Google

Dr. Yayah Rahyasih, M.Pd.: Guru Besar Bisa Pensiun 70 Tahun

Written on:October 17, 2011
Comments
Add One

Bandung, UPI

Di hadapan tim penguji promosi doktor yang dipimpin Direktur Sekolah Pascasarjana UPI Prof. Fuad Abdul Hamid, Ph.D. dan promotor Prof. Dr. H. M. Fakry Gaffar, M.Ed., Promovenda Dra. Hj. Yayah Rahyasih, M.Pd., menyetujui jika dosen yang memiliki jabatan guru besar pensiun di usia 70 Tahun. Hal tersebut dikemukakan Yayah yang juga menjabat sebagai Direktur Sumber Daya Manusia UPI pada ujian terbuka promosi doktor di Gedung SPs UPI, Lantai, 5, Jln. Dr. Setiabudhi 229 Bandung, Senin (17/10/2011).

Dalam pandangannya, minimnya kepakaran tertentu yang dimiliki perguruan tinggi dan lambannya regenerasi yang terjadi di kampus, menjadikan gagasan untuk memensiunkan guru besar di usia 70 tahun sangat relevan. “Saat ini saya sangat setuju jika dosen yang memiliki jabatan guru besar pensiun di usia 70 tahun tanpa harus perpanjangan setiap tahunnya,” ungkap Yayah.

Selanjutnya Yayah menyetujui pernyataan penguji, Prof. Dr. Nanang Fatah, M.Pd., yang menyatakan bahwa Rancangan Undang-undang BLU yang mengatur masa pensiun guru besar di usia 65 tahun tidak sesuai dengan kondisi objektif di setiap perguruan tinggi.

Dikemukakan, berdasarkan sejumlah temuan di lapangan, sistem SDM dapat dijadikan pedoman dalam meningkatkan profesionalisme dalam mendukung operasi sistem kelembangan UPI. Saat ini terjadi evolusi industri pembelajaran dan pengetahuan global yang terjadi dengan cepat sebagai kelanjutan dari perluasan peran dan keberadaan universitas selama dua periode kepemimpinan.

Evolusi yang bergerak dari komitmen pendidikan tinggi ke akses universal terhadap pendidikan tinggi pasca perubahan dari IKIP menjadi Universitas Pendidikan Indonesia, kata Dr. Yayah, mengalami pergeseran dan perluasan kewenangan (widermandate) program studi pada seluruh fakultas yang semula hanya mengambangkan jurusan pendidikan bertambah jurusan dan program studi nonkependidikan.

Dari penambahan dan perluasan tersebut, kata dia, berimplikasi pada pengelolaan secara komprehensif. Hal ini berdampak pada penerimaan mahasiswa baru, penambahan dosen, penambahan ruang kuliah serta sarana dan fasilitas yang turut mendukung yang terjadi menuntut kekuasaan leadership dalam mengelola perguruan tinggi terutama mengelola SDM-nya.

“Sudah barang tentu SDM perguruan tinggi yang terdiri atas dosen, tenaga pustakawan, laboran, teknisi, tenaga administrasi dan tenaga lainnya, dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya memerlukan pedoman sebagai acuan,” ujar Dr. Yayah,

Oleh karena itu bidang manajemen SDM banyak memengaruhi keterlibatan semua unsur dalam konteks mewujudkan tujuan institusi. UPI sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi yang memiliki kekhasan dalam mengembangkan ilmu pendidikan dan mengembangkan disiplin ilmu lainnya, lebih banyak melakukan berbagai kajian terhadap perkembangan ilmu dan teknologi yang betul-betul menjadi fokus tugasnya menjalankan core business-ny dalam bidang pendidikan.

“Konsisteni UPI dalam mengembangkan bidang ilmu pendidikan dibuktikan dalam academic mobility diwujudkan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri yang memfokuskan pada pendidikan guru sebagai suatu kajian mendapatkan perhatian serius dari kalangan ilmuwan dan pemerhati pendidikan dalam dan luar negeri,” kata Dr. Yayah selanjutnya.

Kekuatan UPI dalam kiprahnya mengusung pendidikan sebagai kojo-nya sudah barang tentu menuntut konsekuensi dalam mempersiapkan mulai dari bobot mata kuliah dalam kurikulum, jumlah program studi, yang jelas penamaan pada jumlah fakultas yang ada, masih mencantumkan kata pendidikan, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas  Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Pendidikan Olaharaga dan Kesehatan, terakhir adalah Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis.

“Dengan mempertahankan pendidikan sebagai suatu ilmu, maka SDM yang dipersiapkan untuk mempertahankan dan mengembangkan keilmuan dan kepakaran dalam bidang pendidikan perlu dikelola secara proporsional dan profesional,” ujar Dr. Yayah.

Manajemen SDM perguruan tinggi, kata dia, sangat tergantung dari leadership yang memiliki konsep visioner dan transformational. Pada struktur kelembagaan periode 2000-2005 secara tegas ada pemisahan pada jabatan struktural dan jabatan fungsional.  Leadership melakukan rencana pengembangan sangat mempengaruhi mobilitas organisasi perguruan tinggi, secara agresif melakukan perubahan.

“SDM perguruan tinggi harus dikelola secara profesional karena pengelolaan memberikan makna dan menyangkut eksistensi individu sebagai intelektual, ilmuwan, administrator, katalisator informator, laboran, pustakawan yang dalam posisi mereka mempunyai tugas pokok dan fungsi masing-masing dalam rangka mewujudakan tujuan lembaga,” ujar dia selanjutnya. (Andika/Deny)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>