Google

Dimensi Pendidikan Karakter/Nilai dalam Model Sains-Biologi untuk Pembelajaran Manusia Sebagai Upaya Mengatasi Krisis Nilai dan Moral Bangsa

Written on:November 16, 2011
Comments are closed

Oleh  Prof. Dr. H. Suroso Adi Yudianto, M.Pd.

(Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar  dalam Bidang Ilmu Pendidikan Sosio Biologi  pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia, 16 November  2011)

Perkenankanlah saya pada kesempatan yang membahagiakan ini untuk memanjatkan puji syukur ke khadlirat Allah SWT, karena atas izin-NYA pada hari ini saya berkesempatan menyampaikan Pidato Pengukuhan Guru Besar di Universitas Pendidikan Indonesia dalam bidang Ilmu Pendidikan Sosio-Biologi. Juga saya ucapkan banyak terima kasih kepada para Sahabat/Handai Taulan yang telah membantu sehingga saya dapat mencapai jabatan Guru Besar sekarang ini semoga Allah SWT membalasnya dengan kebaikan berlipat ganda. Terimakasih pula atas kehadiran Bapak, Ibu, dan hadlirin sekalian pada acara pengukuhan Guru Besar ini serta kesediaannya untuk menyimak isi pidato saya yang berjudul: Dimensi Pendidikan Karakter/Nilai dalam Model Sains-Biologi untuk Pembelajaran Manusia Sebagai Upaya Mengatasi Krisis Nilai dan Moral Bangsa

Hadlirin yang saya hormati,

A. Masalah Hakekat Sains-Biologi dan Pembelajarannya

Masalah pembelajaran Sains dalam mencapai tujuannya bergantung kepada pandangan Guru terhadap hakekat Sains itu sendiri. Pandangan tentang hakekat Sains ini berkembang dari waktu ke waktu. Pandangan umum mengatakan bahwa Biologi merupakan salah satu cabang Sains (Natural Science). Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari fenomena atau gejala alam, dan Biologi merupakan ilmu yang mempelajari kehidupan dan hidupnya suatu organisme secara lahiriah Hal ini berbeda dengan pandangan Sund (1979) bahwa sains mencakup tiga hal, yaitu: Scientific Knowledge, Scientific Methods, and Scientific Attitudes. Hal ini menunjukkan bahwa Sains merupakan suatu produk dan proses.  Sains sebagai pengetahuan ilmiah dihasilkan melalui metode ilmiah dan sikap ilmiah. Untuk pembelajarannya mesti menanamkan pengetahuan ilmiah, metode ilmiah, dan sikap ilmiah. Sikap ilmiah yang ditanamkan seperti objektif, jujur, menghargai pendapat orang lain, bekerja sama, teliti, dan hati-hati. Karena itu, pembelajaran Sains harus mencakup aspek-aspek kognitif,  psikomotor, dan affektif. Interaksi ketiga aspek tersebut akan menghasilkan kreativitas. Pengembangan sikap dan perilaku kreatif pada peserta didik ini sangat penting dalam suatu proses pembelajaran, karena hasil utama dalam proses pendidikan adalah perubahan sikap dan tingkah laku peserta didik. Menurut Krech dan Ballancy (1984) bahwa perubahan sikap seseorang dipengaruhi oleh informasi yang diperoleh, keinginannya (wants), affiliasi kelompok, dan kepribadiannya, serta Agama yang dianutnya. Dalam hal  ini artinya, orang menghargai Sains bergantung kepada penafsiran terhadap informasi tentang Sains itu, apakah informasi itu bersumber dari para pakar pendidikan Sains, juga informasi dari ajaran Agama yang dianutnya, maupun informasi dari komitmen kelompok affiliasinya

Selanjutnya Albert Einstein menyatakan bahwa Sains mengandung nilai-nilai intrinsik, yaitu: nilai praktis, intelelktual, sosio-politik-ekonomi, pendidikan, dan nilai religi. Nilai-nilai intrinsik Sains adalah nilai-nilai yang dimiliki oleh Sains itu sendiri, dan bukan dampak dari Sains terhadap kehidupan manusia. Berdasarkan pandangan ini, pembelajaran Sains pun tidak hanya memahami apa, mengapa, dan bagaimana Sains itu, tetapi juga harus dapat menanamkan nilai-nilai tersebut untuk pembelajaran manusia. Hal ini disebutkan dalam QS. Al-Ankabut:43, yaitu:”Dan Kami jadikan amtsal-amtsal (perumpamaan) di dunia untuk pelajaran bagi manusia, tetapi kebanyakan tidak memahaminya, kecuali dengan ilmu”. Hal ini ditegaskan oleh SH. Nasr dalam bukunya”Science and Civilization in Islam” menyatakan bahwa:

“Sebagian besar sejarawan alam Muslim berusaha mempelajari sejarah alam (Hukum Alam) bukan hanya untuk memuaskan rasa keingintahuan mereka, tetapi dalam rangka mengamati tanda-tanda Allah, Vestial Dei, sehingga mereka senantiasa dapat mengambil pelajaran-pelajaran spiritual dan moral dari kajian mereka tentang kerajaan alam…”.

Demikian pula, salah satu pendapat JD.Bernal (1982) bahwa:”Sains sebagai suatu faktor utama yang mempengaruhi kepercayaan dan sikap manusia terhadap alam semesta dan manusia, dan bukan hanya sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang sistematis dan logis, metode ilmiah, dan factor utama mengembangkan produksi.

Untuk lebih jelasnya ke lima nilai Sains tersebut adalah (1) Nilai Religi (QS. Al-Alaq, QS. Al-Jatsiyat:13, QS. Ar-Rahman); yaitu  Bacalah tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah  (Asma Ul Husna) sehingga manusia harus bersyukur atas nikmat Allah; (2) Nilai Praktis (QS. Ali Imran:191 dan QS.Shaad:27), bahwa segala yang diciptakan tidaklah sia-sia melainkan memiliki hikmah dan manfaat bagi kehidupan manusia sendiri sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan YME; (3) Nilai Intelektual (QS.Al-Baqarah:26), mengembangkan kekritisan dan penalaran suatu fenomena mana yang terbaik untuk pelajaran sehingga dapat menekan resiko serendah mungkin bagi orang yang mau berpikir; (4) Nilai Sosial-Politik (QS.Al-Ankabut:43 , QS. Yusuf: 111, dan QS Ar-Rad:11), yaitu mempelajari amtsal (perumpamaan) yang ada di alam dan kisah-kisah sejarah kemanusiaan untuk pembelajaran manusia dalam bermasyarakat dan bernegara, dan (5) Nilai Pendidikan (QS. Qaaf:7-8, mengambil pelajaran dari fenomena di alam untuk ditiru dan dikembangkan untuk dijadikan sumber pendidikan nilai dan moral/mental, serta berbagai bidang pendidikan, seperti: teknik, kepemimpinan, sistem pertahanan negara, sistem lalu lintas, sistem kooperasi/bisnis, dan cara-cara mencapai sukses. Kesemuanya tersebut mengingatkan kepada manusia untuk sadar diri dan kemauan untuk mengubah diri ke arah kehidupan yang lebih baik dengan belajar kepada Hukum Alam (Ayat Kauninyah) dan Ayat Qauliyah menuju kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat.

         Berdasarkan pandangan hakekat Sains di atas, maka dari sudut pandang yang berbeda, Biologi sebagai objek studi dapat juga dibedakan atas; Pertama, Biologi sebagai ilmu yang didefinisikan sebagai terdiri dari produk, proses, dan sikap ilmiah; Kedua, Biologi dapat dipandang sebagai model yang memodelkan ragam pesan dan percontohan berbagai aspek kehidupan. Menurut Sosiologi, manusia sebagai mahkluk sosial yang lahir sebagai makhluk biososial dan berkembang melalui belajar sosial. Objek Biologi berperan sebagai model di dalam belajar sosial ini. Objek Biologi ini memerankan amtsal (perumpamaan contoh atau analogi) yang ditampilkan untuk pembelajaran manusia melalui pemodelan tersebut sebagaimana dinyatakan dalam QS. An-Ankabut: 43. Sejalan dengan pandangan dan petunjuk ayat ini, modeling yang yang dipopulerkan oleh Albert Bandura melalui Teori Pembelajaran Sosialnya adalah bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku yang diamatinya (Arends,1997:69 dalam Ibrahin,M.,2002:3). Teori pemodelan tingkah laku ini meliputi empat fase, yaitu: perhatian, retensi, produksi, dan motivasi. Jadi menurut teori ini, seseorang belajar dengan mengamati tingkah laku orang lain (pemodelan), dan hasil pengamatannya lalu dimantapkan dengan cara menghubungkan dengan pengalaman sebelumnya, atau mengulang-ulang kembali dengan jalan memberi kesempatan kepada orang tersebut untuk mengekspresikan tingkah laku yang dipelajarinya. Dalam sejarah manusia, model pembelajaran ini sejak keturunan pertama Adam As, yaitu Qabil yang membunuh saudaranya bernama Habil akibat berebut pasangan jodoh; Qabil kebingungan apa yang harus diperbuat setelah membunuh saudaranya itu, dan akhirnya Tuhan mengirimkan dua ekor burung gagak untuk memodelkan tingkah laku apa yang harus dilakukan oleh Qabil; kedua burung gagak itu berkelahi, dan salah satu mati, kemudian gagak yang masih hidup dengan paruhnya menggali-gali tanah untuk menguburkan temannya itu. Dari model itu, Qabil belajar dari burung gagak untuk menguburkan saudaranya tersebut.

          Penanaman dan pengembangan nilai-nilai instrinsik Sains tersebut mencerminkan integrasi aspek-aspek kognitif, psikomotor, dan aspek afektifnya, atau merupakn integrasi iman, ilmu, dan amal. Sains digunakan sebagai media berpikir untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah dan pelajaran apa dari perumpamaan (amtsal) yang ditampilkannya, baik berupa model-model Biologi, Kimia, maupun model Fisika.

         Penanaman dan pengembangan dimensi pendidikan nilai dalam model-model Sains-Biologi tersebut penting diberikan di sekolah, karena sesuai dengan amanah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSISDIKNAS) dan tantangan dalam kehidupan masyarakat sekarang..Hal ini memberikan dasar yang dapat digunakan sebagai landasan dalam proses perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi program pendidikan seperti yang dinyatakan dalam pasal-pasal sebagai berikut.

  1. Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan serta membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
  2. Pasal 36 ayat (3) menyebutkan kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: 1) peningkatan iman dan takwa; 2) peningkatan akhlak mulia; 3) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; 4) keragaman potensi daerah dan lingkungan; 5) tuntutan pembangunan daerah dan nasional; 6)  tuntutan dunia kerja; 7) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; 8) agama; 9) dinamika perkembangan global; dan 10)   persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Dengan demikian pembelajaran Sains-Biologi bernuansa/bermuatan Pendidikan Karakter/Nilai sangat penting dilaksanakan di sekolah guna mencapai Tujuan Pendidikan Nasional dan mengatasi dekadensi moral atau berbagai krisis nilai dan moral masyarakat dan bangsa Indonesia yang terjadi  sekarang ini. Kita merasa prihatin dengan berita di media cetak maupun media elektronik sering terjadi peristiwa tawuran antar warga, antar kampus, antar fakultas dalam satu kampus, bahkan bentrokan antar suku bangsa, antar Agama, padahal kita bangsa Indonesia berdasarkan Bhineka Tunggal Ika. Hal ini belum lagi sering munculnya berita kriminalitas, pembunuhan dan pemerkosaan yang sangat meresahkan masyarakat. Demikian pula telah terjadi upaya segerombolan orang yang menamakan dirinya GPM (Gerakan Papua Merdeka), GAM (Gerakan Aceh Merdeka), RMS (Republik Maluku Selatan) dan lainnya belum tuntas yang mengancam keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Berbagai hal tersebut menunjukkan adanya krisis nilai dan moral pada bangsa Indonesia, betapa rapuhnya nilai sosial-politik, nilai patriotisme/nasionalisme, dan moral Agama. Berbagai krisis nilai dan moral tersebut perlu diantisipasi dan diatasi antara lain melalui inovasi model pembelajaran di sekolah. Inilah sumbangan pembelajaran bidang studi Sains-Biologi Bermuatan Pendidikan Karakter/Nilai dalam pembangunan bangsa. Oleh karena Sains-Biologi merupakan ayat-ayat Allah yang tersebar di alam (Ayat Kauniah) yang ditemukan oleh manusia, maka dalam pelaksanaan pembelajarannya perlu dilegalitaskan oleh ayat-ayat Allah dalam Kitab Suci (Ayat Kauliyah) sehingga kebenaran Sains tetap terpelihara.

Pola umum pembelajaran Sains-Biologi dalam menanamkan dan mengembangkan Pendidikan Karakter/Nilai melalui Pemodelan  (Amtsal) dalam menyampaikan pesan-pesan tingkah laku budi pekerti dan akhlak adalah sebagai bagan berikut:

                                             

            

 

 

 

 

 

 

Bagan : Pola pikir pembelajaran Sains secara menyeluruh (holistik/kaffah)

(Suroso AY,2008)

B. Contoh Model-Model Biologi untuk Pembelajaran Manusia

1.  Model Rhizophora  Menyiapkan Generasi Mudanya Siap Pakai

Hal yang menarik untuk menjadi contoh bagaimanakah orang tua seharusnya menyiapkan generasi muda secara matang terjun dalam masyarakat adalah model pada tumbuhan bakau  (Rhizophora). Tumbuhan bakau ini hidup di daerah pantai yang penuh lumpur, yang menggambarkan kehidupan manusia dengan penuh tantangan. Bagaimana tidak ? Untuk menyokong tegaknya pohon bakau ini dibantu oleh sistem  perakaran akar tunjang , karena tempat hidupnya rawan abrasi air laut dan lumpur. Tumbuhan bakau menghasilkan biji-biji dengan tumbuh akar lebih dahulu sebelum jatuh ke lumpur (vivipar). Dengan demikian, apabila biji jauh ke lumpur maka akan siap langsung tumbuh di lumpur itu. Tampaknya tumbuhan bakau ini menyiapkan generasi mudanya secara matang atau siap pakai terjun di lingkungan hidupnya. Model pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan bakau tersebut memberi pelajaran kepada manusia tentang program pendidikan yang lulusannya siap pakai di masyarakat.

 

 

 

 

Gambar : Tumbuhan bakau (Rhizophora) dalam menyiapkan generasi mudanya.

2.  Model Kepemimpinan pada Pertumbuhan Batang Monopodial dan Simpodial

Setiap orang pada dasarnya seorang pemimpin, karena setidaknya  memimpin dirinya sendiri. Tetapi ada pula orang yang memiliki kemampuan memimpin orang lain atau sekelompok orang, bahkan memimpin bangsanya dan negaranya. Hanya saja tipe kepemimpinan orang ini ada yang mudah menerima masukan dari orang yang dipimpinnya (Pemimpin Demokrasi), dan ada pula pula tipe kepemimpinan yang tidak mudah menerima masukan atau digantikan oleh orang lain (Pemimpin Autokrasi).Gambar tipe kepemimpinan tersebut ditunjukkan oleh model-model  pertumbuhan suatu tumbuhan; ada model percabangan batang monopodial dan ada pula model percabangan batang simpodial. Model percabangan batang monopodial menunjukkan adanya pertumbuhan dominansi pucuk, yaitu cabang-cabang batang di bawahnya tidak bisa mengalahkan atau menggantikan pertumbuhan pucuknya. Model percabangan batang monopodial ini menggambarkan tipe kepemimpinan autokrasi, seperti pertumbuhan batang pinus dan agatis. Adapun model percabangan batang simpodial, yaitu dominansi pucuk hanya terjadi secara berkala, dan selanjutnya digantikan oleh tunas-tunas aksilar yang ada di dekat pucuk tersebut. Itulah sebabnya model percabangan batang simpodial ini menghasilkan pertumbuhan tumbuhan yang rimbun, seperti pertumbuhan batang mangga, beringin, jambu, dll. Hal ini menggambarkan bahwa secara berkala seorang pemimpin senantiasa mempersiapkan penggantinya atau kader-kadernya untuk melanjutkan kepemimpinannya.

 

 

 

Gambar : Model pertumbuhan batang monopodial dan simpodial.

 

 

 

 

 

Gambar: Persaingan memperebutkan pasangan kawin pada singa pejantan.

3. Model Kebersamaan dalam Sistem Transportasi pada Tumbuhan

Apabila kita perhatikan fungsi bagian-bagian tumbuhan, antara akar, batang,dan daun dalam proses pengangkutan air dan  zat hara yang larut di dalamnya terdapat saling gotong royong. Penyerapan air tanah oleh tumbuhan bukan hanya adanya daya osmosis dan tekanan akar, tetapi juga dibantu oleh daya kapileritas pembuluh kayu (xilem dan trakea) batang, dan daya isap daun. Perhatikan gambar berikut:

 

 

 

 

 

 

 

Gambar: Proses penyerapan dan transportasi air dengan zat haranya disebabkan adanya daya osmosis dan tekanan akar, daya kapileritas batang, dan daya isap daun.

Daya osmosis sel-sel akar dan tekanan akar hanya mampu menaikkan air tanah setinggi kurang lebih dua meter saja. Bagaimana halnya tumbuhan yang tingginya lebih dari dua meter ? Disinilah peranan dan fungsi batang melalui daya kapileritas pembuluh kayunya mampu menaikkan air tanah sampai setinggi 50 meter. Bagaimanakah halnya dengan tumbuhan yang tingginya lebih dari 50 meter untuk memperoleh air dan zat hara yang terlarut di dalamnya? Itulah sebabnya adanya daya isap daun sangat membantu proses transportasi air dan zat-zat hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan yang tinggi.

Peristiwa suksesnya tumbuhan memperoleh air tanah dengan zat-zat terlarut di dalamnya tersebut menggambarkan betapa pentingnya kerja sama antara peranan bagian-bagian tumbuhan sebagai lapisan masyarakat bawah, menengah dan lapisan masyarakat atas dalam mensukseskan program pembangunan. Untuk sukses program pembangunan pemerintah perlu memperoleh dukungan semua lapisan masyarakat sebagai satu tubuh.

Demikian pula  untuk kesehatan tubuh perlu ditunjang oleh semua sistem yang bekerja dalam tubuh, seperti: sistem peredaran darah, sistem saraf, sistem pencernaan makanan, sistem gerak, sistem hormon,.sistem alat indera, dan sistem pengleuaran zat guna membuang zat-zat yang berbahaya bagi tubuh sebagai hasil samping metabolisme tubuh.

Dalam tubuh terdapat kerjasama berbagai system: sistem gerak, sistem pencernaan makanan, sistem peredaran darah, sistem saraf, sistem koordinasi tubuh, dan lainnya

Dalam sistem gerak terdapat gerakan tubuh yang dikordinasikan oleh otak (sistem saraf pusat) dan ada pula yang dikoordinasikan oleh sistem saraf otonom. Gerak denyut jantung memompa darah adalah tidak diatur oleh otak, melainkan oleh sistem saraf otonom. Jantung memompa darah tersebut bukan hanya untuk kepentingan sendiri (jantung), tetapi juga untuk organ lainnya, jaringan lainnya, dan bagian tubuh yang hidup sehingga bagian semuanya memperoleh zat makanan, oksigen, dan zat lainnya yang diperlukan, Sebaliknya, paru-paru mengisap oksigen bukan hanya untuk dirinya saja, melainkan untuk proses oksidasi seluruh tubuh. Demikian pula, usus menyerap zat-zat makanan bukan hanya untuk kebutuhan hidup dirinya saja, tetapi juga bekerja sama dengan sistem peredaran darah sangat peduli mengirim zat-zat makanan ke seluruh jaringan tubuh yang hidup.

4.   Model Kehidupan Primitif dan  Modern pada Tumbuhan Biji

Dalam dunia tumbuhan dikenal ada golongan tumbuhan primitif dan tumbuhan yang lebih maju daripadanya. Pada tumbuhan biji (Spermatophyta), dipandang bahwa Gymnospermae (Tumbuhan Biji Terbuka) lebih primitif daripada Angiospermae (Tumbuhan Biji Tertutup). Karakter dari Gymnopsermae adalah bijinya tidak dilindungi oleh karpel buahnya, sedangkan Angiospermae adalah bijinya tertutup oleh karpel buahnya. Hal tersebut menggambarkan tumbuhan Gymnospermae sebagai layaknya kehidupan suku-suku primitif yang masih menggunakan koteka dalam menutup auratnya, sedangkan tumbuhan Angiospermae sebagai layaknya kehidupan manusia modern yang menggunakan pakaian lengkap.

 

 

 

 

Gambar : Alat perkembangbiakan (Biji) pada Gymnospermae dan Angiospermae.

5.   Model Membangun Koalisi  untuk  Bertahan Hidup (Lestari) pada Diatomae

Pada perkembangbiakan algae, khususnya alga kersik (Diatomae) melakukan perkembangbiakan secara vegetatif dan generatif. Perkembangbiakan vegetatifnya dengan membelah diri (binary fission) menghasilkan keturunan epitheca dan keturunan hipotheca. Diatomae yang keturunan hipotheca menghasilkan keturunan yang lebih kecil dari induknya, yang pada akhirnya suatu saat tidak mampu lagi melakukan pembelahan dirinya. Tetapi kehidupan Diatomae keturunan hipotheca ini sepertinya memiliki pemikiran bahwa apabila dirinya sudah tahap tidak mampu  membelah diri, alga ini melakukan perkembangbiakan secara kawin membentuk auxospor agar menghasilkan tubuh yang normal seperti induk keturunan epithecanya, sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut:.

 

 

 

 

 

Gambar : Perkembangbiakan Diatomae dalam melestarikan jenisnya.

Setelah terjadi perkawinan, algae tersebut menghasilkan tubuh yang normal kembali, dan  selanjutnya ia memiliki kemampuan untuk membelah diri kembali. Hal ini memberi pelajaran kepada manusia agar dalam menjalani hidup tidak berputus asa, tetapi ada upaya perjuangan hidup untuk bisa lestari. Caranya dia harus mau menjalin kerja sama dengan lainnya, apakah  melalui proses perkawinan maupun melakukan simbiosis dengan lainnya sebagai layaknya ditunjukkan pada kehidupan Lichenes (Lumut Kerak).

6. Model Membangun Koalisi untuk Karya Yang Lebih Besar

Lichenes (Lumut Kerak) merupakan golongan tumbuhan yang melakukan simbiosis antara golongan algae dengan jamur, tetapi bukanlah golongan lumut. Simbion algaenya terdiri dari golongan Cyanophyta dan Chlorophyta bersel satu yang sepertinya bercita-cita ingin hidup di darat, bahkan dapat hidup di puncak pohon. Algae adalah golongan tumbuhan thallus yang habitatnya di air, sehingga sangat sulit untuk bisa hidup di darat, apalagi jenis algae bersel satu (uniseluler). Hanya dengan simbiosis dengan golongan jamur, algae ini mampu hidup di darat maupun di pohon dengan membentuk Lichenes. Golongan jamurnya terdiri dari Ascomycetes dan Basidiomycetes, yang keduanya tergolong jamur tingkat tinggi, karena mampu membentuk tubuh buah. Untuk pemberian nama golongannya hasil simbiosisnya diambil dari simbion jamurnya, sehingga dikenal ada kelas Ascolichenes dan Basidiolichenes. Jenis kersaja samanya adalah saling menguntungkan (simbiosis mutualistis). Dengan simbiosis mutualistis tersebut, mereka mampu hidup di tempat yang gersang, yang penuh tantangan seperti hidup pada batuan yang jenis tumbuhan lain tidak bisa tumbuh di sana, sehingga mereka dikenal sebagai tumbuhan perintis. Lichenes merupakan pembuka jalan bagi kehidupan tumbuhan lainnya.Hal ini memberi pelajaran kepada manusia, pentingnya kerja sama saling menguntungkan antara golongan masyarakat ekonomi lemah dengan masyarakat ekonomi kuat, antara pengusaha lemah dengan pengusaha kuat, atau bahkan kerja sama antara sesama pengusaha lemah dalam membentuk sistem perekonomian yang kuat. Agar pengusaha-pengusaha lemah tidak bangkrut perlu melakukan merger (bergabung) menjadi perusahaan yang kuat.

Model Biologi lainnya dalam membangun koalisi yang menghasilkan sesuatu karya yang lebih besar adalah proses pertumbuhan dan perkembangan pada jamur Basidiomycetes (contoh: jamur payung). Jamur semasa pertumbuhan dari sporanya hanya berupa benang-benang halus putih, yang disebut hifa atau miselium sehingga sedikit orang yang mengenalnya. Orang mengenal jamur karena tubuh buahnya yang serupa payung, atau kuping, atau papan. Tubuh buah jamur adalah dibentuk oleh miselium jamur yang telah kawin, lalu  membentuk anyaman-anyaman menjadi serupa payung. Coba perhatikan gambar berikut:

 

 

 

 

 

 

Gambar: Pertumbuhan dan perkembangan tubuh jamur golongan Basidiomycetes Sebagai Model Koalisi yang menghasilkan karya yang lebih besar.

Berdasarkan apa yang dicontohkan dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh jamur dari yang tidak dikenal banyak orang menjadi dikenal orang, kita dapat memetik pelajaran bahwa peristiwa perkawinan dua jenis miselium jamur ( miselium + dengan miselium – ) menghasilkan karya yang lebih besar (tubuh buah jamur). Oleh karena itu, peristiwa perkawinan adalah tugas mulia untuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Mengapa? Tinjauan ajaran Agama mengatakan bahwa pahala amalan seseorang yang telah menikah adalah berlipat ganda dibandingkan dengan orang yang belum menikah. Demikian pula tinjauan secara hukum Fisika, bahwa bila dua gaya bersinggungan yang tidak berlawanan arah akan menghasilkan resultan yang lebih besar dari gaya-gaya itu sendiri. Apabila teori ini diterapkan dalam kehidupan manusia, maka peristiwa perkawinan merupakan penggabungan dua kubu yang berbeda jenis menjadi satu misi dan visi yang sama, yang hikmahnya sangat luar biasa dapat membangun sesuatu karya yang jauh lebih besar  dari asalnya. Model ini dapat diterapkan dalam bidang pemerintahan agar program-program pembangunannya sukses dengan membangun koalisis berbagai partai pemenang pemilu atau golongan untuk mendukung program partai yang berkuasa dalam pemerintahan. Dengan demikian prinsip kebersamaan sangat penting untuk pencapaian sesuatu tujuan; bersama kita bisa. Nilai kebersamaan adalah karakter bangsa Indonesia, yang disebut Gotong Royong dan Bhineka Tunggal Ika.

7.  Metamorfosis Kupu-Kupu sebagai Model Perubahan untuk Perbaikan

       Kehidupan serangga mengalami metamorfosis (meta= berubah, morphus= bentuk), yaitu terjadi perubahan-perubahan bentuk yang diikuti perubahan sifatnya dari hal-hal yang kurang baik menjadi hal-hal yang baik untuk kehidupan lingkungannya.

Perubahan pada metamorfosis kupu-kupu terjadi perubahan yang sangat mencolok antara kehidupan di masa mudanya dengan masa dewasanya. Telurnya setelah menetas menjadi ulat memiliki karakter bentuknya yang menjijikan dan perilakunya yang rakus, merusak daun-daunan tumbuhan sehingga sebagai hama tanaman. Tetapi setelah mengalami bentuk kepompong, ia tidak makan (berpuasa) selama 7-10 hari, dan hasilnya menjadi kupu-kupu yang bentuknya menarik, dan perilakunya pun menjadi baik, karena ia mengisap madu dan membantu penyerbukan bunga. Masa kepompong diidentikkan dengan berpuasa manusia. Masa ulat merupakan model orang yang bertemperamen jahat, suka mengganggu atau merusak kehidupan orang lain sehingga dibenci banyak orang.

Metamorfosis pada kupu-kupu dapat disimak pada gambar di bawah ini:

 

 

 

 

 

Gambar : Metamorfosis pada kupu-kupu menghasilkan perubahan yang baik.

Masa kupu-kupu merupakan model orang yang bertakwa, orang bertemperamen baik dengan perilakunya suka membantu orang lain. Munculnya fase kehidupan yang baik tersebut setelah mengalami masa kepompong sebagai model orang berpuasa.. Dalam Islam, ibadah puasa dimaksudkan untuk menjadi orang bertakwa kepada Allah SWT, yaitu tingkat derajat manusia yang paling tinggi dihadapan Allah SWT. Model ini sejalan dengan perintah-NYA dalam QS. Albaqarah:183:” Hai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertakwa”.

8.  Model sistem lalu-lintas jalan raya (Transportasi pada  Tumbuhan)

        Pada tumbuhan terdapat tingkatan sistem transportasinya sejalan dengan perkembangannya. Adanya sistem transportasi melalui berkas pembuluh (xylem dan floem) hanya ditemukan pada golongan tumbuhan paku-pakuan dan tumbuhan biji (Spermatophyta). Golongan algae dan lumut belum memiliki sistem transportasi melalui xylem dan floem; hal ini karena tumbuhan tersebut belum memiliki batang atau hanya memiliki batang yang pendek saja.  Pada tumbuhan yang batangnya tinggi perlu membentuk sistem transportasi tersebut untuk memperlancar pengangkutan air dan zat-zat terlarut yang dibutuhkannya.Pada uraian di atas telah dikemukakan bahwa sistem transportasi zat pada tumbuhan tinggi didukung oleh daya tekanan akar, daya kapileritas batang, dan daya isap daun. Daya kapileritas batang ini menunjukkan peranan xylem dalam sistem transportasi air dan zat hara dari tanah ke atas bagian tumbuhan.

Selain itu, sistem transportasi melalui berkas pembuluh (xylem dan floem) menunjukkan sistem lalu-lintas searah, karena pengangkutan air dan zat hara dari tanah tidak berpapasan dengan jalan angkutan zat-zat hasil fotosintesis dari daun-daunnya. Hal yang sama pada sistem transportasi pada manusia yang menggunakan pembuluh nadi (arteri) dan pembuluh balik (vena) untuk aliran darah yang berbeda. Berdasarkan model Biologi ini, maka untuk memperlancar lalu-lintas jalan raya protokol sebaiknya menggunakan sistem berkas pembuluh angkut seperti xylem dan floem, atau sistem arteri dan vena. Dari sini pula dapat dipetik pelajaran, bahwa untuk pembukaan wilayah pemukiman baru, maka pembuatan sarana jalan adalah sangat penting dalam memajukan wilayah itu, sebagaimana ditunjukkan peranan tulang daun dalam menopang helaian daun; karena di dalam tulang daun terdapat berkas pembuluh angkut.

 9.  Alam memberikan Model-Model Pendidikan Seni-Orkes dan Teknik

          Alam memberikan contoh-contoh kepada manusia untuk ditiru dan dikembangkan menurut keinginannya. Berbagai bentuk makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan memberikan inspirasi kepada manusia untuk membuat kreasi seni batik atau pendidikan teknik tertentu sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut:

 

  1. Teknik arsitektur cakar ayam untuk pembangunan gedung bertingkat.

 

B. Teknik pembuatan pesawat helikopter meniru binatang capung.

 

 

C.Teknik pembuatan kapal selam meniru bentuk binatang paus.

 

 

 

D. Teknik pesawat mesin pancar gas meniru gerakan pada cumi-cumi.

Gambar : Berbagai karya teknologi manusia berasal dari meniru yang ada di alam.

 

 

 

Gambar: Berbagai jurus bela diri pada manusia adalah meniru kelakuan hewan seperti Jurus ular sendok ,dan cakar elang.  dll.

10.  Model Indahnya Keanekaragaman dalam Kebersamaan pada suatu Ekosistem

Keindahan sebuah Taman atau  keseimbangan Ekosistem ditentukan oleh kelengkapan komponen-komponennya. Sebuah taman dengan fungsi K-5 (Keindahan, Kebersihan, Ketertiban, Kesehatan, Keamanan) akan lebih baik daripada taman dengan K-3 (Keindahan, Kebersihan, Ketertiban) saja. Hal ini, karena banyak tanaman hias (memiliki unsur keindahan) yang memiliki fungsi ganda sebagai tanaman pengisap racun (memiliki unsur kesehatan) seperti: tanaman lidah mertua (Sanseviera variegata), rumput paris (Chlorophytum sp.),palem kuning (Chrysalidocarpus lutescens), puring (Codiaeum variegatum), rumput kriminil (Alternanthera variegata), Maranta, Nerium oleander, dll…

 

 

     

 

Gambar : Keseimbangan dan indahnya suatu ekosistem dipengaruhi kelengkapa komponen-komponennya; demikian pula halnya sebuah taman..

       Demikian pula sebuah Taman dengan K-8 akan lebih baik daripada K-5, karena akan lebih banyak memberikan manfaat atau hikmah dari keberadaannya. Hal ini sama halnya dengan kondisi masyarakat atau suatu bangsa, semakin banyak tersedia berbagai keahlian bidang pekerjaan dan sumber daya yang ada, semakin kokoh kehidupan masyarakat itu, asalkan semuanya menjunjung tinggi pentingnya kebersamaan untuk saling menghargai dan saling membutuhkan sesama warganya sebagai satu tubuh, satu keluarga, satu bangsa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika sebagaimana didengungkan dalam Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober.

 11.  Model Sikap Nasionalisme dan Kesukuan pada Perkembangan Buah

        Pada tumbuhan dikenal perkembangan putik bunga ada yang apokarp, parakarp, dan sinkarp. Bunga yang memiliki putik tipe apokarp adalah setiap karpel buahnya ingin menjadi buah sendiri-sendiri, ditemukan pada golongan tumbuhan Magnoliidae dan Rosidae. Bunga yang memiliki putik tipe parakarp, maka setiap karpel buahnya sudah membentuk persinggungan,  seperti bunga sempur (Dilleniidae). Adapun tipe putik sinkarp merupakan golongan bunga yang setiap karpel buahnya mengadakan persatuan menjadi satu putik; bunga demikian merupakan bunga modern. Bunga yang putiknya sinkarp biasanya menghasilkan tipe buah yang berukuran besar.  Perkembangan bagian-bagian bunga dari tipe bunga primitif dan bunga modern ditunjukkan pada bagan berikut:    

 

 

 

 

Gambar/Bagan: Perkembangan bagian-bagian bunga primitif dan bunga modern.

        Pada gambar/bagan di atas, bagian-bagian bunga yang sudah menunjukkan adanya persatuan (putik sinkarp) merupakan tipe bunga modern, dan bagian-bagian bunga yang masih terpisah satu sama lain (putik apokarp) merupakan tipe bunga primitif. Dalam hal ini, model persatuan bagian-bagian bunga secara formal telah diwujudkan oleh Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hanya saja belum secara menyeluruh diikuti oleh semangat-semangat persatuan dan kebersamaan lainnya; terbukti masih terjadi permusuhan antar suku di beberapa daerah, tawuran antar warga desa, antar sekolah satu dengan lainnya. Berdasarkan pandangan model bunga modern tersebut, apabila kita bangsa Indonesia menyadari sebagai bangsa yang maju (modern), maka rasa persatuan dan kesatuan sebagai satu bangsa (Bangsa Indonesia) perlu dipupuk dan dibina terus dengan semangat Bhineka Tunggal Ika. Untuk itu sikap nasionalisme lebih diutamakan daripada sikap kedaerahan, kepentingan nasional di atas kepentingan daerahnya masing-masing. Dalilnya adalah bunga yang memiliki putik apokarp yang banyak akan menghasilkan buah-buah yang berukuran kecil, sedangkan bunga yang putiknya sinkarp akan menghasilkan buah yang berukuran lebih besar. Coba bandingkan dan perhatikan buah-buah yang terbentuk pada bunga cempaka (Michelia champaca) dengan buah labu (Cucurbitaceae) pada gambar berikut:

 

 

 

Gambar :  A. Buah cempaka (buah berganda);   B. Buah labu (buah buni).

Model Biologi ini memberi pelajaran bahwa untuk menjadi bangsa Indonesia yang besar  diperlukan persatuan dan kesatuan semua warga negaranya. Indonesia yang memiliki banyak potensi dan sumber daya alam yang kaya raya, maka pasti menjadi bangsa yang besar dan maju sejajar dengan negara maju, jika terbangun semangat nasionalisme yang tinggi pada semua warganya.   Adakah kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia yang

memiliki keanekaragaman suku bangsa, budaya, adat istiadat, kepercayaan, Agama, potensi daerah, dan kekayaan alam melimpah ini masih menunjukkan Bhineka Tunggal Ika, seperti ditunjukkan dalam semangat Sumpah Pemuda sejak 28 Oktober 1928, bahwa kita:

                  Berbangsa satu, bangsa Indonesia

                  Berbahasa satu, bahasa Indonesia,

                  Bertanah air satu, tanah air Indonesia. 

12. Model Memahami Rumus/Simbol secara Holistik/Kaffah   

Pemahaman rumus/simbol dalam Sains perlu dimaknai secara menyeluruh agar memiliki dampak yang luas dalam pembelajaran manusia, terutama penggalian dan pengembangan nilai-nilainya untuk kehidupan manusia. Sebagai contoh pemaknaan tentang rumus Fotosintesis:

(6 CO2 + 6 H2O  ========  C6H12O6 + 6 O2) sbb.:

 

 

Pada Bagan Rumus Fotosintesis di atas merupakan pemaknaan fotosintesis yang lebih mendalam dan luas, karena kelihatannya sederhana tetapi setelah digali nilai-nilainya ternyata sangat berkaitan dengan dengan penanggulangan masalah lingkungan yang kompleks, masalah Agama, sosial-politik, pendidikan, dan pengembangan daya nalar. Hal ini berarti kegiatan fotosintesis tumbuhan maupun asimilasi lainnya dari tanaman beracun yang terpelihara dalam hutan kota maupun hutan alam adalah sangat berarti dalam pencegahan dan penanggulangan masalahan lingkungan, seperti: masalah pencemaran lingkungan, kebocoran ozon, efek rumah kaca pada lingkungan, bencana banjir, pemanasan global, dan masalah akan terjadi tenggelamnya pantai maupun pulau-pulau kecil dan kota-kota pinggir pantai. Bagaimana halnya nasib kota-kota di dekat pantai lainnya seperti Jakarta, Pontianak, Banda Aceh, Cirebon, Semarang, Surabaya, Denpasar, dan lainnya tentu akan mengalami nasib yang sama.

C.  Pengembangan Pendidikan Nilai dalam Sains-Biologi

Dalam uraian di atas merupakan salah satu contoh dari pengembangan nilai-nilai dari model-model Biologi untuk pembelajaran manusia dalam menjalani hidup ini. Sesungguhnya setiap model Biologi tersebut dapat dikembangkan menjadi lima nilai, yaitu nilai-nilai: Praktis,  Intelektual, Sosio-Politik, Pendidikan, dan Nilai Religi.   Pengembangan nilai-nilai Biologi ini bertitik tolak dari nilai-nilai praktisnya, yaitu konsep, prinsip-prinsip, teori, dan hukum-hukum dalam Sains-Biologi yang dipelajarinya sebagaimana dinyatakan dalam bagan berikut:

 

 

 

 

 

 

Sebagai contoh dari ke sepuluh model Biologi yang ditampilkan di atas dapat diungkapkan dan dikembangkan lagi nilai-nilai lainnya apakah Nilai Intelektual, Nilai Sosio-Politik, Nilai Pendidikan, dan nilai Religinya secara bertahap seperti bagan di atas atau langsung diangkat/digali dari nilai yang tergali untuk dikembangkan kepada nilai lainnya. Nilai-nilai yang dikembangkan selalu berpijak kepada nilai praktisnya, sehingga pembelajaran bermuatan nilai ini memiliki nilai tambah dibandingkan pembelajaran konvensional, karena bukan hanya aspek kognitif saja yang dicapai tetapi juga aspek affektifnya (nilai-nilai dari Model Sains-Biologi) bisa ditanamkan.

Karakter seseorang terbentuk selain oleh faktor genetik, juga dipengaruhi oleh faktor luar atau lingkungannya. Karakter seseorang berkaitan dengan pembentukan dan perubah an sikap seseorang, karena sikap merupakan kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang. Bilamana sikap seseorang ini bersifat menetap akan melahirkan perilakunya, dan bila perilaku ini menetap yang mencirikan kekhasan dirinya merupakan karakter bagi orang itu. Dengan demikian karakter seseorang terbentuk oleh faktor pribadinya dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sebagaimana dinyatakan oleh  Krech dan Ballancy (1984) bahwa sikap seseorang dibentuk oleh informasi yang diperoleh, faktor “want” (kebutuhan, keinginan, hasrat), affiliasi kelompoknya, dan kepribadiannya.

Selanjutnya bagaimana tugas dan fungsi pendidikan untuk membentuk karakter peserta didik ? Pendidikan karakter yang baik akan selalu mengarah kepada penyadaran diri peserta didik terikat sebagai hamba Allah, anggota masyarakat dan bangsa, dan bagian dari lingkungannya. Untuk penjelasannya adalah sebagai berikut:

(1)     Dirinya terikat sebagai Hamba Allah, maka akan memunculkan nilai religi, berkarakter sebagai manusia beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, sehingga terjadi pada dirinya Olah Qolbu untuk berdzikir kepadaNYA. Kemampuan Olah qolbu ini akan menghasilkan kesadaran diri tentang adanya ketakjuban, keunikan, keteraturan, dan kekuasaan di luar kemampuan manusia yang Maha Besar sehingga meyakini kebesaran kekuasaan Allah dengan segala sifatnya (Asma ul Husna: 99 sifat Allah).

Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada penampilan lahir kalian dan tidak pula kepada sosok badan kalian, akan tetapi Dia memandang kepada qolbu-qolbu kalian”(HR. Muslim).

Sungguh berbahagialah orang yang mensucikan qolbunya, dan sungguh merugilah (celakalah) orang yang mengotorinya.” (QS. Asyams:9-10)

Munculnya kesadaran diri ini sebagai nilai religi dari pembelajaran Sains yang memunculkan aspek-aspek Spiritual, seperti beriman-taqwa kepada Allah, dan dampak pengiringnya adalah memiliki karakter akhlak mulia dan berbudi luhur (jujur, disiplin, beriman dan bertaqwa kepada Allah). Hal ini terjadi karena dirinya merasa terikat sebagai hamba Allah.

(2)     Dirinya terikat sebagai Anggota Masyarakat atau Bangsa Indonesia; apalagi disertai dengan berpikir Analogi terhadap berbagai fenomena alam dan dibarengi dengan Olah  Rasa dan Olah Pikir sebagai satu tubuh, maka akan memunculkan sikap peduli kepada masyarakat maupun bangsanya. Dalam bidang Sains banyak diambil contoh untuk analogi (amtsal) sebagai perilaku sosial-politik untuk pelajaran bagi manusia; inilah pengembangan nilai sosio-politik dalam pembelajaran Sains.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikasn kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami bri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka jerjakan.”(QS. An-Nahl:97).

(3)     Dirinya terikat sebagai Bagian Lingkungan; melalui Olah Pikir dan Olah Karsa, dan Olah Qolbunya akan menghasilkan kemampuan membaca (Iqra) terhadap fenomena alam di sekeliling lingkungannya. Bila potensi ini dipacunya, maka menghasilkan berpikir kritis, analitis, dan kreatif guna mengatasi masalah yang dihadapinya, serta mengurangi faktor resiko yang akan terjadi, serta akhirnya kesadaran diri terhadap kebesaran Allah SWT. Munculnya kesadaran diri ini merupakan pengembangan Nilai Intelektual, Nilai Pendidikan, Nilai Religi dari pembelajarannya menghasilkan manusia cerdas dan unggul di bidang pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni yang beradab (IPTEKS) dan tinggi dalam keimanan/ketaqwaan (IMTAQ) kepada Tuhan YME.

(4)     Anak belajar dari Lingkungannya; hal ini berarti faktor pendidikan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar, apalagi dalam pembentukan karakter peserta didik dalam usia dini dan masa pendidikan dasar adalah diusahakan jangan sampai pelanggaran Hukum Dorothy. Guru/Dosen mesti memiliki kepribadian dan karakter yang patut dicontoh oleh peserta didiknya, disamping memiliki kemampuan akademik dan pedagogik yang mampu menyajikan pendidikan nilai/karakter sesuai bidang keahliannya. Sehubungan dengan itu, coba renungkan dan perhatikan Hukum Dorothy sebagai berikut:

 

 

 

ANAK BELAJAR DARI LINGKUNGANNYA:

Sehubungan uraian di atas, pengajaran berpikir bernuansa pendidikan nilai, Agama, budi pekerti luhur, dan budaya bangsa yang beradab yang melekat pada setiap bidang studi, khususnya pengajaran/pembelajaran Sains-Biologi bernuansa nilai turut menciptakan kondisi sistem pendidikan religius, edukatif, dan ilmiah. Pengajaran/pendidikan sains berwawasan IPTEKS dan IMTAQ adalah sangat penting untuk mengantisipasi berkembangnya dekadensi moral dan membantu misi pendidikan Agama dan Budi Pekerti, khususnya kepada generasi muda dan umumnya kepada masyarakat. Hal ini karena pendidikan berwawasan IPTEK diperlukan untuk mewujudkan kemakmuran pada masyarakat, dan kemakmuran dapat dirasakan oleh masyarakat apabila dibarengi dengan rasa aman dan damai. Kedamaian atau ketenteraman pada masyarakat akan terwujud apabila ada rasa keadilan. Suatu keadilan akan terwujud bila masyarakat menjunjung tinggi nilai-nilai dan moral agama maupun norma-norma budaya bangsa. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan materil perlu diimbangi dengan pembangunan spiritual atau moral, kompetensi pendidikan intelektual (IQ=Intelectual Quotion) perlu diimbangi dengan kompetensi pendidikan emosional (EQ=Emotional Quotion) dan pendidikan spiritual (SQ=Spiritual Quotion), sehingga cita-cita mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur dapat cepat tercapai. Untuk misi ini semua sektor pendidikan mesti bertanggung jawab dalam mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Inilah pentingnya pembelajaran Sains bernuansa/bermuatan Pendidikan Nilai/Karakter untuk pemberadaban manusia seutuhnya. Untuk jelasnya perhatikan gambar/bagan berikut:

 

Gambar/Bagan: Hubungan pola pengembangan Pendidikan Karakter dengan Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran Sains.

Berikut ini prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan nilai atau karakter bangsa, yaitu:

  1. Nilai dapat diajarkan atau memperkuat nilai-nilai luhur budaya bangsa melalui olah pikir, olah rasa, olah karsa, olah qolbu, dan olah raga dihubungkan dengan objek yang dipelajari yang terintegrasi dengan materi pelajaran, seperti yang terdapat dalam model-model Biologi dan ayat kauniyah lainnya. Penulis menganut pemahaman bahwa Sains tidak bebas Nilai, tetapi mengandung nilai-nilai Intrinsik: Praktis, Religi, Sosio-Politik, Intelektual, dan nilai Pendidikan yang dapat ditanamkan kepada peserta didik yang dapat dibelajarkan kepada peserta didik.
  2. Proses perkembangan nilai-nilai /karakter bangsa dilakukan melalui setiap mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan pembelajaran (intrakurikuler dan ekstrakurikuler)
  3. Proses pengembangan nilai-nilai/karakter bangsa merupakan proses yang berkelanjutan sejak peserta didik masuk dalam satuan pendidikan.
  4. Dialog atau diskusi tentang berbagai amtsal (perumpamaan) objek yang dipelajari untuk melakukan olah pikir, olah rasa, olah karsa, olah qolbu, dan olah raga  untuk memenuhi tuntutan dan munculnya kesadaran diri sebagai hamba Allah, anggota masyarakat dan bangsa maupun warga negara, dan sebagai bagian dari lingkungan tempat hidupnya. Dengan demikian tertanamlah nilai intelektual, nilai religi, nilai sosio-politik, nilai pendidikan, dan nilai praktis bagi peserta didik terhadap objek yang dipelajari.Menurut Krech (1984) bahwa sikap seseorang dapat dibentuk melalui informasi yang diperoleh, affiliasi kelompok, wants (kebutuhan, keinginan, hasrat), dan kepribaadiannya. Demikian pula pendapat Kratchwall bahwa penilaian seseorang terhadap suatu nilai diawali dengan tahap penerimaan nilai, kemudian nilai itu dimilikinya, dan selanjutnya diwujudkannya dalam bentuk sikapnya. Bilamana sikap yang terbentuk menetap dalam mengamalkan nilai-nilai tersebut, maka terwujudlah perilaku dirinya yang mencerminkan sikapnya.
  5. Program pengembangan dirinya melalui kegiatan-kegiatan: rutin/budaya sekolah, keteladanan, kegiatan spontan pada saat kejadian, pengkondisian, dan pengintegrasian pendidikan nilai/karakter dengan materi mata pelajaran, serta merujuk kepada pengembangan Kompetensi Dasar setiap mata pelajaran melalui olah pikir, olah rasa, olah karsa, olah qolbu, dan olah raga untuk menggali dan pengembangan nilai praktisnya ke jenjang nilai intelektual, nilai pendidikan, nilai sosio-politik, dan nilai religinya sebagaimana ditunjukkan dalam bagan di atas. Demikian pula setiap Kompetensi Dasar memiliki pengembangan satu atau lebih nilai dan setiap nilai memiliki satu atau lebih indikator yang menjadi tugas Guru dalam

membuat Silabus Mata Pelajaran yang mengacu kepada peunsip-prinsip KTSP .

C. Penutup

Berdasarkan uraian di atas, paradigma sukses belajar Sains harus diubah, tidak hanya merekam nilai kognitif semata, tetapi juga harus dapat menanamkan keberhasilannya atas sikap, budi pekerti, dan akhlak.  Aspek-aspek ini harus menjadi faktor penentu dalam kesuksesan beloajar seorang anak. Atas dasar itu, maka proses pendidikan haruslah dapat mengintegrasikan model-model yang tercipta ke dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, substansi materi pelajaran (misalnya Biologi) harus dapat menjadi wahana pembentukan budi pekerti dan akhlak dengan jalan menanamkan nilai-nilai intrinsik yang dikandungnya. Selain itu, sistem penilaian yang selama ini “mengendalikan” proses pembelajaran harus diubah dari yang hanya menonjolkan keunggulan kognitif jangka pendek dan kurang memberi peluang menjaring informasi yang komprehensif dari seorang siswa, ke arah penilaian yang komprehensif dan berkesinambungan. Untuk itu, Krech dan Ballancy menyatakan bahwa pembentukan sikap dipengaruhi oleh informasi yang diperolehnya, want (kebutuhan, hasrat, keinginan) nya, affiliasi kelompoknya, dan kepribadiannya, serta Agama yang dianutnya. Proses pendidikan harus mampu mengantisipasi adanya pergeseran nilai-nilai luhur dalam budaya masyarakat, nilai Agama, dan timbulnya perpecahan antar suku bangsa maupun antar penganut Agama yang berbeda. Jadi, pendidikan nilai melalui model-model Sains-Biologi untuk pembelajaran manusia perlu mendapat perhatian untuk mencapai Tujuan Pendidikan Nasional dalam menghadapi era globalisasi.

 Hadlirin yang saya hormati,

Dengan segala kerendahan hati saya mengahiri orasi ilmiah ini, disertai permohonan maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan dalam penyajiannya. Semoga hasil pemikiran yang saya sampaikan ini dapat bemanfaat bagi perkembangan Pendidikan Sain-Biologi yang bermuatan nilai-nilai di Indonesia, khususnya Pendidikan Sosio-Biologi guna mencapai Tujuan Pendidikan Nasional.

Pada kesempatan ini, izikanlah saya menyampaikan ucapan terimakasih kepada beberapa pihak, yaitu:

  1. Rektor UPI, Yth. Bapak Prof. Dr. H. Soenaryo Kartadinata, M.Pd dan jajaranya atas kesempatan serta dorongan yang diberikan kepada saya untuk mendapatkan jabatan dan dikukuhkan sebagai Guru Besar ini;
  2. Dekan FPMIPA UPI, Yth. Dr. Asep Kadarohman, M.Si dan jajarannya Dosen dan karyawan atas segala dorongan dan bantuan yang telah diberikan;
  3. Guru-Guru dan Senior saya di Jurusan Pendidikan Biologi dan FPMIPA, khususnya Ibu Prof. Dr. Hj. Nuryani Rustaman, M.Pd. dan Prof.Dr. H. Wahyudin, M.Pd. , serta Prof. Dr. Hj. Sri Redjeki, M.Pd, Prof. Drs. Soendjojo DS., M.Pd maupun Drs. H. Kusmadji, M.Sc. yang selalu memberikan dorongan kepada saya;
  4. Keluarga, terutama Istri saya tercinta Dra. Hj. Nani Rahmini dan anak-anak maupun menantu tersayang: Afianti Sulastri, Apt. – drg. Indra Mustika SP, drg. Beta Ariny,  Chandra Nurlaela,S.Kep. dan Dani Nur Arifin atas kesabaran, doa serta dorongannya; serta Saudara se Famili (Dr. Yayah Rahyasih,M.Pd. dan Drs. Dadang Sundawa, M.Pd.) dan Orangtua (Hj. Karini) yang senantiasa mendoakan dan memotivasi saya untuk bisa mencapai jabatan Guru Besar ini.
  5. Semua Sahabat seperti Dr. Samsul Hadi Senin, Drs. Jamaat, Drs. Yuda, M.Pd, Drs. Panji yang selalu memberi motivasi dan bantuannya. serta
  6. Semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu namanya.

Mudah-mudahan Allah SWT membalas segala amal baik semua pihak yang telah membantu saya dengan pahala yang berlipat ganda. Amien.

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

 

D.  DAFTAR PUSTAKA (Pilihan)

 

Costa,AL.(editor).(1985). Developing Minds, A Resource Book for Teaching Thinking.

        Alexandria:ASSCD

Darmodjo,H.(1986). Nilai-Nilai dan Keterbatasan IPA serta Peranan IPA untuk Masa

         Mendatang. Jakarta: Karunika Universitas Terbuka.

Depag RI, 1986, Al-Quran dan Terjemahannya, Jakarta: Internusa.

Frenkel, Jack R.(1977). How To Teach About Values.New Jersey: Prentice-Hall.Inc.

Kniker,CR.(1977). You and Values Education.Columbia,Ohio: A.Bell & Howel Co.

Krech and Balancy (1984). Individual and Society, New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Nickerson.RS.(1985). The Teaching of Thinking.New Jersey:Lawrence Erlbaum.

Sanusi, A.(1998). Pendidikan Alternatif. Bandung: PT Grafindo Media Pratama.

Suroso AY, 2006, Manajemen Alam Sumber Pendidikan Nilai, Bandung: Mughni Sejahtera.

Suroso AY, 1999, Pendekatan Bagan Dikotomi Konsep (BDK) Untuk  Menguasai Konsep Keanekaragaman Makhluk Hidup, (Disertasi), Bandung: PPS UPI.

Straughan,R  & Wrigley, J.(1980). Value and Evaluation in Education.London: Harper & Row.Ltd.

Thanthawi Jauhari, 1984, Quran dan Ilmu Pengetahuan ModernSurabaya: Al-Ikhlas.

Yahya,Harun.(2001). Keruntuhan Teori Evolusi, Membongkar Manipulasi Ilmiah di Belakang Teori EvolusiDarwin dan Motif Ideologinya. Bandung: Dzikra.

 

B I O D A T A  /  CURRICULUM VITAE

Nama  Lengkap          :  PROF. DR.  H.   SUROSO  ADI  YUDIANTO,  M.Pd.

Tempat Tgl Lahir         :  Cirebon,  22  Mei   195

Pekerjaan                  : – Dosen Pendidikan Biologi  FPMIPA UPI sejak 1980-sekarang                  dan Pasca Sarjana UPI sejak 2000 – sekarang.

Status                        :   Kawin, 24 Oktober 1979

Anggota Keluarga    :   Istri  :  Dra. Hj. Nani Rahmini, guru SMPN 3 Lembang

Anak : 1. Afianti Sulastri , S.Si., Apt.  28-7-1980, Farmasi  ITB

2. drg. Beta Ariny,  13-8-1983,  FKG UNPAD

3. Chandra Nurlaela, S.Kep. 1-6-88,  FKep UNPAD

4. Dani Nur Arifin, 9-12-92, mahasiswa  FPMIPA UPI

Alamat Rumah         :  1. Jl. Gegerkalong  Tengah  No.97Bandung40153

Tlp.  (022) 2012316  /  HP. 08562212316

2. Desa Sariwangi No. 92, RT 03/ RW XI  Jl. Pangkalan Jeungjingrigil, Kec.Parongpong–Cimahi, Kab. Bandung

Tlp. (022) 82025984

3. Desa Cicadas, Jl, Raya Subang-Pamanukan No.26, Kec. Binong, Kab, Subang.

Karya monumentalnya ialah menemukan Teori Belajar untuk menguasai konsep sains yang digali dari Al-Qur’an yang disebut Pendekatan Bagan Pasangan Konsep atau Bagan Dikotomi Konsep untuk menguasai konsep Sains (disingkat: Pendekatan BPK/ BDK) dan Pendidikan Nilai Lewat Pembelajaran Sains atau Pembelajaran Sains Bernuansa Imtaq (Iman-Taqwa) atau Pendidikan Nilai Dalam Sains sebagai sistem pembelajaran Sains yang holistik (kaffah) yang mengembangkan dan menanamkan moral dan nilai-nilai religius, intelektual, praktis, sosial-politik, dan nilai pendidikan dalam Sains sebagai pelajaran bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia untuk mencapai masyarakat religius, edukatif, dan ilmiah. Dalam buku tersebut diperkenalkan berbagai prinsip Manajemen Alam (Ayat Kauniyah berupa Model-Model Biologi, Kimia, Fisika) Sebagai Sumber Pendidikan Nilai, yang diintegrasikan dengan ayat-ayat qauliyah, ajaran Agama, sistem perundang-undangan dan peraturan yang berlaku dalam nilai-nilai budaya masyarakat dan bangsa Indonesia. Pembelajaran Sains-Biologi Bernuansa Nilai ini dipandaang sebagai penguatan dalam penguasaan konsep/prinsip/teori yang dikembangkannya ke dalam nilai-nilai untuk pendidikan karakter bangsa Indonesia menuju terwujudnya Tujuan Pendidikan Nasional. Dalam bidang keahlian inilah oleh Peer Group mengakui sebagai Guru Besar (Profesor) dan diangkat oleh Pemerintah  sebagai Guru Besar pada Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia yang memiliki misi dan visi sebagai Universitas Pendidikan yang Pelopor (Leading) dan Unggul (Outstanding) terhitung tanggal 1 Desember 2009.

Pembelajaran Sains dengan Pendekatan BDK/ BPK maupun Pembelajaran Bernuansa Nilai dapat dipandang sebagai Metalearning, karena dapat menanamkan belajar bermakna dan mengembangkan sedikitnya 10 (sepuluh) kompetensi memahami konsep yang dipelajarinya, seperti masalah hierarki konsep, klasifikasi konsep, ciri-ciri utama konsep, definisi konsep, persamaan dan perbedaan antar konsep-konsep, masalah terminologi konsep, mencari contoh dan bukan contoh dengan alasannya, serta mengembangkan kreatifitas mengubah-ubah bagan BDK/ BPK dengan kriteria tertentu. Apabila suatu materi pelajaran disajikan dengan bagan BDK/BPK, maka akan mengurangi kesulitan dalam PBM (Proses Belajar Mengajar) sehingga dapat meringankan tugas guru dalam pembelajaran di kelas. Hal ini disebabkan pendekatan BDK/BPK didasarkan pada prinsip-prinsip pedagogis materi subjek, seperti Teori Belajar Gestalt, Teori Belajar Penemuan (Bruner), Konstruktivisme, Belajar Bermakna dan Teori Advance Organizer, Pengajaran Berpikir,  Teori Media Pendidikan, Teori Pembentukan Konsep dan Kreativitas, serta didkung oleh Ajaran Agama (Islam).

1.    Riwayat  Pendidikan:

1. SDN Wangunarja (Cirebon) berijazah  1964

2. SMPN  Klangenan (Cirebon)  berijazah  1968

3. SPGN  Cirebon  berijazah    1971

4. Sarjana Muda Pendidikan Biologi FKIE IKIP Bandung berijazah  1976

5. Sarjana Pendidikan  Biologi   (S-1)  FKIE  IKIP Bandung  berijazah   1979

6. Magister Pendidikan IPA  (S-2)   FPS  IKIP Bandung berijazah 1988

7. Doktor  Pendidikan  IPA  (S-3)   PPS  IKIP Bandung  berijazah  Maret 1999

8.Diklat Pendidikan Lingkungan Hidup di Jakarta oleh IKIP Jakarta-UNESCO,1990.

9. Diklat Pendidikan Seks untuk Remaja di Bandung oleh Dinas KKBN Pusat, 1991.

B. Pengalaman  Pekerjaan

1. Guru IPA/Biologi :  Guru Tidak Tetap (GTT ) IPA-Biologi  di SMP Miftahul Iman Bandung    (1976-1980),  di  SMA Mutiara Bandung (1980-1989),  di  SPG Mutiara  Bandung  (1981-1983),  di SMF  Bumi Siliwangi   UPI Bandung 1982 – sekarang.

2. Dosen  Biologi :  Dosen Tetap di  Jurusan Pendidikan Biologi  FPMIPA UPI  (1979-  sekarang) dan Dosen Program Pasca Sarjana UPI (2001-sekarang) yang membina matakuliah Pendidikan Nilai Lewat Sains, juga pernah menjadi  Dosen Luar Biasa bidang Biologi di  UNSIL  Tasikmalaya (1981-1983), di  UNPAS Bandung (1987-1991),  di UNINUS  Bandung (1988-1990), di Universitas PGRI Bandung (1988-1989), di  FKIP-UNBAR  (1988-1992), serta Dosen Pembina Pembelajaran Biologi bernuansa IMTAQ di  IAIN pada Program Sertifikasi  Guru IPA-Biologi untuk MTS (2000-2002) .

3.  Dekan FMIPA dan Dosen Jurusan Biologi  FMIPA Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) Jakarta  2002-2006

4.  Kepala Laboratorium Biologi  FPMIPA UPI Bandung , 1989-1991

5.  Kepala Kebun Botani    di  Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI , 1999-2002.

6.  Pembimbing Kemahasiswaan di Jur. Pend. Biologi  FPMIPA UPI,1987-1989.

7.  Konsultan/ Nara sumber dalam hal pembuatan Naskah Soal  EBTANAS Biologi untuk SMU oleh   Kanwil Depdikbud Jawa Barat (Bandung, 1985),  untuk  EBTANAS  SMK oleh Dirjen  Sekjur Teknologi (Bogor, 1997), dan Pengembang SMU Berwawasan Nilai dan PLH  bekerja sama dengan DIKMENUM DEPDIKNAS (Jakarta,2001-2002), Narasumber pembenahan Kurikulum dan Pembelajaran di Universitas Mathah’ul Anwar Pandeglang (2007).

8.  Penulis Buku  IPA, Biologi, Ensiklopedi Sains dan Kehidupan, Buku Ilmiah Populer:  Penulis buku ajar di tingkat Sekolah Dasar, SLTP, SMU, dan Perguruan Tinggi pada beberapa  penerbit, seperti:  PT Aries Lima Jakarta , PT Tarsito Bandung (1992-sekarang), PT Mizan Bandung (1999-sekarang), PT. Armico Bandung (1999-sekarang),  dan Penerbit Bina Wirausaha Insan Indonesia (BWII) Bandung (1995-1997), Penerbit Mughni Sejahtera Bandung (2007-sekarang) maupun  buku pemerintah /Departemen Agama (1997) dan modul-modul Biologi untuk PPSP IKIP Bandung dan  SBJJ-UT (1982-1989), Penerbit Tarity Samudra Berlian Jakarta dengan  buku Ensiklopedi Sains dan Kehidupan (2002), dan Modul-Modul Pembuka Wawasan Lingkungan Hidup Untuk Siswa SLTP dan SMU yang diselenggarakan oleh Pemda Jawa Barat dan Dikmenum Depdiknas.

9,   Tim  Assesor Guru untuk Sertifikasi Guru dan Tim Instruktur Diklat Sertifikasi Guru di UPI sejak tahun 2007- sekarang, dan untuk Sertifikasi Dosen sejak 2009-sekarang.

10. Tim Asessor Dosen untuk sertifikasi Dosen dan Penilai BKD (Beban Kinerja Dosen) sejak 2009.

11. Anggota Tim Penatar Guru:  pernah menjadi anggota Tim Penatar TUTOR Biologi di     UT Universitas Mulawarman (Samarinda,1986),  di Tingkat Nasional sebagai Penatar Instruktur Sosialisasi Kurikulum Madrasah Bernuansa Islam diselenggarakan oleh Depag RI (Jakarta, 1997) dan Kanwil  Depag Jawa Barat sering dipercaya sebagai  penatar Guru-Guru (MI, MTs, MA, SMU) yang diselenggarakan oleh BPG  Cimareme-Bandung (sejak 1995 – sekarang),  oleh BPGT Jl. Cipto Bandung (1997),  di  IAIN Sunan Gunung Jati Bandung (2000-2002) dan  tim penatar  di Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI  sendiri pada berbagai kesempatan dalam penataran KBM Biologi, sosialisasi Pendidikan Lingkungan Hidup kepada Guru-Guru (1990), Pendidikan Seks, dan  pelatihan Penggunaan Alat-Alat Laboratorium IPA/Biologi kepada Guru-Guru SMU (sejak 1990 – kini), juga  pernah sebagai  Instruktur pada Diklat Kepala Dinas Dalam Pengelolaan SDN seluruh Indonesia atas kerjasama ITB dengan DEPDIKNAS, DEPDAGRI dan Dep. Perindustrian  di  Bandung (Agustus-September 2000), serta Anggota Konsorsium Penulis Modul Pembuka Wawasan Pendidikan Lingkungan Hidup antara Lembaga Ekologi UNPAD-ITB-UPI  bekerja sama dengan  BPLHD Jawa Barat  (2001-2002), dan Pembelajaran Sains Bernuansa Pendidikan Nilai untuk Pembangunan Manusia Seutuhnya (2006-2007).

11. Pekerjaan lainnya:  anggota Tim Penceramah pada bulan Ramadhan di mesjid At-Taufik RW 03 Gegerkalong Bandung sejak tahun 1988 sampai sekarang, dan pernah menjadi Sekretaris RW O3 Gegerkalong Sukasari Bandung (1980-1985), Wakil Kepala SMP Mifathul Iman Bandung (1979-1982), dan Berwirausaha.

 

C. Pengalaman Penataran, Seminar dan Lokakarya:

Penataran:

  1. Penataran P4  Tipe B, di IKIPBandung1980
  2. Diklat Pendidikan Lingkungan Hidup Tingkat Nasional atas kerjasama IKIP .         Jakarta- DIKDASMEN  DEPDIKBUD – UNESCO, di Jakarta  1990.
  3. Pola dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda di Perguruan   Tinggi  oleh Ditjenpenti  di  IKIPBandung, 1987
  4. Pendalaman materi  untuk mata pelajaran “Bumi dan Antariksa” yang diselenggarakan oleh LP2M ITB,  di Bandung 1985.
  5. Sistem Pembelajaran Strategik yang Religius, Edukatif, dan Ilmiah untuk  pengembangan kemampuan berpikir siswa dalam memahami konsep Biologi dengan menggunakan Pendekatan BDK/BPK di lingkungan POKJA MAFIKIBB – ICMI dan DEPAG, Jakarta 4 Juni 1996 (sebagai penyaji makalah).
  6. Pendidikan Keterampilan Pembudidayaan Ternak Kelinci dan Limbah Tomat Bagi Masyarakat Desa Kec. Lembang Bandung, diselenggarakan oleh LPM IKIP Bandung pada tanggal   7 Januari s.d. 30 Maret 1989.(Tim Instruktur)
  7. Pendidikan Kehidupan Keluarga dan Seks, serta sosialissainya untuk mahasiswa, 1989 kerja sama IKIP Bandung dengan BKKBN Pusat.(Tim Instruktur)
  8. 8.      Pelatihan Pengelolaan dan Pendayagunaan Alat-Alat IPA/Biologi untuk  Guru-Guru MA,  kerjasama BPG dengan DEPAG Jawa Barat,  1985, (sebagai penyaji).
  9. Mencari Alternatif Model KBM MIPA dalam rangka meningkatkan kualitas    SDM, Lustrum ke VII IKIP  Bandung, 1988.
  10. Strategi PBM Biologi Bagi Guru-Guru SMA Berdasarkan Fakta Kesulitan Belajar Siswa, di  Kab. Rangkasbitung, 1989. (sebagai penyaji).
  11. Pelatihan Hortikultur bagi Mahasiswa Bio-FPMIPA IKIP Bandung, 1987, ( sebagai Instruktur).
  12. Kegiatan Diklat Pengelolaan dan Pendayagunaan Alat IPA Bagi Guru Maadrasah Aliyah diselenggarakan oleh BPG Bandung bekerjasama dengan DEPAG Jawa Barat pada tanggal 14-19 Juni 1995, (sebagai penyaji).
  13. 13.  Kegiatan Sertifikasi Guru Madarasah pada  Bidang Studi MIPA se wilayah Prop. Banten pada Program Kerjasama BEP dengan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati,  tiap hari Minggu Anggaran 2000-2001  di Pandeglang. (Dosen Pembina).
  14. 14.  Pembenahan Kurikulum dan Pembelajaran Sains Bernuansa Pendidikan Nilai untuk Pembangunan Manusia Beriman dan Bertaqwa Kepada Tuhan YME di UIA Jakarta (2004-2006) dan Universitas Math’ul Anwar Pandeglang (Maret 2007) (sebagai Nara Sumber).

 

   Lokakarya :

   15. Penulisan Modul Pembuka Wawasan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk TK, SD, SLTP, SMU, dan Perguruan Tinggi  atas kerjasama Lembaga Ekologi UNPAD-ITB-UPI dengan BPDLH Jawa Barat,   Juli – September 2001, serta kegiatan TOT bagi Guru-Gurunya pada November 2001.

  16.  Pengembangan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) IPA/Biologi GBPP SD dan SMP Kurikulum 1984 diselenggarakan oelh Balitbangdikbud (BP3K) di Bandung 1982-1984

  1. Workshop Pembuatan Alat-Alat Sederhana untuk Percobaan IPA/Biologi     materi GBPP SMP  diselenggarakan oleh Balitbangdikbud (BP3K) di Bandung1984.
  2. Metodologi Pengabdian Pada Masyarakat oleh LPM UPI 1989.
  3. Penulisan Buku Pegangan Guru untuk Madrasah Tsanawiyah pada mata      pelajaran MAFIKIBB  dengan Pendekatan Keterampilan Proses Bernuansa Islam  oleh DEPAG , di Jakarta (Oktober 1996), di Bogor (Desember 1996), di Bandung (29 Maret 1997).
  4. Penulisan Buku Pegangan Guru untuk  Madrasah Ibtidaiyah pada semua pelajaran dengan bernuansa Islam diselenggarakan oleh DEPAG di Bandung, 12 April 1997.
  5. Penulisan GBPS dan Naskah/Skenario TV Pendidikan  oleh P3MP  UPI ,1992.
  6. Pelatihan Analisis Evaluasi Hasil Belajar dengan Program Komputer diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Wiraswasta Bandung  tanggal 13 Januari 1996 di Bandung.
  7. Penulisan Buku Pelajaran Biologi SLTP diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan dari tanggal 1-6 September 1997 di Bandung.
  8. Pengembangan PPL Kependidikan diselenggarakan oleh IKIP/UPI,1989.
  9. Penyusunan Silabi Kurikulum Biologi FMIPA UIA Berbasis Kompetensi, diselenggarakan oleh FMIPA-UIA di Puncak, Bogor tanggal 18-20 April 2003.
  10. Pembimbing penulisan makalah KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) untuk TOT di Surabaya 2004 diselenggarakan oleh Dikmenum dan Puskur Depdiknas.
  11. Penyaji makalah KBK dan pembuatan Silabi dan SAP Berbasis Pendidikan Nilai dalam Jurusan Biologi FMIPA UIA Jakarta pada Juli 2004.
  12. Penyaji makalah KBK dalam penyusunan Silabi dan SAP untuk mata-mata pelajaran di SMF Bumi Siliwangi Bandung pada tanggal 29-30 Juli 2004.

 

Seminar  :

29. Sains-Teknologi-Masyarakat untuk Meningkatkan Pemahaman dan Kepedulian Masyarakat terhadap Lingkungan  oleh HISPIPAI kerjasama dg International Council of Association for Science Education dan PPS IKIP Bandung, 10 Juni 1996.

30.  Peningkatan Pelaksanaan Kegiatan Laboratorium dengan Perangkat P3K di Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA IKIP Bandung, 1988, (sebagai penyaji).

31.  Pengembangan Kurikulum Menghadapi Pembangunan Pendidikan Jangka Panjang Tahap II diselenggarakan oleh PPS IKP Bandung, 1992.

32. Seminar dan Kongres Nasional Biologi ke-V diselenggarakan oleh Perhimpunan Biologi Indonesia pada tanggal 26-28 Juni 1981 di Semarang dengan tema”Peranan Biologi Dalam Pembangunan Yang Ekologis Serasi (Ecodevelopment) Negara Kepulauan”.

  1. Seminar Nasional Hasil Penelitian Pendidikan MIPA II diselenggarakan oleh HISPIPAI-HISPMI bekerja sama  IKIP Bandung-LIPI-BPPT, 24-26 September 1992 di Bandung.
  2. Peningkatan Pelaksanaan Kegiatan Laboratorium Pada Jurusan Kimia FPMIPA IKIP Bandung diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA IKIP Bandung pada tanggal 15-17 Desember 1988 di Bandung (Sebagai Penyaji).
  3. Mencari Alternatif Model Pembelajaran MIPA dalam Rangka Meningkatkan Kualitas SDM  oleh FPMIPA IKIP Bandung , 25 Oktober 1989 di Bandung.
  4. Perpustakaan Mesjid  oleh AMSI dan KASMB di mesjid Agung Bandung, 1992.
  5. Seminar Sehari Biosains oleh Jur. Pend.Biologi  UNPAS  Bdg , 22 Agustus 1992.
  6. Pemanfaatan Hasil Penelitian Taksonomi dalam Pendidikan Botani diselenggarakan atas kerjasama Penggalang Taksonomi Tumbuhan Indonesia dan Jurusan Biologi FPMIPA IKIP Bandung,1989.
  7. Kajian Komparatif Sistem Pendidikan Dasar di USA dan Jepang, serta Alternatif Upaya-Upaya Perbaikan Pendidikan dasar di Indonesia,  FPS IKIP Bandung, 1991.
  8. Pengajaran Berpikir Menggunakan Pendekatan BDK (Bagan Dikotomi Konsep) sebagai Alternatif Pengembangan Keterampilan Proses pada Siswa Dalam Pembelajaran Biologi yang Religius, Edukatif dan Ilmiah di  lingkungan Kandepdikbud Kab. Bekasi (14 Oktober 1995), di Kandepag Kab. Ciamis (26 Oktober 1995), di Kandepdikbud Kab. Tasikmalaya (7 Januari 1996), di Kandepdikbud Kodya Bogor (16 Januari 1996) – Sebagai Penyaji).
  9. Konvensi Nasional Pendidikan IV  di Jakarta tanggal 19-22 September 2000.
  10. International Seminar On Internationalization of Higher Education with theme: Higher Education Reform and Development Towards the Era of Global Competition, at UPI Campus,18 October 2000.
  11. Pemberdayaan Wanita Muslim Internasional dalam Pembangunan Bangsa  oleh IMWU (International Moslem Women Union) di Jakarta tanggal8 April 2003
  12. Bimbingan Teknis Training of Trainer (TOT) Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk Guru SLTP dan SMU Jawa Barat,  oleh BPLHD Prop. Jawa Barat,  2001. (Sebagai Penyaji)
  13. Kegiatan Sertifikasi Guru MTs Bidang Studi Biologi se Prop. Banten, diselenggarakan oleh IAIN Sunan Gunung Djati bekerjasama Depag Jawa Barat dan BEP, 2001-2002 (Sebagai Dosen Pembina).
  14. Diklat Kepala Dinas DT II se Indonesia Dalam Pengelolaan Sekolah Dasar Negeri, diselenggarakan ITB bekerjasama Depdiknas – Depdagri – Depdastri, 2000 (Tim Instruktur).
  15. Seminar Nasional Pendidikan IPA di Pasca Sarjana UPI Bandung, 2006 dengan membawakan makalah berjudul: Pembelajaran Sains Bernunasa Pendidikan Nilai untuk Pembangunan Manusia Seutuhnya (Sebagai Penyaji).
  16. Seminar Internasional :”Biological Science Education Using Value Approach For Developing Human Being”, diselenggarakan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tanggal 29 Oktober 2008 (Sebagai Penyaji)
  17. Seminar Nasional : ”Peningkatan Kualitas Penelitian Menuju Profesionalisame Guru Melalui PTK” diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret pada tanggal 9 Agustus 2008 di Sala, (Sebagai Penyaji).
  18. Seminar Nasional:”Pendekatan PLH Dalam SISDIKNAS (Pembelajaran Sains Biologi), Relevankah?” diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Biologi se-Jawa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 13 November 2008. (Sebagai Penyaji)

 

D.  PENELITIAN:

  1. Penggunaan Parasit Diatraeophaga strialis Dalam Pemberantasan Hama Secara Biologis untuk Pemberantasan Hama Penggerek Batang Tebu di PTP  Gula  Kadipaten-Majalengka, Skripsi. Biologi  FKIE IKIPBandung, 1976.
  2. “Monitoring Penerapan Guru Senior  di Kelas Satu dan Fungsi Guru Bidang  Studi dan Kelas,  Pelajaran Keterampilan di SDN Cirebon” oleh Balitbang Dikbud, 1981-1983.
  3. Kesulitan-Kesulitan Belajar Siswa SMA dalam Bidang Studi Biologi di  Bandung,  Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Bandung, 1986.
  4. Pengaruh Penggunaan Buku Ajar Yang Disusun Oleh Dosen Mata Kuliah Dalam Menunjang Prestasi Belajar Mahasiswa Pada Perkuliahan Morfologi Tumbuhan di jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Bandung, 1987.
  5. Sumbangan Matakuliah PBM Biologi Sekolah dan Biologi Pengayaan Terhadap Prestasi PPL Mahasiswa Jurusan Pend. Biologi FPMIPA IKIPBandung, 1988 .
  6. Pengaruh  Keadaan Gizi Siswa SDN Antara Daerah Pedesaan dan Perkotaan,  Thesis S-1, Jurusan Pendidikan Biologi, 1979.
  7. Kemampuan Siswa SMA dalam Kegiatan Karya Tulis Ilmiah Bagi Siswa dan Hubungannya dengan Prestasi Belajar, Thesis S-2, FPS IKIP Bandung, 1988.
  8. Pendekatan Bagan Dikotomi /Pasangan Konsep Untuk Menguasai Konsep Keanekaragaman Makhluk Hidup,  Disertasi S-3, PPS  IKIPBandung, 1999.

9. Pendekatan Pendidikan Nilai (Bernuansa IMTAK) Dalam Pembelajaran Konsep-Konsep Biologi untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa di SLTP dan SMU, sejak tahun 2002-  sebagai pembimbing Skripsi S-1 dan Thesis S-2 di UPI, sejak tahun 2008 sebagai Disertasi S-3 di SPS UPI..

10.  Metode Pemainan Quis “PESONA 2 MENIT” menggunakan pendekatan BDK dalam Pembelajaran Biologi untuk memotivasi Belajar Siswa di SMF Bumi SiliwangiBandung, 2003.

E. KARYA  ILMIAH

 * Buku   : 1. Pengantar  Cryptogamae (Sistematik Tumbuhan Rendah),  untuk Mahasiswa  Jurusan  Pendidikan  Biologi ,  PT. Tarsito,Bandung, 1992.

2. Mengerti Morfologi Tumbuhan,    PT. Tarsito, Bandung,1992.

  1. Biologi SMU,  1-2-3  ,  PT. BWII, Bandung, 1995-1996-1997

4.  Pegangan Biologi SLTP,  1-2-3,  PT. Armico, Bandung,   1999.

5.  Pegangan Guru Biologi SLTP, 1-2-3, PT.  Armico,      Bandung, 1999.

6. Biologi  Bernuansa Islam dengan Pendekatan Keterampilan Proses , untuk Pedoman Guru MTs,Kelas1-2-3,Depag Pusat, Jakarta, 1996/1997.

7. Pelajaran IPA/Biologi Bernuansa Islam dengan Pendekatan Keterampilan Proses, Pedoman Guru MI, Kelas 4, Depag Pusat, Jakarta, 1997.

8.  Biologi SLTP,  1- 2- 3,  untuk siswa,  CV. Mizan, Bandung, 1999.

9. Pegangan Guru Biologi SLTP, 1, 2, 3,  CV. Mizan, Bandung, 1999.

10. Biologi  Bernuansa Imtaq, 1-2- 3, untuk MTs,  Dep. Agama , 1997.

  1. Biologi SMP,1-2-3, (sebagai Editor), PT. Aries Lima,Jakarta, 1996.
  2. Biologi SMU,1-2-3, (Editor), PT. AriesLima,Jakarta, 1994
  3. Ensiklopedi Sains dan Kehidupan, Pusbuk Depdiknas, Jakarta, 2002.
  4. Strategi Belajar Mengajar Biologi, JICA – FMIPA UPI, Bdg,2002.
  5.  Manajemen Alam Sumber Pendidikan Nilai, CV.Mughni Sejahtera, Bandung 2006 (Edisi pertama) dan 2008 (Edisi Revisi)
  6. Pendalaman Materi dan Metodologi IPA SD, Bahan Diklat PLPG Sertifikasi Guru SD, UPI, 2009.
  7. Air dalam Kehidupan,  Bacaan Ilmiah Populer untuk SD bermuansa Pendidikan Nilai, Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI, 2009
  8.  Rumahku Jalan Ke Surgaku, Bacaan Ilmiah Populer untuk SD bermuansa Pendidikan Nilai, Jurusan Pendidikan Biologi UPI, 2009.
  9. Alam Lingkunganku Sebagai Guruku, Bacaan Ilmiah Populer untuk SD bernuansa Pendidikan Nilai, Jurusan Pendidikan Biologi UPI, 2009.
  10. Kebun Sekolahku, Bacaan Ilmiah Populer untuk SD bernuansa Pendidikan Nilai, Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI, 2009.
  11. Kebutuhan Hidupnya, Bacaan Ilmiah Populer untuk SD Bernuansa Pendidikan Nilai, Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI, 2009.

.

Diktat  : 22. Pendekatan Bagan Dikotomi Konsep (BDK) Untuk Menguasai Konsep Sains,  Jurusan  Pendidikan Biologi FPMIPA UPI Bandung,  2000.

23.  Pendidikan Nilai Dalam Sains, PPS UPI, Bandung, 2004.

24.  Belajar Mudah Biologi Menggunakan Pendekatan BDK/BPK untuk Penguasaan Konsep Golongan Tumbuhan, Hewan, Dan Konsep Dasar Biologi,  Jurusan Pendidikan Biologi  FPMIPA  UPI,   1991 dan 2000.

25.  Penuntun Praktikum Pengayaan Phanerogamae (Sistematik   Tumbuhan Tinggi), Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP Bandung, 1992.

26.  Penuntun Praktikum  Morfologi Tumbuhan, (Tim Penulis) Biologi FPMIPA UPI, 2000.

27.  Penuntun Praktikum Botani Phanerogamae, (Tim Penulis) Biologi  FPMIPA UPI, 2005.

* Modul :  29. Pembuka Wawasan Pendidikan Lingkungan Hidup Bagi Siswa SLTP yang terintergasi dengan Bidang Studi Biologi, Kerjasama BPDLH Jawa Barat dengan UNPAD-ITB- UPI Bdg, 2001.

  1. 30.    Pembuka Wawasan Pendidikan Lingkungan Hidup Bagi Siswa  SMU yang terintergasi dengan Bidang Studi Biologi, Kerjasama BPDLH Jawa Barat dengan UNPAD-ITB- UPI Bdg, 2001.

                    31.Biologi  Umum Bernuansa Imtak, untuk Program Sertifikasi Guru MTs,  Kerjasama  IAIN SGD Bandung dan Kanwil Depag Jabar, 2000.

                    32. Biologi SLTP 1-2  Bernuansa Imtak, untuk Program Sertifikasi Guru Madrasah  Tsanawiyah,  Kerja sama IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan Kanwil   Departemen Agama Jawa Barat, 2000.

33. Pembelajaran IPA-Biologi untuk Siswa PPSP  IKIP Bandung, 1982/83

34.Pembelajaran Biologi Teknologi Pengawetan Makanan untuk SBJJ   Unit IKIP Bandung, Universitas Terbuka, 1983-1985.

*Makalah: 35. Kesulitan Belajar Klasifikasi Tumbuhan dan Alternatif Pemecahannya Bagi Strategi PBM di SMA,  Kab. Rangkasbitung, 1989.

  1. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) Dalam Kegiatan Laboratorium,Jurusan Pendidikan Kimia  FPMIPA IKIP Bandung, 1988.

37.Dampak Polusi Udara Pada Kehidupan dan Upaya Penanggulangannya,  Biologi  FPMIPA IKIP Bandung, 1989.

  1. 38.  Pembelajaran Konsep Keanekaragaman Alam Hayati Bernuansa Imtaq, Penataran Guru MA,  BPG dan Depag Jawa Barat, 2000.
    1. 39.  Naskah Skenario Pengajaran “Suku Getah-Getahan (Euphorbiaceae) untuk Program  Televisi  Pendidikan Indonesia, P3MP IKIP Bandung, 1990.
    2. 40.  Naskah dan Skenario “Arti Sebuah Nama Dalam Pesona Tumbuhan, untuk Program Televisi Pendidikan Indonesia, P3MP IKIP Bandung, 1990.
    3. 41.  Strategi Pembelajaran Biologi Yang Optimal, Bermakna, dan Efektif  Menggunakan Pendekatan BDK/BPK dan Keterampilan Proses dengan Nuansa Islami, Bahan Penataran Instruktur Sosialisasi Kurikulum Madrasah Bernuansa Islami,  Depag Pusat, Jakarta, September, 1997.
    4. 42.  Pembelajaran Konsep Virus dan Monera dengan Nuansa Imtaq, Bahan Penataran Guru MA, Kerjasama BPG dengan  Depag Jawa Barat, 2000.
    5. 43.  Evaluasi Dalam Pembelajaran Biologi, Materi Diklat Metodologi Pembelajaran Biologi  MTs,  BPG dan Depag Jawa Barat, 1999/2000.
    6. 44.  Penuntun Praktis Produksi Nata De Coco dan Jamur Kayu,  Diklat Kewirausahaan Mahasiswa Pend. Biologi FPMIPA UPI, Bdg, 1999.
    7. 45.  Konsep  dan  Strategi Pemasaran Produk Berbasis Keilmuan IPA, Bahan Diklat Kewirausahaan Mahasiswa FPMIPA, UPI , Bandung, 1999/2000.
    8. 46.  Mensiasati Silabi Esensial Kurikulum 1994 Madrasah  dan Manfaatnya Bagi Pembelajaran Biologi,  Depag Pusat, Jakarta, 1997.
    9. 47.  Psikologi  Pembelajaran Biologi, Materi Penataran/ Diklat Metodologi Pembelajaran Biologi untuk Madrasah Tsanawiyah, Kerjasama BPG dengan Kanwil Depag Jawa Barat, 1999/2000.
    10. 48.  Pembelajaran Sains Terpadu untuk Mendidik Manusia Cerdas, Beradab, dan Bertaqwa, Seminar Akademik, di UIA Jakarta, 2005.
    11. 49.  Pembenahan Kuirkulum dan Pembelajaran Sains Bernuansa Pendidikan Nilai untuk Pembangunan Manusia Seutuhnya diselenggarakan oleh Universitas Math’ul Anwar  di Pandeglang, Maret 2007.
    12. 50.  Lingkungan Asri Rumahku Jalan Ke Surgaku, Panitia Seminar Nasional Himpunan Mahasiswa Biologi Se- Jawa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 13 November ,2008.
    13. 51.  Pendekatan Pendidikan Nilai Dalam Perkuliahan Botani Cryptogamae di Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI, oleh Panitia Seminar Nasional  Jurusan Pendidikan Biologi UPI, 2007.
    14. 52.  Pembelajaran Strategis untuk Menguasai Konsep Sains Melalui Pendekatan Bagan Dikhotomi Konsep, oleh Panitia Seminar Nasional jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI, 2007.
    15. 53.  Pendekatasn Pendidikan Lingkungan Hidup Dalam Pembelajaran Sains Biologi, oleh Panitia Seminar Nasional  Himpunan Mahasiswa Biologi Ase-Jawa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tgl. 13 November 2008.
    16. 54.  Metodologi Penelitian Tindakan Kelas Menuju Profesionalisme Guru, oleh Panitia Seminar Nasional  FKIP Universitas Sebelas Maret, Sala, tanggal  9 Agustus 3008.
    17. 55.  Biological Science Education Using Value Approach For Developing Human Being, oleh Panitia Seminar Internasional Fakultas Tarbiyah dan Pendidkan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tanggal 29 Oktober 2008.
    18. 56.  Pembelajaran Bermuatan Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Mengatasi Krisis Nilai dan Moral Bangsa, Seminar Nasional, Universitas Terbuka Pangkalpinang, 9 Juli 2011.
    19. 57.  Pembelajaran Bermuatan Pendidikan Karakter/Nilai Untuk Pembelajaran Manusia Sebagai Upaya Mengatasi Krisis Nilai dan Moral pada Peserta Didik, Panitia Seminar Universitas Muhammadiyah Pontianak, 11 Oktober 2011.

 

Sorry, the comment form is closed at this time.