Google

Konsep Montessori, Belajar Mulai 3 Tahun Terlalu Terlambat

Written on:November 19, 2011
Comments are closed

Bandung, UPI

Working with children older than 3 years is too late to have the most beneficial effect on their life (Dr. Maria Montessori, 1870-1952 ). Mulai mendidik anak pada usia lebih dari 3 tahun adalah terlambat untuk memberikan efek yang paling positif).

“Tapi kenyataannya, sebagian besar anak Indonesia di bawah 5 tahun belum pernah menginjak sekolah. Padahal, usia 1-5 tahun adalah usia emas , masa terpenting yang menentukan masa depan mereka. Apakah orang tua anak sudah menyadari hal ini?” kata Arief Wirawan, pendiri dan guru Step One-Pre-School , K’garten & Daycare, di Bandung, Sabtu (19/11/2011).

Menurut Arief Wirawan, banyak sekali berdiri sekolah sekolah play group atau taman kanak-kanak milik swasta di Bandung dan di kota besar di Indonesia . Namun jumlah murid yang tertampung berasal dari segmen keluarga menengah ke atas . Anak dari segmen menengah ke bawah masih sangat sedikit, sehingga praktis belum berarti apa apa.

“Ada memang berapa sekolah TK milik Negara, tapi mungkin tidak lebih dari jumlah jari pada satu tangan kita. Belum lagi untuk play group (Pre-School) negeri, rasanya belum ada sama sekali di Bandung ini,” ujar Arief Wirawan.

Diungkapkan, biaya sekolah di Pre-School (Play Group) dan Kindergarten (TK) milik swasta biasanya cukup mahal. Sebab, biaya operasionalnya mahal. Belum lagi gedung sekolah dan fasilitasnya harus memadai untuk keluarga menengah ke atas.

Kalaupun pemerintah saat ini belum mendirikan sekolah PAUD atau TK yang cukup untuk masyarakat luas , kata Arief Wirawan, paling tidak Kemdikbud dapat membantu lembaga PAUD/TK swasta dengan men-support secara moril. Misalnya, sosialisasi pentingnya PAUD , bantuan tenaga terampil untuk menangani anak anak dengan kebutuhan khusus , bantuan training guru, seminar gratis , perpustakaan , alat peraga, media komunikas dan sejenisnya.

Anak pengasuh

Di zaman serba maju sekarang ini, makin banyak suami-istri keduanya bekerja di luar rumah. Si buah hati di rumah diasuh oleh orang lain; nenek/kakek, anggota keluarga atau pengasuh.

“Kalau pengasuhnya oke, penuh kasih sayang, qualified, ya bagus. Namun banyak pengasuh yang asal-asalan, tidak qualified. Apa lagi harus yang berkasih sayang kepada buah hati Anda, menjadi anak pengasuh, sangat dipertanyakan ! Dalam hal ini lembaga penitipan anak (Daycare) yang baik makin dirasakan perlu keberadaannya di samping PAUD,” ujar Arief Wirawan.

Umur berapa seorang anak sebaiknya mulai masuk Pre-School? Dr. Maria Montessori (ahli Pendidikan Anak Usia Dini /PAUD terkenal di dunia) mengingatkan agar sedini mungkin. Anak balita (golden age) memiliki talenta dan kapasitas belajar yang relatif lebih tinggi daripada orang dewasa, tentu dengan metode pendidikan yang tepat sesuai usianya.

Apa anak nantinya tidak bosan kalau sejak balita sudah “masuk sekolah”? Tidak , kata Montessori. Sebab, PAUD yang baik berbasis pada anak (student centered), bukan berbasis pada guru (teacher centered) atau berpusat pada papan tulis (white board centered). Sistem PAUD yang baik adalah Learning Is Fun. Belajar itu sesuatu yang menyenangkan , bukan malah beban bagi si balita. Belajar tetapi Bermain; Bermain tetapi Belajar. Begitu metode Montessori.

Manfaat PAUD, kata Arief Wirawan, anak menyerap dan belajar hal-hal baru lebih maksimal; Kepribadian dasar anak terbentuk lebih maksimal; Bersosialisasi dengan banyak teman; Meningkatkan sifat berbagi kepada teman; Kemampuan kognitif (pengetahuan) anak lebih cepat berkembang;  Perkembangan motorik kasar dan motorik halus lebih optimal. (WAS)

Sorry, the comment form is closed at this time.