Google

Tata Krama di Kalangan Pelajar Semakin Menurun

Written on:January 26, 2012
Comments are closed

Jakarta, (UPI)

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Prof.Dr. Nasaruddin Umar M.A. mengatakan, dewasa ini perlu ada aktualisasi dalam bidang pendidikan, karena pendekatannya kurang memperhatikan bidang jasmani dan rohani. Terlalu banyak yang ingin diketahui namun tak bisa dipecahkan dengan akal.

Dewasa ini, tata krama di kalangan pelajar semakin dirasakan menurun. Kadang dijumpai pula sekelompok orang atas nama demokrasi mengabaikan hak orang lain. Atas nama kekebasan pers, ada orang membuka aib keluarga sendiri. Atas nama HAM, sekelompok orang menuntut kebebasan berpasangan hidup,” kata Wamenag Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan pada pembukaan seminar pendidikan di Jakarta, Rabu (25/1/2012).

Situs Kementerian Agama www.kemenag.go.id menjelaskan, seminar diselenggarakan berkaitan dengan Hari Amal Bakti Kementerian Agama (Kemenag) ke-66 dengan mengangkat tema “Refleksi Reformulasi Pendidikan Islam dalam Konteks Kemajemukan Sosial”. Hadir pada acara tersebut Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. Nur Syam yang sekaligus pula menjadi nara sumber. Nara sumber lain Kacung Maridjan, guru besar FISIP Universitas Airlangga Surabaya Prof. Dr. Soedjarto MA.

Dengan demikian, kata Wamenag, ada yang harus diaktualisasikan dalam bidang pendidikan untuk membentengi anak agar ke depan memperoleh pemahaman yang kuat. Pendidikan agama kini dirasakan semakin penting.Namun pertanyaannya, pendidikan yang bagaimana bentuknya. Hal ini tidak mudah dilakukan.

Ia mengatakan, Islam memiliki ajaran yang universal. Hal ini tak hanya harus diwujudkan dalam lingkungan pendidikan Islam seperti di pondok pesantren, tetapi juga dapat diimplementasikan sampai tingkat universitas. Dalam kaitan ini, ia mengingatkan bahwa membicarakan agama bukan berarti bicara masa lampau, tapi di dalamnya banyak nilai universal yang harus diamalkan dalam kehidupan keseharian.

“Pendidikan agama itu jangan hanya sebatas mengetahui tetapi juga pada penghayatan, dirasakan dan diamalkan. Itu intinya. Kita belajar agama bukan untuk lulus dengan nilai rapor tinggi, tapi ukurannya tidak di situ. Bagaimana interaksi dengan lingkungan hidup dan lainnya,” ia menjelaskan.

Idealnya pendidikan dan ajaran agama tidak berjarak dengan pemeluknya, kata Nasaruddin Umar. “Nanti agamanya mengatakan apa tapi yang dilakukan pemeluknya lain lagi. Jadi, ajaran harus semakin mendekatkan dengan umatnya. Ajaran agama dan pemeluknya harus menyatu. Paling tidak berdekatan,” ujar Nasaruddin Umar selanjutnya.

Wamenag berharap pemeluk agama di mana pun berada selalu tetap relejius. “Dekat dengan agama yang dianutnya. Tidak semua melihat orang lain beda, kita sendiri yang benar. Diri harus pada posisi yang menggenggam agama. Ke mana pun kita pergi kita mengakui adanya kebenaran. Agama mengajak semua pihak untuk membawa kebaikan,” ia menjelaskan.

Sebelumnya Ketua Panitia HAB Kemenag ke-66, Afandi Muchtar mengatakan, pihaknya sengaja mengangkat tema tersebut terkait adanya fenomena sosial dewasa ini bahwa peristiwa kekerasan dan pertikaian antarkelompok terlibat didorong oleh semangat atas nama ajaran keyakinan dan agamanya. Bahkan peristiwa itu acap kali dilakukan oleh “lulusan” yang sudah dididik dan dibentuk oleh atas nama agama.

Sementara lembaga pendidikan agama juga tak sedikit menjadi basis kelompok massa yang menggerakkan masyarakat ikut terlibat dengan pertikaian dan kekerasan. Lembaga keagamaan seharusnya mengajarkan kebaikan dan kedamaian kini menjadi pusat gerakan yang dicurigai membentuk manusia yang siap merusak orang lain.

Dari aspek historis, lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren telah banyak berjasa dalam mengantarkan masyarakat Indonesia yang cinta damai seolah hilang dan tercoreng oleh segelintir lembaga yang melakukan kekerasan. Kekuatan kecil itu telah menyulap image negatif di masyarakat tentang keberadaan madrasah dan pesantren yang sekarang mulai diperhitungkan, katanya.

Untuk itu, katanya, agar “virus” kekerasan yang mulai menghinggapi pendidikan agama tidak menjalar menjadi penyakit akut di banyak madrasah dan pondok pesantren, maka perlu ada upaya penggalian ulang terhadap peran pendidikan agama di Indonesia yang lebih baik. (ant/ess)

Sorry, the comment form is closed at this time.