Google

Pengembangan Metode Uji Hayati Tingkat Ekosistem Hingga Molekular Berbasis Profil Das Cikapundung

Written on:April 25, 2012
Comments
Add One

Oleh Prof. Hertien K. Surtikanti

 (Disampaikan dalam Pengukuhan Sebagai Guru Besar di BPU UPI, Rabu, 25 April 2012)

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalaamu’alaikum Warrohmatullahi Wabarokaatuh.

Yang saya hormati:

Pimpinan dan Anggota Majelis Wali Amanah

Rektor dan Para Pembantu Rektor

Pimpinan dan Anggota Dewan Audit

Pimpinan dan Anggota Senat Akademik

Sekretaris dan Anggota Dewan Guru Besar

Pimpinan Fakultas, Direktur SPS, Direktur Kampus Daerah, Ketua/Sekretaris Lembaga

Direktur Direktorat, Kepala Biro, dan Kepala Sekretariat Universitas

Ketua Jurusan/Program Studi, Sekretaris Jurusan serta Para Dosen

Pimpinan Organisasi Kemahasiswaan

Para Karyawan di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia

Para Tamu undangan, dan hadirin yang saya muliakan

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas ridla Nya lah pada forum yang terhormat ini saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan orasi dalam rangka pengukuhan Guru Besar saya dalam bidang Toksikologi Lingkungan di Universitas Pendidikan Indonesia.

Terima Kasih atas kehadiran Ibu/Bapak/Sdr, mudah-mudahan mendapat Ridlo Allah SWT.

Hadirin Yang Saya Hormati

Tema yang saya pilih dalam pidato pengukuhan Guru Besar disini merupakan hasil kompilasi beberapa temuan penelitian yang saya tekuni secara konsisten sejak tahun 2000 hingga sekarang. Kerusakan lingkungan berupa pencemaran di Daerah Aliran Sungai Cikapundung, Bandung, memberikan inspirasi bagi saya untuk mengembangkan metode dalam mengevaluasi toksisitas pencemaran air sungai yang berbasis biologi, yaitu uji hayati dengan menggunakan bioindikator. Hasil temuan penelitian tersebut sudah diaplikasikan dalam menambah wawasan teori di perkuliahan dan kegiatan laboratorium khususnya dalam pembelajaran Toksikologi Lingkungan, Biologi Perairan di Program Studi Biologi Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI dan Biologi Lingkungan di Program Pasca Sarjana UPI. Hasil pemikiran yang akan saya sampaikan ini berjudul: Pengembangan  Metode Uji Hayati Tingkat Ekosistem Hingga Molekular Berbasis Profil Das Cikapundung

Profil Cikapundung

Sungai Cikapundung merupakan sungai yang terbesar di kota Bandung, yang membentang dari Lembang Kabupaten Bandung, masuk ke pertengahan kota Bandung hingga ke hilir menuju Dayeuh Kolot Kabupaten Bandung yang akhirnya bergabung dengan Sungai Citarum. Sejak pertambahan penduduk yang semakin meningkat, serta perubahan zaman menuju ke arah industrialisasi, menyebabkan terjadinya banyak sekali perubahan dari segi fisik, kimia dan biologi. Sungai Cikapundung saat ini mengalami banyak perubahan fungsi dan peran akibat dari alih penggunaan lahan di lokasi tersebut. Terjadi perubahan penggunaan lahan terutama di beberapa lokasi seperti Bukit Tunggul (bagian hulu DAS Cikapundung, Bandung Utara) hingga Babakan Siliwangi dan Bojong Soang (bagian hilir, Bandung Selatan).

Lahan di Bukit Tunggul yang merupakan area perkebunan kina dan sumber mata air, akhir-akhir ini sudah digunakan sebagai area pertanian penanaman sayuran oleh petani lokal dan peternakan sapi. Beberapa tahun sebelumnya (Surtikanti, dkk. 2002) petani hanya memanfaatkannya untuk penanaman palawija dalam area yang terbatas. Dengan adanya kegiatan pertanian ini maka para petani tidak lepas dari penggunaan pestisida dan pupuk untuk mendapatkan hasil produksi panen yang tinggi. Selain itu pula di daerah Bukit Tunggul, aktivitas manusia sudah bertambah yaitu peternakan sapi yang menghasilkan limbah kotoran ternak. Lain halnya dengan lokasi Babakan Siliwangi, terlihat bahwa daerah tersebut merupakan tempat pemukiman penduduk yang semakin padat yang sudah tidak layak dari segi sanitasi lingkungan dan segi estetika. Hal serupa ditemukan di lokasi Bojong Soang, yang pada saat ini telah terjadi perluasan tanah di sepanjang sungai untuk dijadikan sebagai area pertanian dan pemukiman kumuh.

Jauh sebelumnya, penduduk yang tinggal dan berada di sepanjang Sungai Cikapundung sangat tergantung dengan adanya sungai ini. Sungai tersebut sekarang sudah tidak layak digunakan untuk kehidupan sehari-hari, sebab penduduk sekitarnya sudah merasakan adanya gangguan kesehatan dan pencemaran sungai yang menimbulkan bau yang tidak menyenangkan dan lingkungan yang tidak sehat (Surtikanti, dkk. 2001). Penduduk yang tinggal di sekitar aliran sungai Cikapundung terutama bagian tengah dan hilir sudah sangat merasakan dampak negatif pencemaran Sungai Cikapundung.

Dalam mempelajari kualitas DAS Cikapundung yang sudah dilakukan secara rutin, akhirnya dapat diilustrasikan suatu profil DAS Cikapundung dari lima lokasi DAS Cikapundung berdasarkan penggunaan lahan yang berbeda dan akses kemudahan transportasi dari hulu menuju ke hilir (Gambar 1). Kelima lokasi tersebut (1) Bukit Tunggul sebagai daerah perkebunan kina dan pertanian yang berada di bagian Utara kota Bandung; (2) Maribaya sebagai daerah wisata, konservasi dan hutan binaan Pinus; (3) Babakan Siliwangi sebagai daerah pemukiman penduduk, pembuangan limbah dari pabrik kina dan pembuangan sampah; (4) Babakan Ciamis sebagai daerah pemukiman padat dan daerah aliran sungai yang teraliri limbah pabrik kina, dan (5) Bojong Soang (daerah hilir) sebagai daerah pemukiman penduduk dan lokasi industri tekstil yang padat.

 Gambar 1: Peta lokasi Cikapundung

            Hasil studi analisa kimia air dan keberadaan hewan air yang toleran terhadap kondisi air tersebut, dapat memberikan gambaran tentang status kesehatan ekosistem DAS Cikapundung pada masing-masing guna lahan yang berbeda. Status kesehatan tersebut memberikan ilustrasi adanya peningkatan pencemaran air dari hulu hingga ke hilir. Masing-masing lokasi tersebut memiliki ciri khas dan tingkat kualifikasi air sungai yang berbeda. Profil ini hampir tidak berubah selama beberapa tahun. Oleh sebab itu profil DAS Cikapundung dijadikan sebagai dasar untuk mengembangkan metode uji hayati (bioassay) yang memiliki kriteria: sensitifitas tinggi, kemudahan dalam logistik, kemudahan dalam teknik pelaksanaan dan murah biaya (Landis & Ho Yu 1995).

Pengembangan Metode Uji Hayati

Pemilihan metode uji hayati dalam evaluasi tingkat kualitas air ini memiliki kelebihan diantaranya: (a) dapat memperoleh respon yang dihasilkan oleh organisma (bioindikator) akibat efek dari bahan polutan yang berada dalam kandungan air; (b) hasil evaluasi dari uji hayati tersebut dapat direalisasikan dan menggambarkan keadaan ekosistem di lapangan; (c) relatif murah jika dibandingkan dengan hasil uji secara kimia di laboratorium; dan (d) dapat dilakukan secara rutin untuk kegiatan biomonitoring di lapangan. Metoda uji hayati di Indonesia masih sangat jarang digunakan dalam mengevaluasi kualitas air tawar. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kendala dalam mempersiapkan hewan/tanaman yang akan digunakan sebagai bioindikator. Oleh sebab itu dalam usaha pengembangan metoda ini, perlu dilakukan persiapan kultur dan aklimatisasi hewan/tanaman yang akan digunakan sebagai bioindikator di laboratorium agar memenuhi persyaratan sebagai organisme uji.

Beberapa persyaratan menurut Rand & Petrocelli (1985), Rosenberg & Resh  (1979) dan Kovacks (1992) yang harus dipenuhi dan dimiliki oleh bioindikator bahwa bioindikator tersebut sudah dikenal secara umum, memiliki tingkat sensitifitas tinggi, mudah dikultur di laboratorium, memiliki distribusi luas, dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Pengembangan metode uji hayati yang sudah dilakukan yaitu menggunakan beberapa organisme dari tingkat rendah hingga yang tinggi, diantaranya Daphnia (Surtikanti & Prihandoko 2004a) dan Moina macrocopha (kutu air) yang termasuk ke dalam golongan udang-udangan, planaria (cacing) (Surtikanti 2004b), Mus musculus (mencit) (Surtikanti 2008a), akar bawang merah, Allium cepa (proses mitosis) (Surtikanti 2009), dan variasi genetik pada Hydropsyche, sp (larva serangga) (Surtikanti, dkk. 2008b). Hewan/tanaman uji tersebut digunakan dalam pengembangan metode uji hayati  untuk mengevaluasi kualitas air DAS Cikapundung yang sudah diketahui profilnya.

Uji hayati-Daphnia

       Daphnia  (Gambar 2) merupakan hewan udang-udangan dari golongan Brachiopoda yang berukuran 5-6 mm (bentuk dewasa). Perkembangbiakan secara parthenogenesis (tanpa fertilisasi) (Pennak 1978) dan menghasilkan telur sebanyak 7 – 9,5 ekor/hari (Sorensen 1996), memberikan kemudahan untuk memperbanyak hewan ini di dalam kondisi Laboratorium ekologi FPMIPA UPI (Surtikanti & Prihandoko 2004a).     Keuntungan lain menurut (EPS 1990), Daphnia sp   memiliki daerah penyebaran luas, merupakan salah satu mata rantai makanan, memiliki siklus hidup pendek, mudah dikultur, sensitifitas, dan mudah logistik.

Gambar 2. Daphnia, sp (± 2,5 mm)

Uji hayati- Moina macrocopha

Moina macrocopha  (Gambar 3) merupakan Crustacea air tawar kecil yang seringkali dikenal sebagai kutu air dan berkerabat dekat dengan Daphnia (Rottmann dkk. 2006). Organisme ini merupakan hewan kosmopolitan yang banyak ditemukan dalam kolam, danau, perairan berarus tenang, di selokan atau parit-parit pemukiman karena pada tempat tersebut merupakan tempat partikel serasah yang banyak mengandung organik sampah rumah tangga (Rottmann, dkk. 2006) dan mengandung banyak alga hijau. Kultur Moina juga sudah dapat dilakukan di laboratorium Ekologi UPI dengan menggunakan medium kultur yaitu larutan freshwater (USEPA Medium). Metode uji hayati yang digunakan yaitu metode statis-akut sama dengan metode uji yang dilakukan untuk Daphnia. Indikator parameter yang digunakan dalam metode uji hayati ini adalah kesintasan (mortalitas).

Gambar 3. Moina macrocopha   (±1,0 mm)

Uji hayati-Planaria

Planaria (Gambar 4) merupakan cacing pipih yang termasuk ke dalam keluarga Platyhelminthes. Hewan ini memiliki kisaran toleransi yang tinggi terhadap lingkungan perairan yang tidak tercemar, khususnya pada perairan dengan kadar oksigen yang tinggi (Abbot 1960 dalam Hart & Fuller 1974). Selain itu pula hewan ini tidak dapat hidup di daerah asam dan berlumpur yang mengandung asam humus (Harnisc 1925 dan Tucker 1958 dalam Hart & Fuller 1974). Hewan ini banyak diketemukan di Bukit Tunggul dan Maribaya yang merupakan DAS Cikapundung yang belum tercemar (Surtikanti 2004c dan Surtikanti, dkk. 2006). Berdasarkan karakteristik tersebut maka hewan Planaria ini tergolong bioindikator air bersih.

Selain memiliki sensitifitas yang tinggi (Surtikanti 2004c), Planaria ini juga memiliki persyaratan sebagai bioindikator (Rand dan Petrocelli 1985), distribusi yang melimpah di Bukit Tunggul & Maribaya (DAS Cikapundung) (Surtikanti 2004c & Surtikanti 2010a) dan memiliki sensitifitas yang tinggi (Surtikanti 2004d).  Kualitas air Sungai Cikapundung sudah mengalami perubahan sejak tahun 2005, setelah adanya penggunaan lahan pertanian dan peternakan sapi oleh penduduk sekitar DAS Cikapundung, terutama di Bukit Tunggul, sehingga jumlah Planaria cenderung berkurang di lapangan (Surtikanti 2008c). Untuk memenuhi kebutuhan Planaria di laboratorium Ekologi UPI,  hewan ini dapat di kultur secara vegetatif (Surtikanti 2010b). Metode uji hayati yang digunakan yaitu metode statis-akut sama dengan metode uji yang dilakukan untuk Daphnia. Indikator parameter yang digunakan dalam metode uji hayati ini adalah kesintasan (mortalitas).

 Gambar 4. Planaria (±1-2 mm)

Uji hayati-Mus musculus

Untuk mengetahui beberapa aspek biologi manusia sering tidak dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan manusia itu sendiri sebagai objek penelitian, oleh karena itu diperlukan hewan uji misalnya mencit (Mus musculus) (Gambar 5). Mencit merupakan model dasar (prototype) untuk mempelajari fisiologi dan perilaku manusia.

 Gambar 5. Mus musculus (±20 gram)

Penggunaan hewan uji mencit ini adalah sebagai kelanjutan dari uji sebelumnya yang menggunakan hewan air sebagai bioindikator. Mencit memenuhi kriteria sebagai hewan uji berdasarkan pertimbangan bahwa mencit memiliki fisiologis tubuh yang relatif stabil dan serupa satu sama lain. Lagipula, dari segi ekonomi, hewan ini relatif tidak terlalu mahal harganya serta relatif murah, mudah pemeliharaannya, teknik pelaksanaan tidak terlalu sulit terutama dalam proses pengambilan darah.

Indikator parameter yang digunakan untuk mencit adalah susunan dan komposisi darah (hemoglobin dan hematokrit) serta uji kemampuan belajar dan mengingat pada mencit. Respon tersebut dievaluasi setelah mencit mengkonsumsi air yang berasal dari DAS Cikapundung. Nilai kadar hemaglobin dan hematokrit pada mencit tidak terpengaruh oleh adanya kontaminasi bahan logam berat dalam air (Surtikanti 2008a). Tetapi kemampuan belajar dan mengingat pada mencit menurun setelah mengkonsumsi air Cikapundung yang terkontaminasi (Surtikanti 2008a). Hasil evaluasi ini dapat direalisasikan terhadap sistem fisiologis manusia.

Uji hayati-mitosis Allium cepa

Tanaman tingkat tinggi memiliki sistem uji genetik yang bermutu untuk skrining awal dan monitor polutan lingkungan. Perbandingan antara uji tanaman dan non tanaman menunjukkan bahwa uji genetik tanaman tingkat tinggi dan memiliki sensitifitas yang tinggi. Hasil dari uji genetik tanaman tingkat tinggi dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam hal perlindungan masyarakat dari agensia penyebab mutasi dan kanker (Grant 1993). Penggunaan Allium cepa (Gambar 6)  dikarenakan oleh berbagai alasan, yaitu murah biaya, mudah dalam penanganan dan penyimpanannya, kondisi kromosom yang baik, sensitivitas yang tinggi untuk perlakuan senyawa sitotoksisitas atau genotoksisitas, dan yang paling terpenting adalah berkorelasi baik dengan sistem uji mamalia (Rank dan Nielsen 1944 dalam Julkipli 2005). Uji hayati ini memiliki karakteristik yang baik sebagai tanaman objek uji, karena memiliki kromosom dalam jumlah kecil dan secara morfologis kromosomnya mudah diidentifikasi dan dapat disajikan secara mikroskopis melalui pewarnaan dan preparat  squash  dari jaringan meristem lunak (Veleminsky & Gichner 1998 dalam Julkipli 2005).

Pada tumbuhan, mitosis (rangkaian peristiwa pada kehidupan sel) terjadi pada ujung akar, ujung batang, dan kambium (Campbell, dkk. 2009). Hambatan pada pembelahan mitosis menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan. Respon yang ditimbulkan akibat dari pendedahan bahan polutan adalah penurunan indeks mitosis yang mencirikan adanya hambatan pertumbuhan (Surtikanti 2009).

Dalam evaluasi kualitas air DAS Cikapundung, aspek yang diamati pada uji Allium adalah: pengamatan makroskopis akar Allium cepa, dan nilai indeks mitosis (IM) per preparat secara mikroskopik (Ivanova 2005). Terjadinya abnormalitas bentuk akar  disebabkan oleh adanya pencemaran logam berat sehingga terjadi peningkatan frekuensi mutasi intrakromosomal yang mengakibatkan efek embryotoksik, genotoksik dan teratogenik (Kowalska 2002). Sedangkan preparat yang dihitung adalah preparat yang memiliki jumlah sel dalam tahap mitosis yang tidak kurang dari 500 sel. Nilai IM yang diperoleh tidak konsisten sebab dipengaruhi oleh adanya limbah organik yang mengandung nutrien dan adanya bahan kimia logam berat yang terkandung dalam air sungai Cikapundung.

Gambar 6. Uji hayati akar bawang merah

 Uji hayati- variasi genetik Hydropsyche, sp (berbasis molekuler)

Penggunaan bioindikator benthos macroinvertebrata untuk pemantauan (biomonitoring) dan pengujian kualitas air (bioassessment) telah dilakukan secara rutin sebagai bagian dari suatu program pengelolaan ekosistem air. Odum (1993) menjelaskan bahwa komponen biotik tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fisik, kimia, dan biologi dari suatu perairan, sebab hewan macrobenthos ini sangat peka terhadap perubahan kualitas air tempat hidupnya sehingga akan berpengaruh terhadap komposisi dan kelimpahannya. Penggunaan benthos sebagai bioindikator juga sudah dilakukan dalam evaluasi kualitas air sungai Cikapundung, Bandung di Jawa Barat (Surtikanti, dkk. 2001; Bahri dan Priadie 2007). Tetapi dengan kemajuan ilmu dan teknologi di bidang biomolekuler, indikator status ekosistem perairan tersebut dapat dilakukan pada tingkat molekuler (Landis dan Ming-Ho Yu 1995). Keanekaragaman genetik dalam serangga  dapat memberikan informasi yang lebih berarti dalam mempelajari struktur dan dinamika populasi serangga (Behura 2006) dibandingkan dengan keanekaragaman benthos dalam menentukan status ekosistem (Bahri & Priadie 2007).

Bioindikator keanekaragaman genetik ini dapat menerangkan informasi lebih comprehensive dibandingkan metode konvensional tentang status keanekaragaman dan stabilitas populasi yang terdedah terhadap polutan yang bersifat nonpersisten dan nonbioakumulasi Oris, dkk. (2000). Selain itu pula dengan menggunakan indikator molekuler, informasi data yang belum terungkap dapat diketahui dalam kasus Cikapundung (Surtikanti, dkk. 2009). Metode ini memberikan asesmen yang sangat bermanfaat dan akurat.

Diketahui secara klasik bahwa Hydropsyche, sp (Trichopthera) (Gambar 7) merupakan salah satu bioindikator untuk air bersih yang diketemukan baik di perairan bersih maupun di perairan yang sudah mengalami pencemaran organik tingkat sedang dan berat (Rosenberg & Resh 1979, Surtikanti, dkk. 2008). Dari sudut pendekatan biomolekuler, Hydropsyche, sp yang berada di perairan bersih dan tercemar ringan bahan organik dapat dibedakan berdasarkan penanda DNA yang dimiliki hewan tersebut (Surtikanti, dkk. 2008b dan Kusumawaty, dkk. 2010). Ada kecenderungan bahwa penanda DNA RAPD merupakan bioindikator alternatif lain yang lebih sensitif untuk mengevaluasi kualitas air dibandingkan dengan bioindikator hewan individu.

 Gambar 7. Trichoptera, Hydropsyche, sp (±3-4 mm)

 PENUTUP

Metode uji hayati yang telah dikembangkan memiliki teknik  yang berbeda serta memberikan respon yang bervariasi terhadap kasus DAS Cikapundung, sebab masing-masing organisme dari tingkat klasifikasi rendah dan tinggi memiliki sistem metabolism dan tingkat sensitifitas yang berbeda. Selain itu pula teknik pelaksanaan, logistik, waktu serta biaya dapat pula menunjang pada karakteristik metode uji hayati tersebut. Walau bagaimana, uji hayati yang dilakukan di laboratorium ini minimal dapat menggambarkan kondisi dan fenomena yang terjadi di lingkungan yang sangat kompleks. Untuk memberikan informasi yang comprehenship perlu adanya disiplin ilmu atau gabungan dari beberapa analisa. Sebab dengan hanya menggunakan satu jenis metode atau analisa saja, tidak cukup untuk dapat menggambarkan ekosistem yang ada dilapangan. Selain itu pula metoda uji hayati yang akan digunakan sebaiknya relevan dengan sasaran maupun tujuan yang akan dicapai.  Akhir kata, pengembangan metode uji hayati ini tidak hanya berhenti disini, sebab dengan kemajuan teknologi, metode uji hayati ini dapat terus disempurnakan dan dikembangkan terutama untuk mencapai tingkat akurasi dan sensitifitas yang tinggi.

HADIRIN YANG SAYA HORMATI

Dalam mengakhiri orasi ini, dengan segala kerendahan hati perkenankanlah saya untuk menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu menghantarkan saya ke jabatan Guru Besar ini.

Terima kasih dan penghargaan yang tak terhingga saya sampaikan kepada Yth. Rektor dan Pembantu Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Ketua dan Anggota Senat Akademik Universitas Pendidikan Indonesia, Dewan Guru Besar, Direktur SDM, Dekan dan Para Pembantu Dekan FPMIPA, Ketua dan Sekertaris Jurusan Pendidikan Biologi, Ketua Program Studi Pendidikan Biologi dan Biologi, rekan-rekan sejawat para dosen dan staf Kepegawaian UPI yang telah membantu dalam pengangkatan saya sebagai Guru Besar.

Terima kasih juga saya sampaikan kepada rekan-rekan dosen Jurusan Pendidikan Biologi Dra. Ammi Syulasmi MSi., Dra Widi Purwianingsih, MSi,  Drs. Unang Sumarno, MSi. (Alm), Wahyu Surakusumah MSi., Didik Priyandoko, MSi., Drs. Bambang Supriatno, MSi., Tina Safaria, MSi., Diah Kusumawaty, MSi., Dr Topik Hidayat, MSi. Rini Solihat, MPd. yang telah bekerja sama dalam kolaborasi penelitian, tanpa beliau saya tidak dapat melaksanakan penelitian dengan baik. Juga kepada Dr. Darmadi Gunarso dan Dr. Lulu Lusianti (Dosen ITB) yang telah memberi kesempatan sebagai mitra dalam penelitian kolaborasi antar universitas.

Terima kasih juga saya sampaikan kepada rekan Dosen Jurusan Pendidikan Biologi Drs. H. Djamhur Winatasasmita,  Drs. Otang Hidayat, Dr. Edy Hidayat (Alm),   Drs. Resna (Alm.), Dr. Riandi MSi. dan rekan-rekan lain yang telah memberi  kesempatan untuk berkarir di UPI dan memberi dukungan moril yang sangat berharga buat saya.

Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada Guru Besar Tim Penilai Sejawat (Peer Group) yang telah menilai kelayakan saya sebagai Guru Besar dalam bidang Toksikologi Lingkungan di Universitas Pendidikan Biologi, yaitu Prof. Dr. Nuryani Rustaman (Guru Besar Pendidikan Biologi UPI), Prof. Dr. Didi Suryadi, M.Ed. (Guru Besar Pendidikan Matematika UPI) dan Prof. Erri N. Megantara DSc. (Guru Besar Konservasi Biologi Lingkungan UNPAD).

Terima kasih yang sedalam-dalamnya saya sampaikan kepada kedua orang tua saya yang sudah mendahului kami yang telah mendidik dan mendoakan saya untuk menyelesaikan studi, dan sampai pada Jabatan Guru Besar. Terima kasih juga saya sampaikan kepada adik dan kakak serta ibu (Alm) dan bapak mertua yang telah mendoakan saya.

Kepada suami tercinta Dr. Ir. Djadjang Sukarna dan anak anakku tersayang Yurita Puji Agustiani, S.Kom, MT dan Amalia Nur Intan Isabella serta cucu tersayang Kanya Dwanikanti, terimakasih atas kesabaran dan doa yang tidak terhingga untuk sampai jabatan Guru Besar.

Akhirnya saya sampaikan terimakasih kepada para tamu undangan dari berbagai pihak yang tidak sempat saya sebutkan satu persatu. Semoga amal baik semua kita diterima oleh Allah SWT. Tiada gading yang tak retak, mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam berucap, bertutur kata dan berperilaku yang kurang berkenan dari saya selama ini. Sekian

Wabillahitaufik walhidayah

Wassalamu’alaikum Warrahmatullaahi Wabarokatuh.

DAFTAR PUSTAKA 

Anonim (2003) General biology, Free University Project http:/ www. Pink Monkey Online Study Guide-Biology

 

Bahri S & Priadie B (2007). “Prediksi tingkat pemcemaran air sungai menggunakan indeks kimia-fisika dan metrik bentik makroinvertebrata”. JSDA vol 3, no. 4.

Behura SK (2006). “Molecular marker system in insects: current trends and future evenues”. Molecular ecology 15.pp

Campbell NA, Reece JB, Taylor MR, Simon EJ & Dickey JL (2009). Biology Concept & Connection. San Fransisco, Pearson Education.

EPS (1990). Biological Test Method. Acute Lethality Test Using Daphnia. Environmental Protection Series. Environment Canada

Grant W (1993). ”The present status of higher plant. Bioassays for the detection of environmental detections”. Journal Fundamental and Moleculer Mechanism of Mutagenesis 310

Hart CW & Fuller (1974). Pollution ecology of freshwater  Invertebrates. USA Academy Press.

Ivanova E (2005). ”Cytogenetic testing of metal and cyanide contaminated river waters in a mining region of Southwest Bulgaria”. Journal of cell and moleculer biology (4). 99-106

Julkipli (2005). Uji mutagenitas limbah oli bekas kendaraan bermotor pada bawang merah (Allium cepa). Skripsi S1 UPI (tidak diterbitkan).

Klug dan Cummings (1994). Concept of genetics (fifth, ed) London Prentice Hall International

Kovaks M (1992). Biological Indicator in Environmental Protection. England Horwood Limited.

Kowalska E (2002). The mitotic activity of Allium cepa, root cells and the disturbance of mitotic spindle formation induced by low doses of the herbicide Stomp 330 EC. Institute of Biology, Department of Animal Biochemistry, University of Bialystok.

Kusumawaty D, Surtikanti HK, Safaria T & Hidayat T (2010). Pengembangan uji kualitas lingkungan berdasarkan penanda DNA RAPD terhadap komunitas Hydropsyche, sp: Kasus DAS Cikapundung. Laporan penelitian  Hibah Kompetitif UPI.

Landis WG & Ming-Ho Yu (1995). Introduction to Environmental Toxicology: Impact of Chemicals Upon Ecologycal Systems. New York: Lewis Publisher.

Odum EP (1993). Dasar-dasar ekologi. Edisi 3. Gadjah Mada University Press, Yogjakarta.

Oris JT, Guttman SI & Bailer AJ (2000). Multilevel indicators of ecosystem. EPA Proceeding

Pennak RW (1978). Fresh water invertebrates of the United States. New York: John Willey & Sons.

Rand GM & Petrocelli SR (1985). Fundamental of Aquatic Toxicology: Method and Applications. Washington: Hemisphere Publishing Corporation.

Rosenberg DM & Resh VH  (1979). Freshwater biomonitoring and benthic macroinvertebrate. Chapman and Hall, New York.

Rottmann RW, Graves JS, Watson C & Yanong PE (2006). Culture technique of Moina: The ideal Daphnia for feeding freshwater fish fry

Sorensen (1996) Life history schedules in Daphnia magna: An Ecological activity for multiple laboratory Sessions

Surtikanti HK (2008a).  “Pengujian kadar hemoglobin dan nilai hematokrit mencit (Mus Musculus.L) Swiss Webster terhadap logam berat timbal dan air sungai Cikapundung Sehat Masada”.  Jurnal Penelitian Kesehatan Dharma Husada Bandung. Vol II No. 1     16-28

Surtikanti HK, Kusumawaty D, Hidayat T & Bahri S (2008b). Monitoring ekosistem berdasarkan penanda DNA terhadap komunitas benthos: Kasus DAS Cikapundung. Laporan penelitian Hibah Kompetensi DIKTI.

Surtikanti HK (2005). Kesehatan lingkungan di daerah aliran sungai Cikapundung akibat pencemaran air”. Jurnal pengajaran MIPA vol 6. no.2

Surtikanti HK, Purwianingsih W & Soemarno U (2001). Ecological Health Risk Assessment of Chemical in Water-Sediment of Cikapundung River System, Bandung. Final Report Indonesia Toray Science Foundation.

Surtikanti HK & Prihandoko D (2004a). Pengembangan uji toksisitas dengan menggunakan Daphnia, sp. Laporan Hibah Pekerti I

Surtikanti HK (2004b). Pengujian kualitas air sungai Cikapundung dengan menggunakan Planaria.   Chimera, jurnal Biologi dan pengajarannya, tahun 9. nomor 1, ISSN 0853-8824

Surtikanti HK (2004c). Populasi Planaria di Lokasi Bukit Tunggul dan Maribaya, Bandung Utara. Dalam Jurnal Matematika dan Sains, ITB. Vol.9, no. 3. hal. 259-262

Surtikant HK (2004d). Pengujian Bahan Toksisitas Logam Berat Terhadap Daphnia dan Planaria. Proceeding Seminar Nasional Penelitian, pendidikan & penerapan MIPA di Yogyakarta

Surtikanti HK (2004e). Optimalisasi Kultur Planaria Di Laboratorium. Proceeding. Seminar MIPA di FMIPA ITB ke VI.

Surtikanti HK (2008c). ”Komunitas Benthos di Bukit Tunggul (DAS Cikapundung): Degradasi pencemaran sungai”. Jurnal Biosainstifika, Vol I no 1.  hal 65-76

Surtikanti HK (2010a).Populasi dan berat biomassa planaria di Bukit Tunggul, DAS Cikapundung”. Jurnal Biosfera Terakreditasi : SK DIKTI No.39 DIKTI/KEP/2004. Vol 25 (3):135-140

Surtikanti HK (2010b).Pemeliharaan Planaria Dalam Perkembangbiakan Secara Vegetatif”. Jurnal Biota, vol 15 (1) 80-85, ISSN 0853-8670 Terakreditasi

Surtikanti HK (2009).Bioindikator indeks mitosis pada Allium Cepa dalam pengujian kualitas air Sungai Cikapundung  Biosfer”. Jurnal ilmiah pendidikan Biologi dan Lingkungan Hidup. I, (1). 1-11

Surtikanti HK, Priyandoko D & Safaria T (2006). Pelestarian planaria in situ dan ex situ. Laporan Hibah Fundamental


RIWAYAT HIDUP

Hertien Koosbandiah Surtikanti, lahir di Bandung pada tanggal 19 April 1961 sebagai anak ke dua dari enam bersaudara dari pasangan Dra. Rr. Kooswarni (Alm) dan Drs. R. Soebagio, Ak. (Alm). Hertien adalah Dosen  Biologi (Biologi Perairan, Rencana Penelitian, Biologi Lingkungan dan Toksikologi Lingkungan) di Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI. Selama di Bandung mengikuti pendidikan SD tahun 1967, SMP tahun 1976, SMA tahun 1979, Sarjana Biologi UNPAD tahun 1984, Master of Environmental Sanitation di Ghent Belgia tahun 1989, dan Program Doctorate  in Environmental Toxicology di University of Technology Sydney tahun 2001, Australia.  Sejak diangkat menjadi Dosen PNS di UPI pada tahun 1984, pernah menjabat Ketua Program Studi Biologi (2000-2007).

 

Beberapa karya ilmiah penting yang pernah dipublikasi adalah:

1 Population density, size structure and reproductive biology of the amphipod, Corophium sp., in the Hawkesbury River and the growth of juveniles in laboratory culture.  Australasian Journal of Ecotoxicology. Vol 4, hal 85-91. (1998)
2 Sediment toxicity testing using  the Amphipod, Corophium sp: Standardisation of test conditions for an acute survival test and a sub-chronic growth test in freshwater. Australian Journal of Ecotoxicology (2000)
3 Kesehatan lingkungan di daerah aliran sungai Cikapundung akibat pencemaran air, Chimera Jurnal Biologi dan pengajarannya tahun 11 nomor 1 (2006)
4 Evaluation of physiological respons of Daphnia under laboratory condition, Proceeding Second International Seminar on Environmental Chemistry and Toxicology. Jogjakarta (2006)
5 Populasi dan berat biomassa planaria di Bukit Tunggul, DAS Cikapundung, Biosfera Terakreditasi: SK DIKTI No.39 DIKTI/KEP/2004. Vol 25 (3):135-140 (2008)
6 Pengujian kadar hemoglobin dan nilai hematokrit mencit (Mus Musculus.L) Swiss Webster terhadap logam berat timbal dan air sungai Cikapundung, Sehat Masada, Jurnal Penelitian Kesehatan Vol II, No 1 Hal 16-28 (2008)
7 Komunitas Benthos di Bukit Tunggul (DAS Cikapundung): Degradasi pencemaran sungai, Biosainstifika, Vol I no 1. November 2008 hal 65-76 (2008)
8 Bioindikator indeks mitosis pada Allium cepa dalam pengujian kualitas air Sungai Cikapundung, Biosfer, Jurnal ilmiah pendidikan Biologi Vol I No. 1. Januari  hal 1-11 (2009)
9 Pemeliharaan Planaria Dalam Perkembangbiakan Secara Vegetatif, Biota, vol 15 (1) 80-85, ISSN 0853-8670 Terakreditasi (2010).
10 Environmental factors and biodiversity reflected to the water quality: Case study of raising livestock, Journal of Life Sciences and Technology, 2011, 1(1):1-10 Ecology & Comparative biology-research paper

 

Beberapa buku antara lain:

1 Modul Pengelolaan lingkungan. Kerjasama antara UPI dan PEMDA Banten tahun 2003
2 Biologi lingkungan,  Penerbit Prisma Press Bandung 2009 ISBN 9786028170093
3 Toksikologi Lingkungan dan Metode Uji Hayati, Penerbit Rizqi Press Bandung 2011 ISBN 978-602-9098-27-3
4 Pesona Lingkungan Badan Air, Penerbit Rizqi Press Bandung  2012 ISBN 978-602-9098-31-0

 

Kegiatan ilmiah yang diikuti sebagai narasumber diantaranya:

1 Seminar nasional Pendidikan IPA ke 3.Judul: Kemampuan penerapan konsep dalam mata kuliah Ekotoksikologi program studi Biologi dengan menggunakan metode reviu formal, UPI Bandung (2006)
2 Seminar nasional pendidikan biologi dan biologi. Judul: Pengujian sensitifitas Moina macrocopa  terhadap toksisitas logam berat Cu dan Zn di laboratorium, UPI (2007)
3 Seminar nasional pendidikan biologi dan biologi. Judul: Mencit sebagai hewan uji dalam mengevaluasi kualitas air Cikapundung, UPI Bandung (2007)
4 Pemaparan hasil penelitian Fundamental bidang MIPA tingkat Nasional Dikti. Judul: Pelestarian planaria in situ dan ex situ Dikti Jakarta (2007)
5 Seminar Nasional Pendidikan Lingkungan Hidup kerjasama PPSALH. Judul: Pengembangan diri tenaga guru dan pendidik dalam kepedulian terhadap lingkungan hidup, UIN Cirebon (2009)
6 International Seminar UNSOED Purwokerto, Judul: Improvement of water quality on Cikapundung stream due to converting areas into local dairy farms, (2009)
7 Seminar nasional dan temu alumni Jurusan pendidikan Biologi. Judul: Korelasi nilai biological monitoring working party (BMWP) dengan nilai indeks kimia fisika (IKF) dalam mengevaluasi Sungai Cikapundung di aliran pembuangan limbah peternakan sapi perah. UPI Bandung (2009)
8 Seminar Nasional UNPAD. Judul: Dampak alih guna lahan terhadap keanekaragaman hayati (2010)
9 Seminar kurikulum Jurusan Biologi UNPAD (2011)
10 Sosialisasi EBTKE, UPI. Judul: Pemberdayaan masyarakat peternak sapi Lembang dalam pengembangan biogas dan eliminasi gas rumah kaca (2011)
11 Sosialisasi EBTKE, UPI, Judul: Pembelajaran EBTKE dalam pendidikan lingkungan hidup (2011)
12 Seminar kurikulum Jurusan Biologi UIN (2012)

 

Penghargaan

1 Dosen Peneliti terbaik tingkat UPI tahun 2003
2 Dosen Prestasi terbaik tingkat UPI tahun 2004
3 Poster terbaik penelitian Fundamental bidang MIPA tingkat Nasional Dikti 2007

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>