Google

Nilai Edukasi Puasa

Written on:July 16, 2011
Comments
Add One

Oleh Prof. Dr. Abdul Madjid, M.Ag.

(Penulis, Guru Besar Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia)

PUASA yang diwajibkan oleh Allah di bulan Ramadan bila dilakukan sesuai dengan syariat-Nya akan melahirkan pribadi yang unggul dalam berbagai segi. Sebagaimana diungkapkan Nabi Muhammad saw., keunggulan itu merupakan unsur terpenting dari tujuan puasa, yaitu takwa. Karena itu, menarik ketika kita hubungkan pernyataan di atas dengan pangkal firman Allah yakni “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya” (Q.S. Al-Baqarah/2:184).

Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya mengukur tingkat keunggulan diri kita? Jawabannya ialah, apabila kita sudah berpuasa seperti caranya Nabi Muhammad saw. berpuasa. Jika belum, maka marilah kita mulai mengkritisi puasa yang kita laksanakan sebagai alat pembelajaran, mengaca diri, mengevaluasi kinerja, merancang agenda untuk kehidupan mendatang atas dasar iman dan takwa kepada-Nya.

Beberapa upaya awal bisa dilakukan dengan cara memaksimalkan daya nalar, mempertajam emosi keagamaan, dan menanamkan rasa ingin tahu apa rahasia yang terkandung di dalam puasa. Saat yang menggembirakan ini, izinkan penulis mengajak setiap orang yang beriman mengungkap nilai edukasi puasa. Apakah itu nilai? Nilai atau value adalah tanggapan seseorang terhadap suatu keadaan atau peristiwa yang faktual, di mana seseorang mampu merasakan, memikirkan secara lebih mendalam bahwa keadaan apakah mendatangkan sesuatu yang sangat berharga kepada diri dan kehidupannya.

Melalui ritual puasa selama bulan suci Ramadan, yang kemungkinan akan dilaksanakan serentak 1 Agustus 2011, seseorang dapat mewujudkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang amat berbeda keluhurannya dengan yang tidak berpuasa. Ketika seseorang telah sampai pada tahap itu, maka yang bersangkutan telah mampu mengapreasiasi puasanya. Jika sudah pada tahap ini, bisa diduga peringkat atau kualifikasi ketakwaan seorang terhadap diri-Nya mengalami peningkatan.

Pemaknaan seperti itu biasanya lebih dikenal dengan istilah hakikat. Dan, hakikat terletak pada bagaimana seseorang memaknai kehidupannya. Sedemikian pentingnya makna yang mangandung unsur nilai dalam kehidupan manusia, mendorong para ahli untuk mengembangkannya menjadi suatu konsep dan teori. Dari berbagai teori nilai yang ada, misalnya, Spranger dalam buku “Pattern and Growth in Personality” (Allport, 1964) mengatakan, setiap orang akan melihat dan menilai suatu fakta sosial karena dipengaruhi oleh orientasinya.

Setiap nilai memiliki karakter dan orientasi tersendiri, sehingga harus dikelompokkan sesuai orientasinya. Pertama, nilai teoretik. Setiap orang yang dipengaruhi oleh teori, maka ia selalu dipengaruhi oleh pertimbangan logika. Sebab ada hal-hal yang harus dipikirkan dan dibuktikan lebih lanjut. Unsur benar-salahnya senantiasa didasarkan pada pertimbangan akal. Karenanya ia selalu terkait dengan konsep, dalil, aksioma.

Kedua, nilai ekonomis. Dasar pemikiran nilai ini, adalah untung-rugi, karena pertimbangannya terletak pada harga suatu barang atau jasa. Ketiga, nilai estetik. Nilai yang paling esensialnya adalah pada estetika, indah-tidak indahnya sesuatu. Ia seringkali ditentukan oleh unsur pribadi yang bisa saja subjektif. Keempat, nilai sosial. Unsur yang diutamakan ialah terjalinnya hubungan harmonis atau kasih sayang antarsesama individu.

Kelima, nilai politik. Aspek yang menjadi tolok ukur adalah kekuasaan. Ia sangat ditentukan oleh pergerakan yang intens antarkelompok atau individu dalam komunitas umum. Di sinilah arti pentingnya kalah-menang dalam meraih kekuasaan (power) terutama bagi kalangan politisi atau birokrat. Keenam, nilai agama. Agama adalah nilai yang kadar nilainya sangat tinggi oleh karena yang dituju adalah Tuhan. Unity atau kesatuan, keselarasan antara perilaku, sikap dan ketaatan seorang hamba terhadap Tuhannya menjadi unsur paling utama yang mempengaruhi orientasi kehidupannya.

Jika keenam pengelompokan teori nilai di atas diadopsi ke dalam ibadah puasa yang kita laksanakan setiap tahun, maka akan membantu kita untuk menegaskan bahwa pantas ada perbedaan peringkat derajat ketakwaan orang berpuasa. Sekaitan dengan itu, mari kita ungkap detail nilai edukasi puasa yang berbasis ajaran Islam, selanjutnya dijadikan panduan hidup dan akan berimplikasi besar terhadap perbaikan moral pribadi, bangsa dan kelangsungan hidup dan kehidupan manusia.

Pertama, nilai pemeliharaan jiwa tauhid yang ada di dalam diri setiap orang. Puasa Ramadan diawali dengan mengajak mereka yang percaya kepada Allah. Melalui ibadah puasa pada bulan Ramadan, Allah melakukan penyadaran total kepada setiap hamba-Nya. Dalam salah satu ayat Alquran kita telah diberitahu bahwa dalam diri kalian ada unsur fitrah, yang dengannya, kalian perlu menyadari bahwa diri kalian diciptakan oleh Allah, berada dalam genggaman kekuasaan Allah, dan pada saatnya akan kembali juga kepada-Nya.

Fitrah yang ada di dalam diri setiap individu merupakan faktor dasar dan dominan di mana seseorang yakin bahwa ada Yang Maha Menguasai Alam (Rabb Al ‘Alamin), ada Sang Maha Menguasai Manusia (Rabb Al-Nas). yaitu Allah SWT. Unsur utama yang terkandung dalam fitrah itulah yang disebut iman. ”Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus” (Q.S. Al-Rum/30:30). Dasar utama agama ialah iman kepada adanya Allah SWT. Bukan pada nalar, logika, atau intelektualitas seseorang.

Atas dasar iman kepada Allah, seseorang akan selalu dan terus termotivasi untuk melakukan perubahan yang bernilai kebaikan. Kebaikan yang dimaksud adalah semua pikiran, perbuatan yang baik menurut Allah SWT dan baik pula bagi pelakunya. Karena itu, standar kebaikan bersumber dari kehendak Allah SWT dan yang buruk berasal dari manusia, sebagaimana firman-Nya. “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan (yang lain), karena jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya” (Q.S. Al-An`am/6:153).

Kedua, nilai historia puasa. Puasa yang diwajibkan Allah SWT kepada rasul-Nya, Muhammad saw, adalah perbuatan ritual yang telah berlangsung dan memiliki sejarah tersendiri sepanjang sejarah kehidupan umat manusia di planet bumi ini. Meskipun kitab Alquran bukan buku sejarah tetapi Alquran membicarakan juga masalah sejarah kehidupan umat manusia, termasuk dalam hubungannya dengan puasa. Sejarah berfungsi sebagai `ibrah atau pembelajaran yang amat berharga bagi setiap orang, baik sebagai individu atau sosial yang akan hidup kemudian terhadap seperti apa dan bagaimana sukses, mulianya seseorang atau rusak dan luluh lantahnya suatu bangsa dalam kehidupan di masa silam.

Masa silam dari perilaku kehidupan seseorang atau komunitas sosial terbagi dua, ada yang baik dan buruk. Bagi kita, yang baik wajib kita tiru dan lanjutkan, sedangkan segala sesuatu yang buruk kita jauhi. Jangan ulangi dan tidak boleh diwariskan. Orang yang berhasil memahami nilai sejarah yang terungkap di dalam Alquran dikategorikan Allah sebagai orang yang cerdas (Ulil Albab), baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual.

Sejarah puasa yang terungkap sebelum priode kerasulan Muhammad saw., misalnya, riwayat dari ibunda Nabi Isa .a.s, Maryam berkata, “Sesungguhnya aku telah bernazar akan berpuasa karena Allah Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini” (Q.S. Maryam/19:26).

Demikian pula riwayat Nabi Zakariya a.s. Zakariya diberi tanda-tanda oleh Allah SWT dengan cara tidak mampu berbicara selama tiga malam. Zakariya dalam doanya ia menyatakan, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”, Allah berfirman, “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat” (Q.S. Maryam/19:10). Boleh jadi dari kedua kasus di atas, Maryam dan Nabi Zakariya a.s., dididik oleh Allah SWT untuk selalu menjaga lidah untuk tidak sembarangan berbicara, ngawur, mengeluarkan pernyataan atau mengungkapkan perkataan yang tidak berbobot atau tidak berkualitas.

Dengan cara seperti itu kemudian Maryam, dan Nabi Zakariya a.s. akan berbicara yang sama sekali berbeda dengan manusia lain, bobot pembicaraan jauh lebih bermutu, singkat tapi padat isi, satu kata tapi bernilai multitafsir, bahkan terbukti kualitasnya telah lintas zaman. Maryam dan Zakariya yang difirmankan oleh Allah di dalam Alquran itu bisa dikategorikan sebagai model kebahasaan yang luhur. Model yang sejenis itu ditampilkan beragam. Keragaman model dan kategorisasi tersebut dijumpai dalam bentuk kata: Qaulan baligha yakni kata-kata yang membekas dalam jiwa (Q.S. Al-Nisa/4:63), Qaulan tsaqilan yakni kata-kata yang berbobot (Q.S. Muzzammil/73:5), Qaulan ma`rufan yakni kata-kata yang bersindiran baik (Al-Baqarah/2:235; Al-Nisa/4:5), Qaulan kariman yakni kata-kata yang mulia (Q.S. Al-Isra/17:23), Qaulan maysura yakni kata-kata yang pantas (Q.S. Al-Isra/17:28), Qaulan layyina yakni kata-kata yang lemah atau lembut. Kalau kita hubungkan dengan kebahasaan kita sekarang dengan apa yang difirmankan Allah itu, semakin dan makin jauh. Sekarang banyak kita temukan ungkapan kata, susunan kalimat, atau paragraf yang demikian panjang, namun tidak berbobot dan bahkan isinya tidak berkualitas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>