Google

SLB Harus Menjadi Pusat Sumber Pendidikan Inklusi

Written on:December 20, 2011
Comments are closed

Bandung, UPI

Untuk menjamin keberhasilan implementasi pendidikan inklusif, diperlukan berbagai sistem dukungan. Salah satunya adalah tersedianya pusat sumber (resource centre). Salah satu yang sangat potensial untuk dijadikan pusat sumber adalah sekolah luar biasa (SLB), sehingga diperlukan pedoman untuk memberdayakan SLB tersebut, agar mampu menjadi sistem dukungan bagi implementasi pendidikan inklusif di wilayah atau lingkungannya.

“Pendidikan merupakan salah satu hak asasi manusia yang paling fundamental serta dilindungi dan dijamin oleh berbagai instrumen hukum internasional maupun nasional, setiap anak tanpa kecuali, harus dijamin untuk memperoleh hak asasinya tersebut,” kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Prof. Dr. Wahyudin Zarkasyi, dalam workshop di UPI di Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Selasa (20/12/2011).

Jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (PLB FIP UPI) bekerja sama dengan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus  Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan Nasional menggelar workshop berjudul, “Pemberdayaan Sekolah Luar Biasa dalam Implementasi Pendidikan Inklusif” di Isola Resort, Selasa (20/12/2011), pukul 8.00 – 17.00 WIB.

Kegiatan ini dibuka dengan menampilkan tarian kaca piring yang dibawakan Ratna dan Widi dari SLB B Waliwis Putih, Subang pimpinan Tatik Haryati. Tampil sebagai keynote speaker adalah Dr. Mujito, AK, M.Si. (Direktur PPK-LK Dikdas); Dr. Zaenal Alimin, M.Ed. (Ka Prodi PKh SPS UPI).

Di hadapan peserta terdiri atas dosen Jurusan PLB FIP UPI; Kepala sekolah/guru SLB; Kepala sekolah/guru SLB pusat sumber; Kepala sekolah/guru sekolah inklusi; Pengawas SLB Jawa Barat ‘ dan Staf Direktorat PPK-LK Ditjen Dikdas Kemendikbud, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Prof. Dr. Wahyudin Zarkasyi,

“Pendidikan inklusif bertujuan untuk menyiapkan anak-anak hidup secara harmonis, dan pemerintah akan menjamin ketersediaan, keterjangkauan dan kesetaraan,” lanjutnya

Pendidikan inklusif  adalah paradigma baru dunia pendidikan guna mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif  bagi semua peserta didik. Pendidikan inklusif adalah cita-cita sekaligus strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah yang rensponsif terhadap beragam kebutuhan aktual anak, termasuk anak-anak berkelainan.

Dr. Zaenal Alimin, M.Ed. Kepala Program Studi PKh SPS UPI, menegaskan bahwa dalam pendidikan inklusif, sistem pendukung berfungsi sebagai lembaga yang akan memberikan bantuan teknis kepada sekolah yang di dalamnya terdapat anak berkebutuhan khusus. Dalam terminologi pendidikan inklusif, sistem pendukung itu disebut pusat sumber (resource center).

Ketua panitia, Drs. Musjafak Assjari, M.Pd., mengatakan, workshop ini dihadiri oleh 90 orang peserta yang akan dibagi ke dalam tiga kelompok. Kegiatan ini sebagai bentuk komitmen sekaligus dukungan dalam pengembangan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Indonesia.

“Target dari kegiatan ini adalah dihasilkannya buku pedoman pemberdayaan SLB, selain itu juga dimaksudkan untuk menghimpun masukan dan merumuskan pedoman pemberdayaan SLB sebagai pusat sumber dalam implementasi pendidikan inklusif,” ujarnya. (Dodi Angga)

Sorry, the comment form is closed at this time.