Google

Mendeteksi Fraudulent (Penipuan) Pelaporan Keuangan

Written on:December 9, 2011
Comments are closed

Oleh Dr. ROZMITA DEWI YUNIARTI ROZALI

(Dosen Program Studi Pendidikan Manajemen Bisnis Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia)

 1.     Pendahuluan

Menurut Albrecht (2003:97) fraudulent financial reporting merupakan penyimpangan yang dilakukan oleh manajemen pada saat proses penyusunan laporan keuangan.Penelitian yang dilakukan oleh Nicholas Bahr (2010: 25) jumlah sebenarnya dugaan penyimpangan meningkat dari 294 kasus antara 1987 dan 1997 menjadi 347 kasus antara tahun 1998 dan 2007. Laporan dalam India Fraud Survey Report 2010 yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik KPMG sebanyak 81% responden menyatakan bahwa fraudulent financial reporting merupakan issue utama.

Laporan lainnya dari The Association Certified Fraud Examiners (ACFE) 2010 berdasarkan data dari 1843 kasus fraud yang terjadi di seluruh dunia antara Januari 2008 sampai dengan Desember 2009, kasus Fraudulent financial reporting yang tidak lebih dari 5% kasus tetapi menyebabkan kerugian terbesar sejumlah $4 million. Berdasarkan laporan dari para CFEs, tidak semua pengendalian di organisasi efektif untuk melawan fraud, mekanisme pengendalian yang dilakukan oleh audit internal dinilai oleh CFEs sebagai pengendalian yang sangat penting. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Rezaee (2002) bahwa audit internal merupakan bagian penting dan  menempati posisi strategis sebagai bagian integral di dalam organisasi yang bertanggungjawab untuk mengevaluasi pelaksanaan corporate governance dan reliabilitas proses pelaporan keuangan.

Kasus fraud di Indonesia terjadi di pemerintahan maupun beberapa perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI),Waskita Karya, salah satu BUMN jasa konstruksi yang diduga melakukan rekayasa laporan keuangan. Direktur Utama Waskita yang baru, M. Choliq yang sebelumnya menjabat direktur keuangan PT Adhi Karya (Persero) Tbk, menemukan pencatatan yang tak sesuai, dimana ditemukan kelebihan pencatatan Rp 400 miliar. Direksi periode sebelumnya diduga melakukan rekayasa keuangan sejak tahun buku 2004-2008 dengan memasukkan proyeksi pendapatan proyek multitahun ke depan sebagai pendapatan tahun tertentu.

Kasus lain diduga terjadi di PT Kimia Farma Tbk, mantan Deputi Menteri BUMN Bidang Jasa dan Usaha Lainnya Muchayat mengusulkan dilakukan audit khusus terhadap badan usaha ini karena ada indikasi penyimpangan laporan keuangan untuk tahun buku 2009. Salah satu penyimpangan yang ditemukan kementerian BUMN adalah adanya beban yang dikeluarkan untuk membiayai perusahaan yang tidak terkonsolidasi di laporan keuangan.

Pada bulan Juli 2011, pengamat ekonomi Universitas Atmajaya Jakarta, A Prasetyantoko meminta Komisi Pemberantasan Korupsi mengusut keterlibatan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) terkait dugaan korupsi proyek Hambalang. Berdasarkan kontrak, proyek Hambalang merupakan proyek kerja sama operasi (join operation) dengan ADHI sebagai pemimpin proyek dengan bagian 70% dan WIKA dengan 30%.

Rekomendasi dari ACFE (2010) dan  KPMG Research (2010) menyebutkan bahwa perusahaan yang memaksimalkan efektifitas fungsi audit internalnya lebih kuat dalam menangkal terjadinya fraudulent financial reporting.  Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hugh et al (2006); Dana et al (2008); Hiro (2009) ;Kranacher (2004); Kevin L. James (2003) ;Priscilla Burnaby (2009); Spencer (2004); Kranacher (2004); Pickett ( 2004); Janet et al (2008); Lisa&Barry (2007); Albergh (2003); Lisa et al (2007); Linda (2007); Schneider (2003); Rezaee (2002); Albrecht (2003);Dana et al (2008);dan Fabrizius (2004). Secara konsisten peneliti-peneliti ini menemukan bahwa efektifitas fungsi audit internal berpengaruh positif terhadap pendeteksian fraudulent financial reporting.

Fungsi audit internal dijalankan oleh auditor internal. Beberapa penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Abdel-Khalik et al. (1983), Brown (1983), Schneider (1984), Schneider (1985a), Schneider (1985b), Messier and Schneider (1988), Edge and Farley (1991), Bryan  (1992), Maletta (1993), Ganesh (2002), Duane M. Brandon (2010), dan Vikram Desai et al (2010), secara konsisten menemukan bahwa kompetensi dan objektifitas auditor internal berpengaruh positif terhadap efektifitas fungsi audit internal.

Berkaitan dengan kompetensi, dibutuhkan kompetensi lebih bagi auditor internal untuk dapat membantu manajemen dalam upaya mencegah, mendeteksi dan mengurangi terjadinya fraudulent financial reporting. Kompetensi lebih ini didapat dengan jalan mengikuti pendidikan professional berkelanjutan yang disyaratkan oleh Association Certified Fraud Examiners (ACFE). Sebagian kecil diantara mereka sudah ada yang bersertifikat Certified Fraud Examiner (CFE). Berdasarkan data yang diperoleh dari Certified Fraud Examiners (CFE) Indonesia tahun 2010, sampai saat ini pemegang sertifikat CFE sebanyak 118 orang tersebar di berbagai entitas baik lembaga pemerintah, Kantor Akuntan Publik, maupun para auditor internal. ( ACFE Indonesia,2010).

Berkaitan dengan objektivitas, status organisasi audit internal di BUMN ditempatkan langsung di bawah direktur utama, namun dalam pelaksanaannya masih terdapat conflict of interest yang memungkinkan pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu untuk menginterfensi objektifitas auditor internal. Terkait dengan struktur organisasi badan usaha di Indonesia yang menganut dual board keberanian auditor internal untuk mengungkapkannya sangat terbatas, Jikapun menemukan, sering lebih menyukai penyelesaian internal demi reputasi perusahaan dan juga demi kelangsungan hidup auditor internal yang digaji oleh perusahaan, maka objektifitas auditor internal dalam mengungkapkan temuan terjadinya penyimpangan  pada proses penyusunan laporan  keuangan yang dilakukan dengan sengaja oleh manajemen masih perlu kajian lebih dalam.( Hiro,2004 ).

Berdasarkan uraian sebelumnya, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengukur:

(1). Seberapa besar pengaruh kompetensi dan o]bjektifitas auditor internal terhadap efektifitas fungsi audit internal baik secara langsung maupun tidak langsung.

(2). Seberapa besar pengaruh kompetensi auditor internal, objektifitas auditor internal dan efektifitas fungsi audit internal terhadap pendeteksian fraudulent financial reporting baik secara langsung maupun tidak langsung.

2.     Metode

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antar variabel  melalui  pengujian  hipotesis. Penelitian  seperti  ini  disebut penelitian pengujian hipotesis (hypotheses testing) atau disebut juga penelitian verifikatif yaitu penelitian yang bertujuan menguji kebenaran teori atau hasil penelitian yang sudah ada sebelumnya, yang dirumuskan dalam hipotesis penelitian. Unit analisis penelitian ini adalah individu. Adapun horizon waktunya adalah cross sectional.

Populasi penelitian ini adalah auditor internal bagian keuangan di PT BUMN Tbk Indonesia sebanyak 150 orang. Jumlah responden yang menjawab kuesioner adalah semua auditor internal bagian keuangan dan selanjutnya diolah datanya.

Data penelitian ini terdiri atas data primer. Data primer yaitu data variabel kompetensi dan objektifitas auditor internal, efektifitas fungsi audit internal, dan pendeteksan fraudulent financial reporting dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dikombinasikan dengan wawancara. Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode analisis jalur (path analysis) dengan bantuan software Lisrel 8.70.

3.     Hasil dan Pembahasan

(1)      Hipotesis Pertama

Hasil uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa besar pengaruh langsung maupun tidak langsung  kompetensi auditor internal terhadap efektifitas fungsi audit internal PT BUMN Tbk sebesar 57,14%, hasil ini lebih besar dibandingkan besar pengaruh langsung maupun  tidak langsung objektifitas auditor internal terhadap efektifitas fungsi audit internal sebesar 36,75%. Hasil uji ini sesuai dengan fenomena bahwa kompetensi auditor internal di Indonesia sudah cukup baik dan objektifitas auditor internal dalam kaitannya dengan pelaporan temuan ke pihak independen masih berada di kategori kurang baik.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Dessalegn and Aderajew (2007) bahwa efektifitas fungsi audit internal dipengaruhi oleh kompetensi auditor internal untuk mengevaluasi dan memberikan rekomendasi terhadap peningkatan  risiko pengendalian dan governance dan objektifitas auditor internal dalam  menyampaikan  temuan  kepada manajemen dan komite audit serta implikasinya pada tindak lanjut dari pihak manajemen atas hasil evaluasi dan rekomendasi yang diberikan.

(2)   Hipotesis Kedua

Hasil uji hipotesis kedua menunjukkan bahwa kompetensi auditor internal di PT BUMN Tbk di Indonesia memberikan pengaruh rendah pada pendeteksian fraudulent financial reporting sebesar 30,15%, hal ini sejalan dengan fenomena bahwa kompetensi auditor internal di Indonesia khususnya terhadap pendeteksian fraudulent financial reporting masih rendah. Hasil penelitian ini sejalan dengan Belkaoui (2006), bahwa satu faktor dalam peningkatan penyimpangan di pelaporan keuangan  adalah  kegagalan dari institusi pendidikan akuntansi dalam mengajarkan cara-cara mendeteksi penyimpangan dan pentingnya pendeteksian tersebut terhadap keseluruhan sistem pelaporan keuangan. Penekanan yang dilakukan di universitas dan ujian-ujian CPA adalah pada audit keuangan bukan pada audit forensik, penyimpangan maupun investigasi. Implikasi hasil penelitian ini bagi pengembangan ilmu akuntansi berkaitan dengan terjadinya fraudulent financial reporting adalah mendukung teori sebelumnya tentang implementasi akuntansi forensik dan audit investigasi.

Hasil uji yang menunjukkan bahwa objektifitas auditor internal di PT BUMN Tbk di Indonesia memberikan  pengaruh rendah pada pendeteksian fraudulent financial reporting sebesar 9,38% ini sejalan dengan fenomena tentang rendahnya objektifitas auditor internal di Indonesia dalam mendeteksi fraudulent  financial reporting . Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Kevin L. James (2003) bahwa audit internal yang melaporkan kepada manajemen senior dianggap kurang mampu memberikan perlindungan terhadap fraudulent financial reporting dibandingkan dengan departemen audit internal yang melaporkan ke komite audit dan auditor eksternal.

Hasil penelitian bahwa efektifitas fungsi audit internal berpengaruh sedang pada pendeteksian fraudulent financial reporting sebesar 49,60% sesuai dengan fenomena bahwa peran audit internal di Indonesia dalam mencegah mendeteksi dan mengurangi terjadinya fraud masih kurang efektif. Hal ini sejalan dengan Albrecht (2003) bahwa memiliki audit internal yang efektif adalah hal terpenting untuk mencegah dan mendeteksi fraud. Hasil penelitian inipun sejalan dengan Rezaee (2002) bahwa audit internal yang efektif adalah langkah pertama untuk mencegah dan mendeteksi terfadinya fraudulent financial reporting, selain auditor eksternal, users dan bursa saham.

Secara normatif, beberapa temuan penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak terkait khususnya auditor internal PT BUMN Tbk di Indonesia. Dihubungkan dengan  saran penerapan Standar Profesi Audit Internal, beberapa temuan penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai masukan berharga khususnya dalam program peningkatan kompetensi yang harus dilakukan oleh auditor internal secara terus menerus dan atau berjenjang selama yang bersangkutan berprofesi sebagai auditor internal serta pelaksanaan tugas auditor internal untuk tidak mendelegasikan keputusan mereka mengenai masalah audit kepada pihak lain.

(2). Implikasi Teoritis

Secara positif, temuan-temuan penelitian ini memiliki implikasi teoritis sebagai berikut:

1). Konsepsi The IIA Research Foundation’s Common Body of Knowledge (2007); Kranacher (2004) tentang kompetensi auditor internal, konsepsi Colbert (1993) ;Duane (2010) tentang objektifitas auditor internal, konsepsi Dessalegn Getie Mihrej dan Aderajew Wondim Yismaw (2007);  Hiro Tugiman (2004); Dana et al (2008); Lisa et al (1997); dan Rezaee (2002) tentang efektifitas fungsi audit internal, konsepsi Rezaee (2002); Albergh (2003); Mulfrod & Comiskey (2002); Messod D. Beneish (1999); dan Moyes et al (2009) tentang pendeteksian fraudulent financial reporting,dapat digunakan sebagai acuan untuk memahami secara empiris fenomena kompetensi dan objektifitas auditor internal, efektifitas fungsi audit internal dan pendeteksian fraudulent financial reporting PT BUMN Tbk. Secara teoritis hasil penelitian ini mendukung konsepsi-konsepsi tersebut.

2). Konsepsi Abdel-Khalik et al. (1983); Brown (1983); Schneider (1984); Schneider (1985a); Schneider (1985b); Messier and Schneider (1988); Edge and Farley (1991); Bryan  (1992); Maletta (1993); Ganesh (2002); Duane M. Brandon (2010); dan Vikram Desai et al (2010) tentang pengaruh kompetensi dan objektifitas auditor internal terhadap efektifitas fungsi audit internal dapat digunakan sebagai acuan dalam memahami hubungan kausalitas kompetensi dan objektifitas auditor internal terhadap efektifitas fungsi audit internal. Dari temuan penelitian, secara teoritis diketahui bahwa semakin tinggi kompetensi dan objektifitas auditor internal maka fungsi audit internal semakin efektif.

3). Konsepsi Hugh et al (2006); Dana et al (2008); Hiro (2009) ;Kranacher (2004); Kevin L. James (2003) ;Priscilla Burnaby (2009); Spencer (2004); Kranacher (2004); Pickett ( 2004); Janet et al (2008); Lisa&Barry (2007); Albergh (2003); Lisa et al (2007); Linda (2007); Schneider (2003); Rezaee (2002); Albrecht (2003);Dana et al (2008);dan Fabrizius (2004)  dapat digunakan sebagai sebagai acuan dalam memahami hubungan kausalitas antara kompetensi dan objektifitas auditor internal, efektifitas fungsi audit internal serta pendeteksian fraudulent financial reporting. Dari temuan penelitian ini, secara teoritis diketahui bahwa peningkatan kompetensi dan objektifitas auditor internal serta efektifitas fungsi audit internal meningkatkan pendeteksian fraudulent financial reporting.

4. Simpulan dan Saran

4.1   Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah, rumusan hipotesis dan hasil penelitian, maka penulis menarik simpulan sebagai berikut:

1.  Terdapat pengaruh kompetensi dan objektifitas auditor internal terhadap efektifitas fungsi audit internal. Besarnya pengaruh langsung maupun tidak langsung kompetensi auditor internal terhadap efektifitas fungsi audit internal berada pada kategori sedang. Besaran pengaruh sedang ini disebabkan oleh belum maksimalnya pendidikan profesional berkelanjutan. Besarnya pengaruh langsung maupun tidak langsung objektifitas auditor internal terhadap efektifitas fungsi audit internal berada pada kategori sedang. Besarnya pengaruh sedang ini disebabkan oleh masih adanya conflict of interest terutama pada saat pelaporan hasil audit. Besaran pengaruh kompetensi dan objektifitas auditor internal terhadap efektifitas fungsi audit internal yang sedang ini menunjukkan bahwa masih ada pengaruh dari variabel lain yang tidak diteliti.

2.  Terdapat pengaruh kompetensi auditor internal, objektifitas  auditor internal dan efektifitas fungsi audit internal terhadap pendeteksian fraudulent financial reporting. Besarnya pengaruh langsung maupun tidak langsung kompetensi auditor internal internal masuk dalam kategori rendah, hal ini disebabkan belum semua auditor internal belum memiliki kompetensi mengenai akuntansi forensik dan audit investigasi . Besarnya pengaruh langsung maupun tidak langsung objektifitas auditor internal masuk dalam kategori rendah, secara langsung objektifitas auditor internal tidak memberikan pengaruh, hal ini disebabkan oleh keterbatasan akses pelaporan hasil audit kepada pihak berwenang yang tidak melakukan fraudulent financial reporting.  Besarnya pengaruh langsung maupun tidak langsung efektifitas fungsi audit internal masuk dalam kategori sedang. Besarnya pengaruh objektifitas auditor internal yang rendah, dan besarnya pengaruh efektifitas fungsi audit internal yang sedang disebabkan oleh struktur organisasi badan usaha di Indonesia yang menempatkan audit internal berada dibawah dan bertanggungjawab langsung kepada direktur utama. Besarnya pengaruh langsung maupun tidak langsung  kompetensi dan objektifitas auditor internal serta keefektifan auditor internal terhadap pendeteksian fraudulent financial reporting menunjukan masih ada pengaruh variabel lain yang tidak diteliti.

5.2    Saran

1.  Saran bagi akademisi

Belum tingginya kompetensi auditor internal pada indikator kemampuan mendeteksi peluang dan symptoms serta kemampuan menentukan tindakan prosedur analitis dan rendahnya objektifitas auditor internal pada indikator kebebasan untuk melaporkan temuan kepada pihak internal maupun eksternal mengarahkan kepada peneliti berikutnya untuk melakukan kajian mendalam mengenai akuntansi forensik dan audit investigasi yang sebaiknya dimiliki oleh auditor internal.

2.  Saran bagi praktisi

Alternatif pemecahan masalah belum tingginya kompetensi dan objektifitas auditor internal terhadap pendeteksian fraudulent financial reporting PT BUMN Tbk adalah dengan: (1) mengikuti pendidikan dan pelatihan berkelanjutan khususnya tentang fraud, upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan auditor internal untuk mendeteksi terjadinya fraudulent financial reporting; (2) Perubahan Two Tiers Board System menjadi One Board System di PT BUMN Tbk di Indonesia, dengan perubahan sistem ini objektifitas auditor internal terutama dalam melaporkan temuan, evaluasi dan rekomendasi bisa meningkat.

(Ringkasan disertasi ini disampaikan dalam siding terbuka promosi doktor dalam Ilmu Ekonomi Pada Universitas Padjadjaran Bandung, Jumat, 9 Desember 2011)

Sorry, the comment form is closed at this time.