Google

Tangkis Globalisasi dengan Kebijakan Bermuatan Pendidikan Karakter

Written on:January 28, 2012
Comments are closed

Bandung, UPI

Auditorium Gedung Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Jumat (27/1/2012) pagi,  menjadi berbeda karena hadirnya Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).  Ia hadir untuk memberikan kuliah umum bertema “Globalisasi  dan Komunitas Asia Raya yang digagas Yayasan One-Asia di Tokyo Jepang yang berlangsung sejak dua bulan lalu.

Diani Risda, Koordinator OIER UPI memaparkan bahwa kehadiran Rektor adalah mengisi perkuliahan umum yang ke-8 dari 12 kali pertemuan yang sudah dijadwalkan.  Secara spesifik, Prof. Sunaryo menyampaikan makalah berjudul, “Globalisasi dan Komunitas Asia  Raya Berdasarkan Perspektif Pendidikan.”

Prof. Sunaryo memaparkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud implementasi langkah internasionalisasi yang memuat isu pendidikan.  Sebenarnya perkeluliahan seperti ini sudah dilaksanakan di berbagai Negara, seperti Jepang, Australia, Amerika dan Cina. Melalui  media pendidikan ini diharapkan dilakukan proses menyeleksi dan membangun perspektif yang lebih luas.

“One Asia Community sebenarnya merefleksikan upaya untuk menunjukan identitasnya, namun sebenarnya tidak dapat melepaskan interdependensi juga koneksi antara sekelompok masyarakat untuk menampilkan jati dirinya. Prosesnya bisa down to up atau sebaliknya, dan jika up to down akan menunjukkan adanya dominasi kultur dan ekonomi,” kata Prof. Sunaryo.

Saat ini  ada tiga persoalan yaitu kulktur, ekonomi dan teknologi yang pengaruhnya pesat di komunitas ini.  Hal ini berimbas kepada persoalan bagaimana mengelola perilaku. “Sebagai ilustrasi dalam bidang akademik, adalah fenomena mudahnya karya ilmiah di internet memudahkan pencarian bahan penulisan. Kecepatan proses teknologi tersebut apakah dapat diimbangi pula dengan tata nilai, kode etik penulis saat mengambil keputusan untuk mencantumkan referensinya,” ujar Prof. Sunaryo.

Ia menegaskan bahwa melakukan pencegahan plagiarisme sangat urgen dengan mengokohkan kekuatan hati dan pikiran dalam menghadapi teknologi yang borderless dan fasilitas yang memudahkan tersebut.

Dikatakan, sebenarnya One Asia adalah bentuk kesepakatan dalam mengimbangi kekuatan dunia yang lain, terutama Eropa dan Amerika Serikat.  Bila melihat dari populasi penduduk di negara Asia yang jumlahnya besar, hal ini akan memiliki dampak  terhadap implementasi pendidikannya.  Berdasarkan estimasi dari jumlah penduduk Indonesia, sekitar 60% -nya saja pada tahun 2025 yang saat ini masih berusia 0-15 tahun akan menjadi sumber daya manusia  produktif.

“Momentum ini harus segera dikawal dengan sistematis melalui perspektif pendidikan. Meski demikian,  patut pula diantisipasi adanya kemungkinan adanya lost generation.  Mobilitas penduduk adalah suatu keniscayaan, maka harus diantisipasi melalui regulasi yang berarah positif,” tandas Rektor.

Bermuatan Pendidikan Karakter

Suatu bahan perenungan dengan adanya brand yang kuat dari negara tetangga Malaysia yang sudah membahana di dunia internasional patut disikapi dengan kebijakan makro.  Pada kenyataannya, pendidikan nasional belum mampu berkompetisi dengan pendidikan negara yang mampu menerapkan sistemnya di tanah air. Hal ini salah satunya karena adanya kebijakan imigrasi yang tidak memudahkan bagi mahasiswa asing yang ingin melanjutkan studi di Indonesia.

“Masalah penguasaan bahasa Inggris dan metodologi penelitian di bidang akademik pada perguruan tinggi patut menjadi perhatian khusus.  Belum lagi perlu digalinya keunggulan keahlian yang berdasarkan core value bangsa.  Misalnya dengan menampilkan kekuatan bahasa Indonesia di dunia internasional agar mampu  menjadi keunggulan Asia. Kemampuan melakukan stimulasi  kondisi yang ada dengan kerja keras berorientasi menghasilkan mutu patut dicamkan,” ujar Prof. Sunaryo.

Ia mengingatkan perlunya komparasi sebagai perilaku yang reaktif dan adaptif seperti adaptif terhadap teknologi yang baru.  Keunggulan bangsa pun dapat dilihat dari kemampuan berkerasi dan berinovasi dalam menciptakan produk pendidikan yang bermutu dan tidak terlepas dari proses kultur yang ada. Hal yang terpenting adalah jangan sampai kecerdasan kita dimanfaatkan negara lain.  Seperti yang selama ini terjadi dalam sejarah pendidikan di mana sebelumnya negara-negara Asia Tenggara pernah belajar di Indonesia pada tahun 1970-1980.  Sekarang kenyataannya  mereka memiliki brand yang lebih baik di mancanegara.

“Menyinggung ukuran standarisasi di dunia internasional sebenarnya tidak sama di semua negara.  Namun standar pada hakikat diakui secara dinamis oleh bangsa lain. UPI berupaya mendorong para dosen membangun pembelajaran berbasis riset.  Semoga dapat dipelopori riset dengan industry,” kata Prof. Sunaryo selanjutnya.

Rektor selanjutnya menekankan pentingnya meneladani negara Finlandia di mana pendidik menduduki posisi strategis karena mereka memang memiliki kompetensi yang baik. Indonesia patut membenahi alokasi distribusi pendidik yang terbentur  sistem pemerintahan otonomi daerah, sehingga banyak penempatan pendidik di daerah yang tidak berimbang.

“Pada akhirnya memang semua harus dievaluasi agar sistem pendidikan sesuai filosofinya dalam kerangka pendidikan yang sistemik, dalam menciptakan anak bangsa yang lebih baik melalui pendidikan karakter kita yang unik,“ ujar Prof. Sunaryo. (Dewi Turgarini/Foto: Dodi)

Sorry, the comment form is closed at this time.