Google

Membumikeun Pendidikan Nilai dalam Kehidupan di Keluarga Masyarakat dan Sekolah dengan Penuh Kesadaran*

Written on:February 14, 2012
Comments are closed

Oleh Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd.

(Guru Besar pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia)

 

  1. A.   Pendahuluan

Era globalisasi telah melahirkan sistem nilai yang mempengaruhi kehidupan dan persaingan di antara berbagai negara di dunia ini. Nilai-nilai yang berkembang saat ini menuntut kesiapan setiap bangsa dalam membangun kualitas sumber daya manusiana. Bangsa yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang menguasai IPTEK dan IMTAQ yang dilandasi oleh nilai-nilai luhur budaya adalah bangsa yang mampu bersaing dengan negara lain. Sebaliknya, bangsa yang kehilangan (rapuh) nilai-nilai jati diri akan terpuruk dalam “ketidakberdayaan” atau “cengkraman” negara lain.

Mentalitas sumber daya manusia suatu bangsa merupakan salah satu aspek yang harus ditingkatkan dalam upaya membangun kualitas sumber daya manusia suatu bangsa, hal tersebut menjadi pondasi yang kukuh dari tata nilai bangsa. Keruntuhan suatu bangsa ditandai dengan semakin lunturnya tata nilai bangsa tersebut, walaupun secara fisik bangsa tersebut masih berdiri tegak.

Lunturnya tata nilai suatu bangsa akan berimbas pada penyimpangan perilaku dan distorsi nilai kemanusiaan terutama di kalangan generasi muda. Akhir-akhir ini menunjukkan bahwa sering terjadi di antara generasi muda yang melakukan pelanggaran nilai-nilai sosial, tawuran, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas, tidak disiplin, kurang empati, serta penyimpangan perilaku lainnya. Fenomena kehidupan seperti ini, menghadapkan orang tua, guru dan masyarakat pada tantangan yang sangat kompleks dalam menanamkan nilai-nilai agama, nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai budaya bangsa dan nilai-nilai positif lainnya kepada generasi muda harapan bangsa.

Penyimpangan dan distrosi nilai kemanusiaan tersebut berpotensi menggulung tata nilai, tradisi, dan karakter bangsa dan pada akhirnya menggantikannya dengan tata nilai pragmatisme, materialisme, dan neoliberalisme yang merusak jati diri bangsa yang sebelumnya sudah menjadi identitas. Namun, sebagian lainnya menilai positif adanya fenomena globalisasi, bahkan menilai globalisasi sebagai suatu fragmen yang harus dijalani karena banyak hal yang menjadi daya dukung percepatan pembangunan masyarakat suatu bangsa.

Adapun faktor internal yang berpengaruh besar terhadap pembangunan nilai bangsa  diantaranya adalah arah pembangunan dunia pendidikan. Pembangunan yang bertata nilai merupakan esensi dari suatu pemahaman pembangunan yang sepenuhnya berorientasi pada manusia sebagai subyek pembangunan atau lazim dikenal dengan human oriented development. Tanpa adanya orientasi demikian, maka pembangunan hanya akan mencakup tataran fisik dan tanpa disertai adanya pembangunan budaya serta peningkatan standar nilai kehidupan manusianya. Hal yang mendominasi terhadap performance manusia sebagai subyek pembangunan yang bertata nilai tersebut tiada lain adalah pendidikan.

Untuk membangun bangsa yang berbasis nilai yang beradab perlu adanya  pertimbangan kesepakatan tentang  pengertian dan pengembangan nilai yang sangat mendasar yang menjadi repleksi dan pengokohan dalam kehidupan, adapaun nilai yang dimaksud adalah keimanan dan ketaqwaan, hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, Sauri (2010)  mengungkapkan bahwa nilai adalah firah tauhidullah yang dikembagkan dan diinternalisasikan dalam pribadi seseorang untuk mencapai akhlak mulia demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Dengan pendidikan, manusia sebagai individu dan sebagai masyarakat dapat diupayakan  untuk dibentuk dan diarahkan sesuai dengan tuntutan ideal proses pembangunan. manusia secara individu ini akan memberikan sumbangan besar terhadap pembangunan bangsa yang bermartabat, dan menjadi faktor pendukung bagi proses percepatan pembangunan suatu bangsa.

Menurut Ki Hajar Dewantara, bahwa tempat berlangsungnya pendidikan dapat dilaksanakan dalam keluarga, masyarakat, dan sekolah, diistilahkan Tri pusat Pendidikan. Maka ketiga tempat tersebut harus bertanggung jawab dalam penyelenggarakan pendidikan. Maka dari paparan di atas muncul pertanyaan, yakni, Bagaimana membumikan pendidikn nilai dalam tripusat pendidikan tersebut?.

 

  1. B.   Hakikat Pendidikan Nilai dan Pendekatan-pendekatannya

Pendidikan nilai merupakan proses penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang. Dalam pengertian yang hampir sama, Sauri (2009) mendefinisikan bahwa pendidikan nilai adalah sebagai upaya sadar dan terencana dalam rangka mengembangkan fitrah dasar nanusia seutuhnya, menuju terbentuknya insan berakhlak karimah. Mardiatmadja dalam Mulyana (2004:119) mendefinisikan pendidikan nilai sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Adapun Hakam (2000:05) mengungkapkan bahwa pendidikan nilai adalah pendidikan yang mempertimbangkan objek dari sudut moral dan sudut pandang non moral, meliputi estetika, yakni menilai objek dari sudut pandang keindahan dan selera pribadi, dan etika yaitu menilai benar atau salahnya dalam hubungan antarpribadi. Pendidikan nilai dapat dimaknai juga sebagai proses bimbingan melalui suritauladan pendidik yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai kehidupan yang di dalamnya mencakup nilai agama, budaya, etika, dan estetika menuju pembentukan pribadi peserta didik yang memiliki kecerdasan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang utuh, berakhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, dan negara.

Sementara Winecoff (1988:1-3) mengungkapkan bahwa: Values education-pertains to questions of both moral and nonmoral judgement toward object; includes both aesthetics (ascribing value 10 objects of beauty and personal taste) and ethics (ascribing avlues ofrighl and wrong in the interpersonal realm).
Arti dari value education atau pendidikan nilai di atas adalah pendidikan yang mempertimbangkan objek dari sudut moral dan sudut nonmoral, yang meliputi estetika yaitu menilai objek dari sudut pandang keindahan dan selera pribadi dan etika yaitu menilai benar atau salahnya dalam hubungan antar pribadi.

Sasaran yang hendak dituju dalam pendidikan nilai adalah penanaman nilai-nilai luhur ke dalam diri peserta didik. Berbagai metoda pendidikan dan pengajaran yang digunakan dalam berbagai pendekatan lain dapat digunakan juga dalam proses pendidikan dan pengajaran pendidikan nilai. Hal tersebut penting untuk memberi variasi kepada proses pendidikan dan pengajarannya, sehingga lebih menarik dan tidak membosankan.

Minimal terdapat empat faktor yang mendukung pendidikan nilai dalam proses pembelajaran berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Nomor 20 tahun 2003:

Pertama, UUSPN No. 20 Tahun 2003 yang bercirikan desentralistik menunjukkan bahwa pengembangan nilai-nilai kemanusiaan terutama yang dikembangkan melalui demokratisasi pendidikan menjadi hal utama. Desenteralisasi tidak hanya dimaknai sebagai pelimpahan wewenang pengelolaan pendidikan pada tingkat daerah atau sekolah, tetapi sebagai upaya pengembangan dan pemberdayaan nilai secara otonom bagi para pelaku pendidikan.

Kedua, tujuan pendidikan nasional yang utama menekankan pada aspek keimanan dan ketaqwaan. Ini mengisyaratkan bahwa core value pembangunan karakter moral bangsa bersumber dari keyakinan beragama. Artinya bahwa semua peroses pendidikan harus bermuara pada penguatan nilai-nilai ketuhanan sesuai dengan keyakinan agama yang diyakini.

Ketiga, disebutkannya kajiang mengenai kurikulum pada UUSPN No. 20 Tahun 2003 menandakan bahwa nilai-nilai kehidupan peserta didik perlu dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan belajar mereka. Kebutuhan dan kemampuan peserta didik hanya dapat dipenuhi kalau proses pembelajaran menjamin tumbuhnya perbedaan individu. Oleh karena itu, pendidikan dituntut mampu mengembangkan tindakan-tindakan edukatif yang deskriptif, kontekstual dan bermakna.

Keempat, perhatian UUSPN No. 20 Tahun 2003 terhadap usia dini memiliki misi nilai yang amat penting bagi perkembangan anak. Walaupun persepsi nilai dalam pemahaman anak belum sedalam pemahaman orang dewasa, namun benih-benih untuk mempersepsi dan mengapresiasi dapat ditumbuhkan pada usia dini. Usia dini adalah masa pertumbuhan nilai yang amat penting karena usia dini merupakan golden age. Di usia ini anak perlu dilatih untuk melibatkan pikiran, perasaan, dan tindakan seperti menyanyi, bermain, menulis, dan menggambar agar pada diri mereka tumbuh nilai-nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang, toleransi, keindahan, dan tanggung jawab dalam pemahaman nilai menurut kemampuan mereka.

Implikasi pendidikan nilai dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan sebagai berikut:

1. Pendekatan Penanaman Nilai

Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini adalah: Pertama, diterimanya nilai-nilai sosial tertentu oleh siswa; Kedua, berubahnya nilai-nilai siswa yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan. Adapun metoda yang digunakan dalam proses pembelajaran menurut pendekatan ini antara lain: keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi, permainan peranan, dan lain-lain.

Para penganut agama memiliki kecenderungan yang kuat untuk menggunakan pendekatan ini dalam pelaksanaan program-program pendidikan agama. Bagi penganut-penganutnya, agama merupakan ajaran yang memuat nilai-nilai ideal yang bersifat global dan kebenarannya bersifat mutlak. Nilai-nilai itu harus diterima dan dipercayai. Oleh karena itu, proses pendidikannya harus bertitik tolak dari ajaran atau nilai-nilai tersebut. Seperti dipahami bahwa dalam banyak hal batas-batas kebenaran dalam ajaran agama sudah jelas, pasti, dan harus diimani. Ajaran agama tentang berbagai aspek kehidupan harus diajarkan, diterima, dan diyakini kebenarannya oleh pemeluk-pemeluknya. Keimanan merupakan dasar penting dalam pendidikan agama.

2. Pendekatan perkembangan kognitif

Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi.
Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama. Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral. Proses pengajaran nilai menurut pendekatan ini didasarkan pada dilema moral, dengan menggunakan metoda diskusi kelompok. Diskusi itu dilaksanakan dengan memberi perhatian kepada tiga kondisi penting. Pertama, mendorong siswa menuju tingkat pertimbangan moral yang lebih tinggi. Kedua, adanya dilema, baik dilema hipotetikal maupun dilema faktual berhubungan dengan nilai dalam kehidupan keseharian. Ketiga, suasana yang dapat mendukung bagi berlangsungnya diskusi dengan baik. Proses diskusi dimulai dengan penyajian cerita yang mengandung dilema. Dalam diskusi tersebut, siswa didorong untuk menentukan posisi apa yang sepatutnya dilakukan oleh orang yang terlibat, apa alasan-alasannya. Siswa diminta mendiskusikan tentang alasan-alasan itu dengan teman-temannya.

3. Pendekatan analisis nilai

Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif, salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada dilema moral yang bersifat perseorangan.

Terdapat dua tujuan utama pendidikan nilai moral menurut pendekatan ini. Pertama, membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berpikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah-masalah sosial, yang berhubungan dengan nilai moral tertentu. Kedua, membantu siswa untuk menggunakan proses berpikir rasional dan analitik, dalam menghubung-hubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai-nilai mereka. Selanjutnya, metoda-metoda pengajaran yang sering digunakan adalah: pembelajaran secara individu atau kolompok tentang masalah-masalah sosial yang memuat nilai moral, penyelidikan kepustakaan, penyelidikan lapangan, dan diskusi kelas berdasarkan kepada pemikiran rasional.

4. Pendekatan klarifikasi nilai

Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri.
Tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini ada tiga. Pertama, membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain; Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri; Ketiga, membantu siswa, supaya mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional, untuk memahami perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri. Dalam proses pengajarannya, pendekatan ini menggunakan metoda: dialog, menulis, diskusi dalam kelompok besar atau kecil, dan lain-lain

5. Pendekatan pembelajaran berbuat

Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok.

Terdapat dua tujuan utama pendidikan moral berdasarkan kepada pendekatan ini. Pertama, memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama, berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri; Kedua, mendorong siswa untuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam pergaulan dengan sesama, yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya, melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat, yang harus mengambil bagian dalam suatu proses demokrasi.
Metoda-metoda pengajaran yang digunakan dalam pendekatan analisis nilai dan klarifikasi nilai digunakan juga dalam pendekatan ini. Metoda-metoda lain yang digunakan juga adalah projek-projek tertentu untuk dilakukan di sekolah atau dalam masyarakat, dan praktek keterampilan dalam berorganisasi atau berhubungan antara sesama.

 

 

  1. C.   Pendidikan Nilai di Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
    1. Pendidikan Nilai di Keluarga

Sebagai lingkungan pendidikan yang pertama, keluarga memainkan peran yang sangat besar dalam membentuk pola kepribadian anak. Karena itu, orang tua sebagai penanggung jawab atas kehidupan keluarga harus memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak-anaknya dengan menanamkan ajaran agama dan akhlak karimah (nilai).

Oleh karena itu lingkungan keluarga memiliki peranan yang sangat penting bagi penyadaran,  penanaman, dan pengembangan nilai. Keluarga merupakan perekat utama perasaan yang terpadu antara sifat mengayomi dari orang tua dan sifat diayomi pada anak. Pendidikan dalam keluargalah merupakan pendidikan nilai yang paling hakiki karena berlangsung sejak anak berada dalam kandungan sampai anak meninggal dunia.

Kalau terjadi kecenderungan menipisnya ikatan emosional anak terhadap orang tua atau sebaliknya, maka ini merupakan tantangan berat pendidikan nilai dalam keluarga. Kondisi seperti ini terjadi karena akibat pergeseran nilai-nilai kehidupan manusia yang mempengaruhi nilai kehidupan dalam keluarga. Untuk itu, keluarga harus membangun pendidikan nilai dalam lingkungan keluarga atau dalam rumah sebagai area pembelajaran nilai.

Keluarga dipandang sebagai  tempat yang pertama dan utama dalam membangun batu bata pertama untuk membangun istana masyarakat muslim dan merupakan madrasah iman yang diharapkan dapat membentuk generasi-generasi muslim yang mampu meninggikan kalimat Allah.  Rehani, (2003) Karena anak untuk pertama kalinya mengenal pendidikan di dalam lingkungan keluarga, sebelum mengenal masyarakat yang lebih luas. Pendidikan yang diterima anak dalam keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti pendidikan selanjutnya di sekolah. Sementara Tafsir (1996) mengatakan diantara tempat pendidikan, rumah merupakan tempat yang paling penting. Karena pertama, pendidikan yang dilakukan ditempat lain (sekolah dan masyarakat) frekuensinya rendah. Kedua, pendidikan yang paling penting adalah pendidikan agama (penanaman iman), pendidikan ini hanya mungkin dilaksanakan secara maksimal dalam kehidupan sehari-hari dan itu hanya mungkin dilakukan di rumah.

Rehani (2003) mengatakan orang tua sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak merupakan penanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak-anaknya. Tugas dan tanggung jawab orangtua dalam keluarga terhadap pendidikan anak-anaknya lebih bersifat pembentukan watak dan budi pekerti, latihan keterampilan dan pendidikan kesusilaan (nilai). Sehingga dalam proses pendidikannya sangat berbeda dengan pendidikan yang lain.

Menurut Qaimi (2003) bahwa banyak cara untuk menyampaikan nilai-nilai kepada generasi muda. Di antaranya yang terpenting adalah: Pertama, menghidupkan fitrah. Kedua, pelajaran langsung. Ketiga, pelajaran tidak langsung. Keempat, member teladan yang baik. Sementara menurut An Nahlawi (2004) bahwa metode pendidikan Islam yang sangat efektif dalam membina kepribadian anak didik dan memotivasi mereka. Diantara metode yang dianggap paling penting dan menonjol adalah: (1) Metode dialog Qur’ani dan Nabawi, 2) Mendidik melalui kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi, (3) Mendidik melalui perumpamaan Qur’ani dan Nabawi, (4) Mendidik melalui keteladanan, (5) Mendidik melalui aplikasi dan pengalaman, (6)  Mendidik melalui ibrah dan nasihat, dan (7) Mendidik melalui targhib dan tarhib. Sedangkan menurut Gymnastiar (2005) bahwa mendidik anak dalam rumah tangga tentu saja harus diiringi dengan kekuatan akhlak yang baik dari para orangtua. Sebab jika tidak, maka akan memperlemah atau menimbulkan kekecewaan dan konflik batin dalam diri anak. Bagaimanapun anak akan melihat sikap dan prilaku kedua orangtuanya. Maka dari itu, mulailah berlomba-lomba untuk member contoh bagaimana memuliakan suami atau istri, sehingga hari demi hari di dalam jiwa anak akan semakin tumbuh kebanggaan akan orangtuanya.

Sementara menurut Tafsir (1996) bahwa ada beberapa prinsip yang sebaiknya diperhatikan oleh orang tua dalam penanaman keimanan dan akhlak karimah di hati anak-anaknya di rumah tangga. Pertama, membina hubungan harmonis dan akrab antara suami dan istri (ayah dan ibu). Kedua, membina hubungan harmonis dan akrab antar orangtua dengan anak. Ketiga, mendidik (membiasakan, memberi contoh dan lain-lain) sesuai dengan tuntunan Islam.  Sedangkan menurut Rehani (2003) bahwa orangtua harus memberikan teladan kepada anak-anaknya baik dalam perkataan, perbuatan dan akhlaknya. Keteladan orangtua memiliki pengaruh yang cukup besar pada diri anak. Karena anak akan selalu meniru dari apa yang mereka lihat dan mereka dengar.

Menurut Nashih Ulwan (1992) bahwa dalam mempersiapkan moral pemikiran dan jiwa anak, membentuk fisik dan tingkah laku sosial kemasyarakatannya, agar ia menjadi manusia yang baik bagi agama dan umatnya, dan menjadi anggota keluarga dan masyarakat yang berguna, yang harus dilakukan oleh pendidik adalah: (1) Menanamkan kerinduan anak kepada usaha yang paling mulia; (2) Menyalurkan bakat fitri anak; (3) Memberikan kesempatan bermain kepada anak; (4) Menjalin hubungan baik antara rumah, masjid dan sekolah; (5) Memperkuat hubungan antara pendidik dan anak didik; (6) Menerapkan aturan pendidik sepanjang siang dan malam; (7) Menyediakan sarana-sarana kebudayaan yang bermanfaat; (8) menanamkan kecintaan anak terhadap belajar yang berkesinambungan; (9) Menanamkan rasa tanggung jawab terus menerus terhadap Islam pada anak; (10) Memperdalam ruh (semangat) jihad pada jiwa anak.

Oleh karena itu lingkungan keluarga memiliki peranan yang sangat penting bagi penyadaran,  penanaman, dan pengembangan nilai. Keluarga merupakan perekat utama perasaan yang terpadu antara sifat mengayomi dari orang tua dan sifat diayomi pada anak. Pendidikan dalam keluargalah merupakan pendidikan nilai yang paling hakiki karena berlangsung sejak anak berada dalam kandungan sampai anak meninggal dunia.

Kalau terjadi kecenderungan menipisnya ikatan emosional anak terhadap orang tua atau sebaliknya, maka ini merupakan tantangan berat pendidikan nilai dalam keluarga. Kondisi seperti ini terjadi karena akibat pergeseran nilai-nilai kehidupan manusia yang mempengaruhi nilai kehidupan dalam keluarga. Untuk itu, keluarga harus membangun pendidikan nilai dalam lingkungan keluarga atau dalam rumah sebagai area pembelajaran nilai.

Dengan demikian pendidikan di rumah tangga akan berhasil ketika setiap keluarga mampu menerapkan dan mengaplikasikan beberapa model pendidikan dalam keluarga di atas. Dan pada akhirnya kita akan menciptakan anak-anak yang bukan hanya pintar tapi dia juga berakhlakul karimah.

  1. Pendidikan Nilai di Sekolah

Sebagai institusi sosial, sekolah memiliki peranan dan fungsi tersendiri. Sekolah berperan membimbing dan mengarahkan siswa untuk mengenal, memahami, dan mengaktualisasikan pola hidup yang berlaku dalam masyarakat. (Sauri, 2003). Peranan sekolah tidak berhenti pada pewarisan dan pelestarian nilai, tetapi juga menjadi lokomotif pembaharuan masyarakat atau agen of change, karena bagaimanapun sekolah merupakan wahana pembinaan manusia yang akan mengisi masa depan masyarakat. Kondisi dan situasi di masa depan berbeda dengan kondisi dan situasi hari ini. Karena itu orientasi sekolah adalah orientasi masa depan dengan segala perangkat sistem nilainya. Proses pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi kurikulum, tetapi pengembangan dan reproduksi budaya dan kebiasaan baru yang lebih unggul seyogyanya dilakukan. Penanaman nilai-nilai positif dalam lingkungan sekolah akan memberikan warna dan kekuatan bagi peserta didik dalam mengarungi masa depannya dengan gemilang.

Berdasarkan hasil penelitian Firmasyah (2008) bahwa pembelajaran nilai-nilai di sekolah untuk mata pelajaran umum diperkaya dengan nilai-nilai ketauhidan, kecuali untuk mata pelajaran keagamaan telah memiliki muatan yang terintegrasi secara eksplisit dengan adanya nilai-nilai ketauhidan. Hanya saja nilai-nilai ketauhidan yang disampaikan guru masih berada pada ranah pendidikan kognitif bagi anak, sehingga belum dapat disampaikan sebagai pendidikan aplikatif bagi anak dalam kehidupan persekolahannya.

Berbagai pendekatan penanaman nilai hendaknya dilakukan di sekolah. Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah pendekatan yang paling tepat digunakan dalam pelaksanaan Pendidikan Nilai di Indonesia. Walaupun pendekatan ini dikritik sebagai pendekatan indoktrinatif oleh penganut filsafat liberal, seperti telah diuraikan di atas, namun berdasarkan kepada nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia dan falsafah Pancasila, pendekatan ini dipandang masih sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Sauri (2006) mengemukakan alasan-alasan untuk mendukung pandangan ini antara lain sebagai berikut:

a)    Tujuan Pendidikan Nilai adalah penanaman nilai-nilai tertentu dalam diri siswa. Pengajarannya bertitik tolak dari nilai-nilai sosial tertentu, yakni nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia lainnya, yang tumbuh dan berkembangan dalam masyarakat Indonesia.

b)    Menurut nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia dan pandangan hidup Pancasila, manusia memiliki berbagai hak dan kewajiban dalam hidupnya. Setiap hak senantiasa disertai dengan kewajiban, misalnya: hak sebagai pembeli, disertai kewajiban sebagai pembeli terhadap penjual; hak sebagai anak, disertai dengan kewajiban sebagai anak terhadap orang tua; hak sebagai pegawai negeri, disertai kewajiban sebagai pegawai negeri terhadap masyarakat dan negara; dan sebagainya. Dalam rangka Pendidikan Nilai, siswa perlu diperkenalkan dengan hak dan kewajibannya, supaya menyadari dan dapat melaksanakan hak dan kewajiban tersebut dengan sebaik-baiknya.

c)    Selanjutnya, menurut konsep Pancasila, hakikat manusia adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa, makhluk sosial, dan makhluk individu. Sehubungan dengan hakikatnya itu, manusia memiliki hak dan kewajiban asasi, sebagai hak dan kewajiban dasar yang melekat eksistensi kemanusiaannya itu. Hak dan kewajiban asasi tersebut juga dihargai secara berimbang. Dalam rangka Pendidikan Nilai, siswa juga perlu diperkenalkan dengan hak dan kewajiban asasinya sebagai manusia.

d)    Dalam pengajaran nilai di Indonesia, faktor isi atau nilai merupakan hal yang amat penting. Dalam hal ini berbeda dengan pendidikan moral dalam masyarakat liberal, yang hanya mementingkan proses atau keterampilan dalam membuat pertimbangan moral. Pengajaran nilai menurut pandangan tersebut adalah suatu indoktrinasi, yang harus dijauhi. Anak harus diberikan kebebasan untuk memilih dan menentukan nilainya sendiri. Pandangan ini berbeda dengan falsafah Pancasila dan budaya luhur bangsa Indonesia, yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Misalnya, berzina, berjudi, adalah perhuatan tercela, yang harus dihindari; orang tua harus dihormati, dan sebagainya. Nilai-nilai ini harus diajarkan kepada anak, sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, dalam pengajaran Nilai faktor isi nilai dan proses, keduanya sama-sama dipentingkan.

Berbagai metode pengajaran yang digunakan dalam pendekatan-pendekatan lain dapat digunakan juga dalam pengajaran Pendidikan Nilai. Implementasinya sebagai berikut:

a)    Metode yang digunakan dalam Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif. Misalnya mengangkat dan mendiskusikan kasus atau masalah Nilai dalam masyarakat yang mengandung dilemma, untuk didiskusikan dalam kelas. Penggunaan metoda ini akan dapat menghidupkan suasana kelas. Namun berbeda dengan Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif di mana yang memberi kebebasan penuh kepada siswa untuk berpikir dan sampai pada kesimpulan yang sesuai dengan tingkat perkembangan moral reasoning masing-masing, dalam pengajaran Pendidikan Nilai siswa diarahkan sampai pada kesimpulan akhir yang sama, sesuai dengan nilai-nilai sosial tertentu, yang bersumber dari Pancasila dan budaya luhur bangsa Indonesia.

b)    Metode pengajaran yang digunakan Pendekatan Analisis Nilai, khususnya prosedur analisis nilai dan penyelesaian masalah yang ditawarkan, bermanfaat jua untuk diaplikasikan sebagai salah satu strategi dalam proses pengajaran Pendidikan Nilai. Seperti telah dijelaskan, dalam mata pelajaran ini, aspek perkembangan kognitif merupakan aspek yang dipentingkan juga, yakni untuk mendukung dan menjadi dasar bagi pengembangan sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang ingin ditanamkan. Hal ini sejalan dengan penegasan Hatton (1997) bahwa pengetahuan dan pemahaman konsep adalah penting dalam pendidikan moral, untuk membentuk sikap moral yang lebih stabil dalam diri seseorang.

c)    Metode pengajaran yang digunakan dalam Pendekatan Klarifikasi Nilai, dengan memperhatikan faktor keadaan serta bahan pelajarannya yang relevan, dapat diaplikasikan juga dalam pengajaran Pendidikan Nilai. Namun demikian, seperti dijelaskan oleh Puspa Djuwita (2005) penggunaannya perlu hati-hati, supaya tidak membuka kesempatan bagi siswa, untuk memilih nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakatnya, terutama nilai-nilai Agama dan nilai-nilai Pancasila yang ingin dibudayakan dan ditanamkan dalam diri mereka.

d)    Metode pengajaran yang digunakan dalam Pendekatan Pembelajaran Berbuat bermanfaat juga untuk diaplikasikan dalam pengajaran “Pendidikan Pancasila” di Indonesia, khususnya pada peringkat sekolah lanjutan tingkat atas. Para siswa pada peringkat ini lebih tepat untuk melakukan tugas-tugas di luar ruang kelas, yang dikembangkan untuk meningkatkan kompetensi yang berhubungan dengan lingkungan, seperti yang dituntut oleh pendekatan ini. Namun demikian, mengingat kelemahan-kelemahan pendekatan ini, seperti dikemukakan di atas, penggunaan metoda dan strategi pengajaran berdasarkan kepada pendekatan ini dapat digunakan dalam batas-batas yang memungkinkan. Untuk ini perlu dirumuskan program-program yang sederhana dan memungkinkan untuk dilaksanakan pada masing-masing sekolah.

  1. Pendidikan Nilai di Masyarakat

Kemerosotan nilai-nilai moral yang mulai melanda masyarakat kita saat ini tidak lepas dari ketidakefektifan penanaman nilai-nilai moral, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun di masyarakat secara keseluruhan.

Pendidikan nilai di masyarakat dapat dilakukan oleh tokoh masyarakat dengan menyelenggarakan berbagai macam kegiatan positif, salah satunya ialah mengadakan dialog dalam pertemuan-pertemuan terprogram di masjid atau pesantren, di mana ia dan masyarakat membahas nilai-nilai aplikatif dan produktif untuk kehidupan bermasyarakat.

Mengetahui nilai apa yang benar dan melakukan apa yang benar adalah dua hal yang berbeda. Orang dapat saja sekaligus mengetahui apa yang benar dan tidak melakukannya atau bahkan melakukan kebalikan dari apa yang diketahui benar itu. Oleh karena itu menurut Lickona (1997) mengungkapkan pengetahuan nilai moral saja tidaklah cukup. Nilai moral perlu disertai dengan adanya karakter bermoral. Termasuk dalam karakter ini adalah pengetahuan moral (moral knowing), rasa moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action).

Lebih lanjut Lictona (1992) menyatakan bahwa nilai-nilai moral yang perlu disosialisasikan dan diterapkan di masyarakat  dewasa ini umumnya mencakup:

Pertama, kebebasan dan otoritas: kebebasan memiliki makna majemuk dalam proses pendidikan formal, nonformal, dan informal. Selama hayat dikandung badan, tak seorang pun memiliki kebebasan mutlak. Manusia perlu berani untuk hidup dan tampil berbeda dari yang lain tanpa melupakan prinsip hidup dalam kebersamaan. Kebebasan manusia pada hakikatnya bukan kebebasan liar, tetapi kebebasan terkontrol. Kebebasan tanpa tanggung jawab mengundang pemegang roda pemerintahan dalam republik ini untuk menyelewengkan kuasa mereka demi kepentingan terselubung mereka. Kekuasaan yang seharusnya diterapkan adalah kekuasaan nutritif yang menyejahterakan hidup rakyat banyak.

Kedua, kedisiplinan merupakan salah satu masalah akbar dalam proses membangun negara ini. Kedisiplinan rendah! Sampah bertebaran, para pemegang kuasa menunjukkan posisi mereka dengan menggunakan “jam karet”, aturan lalu lintas tak pernah sungguh-sungguh ditaati, tidak sedikit polantas hanya duduk-duduk di bawah pondok di sudut dan mengintai pelanggar lalu lintas; kedisiplinan mengatur lalu lintas memprihatinkan; banyak oknum disiplin dalam tindak kejahatan, seperti korupsi; kedisiplinan dalam penegakan hukum positif terasa lemah sehingga kerusuhan sosial sering terulang di beberapa tempat.

Ketiga, nurani yang benar, baik, jujur, dan tak sesat berperan penting dalam proses sosialisasi nilai moral dalam negara kita. Hati nurani perlu mendapat pembinaan terus-menerus supaya tak sesat, buta, dan bahkan mati. Para pemegang roda pemerintahan negara kita, para pendidik, peserta didik, dan seluruh anasir masyarakat seharusnya memiliki hati nurani yang terbina baik dan bukan hati nurani “liar” dan sesat. Keadaan sosial negara kita kini adalah cermin hati nurani anak-anak bangsa. Penggelapan dan permainan uang oleh pegawai-pegawai pajak, “pembobolan” uang di bank menunjukkan nurani manusia yang kian korup”.

Pada dimensi moralitas  yang harus dipahami, adalah perilaku dan akibat dari perilaku manusia tidak bisa lepas dari nilai-nilai moral yang dianut oleh masyarakat. Tolok ukur baik buruknya moralitas manusia, terletak pada hati nurani dan norma berupa nilai-nilai moral yang dianut masyarakat.

Masyarakat yang kurang produktif tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga orang lain bahkan bangsa secara keseluruhan. Demikian juga tidak hanya kurang menguntungkan untuk masa sekarang tetapi juga untuk masa depan. Banyak alternatif yang dapat dipilih dan memiliki sumbangan yang sangat berarti bagi pembentukan kepribadian masyarakat yang bermoral. Salah satu alternatif yang memiliki efektivitas yang tinggi adalah pendidikan nilai/moral.

 

  1. D.   Penutup

Pendidikan nilai adalah langkah yang tepat bagi bangsa ini untuk membangun kehidupan bangsa, di mana setiap individu menjadi cerdas, berakhlak mulia, dan mandiri dalam segala dimensi kehdiupannya. Pendidikan nilai pada hakekatnya menuntun setiap individu dalam berbagai kemampuan intelektual, emosional, da spritual dalam membangun kepribadian yang harmonis. Hal ini jelas dengan ditunjang oleh berbagai ilmu pengetahuan baik melalui teori maupun praktek dari berbagai cabang ilmu. Singkatnya, tanpa mengurangi peranan dimensi kehidupan lain, pendidikan nilai adlaah wadah yang menciptakan seseorang untuk membangun nilai-nilai yang positif bagi diri dan sesamanya menuju manusia yang utuh, insan kamil

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

An-Nahlawi, Abdurahman. (2004). Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam (terj.Editor Djawad Dahlan). Bandung: Diponegoro.

An-Nahlawi, Abdurahman. (1995). Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, Penerjemahan Shihabuddin, Jakarta: Gema Insani Press.

Djuwita, Puspa. (2005). Upaya Pewarisan Budaya Belagham Melalui Pendidikan dan Personalisasi Nilai dalam Keluarga. Bandung: PPs (tidak diterbitkan).

Firmansyah, Herlan. (2008). Integrasi Nilai-Nilai Ketauhidan Dalam Pembelajaran Ekonomi  Di Persekolahan. Tesis PPS UPI.Tidak diterbitkan.

Gymnastiar, Abdullah. (2005). Sakinah (Manajemen Qolbu Untuk Keluarga). Bandung: MQ Publishing.

Hatton, M.J. (1997). Lifelong Learning: Policies, Practice and Program.

Canada APEC.

Lickona, T. (1992). Educating For Character. How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Lickona, T. (1997). Character Development in the Family. Dlm. Ryan, K. & McLean, G.F. Character Development in School and Beyond: 253-273. New York: Praeger.

Lickona, T. E. Schaps, and C. Lewis. (2003). Eleven Principles of Effective Character Education. Washington, D.C: Character Education Partnership.

Mulyana, Rahmat. (2004).Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung : Alfabeta

Qaimi, Ali. (2003). Mengajarkan Keberanian dan Kejujuran Kepada Anak. Bogor: Cahaya Press.

 

Rehani. (2003). Berawal Dari Keluarga (Revolusi Belajar Cara Al-Quran). Bandung: Hikmah

Sauri, S. (2003). Pengembangan Strategi Pendidikan Berbahasa Santun di Sekolah, Bandung: PPS UPI. (Disertasi) Tidak dipublikasikan

Sauri, S. (2006). Membangun Komunikasi dalam Keluarga. Bandung: Grapindo

Sauri, S. (2006). Pendidikan Berbahasa Santun, Bandung: Grapindo.

Sauri, S (2010). Filsafat Teosofat Akhlak, Bandung: Rizqi

Tafsir, A. (1996). Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ulwan, N.A., (1992). Pendidikan Anak Menurut Islam (Kaidah-Kaidah Dasar). Bandung: Rosdakarya.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003.

 

* Disajikan pada Kegiatan Seminar Pendidikan Nilai Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Aula Masjid Wadhhah Al Bahr Pusdiklat Dewan Da’wah Setia Mekar  Tambun Selatan-Bekasi Tanggal 13 Maret 2011

 

 

 

 

 

 

 

Sorry, the comment form is closed at this time.