Google

Sejarah Penting sebagai Media Pendidikan Karakter

Written on:July 20, 2011
Comments
Add One

Jakarta, UPI

Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), yang juga pemerhati dunia pendidikan, Arief Rachman, berpendapat bahwa mata pelajaran sejarah penting dalam pembangunan pendidikan karakter. Sebab, nilai kebangsaan yang bisa ditanamkan di sekolah, tidak hanya diberikan melalui mata pelajaran bahasa Indonesia, tetapi juga lewat mata pelajaran sejarah.

“Saya kira semua mata pelajaran yang ada hubungannya dengan nilai harus mendobrak. Soal afektif dan kognitifnya nomor dua. Pembentukan sikap yang penting. Bukan hanya pengetahuannya tentang sejarah,” ujarnya saat jumpa pers seminar nasional Perjuangan Diponegoro, di Gedung C Kemdiknas, Jakarta, Selasa (19/7/2011).

Arief menambahkan, sejarah harus diperkenalkan sebagai suatu ilmu kehidupan, tidak hanya sebagai ilmu pengetahuan. Semua harus diberikan sebagai hal yang menyenangkan, menarik, dan merangsang. Selama ini metodologi yang diterapkan sebagian besar dilakukan dengan menghafal.

“Lebih ke pertanyaan kapan, atau di mana, tapi tidak sampai pada pertanyaan mengapa. Karena itu, pembelajaran sejarah di sekolah perlu menggunakan metode partisipatif, misalnya dengan bermain peran lewat sandiwara. Dengan begitu, sistem pendidikan yang diterapkan secara menyeluruh bisa kuat secara kognitif maupun afektif,” ujar pakar dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Pemikiran dasar atas pentingnya pelajaran sejarah ini menjadi salah satu latar belakang diselenggarakannya seminar nasional perjuangan Diponegoro, yang akan berlangsung Sabtu, 23 Juli 2011, di Gedung D Kemdiknas. Seminar ini bertajuk, “Meneruskan Nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro sebagai Semangat Pembangunan dan Pendidikan Karakter Bangsa” dan akan mengupas pendidikan karakter bangsa melalui keteladanan para pahlawan nasional, khususnya Pangeran Diponegoro.

Ketua Panitia Pengarah Edi Sedyawati mengatakan,”Pemilihan Pangeran Diponegoro sebagai teladan mengingat perjuangan yang dilakukan pada masa itu adalah sebuah titik goyang bagi dunia internasional untuk melawan kekuasaan kolonial.”

Ada empat pakar dan pemerhati sejarah sebagai penyaji materi seminar, di antaranya Saleh As’ad Djamhari yang akan menjelaskan tentang kiat pergerakan Diponegoro melawan kekuasaan kolonial. Penulis naskah Babad Diponegoro, Peter Carey akan memaparkan mengenai perang Diponegoro. Singgih Trisulistyono akan mengangkat nilai perjuangan dan karakter Pangeran Diponegoro sebagai sumber pendidikan karakter bangsa.  Dan, Sudharto akan menjelaskan pentingnya pendirian Pusat Dokumentasi dan Informasi Pangeran Diponegoro. (Lian/Gloria, dikutip dari: http://kemdiknas.go.id/list_berita/2011/7/20/sejarah-penting-sebagai-media-pendidikan-karakter.aspx)

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>