupun dalam mengemukakan pendapat atau jawaban pertanyaan yang dilakukan pada saat diskusi kelompok atau kelas.

Selain itu, dengan kerja kelompok maka banyak pendapat siswa yang ingin ditanggapi dalam kelompoknya, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk memecahkan permasalahan yang sedang dibahas. Namun demikian, bagi siswa yang kurang, masih terlihat ada anak yang merasa minder bila bergabung dengan siswa pandai, sehingga yang dominan dalam diskusi adalah mereka yang tergolong pandai.

 

Kesimpulan dan Rekomendasi

  1. a. Kesimpulan

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang telah dilakukan para guru selama ini dalam kaitannya dengan program pembelajaran di sekolah ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Bahan atau materi pembelajaran secara tertulis berupa program umum harus dipersiapkan oleh guru secara lebih baik.
  2. Aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik harus dipertimbangkan oleh guru. Ketiga aspek tersebut tidak dapat dicapai pada saat persiapan karena tidak tercantum secara eksplisit dalam silabus dan materi.
  3. Penanaman nilai dalam pembelajaran dapat membantu mencapai tujuan pengembangan kepribadian siswa sesuai dengan nilai dan norma.

Faktor-faktor yang berpengaruh pada keberhasilan dalam proses pelaksanaan pembelajaran di kelas yang mengkaitkan antara materi pelajaran yang disampaikan dengan menyertakan penanaman dan penghayatan nilai kejujuran adalah:

  1. Pengembangan dan pembinaan tenaga kependidikan, mencakup kegiatan MGMP, pelatihan-pelatihan, monitoring.
  2. Menyelenggarakan kegiatan pembinaan siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti kegiatan olah raga, ilmu pengetahuan teknologi dan seni, serta kegiatan keagamaan.

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru-guru dalam penerapan pembelajaran di kelas yang menyertakan penanaman nilai pada umumnya dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Kesulitan yang berkenaan dengan terbatasnya waktu yang tersedia.
  2. Kesulitan dalam perumusan tujuan pembelajaran yang dikaitkan dengan nilai.
  3. Terbatasnya sumber dan media pembelajaran yang berkaitan dengan nilai.
  4. Kesiapan siswa dan guru serta faktor sarana dan prasarana penunjang lainnya yang relatif baru dalam pembelajaran yang menyertakan penanaman nilai-nilai kejujuran.
  1. b. Implikasi Penelitian

Strategi penanaman nilai kejujuran dalam upaya membina disiplin dan kemandirian siswa melalui pembelajaran di sekolah dengan spesifikasinya mengandung implikasi terhadap pengembangan pendidikan karakter. Implikasi ini memberikan masukan sekurang-kurangnya:

  1. 1. Guru harus meningkatkan kemampuan dalam menentukan target nilai dan sikap sebagai hasil belajar yang terprogram secara umum yang harus dimiliki siswa.
  2. Guru perlu memiliki kemampuan mengorganisir isi materi pelajaran yang akan disampaikan di kelas.
  3. Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar, terutama dalam aspek nilai dan sikap yang akan berdampak pada disiplin dan kemandirian siswa dengan menyisipkan nilai kejujuran.

 

  1. c. Rekomendasi
  1. Guru Mata Pelajaran

Perlu dikembangkan semangat sikap keterbukaan dan kreativitas dalam perannya sebagai guru IPA untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran yang sesuai dengan potensi madrasah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik dan juga kebutuhan masyarakat sekitar, sehingga setiap saat pengalaman belajar siswa dapat mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan.

  1. Kepala Sekolah

Kepala sekolah sebagai pihak yang secara langsung bertanggung jawab terhadap kinerja guru mempunyai peranan penting dalam upaya pelaksanaan krikulum secara optimal, disarankan agar terus memberikan dorongan kepada guru dengan cara mempertegas kebijakan maupun dorongan secara langsung khususnya dalam penerapan strategi pembelajaran yang berbasis nilai yang menjadi salah satu karakteristik kurikulum tersebut.

  1. Bagi para Peneliti Lanjutan

Hasil baik yang diperoleh dalam pembelajaran ini, belum tentu sama hasilnya baik pada pengembangan strategi pembelajaran yang menyertakan nilai pada mata pelajaran lain. Maka dari itu bagi peneliti lanjutan, disarankan untuk meneliti variabel yang sama namun aspek yang diteliti lebih diperdalam dan diperluas atau menambahkan aspek lain yang berhubungan dengan nilai.

Lebih dari itu, peneliti selanjutnya diharapkan dapat menelaah permasalahan yang sama, namun jumlah sempel yang lebih banyak dan lebih luas dengan kata lain lokasi penelitian hendaknya dilaksanakan di beberapa level dan jenjang madrasah yang cenderung memiliki letak geografis dan tipe madrasah yang berbeda, sehingga bisa lebih mengungkap permasalahan yang diteliti dengan harapan akan terjadi kejelasan makna yang akan diperoleh dari hasil penelitian.

Daftar Pustaka

An-Nahlawi, A. (1995). Ushulut Tarbiyah Islamiyah wa Asalibiha Fil Baiti Madrasati Wal Mujtama’, (terjemahan Sihabudin). Jakarta: Gema Insani Press.

Bloom, B. S. (1971). Taxonomy of Educational Objectives: Hanbook II Affective Domain. New York : David McKay Company, INC

Bogdan, R. C. & Biklen, S. K. (1982). Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. Massachusetts: Allyn & Bacon. Inc.

Dahar, R. W. (1991). Teori-teori Belajar. Bandung: Erlangga.

Daradjat, Z. (1980). Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia. Jakarta: PT. Bulan Bintang

Daradjat, Z. (1995). Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang

Depag. RI. (1998). Al-Qur’an dan Terjemahan. Jakarta : Depag RI.

Depdiknas. (2001). Pedoman Peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan Siswa. Jakarta:  Diksmen.

Depdiknas. (2008). Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya. Jakarta : Ditjen PMPTK

Djahiri, A.K. (1985). Strategi Pengajaran Efektif Nilai-Moral VCT dan Games dalam PVCT. Bandung: Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial IKIP-Bandung.

Djahiri, A.K. (1996). Menelusuri Dunia Afektif: Pendidikan Nilai dan Moral. Bandung: LAB. Pengajaran PMP IKIP Bandung.

Djuwita, P., (2005). Values and Moral Education (Collected Article’s from Internet). UPI Bandung-PPS.

El Mubarok, Z. (2008). Membumikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta

Fauziah, Tati. (1999). Implementasi Pendekatan Analisis nilai di Sekolah Dasar. Tesis. IKIPBandung. Bandung: Tidak dipublikasikan.

Fraenkel, J. (1977). How to Teach Values: An Analystic Approach. Englewood Cliffs. NJ: Prentice-Hall.

Ibrahim, R. dan Sujana, N. (1989). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru.

Joyce, D., Weil.M. (2000). Models of Teaching. Prentice Hall. Inc. new jersey.

Mulyana, R. (2004). Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.

Nasution, S. (1992). Metode Penelitian Naturalistik – Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Nata, Abudin, dkk (2005). Integrasi Ilmu Agama & Ilmu Umum. Jakarta: Raja Grapindo Persada

Phenix, Philip, H. (1964). Realms of Meaning (A Philosophi Of The Curriculum for General Education. New York: Mc-Graw-Hill Book Company.

Prijodarminta, S. (1992). Disiplin Kiat Menuju Sukses. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.

Reigeluth, C.M., Merril, M.D. bunderson, C.V. (1978). The Structure of Subjec Matter Conent and Its Intructional Design Implementations. Instructions. Instructional Science.

Reigeluth, C.M.D. (1983). Instructional Design Theoris and Models: An Overview of Their Current Status. London: Lawren Erlbaum Associates, Publisher.

Sudjana, N. (1989). Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Sudjana, N. (2004). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru Al Gensindo.

Sumantri, E. (1993). Pendidikan Moral: Suatu Tinjauan dari Sudut Kontruksi dan Proporsisis. IPS_UPI. Bandung.

Tafsir, Ahmad (1998). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya

Ulwan, N. (1993). Pedoman Pendidikan Anak Dakam Islam. Semarang : CV. Asy Syifa Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidiakn Nasional (UU SISDIKNAS). Jakarta: Sinar Grafika.

Usman, M.U. (1995). Menjadi Guru Profesional. Edisi ke II. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wayson, W. (1992). Handbook for Developing School With Good Discipline. Indiana : Phi Delta Kappa.

Winecoff, H.L. (1986). Values Education: Concept and Models. Bandung: PPS-UPI.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>