Google

Strategi Meningkatkan Kualitas Akhlak Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran

Written on:February 14, 2012
Comments are closed

Oleh Sofyan Sauri

(Guru Besar pada Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI)

  1. A.   Pendahuluan

Fenomena melorotnya akhlak generasi bangsa, termasuk di dalamnya para elit bangsa, acapkali menjadi apologi bagi sebagian orang untuk memberikan kritik pedasnya terhadap institusi pendidikan. Hal tersebut teramat wajar karena pendidikan sesungguhnya memiliki misi yang amat mendasar yakni membentuk manusia utuh dengan akhlak sebagai salah satu indikator utama, generasi bangsa dengan karatekter akhlak mulia merupakan salah satu profil yang diharapkan dari praktik pendidikan nasional. Hal tersebut tersurat dalam bunyi UU No. 20 tahun 2003 bab II pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Adanya kata-kata berakhlak mulia dalam rumusan tujuan pendidikan nasional di atas mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia mencita-citakan agar akhlak mulia menjadi bagian dari karakter nasional. Hal tersebut diharapkan dapat terwujud melalui proses pendidikan nasional yang dilakukan secar berjenjang dan berkelanjutan. Terlebih bangsa Indonesia dengan mayoritas muslim menjadi daya dukung tersendiri bagi terwujudnya masyarakat dengan akhlak yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam. Hal tersebut dikarenakan akhlak menjadi bagian integral dari struktur ajaran islam (akidah, syariah dan akhlak).

Dalam praktik pendidikan nasional dewasa ini, terdapat distorsi antara cita-cita pendidikan nasional dengan realitas sosial yang terjadi. Berbagai fenomena nasional menunjukkan gejala-gejala yang  mengkhawatirkan terkait dengan akhlak generasi dan elit bangsa. Hal yang lebih mengkhawatir lagi adalah bahwa anomali akhlak tersebut tidak sedikit yang terjadi di dalam lingkungan pendidan itu sendiri, bahkan dilakukan oleh pelaku pendidikan. Fenomena yang mengkhawatirkan tersebut diantaranya bisa kita simak dari berita yang dipublikasikan berbagai media seringkali membuat kita miris mendengarnya, perkelahian (sisiwa-siswa, siswa guru, anak orang tua, siswa kepala sekolah), pergaulan bebas, siswa dan mahasiswa terlibat kasus narkoba, remaja usia sekolah yang melakukan perbuatan amoral, kebut-kebutan di jalanan yang dilakukan remaja usia sekolah, menjamurnya geng motor yang beranggotakan remaja usia sekolah, siswa bermain di pusat perbelanjaan pada saat jam pelajaran, hingga siswa Sekolah Dasar (SD) yang merayakan kelulusan dengan pesta minuman keras.

Masih teringat pula di benak kita ketika tahun 2005 terjadi peristiwa penyimpangan moral di salah satu SMA Negeri di Jawa Barat yang melibatkan 11 Siswa/i dan oknum guru. Demikian halnya dengan hasil Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 2.880 remaja usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat pada 2002, juga menunjukkan angka menyedihkan. Sebanyak 39,65% dari mereka pernah berhubungan seks sebelum nikah (Gatra Nomor 3 Beredar Senin, 28 November 2005). Selain itu, banyak juga kasus-kasus kenakalan anak pada usia sekolah dasar yang bahkan tak jarang merenggut nyawa si anak, seperti kasus smack down yang sempat meramaikan dunia pendidikan kita. Penyimpangan-penyimpangan tersebut bukan hanya dilakukan oleh peserta didik, melainkan kepala sekolah dan pendidiknya sendiri tidak sedikit yang mempertontonkan prilaku amoral, sebagai contoh berdasarkan laporan ICW (Pikiran Rakyat, 18/11/2006) ditemukan kasus yang sangat mencoreng dunia pendidikan, yaitu penyalahgunaan dana BOS yang disinyalir banyak “disunat” oleh para birokrat pendidikan (kepala sekolah dan dinas pendidikan).

Indikator lain yang menunjukkan adanya gejala melorotnya akhlak generasi bangsa bisa dilihat dari praktik sopan santun siswa yang kini sudah mulai memudar, di antaranya bisa kita lihat dari cara berbicara sesama mereka, prilakunya terhadap guru dan orangtua, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat, kata-kata kotor yang tidak sepantasnya diucapkan oleh anak seusianya seringkali terlontar. Sikap ramah terhadap guru ketika bertemu dan penuh hormat terhadap orangtua pun tampaknya sudah menjadi sesuatu yang sulit ditemukan di kalangan anak usia sekolah dewasa ini. Anak-anak usia sekolah seringkali menggunakan bahasa yang jauh dari tatanan nilai budaya masyarakat. Bahasa yang kerap digunakan tidak lagi menjadi ciri dari sebuah bangsa yang menjunjung tinggi etika dan kelemahlembutan.

Berdasarkan kajian bahasa di kalangan siswa yang dilakukan oleh Sauri (2002) umumnya mereka menggunakan kosa kata bahasa yang kurang santun dilihat dari segi gramatik. Yudibrata (2001: 14) menyatakan bahwa seorang siswa SMA berbicara dalam bahasa Sunda kepada orang lain tanpa mempedulikan perbedaan umur, kedudukan sosial, waktu, dan tempat. Kata-kata yang digunakan remaja usia sekolah bebas tanpa didasari oleh pertimbangan-pertimbangan moral, nilai, ataupun agama. Akibatnya, lahir berbagai pertentangan dan perselisihan di masyarakat. Dahlan (2001:7) mensinyalir betapa banyak orang yang tersinggung oleh kata-kata yang tajam, apalagi dengan sikap agresivitasnya. Berbahasa tidak santun dapat melahirkan kesenjangan komunikasi sehingga  menimbulkan situasi yang buruk dalam berbagai lingkungan baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Hal ini sejalan dengan penjelasan Hawari (1999: 77) bahwa tawuran, penyalahgunaan obat terlarang, dan tindakan kriminal di kalangan remaja, disebabkan oleh tidak adanya komunikasi yang lebih baik antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Hal yang membuat kita terenyuh bahwa penyimpangan-penyimpangan tersebut dilakukan oleh mereka yang sehari-harinya menikmati “racikan kurikulum” pendidikan nasional. Banyak faktor tentunya yang menyebabkan fenomena tersebut terjadi. Jika ditinjau dari komponen penyelenggaraan pendidikan, maka terdapat beberapa faktor yang berpengaruh, di antaranya faktor pendidik/guru, kurikulum (materi.metode,media, sumber,evaluasi), sarana dan prasarana serta faktor kepemimpinan pada satuan pendidikan.

Dalam konteks makalah ini, penulis ingin menyoroti masalah melorotnya akhlak generasi dan elit bangsa ini dari perspektif pembelajaran. Dalam arti bahwa akar masalah sekaligus solusi atas masalah penurunan akhlak bangsa dimulai dari memperbaiki praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh para pendidik. Hal tersebut akan menjadi solusi jangka panjang sekaligus langkah nyata dan sistemik bagi terwujudnya cita-cita pendidikan  nasional yang menginginkan lahirnya generasi bangsa dengan akhlak mulia sebagai salah satu karakter yang diharapkan terwujud secara nasional.

 

  1. B.   Hakikat Pembelajaran

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yang bermakna memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan mempunyai pengertian proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.  Abdurahman Al Bani dalam An-Nahlawi (1989) memaknai pendidikan sebagai proses menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh, mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam, mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kebaikan dan kesempunaan secara bertahap. Sementara landasan yuridis bangsa Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan “….kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa, seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…”. Merujuk kepada rumusan pembukaan UUD 1945 tersebut jelas bahwa pendidikan menjadi salah satu dari tujuan bangsa ini, sehingga isu pendidikan memiliki kedudukan yang strategis untuk selalu dikaji dan dikembangkan.

UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, sikap sosial, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Adapun Djahiri (2007:1) mengungkapkan bahwa dalam pembaharuan paradigma pendidikan, kata pembelajaran lebih banyak digunakan  karena di dalamnya mengandung pengertian belajar secara utuh, baik secara programatik maupun prosedural serta hasil perolehannya. Secara programatik pembelajaran dimaknai seperangkat komponen rancangan pelajaran yang memuat hasil pilihan dan ramuan profesional perancang/guru untuk dibelajarkan kepada peserta didiknya. Rancangan ini meliputi 5 komponen (M3SE) yakni; (1) Materi atau bahan pelajaran, (2) Metode atau kegiatan belajar-mengajar, (3) Media pelajaran atau alat bantu, (4) Sumber sub 1-2-3, (5) Pola Evaluasi atau penilaian perolehan belajar. Secara prosedural, pembelajaran adalah proses interaksi/interadiasi antara kegiatan belajar siswa (KBS) dengan kegiatan mengajar guru (KMG) serta dengan lingkungan belajarnya (learning environment).

Sementara Hamalik (1995:57) berpendapat bahwa pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia yang terlibat dalam sistem pembelajaran adalah siswa, guru, dan tenaga lainnya. Material meliputi buku-buku, papan tulis, kapur, fotografi, slide dan film, audio, serta video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri atas ruangan kelas, perlengkapan audio visual, dan komputer. Sementara prosedur terdiri atas jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya.  Terdapat tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran, yaitu sebagai berikut:

  1. Rencana, yaitu penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus.
  2. Kesaling tergantungan (interdependence) antara unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Setiap unsur bersifat esensial dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
  3. Tujuan, yaitu bahwa sistem pembelajaran memliki tujuan tertentu yang hendak dicapai. Ciri ini menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dan sistem yang alami (natural). Tujuan sistem menuntun proses merancang sistem. Tujuan utama sistem pembelajaran adalah agar siswa belajar. Adapun tugas seorang perancang sistem adalah mengorganisasi tenaga, material, dan prosedur agar siswa belajar secara efisien dan efektif.

 

  1. C.   Hakikat Akhlak dan Pendidikan Akhlak

Akhlak adalah jamak dari khuluq yang berarti adat kebiasaan (al-adat), perangai, tabiat (al sajiyyat), watak (al thab), adab/sopan santun (al muru’at), dan agama (al din). Menurut para ahli masa lalu (al qudama), akhlak adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara spontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan. Akhlak  dimaknai juga sebagai semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik atau buruk.Dalam bahasa Indonesia, akhlaq dapat diartikan dengan akhlak, moral, etika, watak, budi pekerti, tingkah laku, perangai dan kesusilaan.

Akhlak disebut juga ilmu tingkah laku/perangai (‘ilm al – suluk), atau tahzib al ahlak (falsafat ahlak), atau al–hikmat al – ‘amaliyyat  yang dimaksud adalah pengetahuan tentang keutamaan-keutamaan dan cara memperolehnya, agar jiwa menjadi bersih dan pengetahuan tentang kehinaan-kehinaan jiwa untuk mensucikannya.  Menurut Daradjat (1990:253) yang dimaksud dengan akhlak secara bahasa berasal dari kata khalaqa yang kata asalnya khuluqun yang berarti perangai, tabia’at, adat atau halqun yang berarti kejadian, buatan ciptaan. Jadi secara etimologi akhlak itu berarti perangai, adat, tabiat, atau sistem perilaku yang dibuat.

Berdasarkan uraian tersebut diatas akhlak secara kebahasaan bisa baik atau buruk tergantung kepada tata nilai yang dipakai sebagai landasannya, meskipun secara sosiologis di Indonesia kata akhlak sudah mengandung konotasi baik, orang yang berakhlak berarti orang yang baik. Adapun hakikat pendidikan akhlak itu sendiri adalah inti pendidikan semua jenis pendidikan, karena ia mengarahkan pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang, dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya. Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlak bukan monolitik dalam pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata pelajaran atau lembaga, melainkan terintegrasi ke dalam berbagai mata pelajaran.

Berbeda dengan pendidikan secara umum, pendidikan akhlak terbagi kedalam dua aliran: rasional dan mistik. yang dimaksud dengan pendidikan akhlak rasional adalah pendidikan akhlak yang memberikan porsi lebih kuat kepada kependidikan daya pikir (rasio) manusia, sedangkan pendidikan akhlak mistik memberikan porsi lebih kuat kepada pendidikan daya rasa dalam diri manusia.

Dalam Islam, kedua aliran ini berangkat dari sumber yang sama, yaitu ajaran Islam. Akan tetapi keduanya terdapat perbedaan filosofis dalam memahami dan menerapkan ajaran Islam. Perbedaan tersebut pada dasarnya berpulang pada perbedaan teologi. Sistem teologi yang memberi peran besar terhadap kemampuan akal lebih cenderung kepada pemikiran akhlak rasional, sementara sistem teologi yang kurang memberi peran besar terhadap kemampuan akal manusia lebih cenderung untuk berteologi tradisional dan selanjutnya mempunyai kecendrungan kepada pemikiran akhlak mistik pemikiran akhlak yang memberi peran besar bagi kekuatan akal cenderung memberi kebebasan terhadap manusia untuk berbuat menentukan dirinya sendiri secara lebih dibandingkan dengan pemikiran akhlak yang memberi peran kecil bagi kekuatan akal. Dengan menempatkan manusia sebagai makhluk yang lebih otonom dibandingkan pada pemikiran akhlak tradisional. Pemikiran akhlak tradisional lebih cenderung mengangap manusia sebagi mahluk yang heteronom.

Penggolongan manusia pada mahluk otonom dan hetoronom didasarkan atas pandangan mengenai kebebasan dan kekuasaanya. Pendapat yang mengatakan bahwa manusia mempuyai kebebasan dan kekuatan berbuat dalam menentukan dirinya sendiri, menggolongkan manusia sebagai mahluk otonom, sedangkan pendapat yang menyatakan  bahwa manusia kurang memiliki kebebasan dan kekuasaan berbuat untuk menentukan diri sendiri cenderung memasukan manusia sebagai makhluk hetoronom.

Konsekuensi pada pendidikan akhlak rasional memberikan dorongan kuat bagi terciptannya manusia dinamis. Adapun konsekuensi yang diperoleh dari pendidikan akhlak mistik kurang memberikan dorongan kuat bagi terciptanya manusia yang dinamis. Ibnu Miskawaih (2003:114-139) dalam bukunya Filsafat Akhlak memberikan konsepsi tentang pendidikan akhlak sebagai berikut:

  1. 1.    Landasan

Ibn Miskawaih banyak mengutip pendapat para filosof Yunani dan filosof Muslim sebelumnya, bahkan kata-kata hikmah dari Persia dan India. Akan tetapi untuk memperkuat pendapat yang dikemukakan, ia juga mengutip ayat-ayat Al-Quran, Hadis, ucapan Ali ibn Thalib, dan puisi-puisi arab. Karena itu, “Abd Al-Rahman Badawi seperti dikutip M.M Syarif berpendapat bahwa kebudayaan Islam mempunyai pengaruh penting terhadap pemikiran Ibn Miskawaih.

Hal yang dijadikan landasan bagi Ibnu Miskawaih untuk mengemukakan pemikiran-pemikirannya adalah Al-Qur’an dan Hadis dilengkapi dengan beberapa pemikiran filosof Yunani, Persia,India. Sastrawan Arab, dan pata filosof Muslim.

  1. 2.      Tujuan

Tujuan pendidikan akhlak yang dirumuskan Ibn Miskawaih adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan bernilai baik, sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan yang sempurna (al-sa’adat). Dengan alasan ini, maka Ahmad’AbdAl-Hamid Al-Sya’ir dan Muhammad Yusuf Musa menggolongkan Ibn Miskawaih sebagai filosof yang bermazhab al-sa’adat di bidang akhlak. Al-sa’adat memang merupakan persoalan utama dan mendasar bagi hidup manusia dan sekaligus bagi pendidikan akhlak. Al-sa’adat merupakan konsep komprehesif yang di dalamnya terkandung unsur kebahagiaan (happiness), kemakmuran (prosperity), keberhasilan (success), kesempurnaan (perfection), kesenangan (blessedness), dan kebagusan/kecantikan.

Seperti telah disinggung pada pembahasan sebelumnya, al-sa’adat dalam pengertian di atas, hanya bisa diraih oleh para nabi dan filosof. Ibn Miskawaih juga meyadari bahwa, orang yang mencapai tingkatan ini sangat sedikit. Oleh sebab itu, akhirnya ia perlu menjelaskan adanya perbedaan antara kebaikan (al-khair) dan al-sa’adat. Di samping juga membuat berbagai tingkatan al-sa’adat. Kebaikan bisa bersifat umum. sedangkan al-sa’adat merupakan kebaikan relatif, bergantung orang perorang (al-khair bi al-idafat ila shahibiha). Menurutnya, kebaikan mengandung arti segala sesuatu yang bernilai (al-syai’ al-nafi). Oleh karenanya, kebaikan merupakan tujuan setiap orang.

  1. 3.    Materi

Untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan, Ibn Miskawaih menyebutkan beberapa hal yang perlu di pelajari, diajarkan atau di praktikan. Sesuai dengan konsepnya tentang manusia, secara umum Ibn Miskawaih menghendaki agar semua sisi kemanusiaan mendapatkan materi yang memberikan jalan bagi tercapainya tujuan. Materi-materi tersebut oleh Ibn Miswaih dijadikan pula sebagai bentuk pengabdian terhadap Allah swt

Ibn Miskawaih menyebut tiga hal pokok yang dapat dipahami sebagai materi pendidikan akhlaknya:1) hal-hal yang wajib bagi kebutuhan tubuh, 2) hal-hal yang wajib bagi jiwa, dan 3) hal-hal yang wajib bagi hubugnannya dengan sesama manusia. Berbeda dengan Al Ghazali, Ibn Miskawaih tidak membeda-bedakan antara materi dalam ilmu agama dan bukan ilmu agama, dan hukum mempelajarinya.

  1. 4.    Pendidik dan Anak Didik   

Menurut Ibn Miskawaih orang tua merupakan pendidik pertama bagi anak-anaknya. Materi utama yang perlu di jadikan acuan pendidikin dari orang tua kepada anaknya adalah syari’at. Ibn Miskawaih berpendapat bahwa, penerimaan secara taklid bagi anak-anak untuk mematuhi syariat tidak menjadi persoalan. Dasar pertimbangannya adalah karena semakin lama anak-anak akan mengetahui penjelasan atau alasannya, dan akhirnya mereka tetap memelihara sehingga dapat mencapai keutamaan.

Guru berfungsi sebagai orang tua atau bapak ruhani, tuan manusiawi atau orang yang dimuliakan, kebaikan yang akan diberikan adalah kebaikan Illahi, karena ia membawa anak didik kepada kearifan, mengisinya dengan kebajikan yang tinggi dan menunjukan kepada mereka kehidupan abadi.

5. Lingkungan  Pendidikan   

Ibn Miskawaih berpendapat bahwa, usaha mencapai alsa’adat tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus bersama atas dasar saling tolong-menolong dan saling melengkapi,  kondisi demikian akan tercipta kalau sesama manusia saling mencintai. Setiap pribadi merasa bahwa kesempurnaan sendirinya akan terwujud karena kesempurnaan yang lainnya. Jika tidak demikian, maka alsa’adat tidak dapat terwujud sebagai makhluk sosial. Ibn Miskawaih berpendapat nahwa selama di alam ini, manusia memerlukan kondisi yang baik di luar dirinya. Ia juga menyatakan bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang berbuat baik terhadap keluarganya dan orang-orang yang masih ada kaitan dengannya, mulai dari saudara, anak, kerabat, keturunan, rekanan, tetangga, hingga teman.

Disamping itu, Miskawaih berpendapat bahwa salah satu tabi’at manusia adalah tabi’at memelihara diri, karena itu manusia selalu berusaha untuk memperolehnya bersama dengan mahluk sejenisnya. Diantara cara untuk menempuhnya adalah dengan saling bertemu, manfaat dari pertemuan diantaranya adalah akan  memperkuat aqidah yang benar dan kestabilan cinta sesamanya.

 

  1. D.   Pendekatan-Pendekatan dalam Pendidikan Akhlak

Ibn Miskawaih  memberikan referensi  tentang metodelogi dalam melakukan pendidikan akhlak sebagai berikut:

  1. 1.    Perubahan Akhlak

Untuk mengetahui konsep Ibn Miswaih tentang metode perbaikan akhlak, sebelumnya perlu di ketahui pendapatnya tentang perubahan akhlak. Menurutnya bahwa akhlak itu ada dua macam, yakni 1) ada yang thabi’i atau alami dibawa sejak lahir, dan 2) ada yang dihasilkan melalui latihan dan kebiasaan. Miskawaih lebih berpendapat bahwa akhlak dapat diubah.

Lebih lanjut, ibn Miskawaih mengungkapkan bahwa akhlak merupakan urusan manusia sendiri. Artinya, baik buruk, terpuji atau tercelanya akhlak seseorang tergantung kepada seseorang itu sendiri. Dari sisi lain, dapat juga dikatakan bahwa Ibn Miskawaih tidak mengakui adanya pengaruh keturunan dalam akhlak manusia, akhlak seseorang menerima perubahan karena ia merupakan masalah yang di usahakan.

  1. 2.    Perbaikan Akhlak

Metode perbaikan akhlak dapat diberi dua pengertian; pertama, metode mencapai akhlak yang baik, kedua metode memperbaiki akhlak yang buruk. Walaupun demikian, pembahasannya disatukan karena antara satu dengan lainya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

Terdapat beberapa metode yang diajukan Ibn Miskawaih dalam mencapai akhlak yang baik sebagai berikut:

  1. Adaya kemauan yang sungguh-sungguh untuk berlatih terus menerus dan menahan diri untuk memperoleh keutamaan dan sopan santun yang sebenarnya sesuai dengan keutamaan jiwa. Latihan ini terutama diarahkan agar manusia tidak memperturutkan kemauan jiwa Alsyahwaniyyat dan al ghadadiat. Karena kedua jiwa ini sangat terkait dengan alat tubuh, maka wujud latihan dam menahan diri dapat dilakukan antara lain dengan tidak makan atau minum yang membawa kerusakan tubuh atau dengan melakukan puasa, mengerjakan shalat yang lama, atau melakukan sebagian pekerjaan baik yang didalamnya ada unsur melelahkan
  2. Menjadikan semua pengetahuan dan pengalaman orang lain sebagai cermin bagi dirinya. Agaknya pengetahuan yang dimaksud disini agar di ketahui hukum-hukum akhlak yang berlaku tetap bagi sebab munculnya kebaikan dan keburukan. Dengan cara ini seseorang tidak hanyut dalam perbuatan yang tidak baik karena bercermin dari ketidak baikan orang lain
  3. Intropeksi/mawas diri. Metode ini mengandung pengertian kesadaran seseorang untuk berusaha mencari cacat/aib pribadi secara sungguh-sungguh.
  4. Metode oposisi. Paling tidak ada dua langkah yang perlu dilakukan untuk metode ini, pertama mengetahui jenis penyakit dan sebabanya, dan kedua mengobati/menghapus penyakit tersebut dengan menghadirkan lawan-lawannya. Penyebab akhlak yang buruk harus dilawan dengan ilmu dan amal. Melawan keburukan dengan ilmu disebut sebagai pengobatan teoritis, sedangkan pengobatan dengan amal merupakan pengobatan secara praktis.

 

Dalam konteks pendidikan nilai, pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan sebagai berikut:

  1. 1.    Pendekatan Penanaman Nilai

Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini adalah: Pertama, diterimanya nilai-nilai sosial tertentu oleh siswa; Kedua, berubahnya nilai-nilai siswa yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan. Adapun metoda yang digunakan dalam proses pembelajaran menurut pendekatan ini antara lain: keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi, permainan peranan, dan lain-lain.

Para penganut agama memiliki kecenderungan yang kuat untuk menggunakan pendekatan ini dalam pelaksanaan program-program pendidikan agama. Bagi penganut-penganutnya, agama merupakan ajaran yang memuat nilai-nilai ideal yang bersifat global dan kebenarannya bersifat mutlak. Nilai-nilai itu harus diterima dan dipercayai. Oleh karena itu, proses pendidikannya harus bertitik tolak dari ajaran atau nilai-nilai tersebut. Seperti dipahami bahwa dalam banyak hal batas-batas kebenaran dalam ajaran agama sudah jelas, pasti, dan harus diimani. Ajaran agama tentang berbagai aspek kehidupan harus diajarkan, diterima, dan diyakini kebenarannya oleh pemeluk-pemeluknya. Keimanan merupakan dasar penting dalam pendidikan agama.

2. Pendekatan perkembangan kognitif

Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi.

Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama. Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral. Proses pengajaran nilai menurut pendekatan ini didasarkan pada dilema moral, dengan menggunakan metoda diskusi kelompok. Diskusi itu dilaksanakan dengan memberi perhatian kepada tiga kondisi penting. Pertama, mendorong siswa menuju tingkat pertimbangan moral yang lebih tinggi. Kedua, adanya dilema, baik dilema hipotetikal maupun dilema faktual berhubungan dengan nilai dalam kehidupan keseharian. Ketiga, suasana yang dapat mendukung bagi berlangsungnya diskusi dengan baik. Proses diskusi dimulai dengan penyajian cerita yang mengandung dilema. Dalam diskusi tersebut, siswa didorong untuk menentukan posisi apa yang sepatutnya dilakukan oleh orang yang terlibat, apa alasan-alasannya. Siswa diminta mendiskusikan tentang alasan-alasan itu dengan teman-temannya.

3. Pendekatan analisis nilai

Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif, salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada dilema moral yang bersifat perseorangan.

Terdapat dua tujuan utama pendidikan moral menurut pendekatan ini. Pertama, membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berpikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah-masalah sosial, yang berhubungan dengan nilai moral tertentu. Kedua, membantu siswa untuk menggunakan proses berpikir rasional dan analitik, dalam menghubung-hubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai-nilai mereka. Selanjutnya, metoda-metoda pengajaran yang sering digunakan adalah: pembelajaran secara individu atau kolompok tentang masalah-masalah sosial yang memuat nilai moral, penyelidikan kepustakaan, penyelidikan lapangan, dan diskusi kelas berdasarkan kepada pemikiran rasional.

4. Pendekatan klarifikasi nilai

Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri.

Tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini ada tiga. Pertama, membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain; Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri; Ketiga, membantu siswa, supaya mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional, untuk memahami perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri. Dalam proses pengajarannya, pendekatan ini menggunakan metoda: dialog, menulis, diskusi dalam kelompok besar atau kecil, dan lain-lain

5. Pendekatan pembelajaran berbuat

Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok.

Terdapat dua tujuan utama pendidikan moral berdasarkan kepada pendekatan ini. Pertama, memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama, berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri; Kedua, mendorong siswa untuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam pergaulan dengan sesama, yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya, melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat, yang harus mengambil bagian dalam suatu proses demokrasi.

Metoda-metoda pengajaran yang digunakan dalam pendekatan analisis nilai dan klarifikasi nilai digunakan juga dalam pendekatan ini. Metoda-metoda lain yang digunakan juga adalah projek-projek tertentu untuk dilakukan di sekolah atau dalam masyarakat, dan praktik keterampilan dalam berorganisasi atau berhubungan antara sesama.

 

  1. E.    Strategi Implementasi Pendidikan Akhlak dalam Pembelajaran

Strategi merupakan kebutuhan dasar bagi setiap organisasi, tanpa strategi visi dan misi yang sudah disusun sedemikian rupa sulit untuk bisa di wujudkan. Selain sebagai acuan bagi penentuan taktik dalam melaksanakan misi, strategi bertujuan untuk mempertahankan atau mencapai suatu posisi keunggulan dibandingkan dengan pihak pesaing.  Hal ini berlaku pula bagi organisasi pendidikan, visi dan misi yang diramu dalam rencana pengembangan sekolah/madrasah akan tercapai jika kepala sekolah sebagai pimpinan pada tingkat satuan pendidikan, secara kolektif bersama para pembantunya dapat memilih strategi pelaksanaan visi dan misi yang tepat. Richard Vancil dalam Nisjar dan Winardi (1997:95) mengemukakan bahwa:

“… Strategi sebuah organisasi, atau subunit sebuah organisasi lebih besar yaitu sebuah konseptualisasi yang dinyatakan atau yang diimplikasi oleh pemimpin organisasi yang bersangkutan, berupa:

  1. sasaran-sasaran jangka panjang atau tujuan-tujuan organisasi tersebut;
  2. kendala-kendala luas dan kebijakan-kebijakan, yang atau ditetapkan sendiri oleh pemimpin, atau yang diterimanya dari atasannya, yang membatasi skope aktivitas-aktivitas organisasi yang bersangkutan, dan
  3. kelompok rencana-rencana dan tujuan-tujuan jangka pendek yang telah diterapkan dengan ekspektasi akan diberikannya  sumbangsih mereka dalam hal mencapai sasaran-sasaran organisasi tersebut”

 

Suatu organisasi akan memiliki akselerasi dalam pencapaian visi dan misi serta akan meraih keunggulan apabila ia dapat memanfaatkan peluang-peluang di sekitarnya yang memungkinkannya menjadi sumber kekuatan bagi proses pencapaian visi dan efektifitas pelaksanaan misi organisasi. Hal tersebut akan terwujud apabila pimpinan dan seluruh perangkat yang ada di bawahnya dapat memiliki strategi yang tepat.

Strategi berbeda dengan taktik, perbedaan diantara keduanya dapat diringkas bahwa strategi adalah mengerjakan sesuatu yang benar (doing the raight things), sedangkan taktik adalah mengerjakan sesuatu dengan benar (doing the things right). Clausewitz dalam Nisjar dan Winardi (1997:86)  mengungkapkan bahwa strategi merupakan suatu seni menggunakan pertempuran untuk memenangkan perang, sedang taktik adalah seni menggunakan tentara dalam sebuah pertempuran atau dalam dunia bisnis. Taktik  dapat dimaknai juga sebagai sekumpulan program kerja yang dibentuk untuk melengkapi strategi. Jadi, taktik merupakan penjabaran operasional jangka pendek dari strategi agar strategi dapat diterapkan.

Implementasi strategi berhubungan dengan penerjemahan strategi tersebut menjadi tindakan-tindakan. Problem menerjemahkan strategi menjadi aksi jelas merupakan bagian penting dari manajemen sterategik, hal tersebut menjadi faktor penentu ketercapaian visi, misi dan tujuan suatu organsiasi.Bagaimana strategi pendidikan akhlak dalam pembelajaran ini dapat diwujudkan? Tentunya harus dilihat secara komprehenship tentang konsep pembelajaran itu sendiri. Jika pembelajaran dimaknai sebagai seperangkat komponen rancangan pelajaran yang memuat hasil pilihan dan ramuan profesional perancang/guru untuk dibelajarkan kepada peserta didiknya. Dimana rancangan tersebut meliputi 5 komponen (M3SE) yakni; (1) Materi atau bahan pelajaran, (2) Metode atau kegiatan belajar-mengajar, (3) Media pelajaran atau alat bantu, (4) Sumber sub 1-2-3, (5) Pola Evaluasi atau penilaian perolehan belajar. maka strategi implementasi pendidikan akhlak dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui seluruh komponen pembelajaran. Dalam tataran operasional, maka internalisasi tersebut dapat dimulai dari perumusan tujuan institusional, tujuan kurikulum dan tujuan insturksional/pembelajaran yang menunjukkan adanya misi internalisasi. Tujuan tersebut akan menjadi payung bagi guru dalam merencanakan komponen-komponen lainnya, jika rumusan tujuannya menunjukkan adanya misi internalisasi pendidikan akhlak, maka materi, metode, media, sumber dan evaluasinya pun tentunya akan senapas dengan tujuan tersebut.

Untuk mencapai hal tersebut, maka diperlukan sosok guru professional yang mampu membuat sebuah ramuan perencanaan pembelajaran berbasis pendidikan akhlak. Prasyarat guru ideal yang diharapkan dapat mendukung proses internalisasi tersebut dapat mengacu kepada prinsip profesionalitas guru yang telah ditetapkan dalam UU No 14 tahun 2005 bab III pasal 7 sebagai berikut:

  1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme
  2. Memiliki komitment untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwanaan dan akhlak mulia
  3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas.
  4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas.
  5. Memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan
  6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai prestasi kerja
  7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.
  8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dan
  9. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Adapun pp No 74 tahan 2008 tentang guru pasal 3 ayat 2 serta Permendiknas No 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru  menyebutkan bahwa terdapat empat kompetensi utama yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalisme keguruannya, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional. Dalam perspektif pendidikan Islam, Khalifah dan Quthub (2009:40-41) mengungkapkan tentang karakter guru muslim yang dibutuhkan dalam mendukung optimalnya proses internalisasi pendidikan akhlak melalui pembelajaran sebagai berikut:

  1. Ruhiyah dan akhlakiyah. Hal ini diejawantahkan dengan beriman kepada Allah, beriman kepada Qadha dan Qadar Allah, beriman dengan nilai-nilai Islam yang abadi, melakukan perintah-perintah yang diwajibkan agama dan menjauhi segala yang dilarang agama, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.
  2. Asas dan penopang Anda dalam mengajar adalah untuk menyebarkan ilmu dan demi merengkuh pahala akhirat, sebagaimana sabda Rosulullah yang berbunyi, “sampaikanlah ilmu yang berasal dariku (kepada umat manusia) walaupun hanya satu kalimat.
  3. Tidak emosional. Yang dimaksud dengan sifat ini adalah mampu mengekang diri, meredam kemarahan, teguh pendirian, dan jauh dari sikap sembrono-sikap yang tidak didasari dengan pemikiran yang matang.
  4. Rasional. Sifat ini seperti pandai, mampu menyelesaikan permasalahan dengan baik, cerdas dan cekatan, sert kuat daya ingatnya.
  5. Sosial. Yang termasuk dalam sifat ini adalah menjalin hubungan baik dengan orang lain, baik dikala senang maupun susah, khususnya dengan orang-orang yang bertanggung jawab dalam dunia pendidikan.
  6. Fisik yang sehat. Yang dimaksud dengan sifat ini adalah kesehatan badan, ketangkasan tubuh, dan keindahan fisik.
  7. Profesi, yang termasuk dalam sifat ini adalah keinginan dan kecintaan yang tulus untuk mengajar, serta yakin atas manfaat dan pengabdiannya terhadap masyarakat.

Selain diperlukan sosok guru ideal yang mampu membuat ramuan perencanaan pembelajaran berbasis pendidikan akhlak, dukungan iklim dan budaya sekolah pun akan sangat menentukan hasil dari proses internalisasi. Demikian halnya dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung. Peran kepemimpinan dari seorang kepala sekolah akan sangat menentukan hal tersebut dapat terwujud. Disamping peran serta yang optimal dari seluruh perangkat sekolah.

Selain melalui upaya di atas, apa yang diungkapkan oleh Zainal Abidin Bagir, dkk (2005:108) dapat menjadi referensi para praktisi pendidikan di lingkungan persekolahan dalam mengembangkan strategi pendidikan akhlak. Menurutnya bahwa terdapat empat tataran implementasi, yaitu tataran konseptual, institusional, operasional, dan arsitektural.

Dalam tataran konseptual, internalisasi pendidikan akhlak dapat diwujudkan melalui perumusan visi, misi, tujuan dan program sekolah (rencana strategis sekolah), adapun secara institusional, integrasi dapat diwujudkan melalui pembentukan institution culture yang mencerminkan  adanya misi pendidikan akhlak, sedangkan dalam tataran operasional, rancangan kurikulum dan esktrakulikuler (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KTSP) harus diramu sedemikian rupa sehingga nilai-nilai fundamental agama  prihal akhlak dan  kajian ilmu/ilmiah prihal akhlak terpadu secara koheren.  Sementara secara arsitektural, internalisasi dapat diwujudkan melalui pembentukan lingkungan fisik yang berbasis pendidikan akhlak, seperti sarana ibadah yang lengkap, sarana laboratorium yang memadai, serta perpustakaan yang menyediakan buku-buku prihal akhlak mulia.

 

  1. F.    Penutup

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang dikelola secara terstruktur dengan melibatkan komponen-komponen pendidikan seperti manajemen, biaya, sarana dan prasarana, kruikulum, peserta didik, dan pendidik. Sekolah dibangun sebagai wahana pendidikan formal dalam rangka meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai peserta didik. Sebagai suatu sistem sosial, sekolah dapat dipandang sebagai organisasi yang interaktif dan dinamis, sebab di dalamnya terdapat sejumlah orang yang memiliki kepentingan yang sama (kepentingan penyelenggaraan pendidikan), tetapi kemampuan setiap individu pada komunitas itu memiliki potensi dan latar belakang yang berbeda.

Para ahli pendidikan nilai melihat proses internalisasi  nilai dalam pembelajaran, termasuk internalisasi pendidikan akhlak di sekolah pada dua pendekatan. Pertama, sekolah secara terstruktur mengembangkan pendidikan akhlak melalui kurikulum formal. Kedua, penanaman akhlak berlangsung secara alamiah dan sukarela melalui jalinan hubungan interpersonal antar warga sekolah, meski hal ini tidak diatur secara langsung dalam kurikulum formal atau dengan kata lain berada dalam wilayah kurikulum tersembunyi (Hidden Curiculum)

Pada beberapa sekolah yang memanfaatkan peluang-peluang belajar di luar kelas sebagai wahana pengembangan pendidikan, kegiatan ektrakuriluler muncul sebagai keunggulan tersendiri yang pada giliranya melahirkan kredibilitas tersendiri bagi lembaga. Tak jarang kita dengar alasan-alasan orang tua dalam memilih sekolah sebagai tempat belajar anaknya atas dasar pertimbangan mereka terhadap sejumlah kegiatan di luar kegiatan tatap muka di kelas.  Dengan demikian, kegiatan ektrakurikuler dapat dikembangkan dalam beragam cara  sebagai media pendidikan akhlak. Penyelenggaraan kegiatan yang memberikan kesempatan luas kepada pihak sekolah, pada giliranya menuntut kepala sekolah, guru, siswa dan pihak-pihak yang terkait untuk secara efektif merancang sejumlah kegiatan sebagai muatan kegiatan ektrakurikuler berbasis pendidikan akhlak.

Adapun terkait dengan pendekatan yang kedua, dimana pendidikan  akhlak tidak secara langsung dimasukkan ke dalam kurikulum formal, melainkan berlangsung alamiah dan sukarela, maka tugas sekolah menciptakan kondisi yang kondusif untuk teaktualisasinya nilai-nilai akhlak dalam interaksi kehidupan di sekolah. Untuk hal ini maka komponen perangkat sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah, Guru, Tata Usaha dan Komite Sekolah memegang peranan yang strategis. Sebagai perwujudanya maka minimal terdapat empat strategi yang bisa menjadi alternatif pendidikan akhlak di sekolah jika nilai-nilai akhlak tidak dimasukan ke dalam kurikulum sekolah formal:

  1. Pendekatan Normatif, yakni mereka (perangkat sekolah) secara bersama-sama membuat tata kelela (good governence) atau tata tertib penyelenggaraan sekolah yang didalamnya dilandasi oleh nilai-nilai pendidikan akhlak, perumusan tata kelola ini penting dibuat secara bersama, bahkan melibatkan peserta didik dan tidak bersifat top down dari kepala sekolah. Sehingga terlahir tanggung jawab moral kolektif  yang dapat melahirkan sistem kontrol sosial, yang pada giliranya mendorong terwujudnya school culture yang penuh makna.
  2. Pendekatan Model yakni mereka (perangkat sekolah), khususnya kepala sekolah berupaya untuk menjadi model dari  tata tertib yang dirumuskan, ucap, sikap dan prilakunya menjadi perwujudan dari tata tertib yang disepakati bersama.
  3. Pendekatan Reward and Punishmen  yakni diberlakukanya sistem hadiah dan hukuman sebagai stimulus dan motivator terwujudnya tata kelola yang dibuat.
  4. Pendekatan Suasana Belajar (baik suasana fisik maupun suasana psikis) yakni dengan mengkondisikan suasana belajar agar menjadi sumber inspirasi penyadaran nilai bagi seluruh perangkat sekolah, termasuk peserta didik, seperti dengan memasang visi sekolah, kata-kata hikmah, ayat-ayat  Al qur’an dan mutiara hadis di tempat-tempat yang selalu terlihat oleh siapapun yang ada di sekolah, memposisikan bangunan masjid di arena utama sekolah, memasang kaligrafi di setiap ruangan sekolah, membiasakan membaca Al qur’an setiap mengawali belajar dengan dipimpin gurunya, program shalat berjamaah, kuliah tujuh menit, perlombaan-perlombaan oleh OSIS dan sebagainya.

 

Datar Rujukan

Al-Ghazali. (1992). Akhlaq Seorang Muslim. Terjemahan. Semarang: Wicaksana.

Al Ghazali,(2004).  Akhlak Mulia Rasulullah, Bekasi, Al Kautsar

 

Dahlan, M,D. (2001). Nilai Al-Quran dalam Memelihara Tutur Kata. (Makalah tidak diterbitkan 4 Desember 2001).

Djahiri Kosasih. (2007). Kapita Selekta Pembelajaran. Bandung. Lab PMPKN FPIPS UPI Bandung

Elias, J. L. (1989). Moral education: secular and religious. Florida: Robert E. Krieger Publishing Co., Inc.

Hall Calvin S (1993), Teori Kepribadian 1, Teori-Teori Psikodinamik, Yogyakarta, Canisius

 

Hamalik Oemar. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta; Bumi Aksara

Ibn Miskawaih, 1992, Menuju Kesempurnaan Akhlak, Bandung,Mizan

 

Ibn Miskawaih, 1992. Filsafat Akhlak. Bandung,Mizan

 

Nata Abuddin, dkk. 2002. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum. Jakarta. Raja Grafindo Persada

Nisjar Karhi, Winardi. (1997). Manajemen Strategik.Bandung: Mandar Maju

Khalifah, M dan Quthub, Usamah. (2009). Menjadi Guru yang Dirindu; Bagaimana menjadi guru yang memikat dan professional. Sukarakta: Ziyad Visi Media

Sauri, S. (2006). Pendidikan Berbahasa Santun. Bandung:Genesindo

Suwito,2004, Filsafat Pendidikan Etika Ibnu Miskawaih, Yogyakarta, Belukar

Tim Redaksi Fokusmedia. (2003). Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. Jakarta: Fokusmedia

Tim Redaksi Fokusmedia. (2006). Undang-Undang RI No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Fokusmedia

Zainal Abidin Bagir, dkk. 2005. Integrasi Ilmu dan Agama, Interpretasi dan Aksi, Bandung: Mizan Pustaka

 

 

Sorry, the comment form is closed at this time.