Google

Banyak Perguruan Tinggi Kependidikan tak Terkontrol Kualitasnya

Written on:December 20, 2012
Comments are closed

Bandung, UPI

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. mengungkapkan, Universitas Pendidikan Indonesia selalu disorot bila masyarakat mempertanyakan kualitas guru di tanah air. Sorotan masyarakat terhadap UPI terkait kualitas guru menandakan kepercayaan di satu sisi, dan tak terkendalinya pertumbuhan perguruan tinggi keguruan di satu lain.

“Kepercayaan masyarakat terhadap UPI sebagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan direspons dengan  pengokohan pendidikan sebagai jati diri UPI. UPI adalah satu-satunya universitas eks-IKIP yang kokoh mengembangkan disiplin ilmu pendidikan dan pendidikan disiplin ilmu,” katanya dalam pidato wisuda Gelombang III UPI, Kamis (20/12/2012) di Gedung Gymnasium UPI Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung.

UPI mewisuda 2.507 lulusan.  Jumlah ini meliputi  117   doktor, 274  magister,  2.059 sarjana,  dan 57 orang lulusan diploma. Hadir dalam kesempatan itu, Sekretaris dan Anggota Majelis Wali Amanat UPI;  Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat Akademik UPI; Sekretaris, dan Anggota Dewan Guru Besar UPI;  Pimpinan Universitas, Fakultas, Sekolah Pascasarjana, Kampus Daerah, Jurusan/Prodi dan Pimpinan Unit Kerja di Lingkungan UPI; para dosen, karyawan, pengurus ormawa, serta pengurus IIK UPI; dan tamu undangan lainnya.

Dikemukakan, pilihan UPI menjadikan pendidikan sebagai jati diri dilandasi keyakinan bahwa untuk menjadi universitas yang maju UPI tidak perlu menjadi “orang lain”. UPI tumbuh di atas tradisi kepeloporan dan keunggulan dalam bidang pendidikan sejak cikal bakal universitas ini didirikan sejak 58 tahun yang lalu. “UPI tidak boleh terjebak pada peniruan sembrono atau sekadar mengikuti trend, UPI hanya akan meminjam pengalaman terbaik orang lain sambil mengembangkan misi dan jati dirinya sendiri,” ujar Rektor.

Sertifikasi guru yang dilakukan sejak 2005, kata dia, ternyata belum mampu mendongkrak kualitas kinerja guru dan pembelajaran di dalam kelas.  Sejak 2005 sekitar satu juta guru telah disertifikasi. Sekitar sepertiganya telah disertifikasi berdasarkan penilaian terhadap portofolio pengalaman kerja dan pelatihan yang mereka peroleh, sedangkan dua pertiganya setelah mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) selama 90 jam.

Sertifikasi guru, menurut Rektor, akan diikuti pemberian tunjangan profesi yang jumlahnya sama dengan gaji pokok. Peningkatan pendapatan diharapkan dapat meningkatkan motivasi guru yang berujung pada peningkatan hasil belajar siswa. Tunjangan profesi pun diharapkan mendorong guru meningkatkan kualifikasi akademik yang dibutuhkan. Prospek pendapatan guru yang membaik pun diharapkan dapat menarik minat lulusan terbaik sekolah menengah untuk memasuki perguruan tinggi kependidikan di Indonesia.

“Benarkah kenaikan pendapatan guru bersertifikat telah mengubah perilaku mereka dan  berdampak pada pembelajaran siswa? Hasil penelitian Bank Dunia terhadap 240 sekolah dasar dan 120 sekolah menengah pertama di 22 kabupaten/kota di Indonesia, dengan mengambil sampel guru kelas untuk sekolah dasar dan guru Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di sekolah pertama menunjukkan hasil yang tidak sejalan dengan harapan tadi,” ujar Rektor.

Dikatakan, kesatu, proses sertifikasi belum menghasilkan perbaikan pengetahuan guru tentang materi pelajaran. Kedua, mensertifikasi dan menaikkan pendapatan guru tidak memperbaiki cara mereka mengajar. Ketiga, sertifikasi guru berdampak signifikan bagi peningkatan pendapatan guru dan menurunkan jumlah mereka yang memiliki pekerjaan sampingan dan masalah keuangan.

Peningkatan pendapatan guru bersertifikat, yakni rata-rata dari 250 dolar AS menjadi 500 dolar AS perbulan, diikuti peningkatan motivasi guru. Sayangnya kebanyakan guru gagal menerjemahkan motivasi menjadi kinerja yang lebih baik apabila kompetensi dasar mereka rendah (Bank Dunia, 2012).

“Di sisi lain, daya tarik profesi guru bagi siswa-siswi sekolah menengah akibat perbaikan pendapatan guru tidak serta merta akan meningkatkan kualitas pembelajaran apabila sistem seleksi masuk pendidikan guru tidak ditingkatkan dan pertumbuhan perguruan tinggi kependidikan tidak dikendalikan,” kata Rektor.

Diungkapkan, banyak perguruan tinggi kependidikan yang tidak terkontrol kualitasnya. Jumlah lulusan calon guru melebihi kebutuhan. Akibatnya, pasokan calon guru melimpah dengan kualitas rendah. Data Bank Dunia (2012) melaporkan dari 100 orang lulusan pendidikan keguruan di Indonesia hanya 53 yang direkrut menjadi guru. Bandingkan dengan Singapura yang memiliki sistem seleksi calon pendidikan guru yang ketat dan jaminan mutu pendidikan yang terjaga. Dari 100 orang pendaftar untuk pendidikan keguruan  hanya 18 orang terdaftar dan lulus dari pendidikan keguruan, serta  semua direkrut sebagai guru di Singapura.

Bertolak dari data hasil penelitian Bank Dunia dan belajar dari pengalaman terbaik negara lain dalam menyiapkan guru dan tenaga kependidikan, Prof. Sunaryo menegaskan tiga hal. Kesatu, pembangunan mutu guru harus menjadi jantung perbaikan kualitas sistem pendidikan nasional, karena “mutu sistem pendidikan tidak dapat lebih tinggi dari mutu para gurunya”.

“Kedua, perlu melakukan pengetatan di dalam seleksi mahasiswa perguruan tinggi keguruan dan pengendalian jumlah perguruan tinggi keguruan untuk mengendalikan pasokan calon guru yang melimpah dengan kualitas rendah. Kebijakan ini harus diambil secara simultan untuk memastikan bahwa calon mahasiswa perguruan tinggi keguruan adalah lulusan terbaik di kelasnya, yang apabila telah dipersiapkan dengan baik akan direkrut sebagai guru di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Prof. Sunaryo.

Ketiga, kata dia, memperkuat komitmen mutu para pimpinan dan seluruh dosen lembaga pendidikan tenaga kependidikan karena apa yang ditampilkan dosen di dalam kelas akan ditiru mahasiswanya ketika kelak mereka menjadi guru. Ini berarti seluruh dosen LPTK bukan hanya harus menguasi content dan keilmuan mata kuliah yang diajarkannya, tetapi juga memahiri metodologi dan delivery system-nya. (WAS/Deny/Andri)

Sorry, the comment form is closed at this time.