Google

PKn FP IPS Berupaya Membangun Warga Negara Berkarakter di Era Globalisasi

Written on:March 28, 2013
Comments are closed

Bandung, UPI

Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PKn FP IPS) UPI, menyelenggarakan seminar internasional bertema “Membangun Warga Negara Berkarakter di Era Globalisasi: Prospek dan Tantangan”, di Auditorium Lantai VI Gedung FPIPS, Kampus UPI Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Kamis (28/3/2013).
Tampil sebagai pembicara Miles F Todler, Direktur Kantor Pemerintahan Demokratis Misi ke Indonesia USAID di Kedutaan Besar Amerika Serikat. Ia menyampaikan tema presentasi “The role of civic education in consolidating democratic governance.” Kedua Mayjen TNI (Purn) Albert Daniel Inkiriwang (Lemhanas Jakarta), menyampaikan tema presentasi “Go or No Go Indonesian Citizenship Education.”. Ketiga Prof. Dr. Em. Abdul Azis Wahab, M.A (Ed) UPI, menyampaikan tema presentasi “Membangun Warganegara Global Berbasis Warganegara Nasional Berkarakter di Era Global.
Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata dalam kata sambutan dan orasinya bertema “Developing Education For Better Asia,” menyampaikan rasa bahagianya hadir dalam kesempatan tersebut.  Ia juga menyambut baik dengan terlaksananya seminar internasional ini. Hal ini sebenarnya relevan pula dengan pelaksanaan Konvensi One Asia yang telah dilaksanakan pada 23 Maret 2013 di Gedung Asia Afrika.
Saat ini bangsa kita masuk ke dalam era global, oleh karena itu maka kita perlu  mendidik manusia menjadi warga global. Karena globalisasi sudah terjadi dan kita ada di dalam sistem dan struktur yang berimbas kepada  nilai dan tatanan berfikir perilaku, komunikasi bersama bangsa lain di dunia ini. Hal ini sejalan pula dengan visi  UPI dengan menjadi universitas yang  leading dan outstanding. Melalui kegiatan ini diharapkan melalui pendidikan  pkn akan memiliki  implikasi bagi para guru untuk membangun kompetensi bagi pendidikan bangsa Indonesia. Apabila berbicara tentang pendidikan berkarakter di era globalisasi maka akan  menyangkut berbagai hal mendasar seperti adanya filosofi tentang  harus dibangunnya warga negara yang berkarakter dalam . konteks global. Terdapat bergam Isu gender, konflik dan lainnya harus masuk dalam proses pendidikan agar dapat mencegah perilaku-perlaku tersebut. Melalui tema dalam seminar internasional maka akan akan membawa implikasi terhadap pendidikan guru terutama dalam  proses pembelajaran di dalam kelas.
Terdapat beberapa  pemikiran terkait dengan membangun warga gloal berkarakter. Pengertiannya bahwa Karekter bangsa Indonesia dibangun sejak bangsa merdeka, dipastikan bahwa karakter tersebut terkait dengan hal-hal yg baik. Karakter tersebut tentunya dipastikan yang  bernilai dan berharga  karena akan  menyangkut perilaku untuk bertanggungjawab. Perilaku tersebut ada pada orang perorang dan merekatkan nilai yg dipahami sebabagi  nilai kultur bangsa. Oleh karena itu bila ingin membangun masyarakat  global maka  jati diri harus diperkuat dengan mutual komunikasi yang kuat. Dalam mewujudkan bangsa indonesia yang  demokratis dan terdidik.
Tentunya harus dibangun pula kebebasan yang bertanggung jawab, yang  tumbuh dari proses pendidikan. Proses pendidikan PKn mesti bergeser agar warga negara melihat upaya menghadapi  internasionalisasi, dengan menyikapi   kondisi objektif di neg Asia. Apalagi mobilitas penduduk antar negara semakin tinggi dan tidak  bisa dielakkan. Hal ini menuntut pemahaman yg luas dan baik, dengan rentang waktu yang panjang dengan sistem globalisasi. Oleh karena itu pendidikan untuk membangun negara harus menyangkut pengetahuan dan awareness. Pendidik harus menyiapkan diri untuk memiliki kecakapan dan terdidik tanpa harus melunturan jati diri bangsa. Jangan menjadi wujud negara secara geografi tapi bangsanya tidak ada. Persoalan politik jati diri bangsa adalah bagian dari  proses pendidikan dalam suatu bangsa merupakan tanggung jawab bersama.
Persoalan karakter tidak terlepas dari kultur yang ada. Karena nilai nasional tumbuh dari nilai  lokal. Upayakan agar  kultur tadi tidak  terserabut dari  bangsa kita. Tentunya harus dibangun kreatif thingking dengan berkolaborasi dan komunikasi menggunakan bahasa yang baik juga teknologi. Hal ini merupakan  alat yang berpengaruh kepada cara berfikir dan berperilaku sebagai kompetensi  multiluktur secara utuh. Proses itu akan membawa paradigma baru untuk membangun masyarakat berkarakter secara utuh. Dalam membangun karakter harus dipastikan ada pewarisan nilai kepada generasi selanjutnya adalah penting dilakukan sebagai pendidik
Kemaslahatan ilmu dan pengaruh  proses pendidikan menciptakan  warga negara berkarakter yang sadar dan peduli kepada lingkungan agar terpelihara dan memilik daya dukung terhadap budayanya sendiri. Masyarakat demokratis dan terdidik harus utuh dan dilengkapi dengan riset iptek diharapkan akan memberikan maslahat kepada bangsa. Melalui hal tersebut maka akan muncul menjadi kata hati bangsa dalam konteks berbangsa dan bernegara.
Miles F Todr Ph.D menyatakan ia senang hadir di kota Bandung yang udaranya jernih dan orang-orang yang ramah. Dalam kesempatan tersebut  ia menyampaikan orasi ” The role of civic education in consolidating democratic governance.” Pria yang pernah bertugas di Irak ini menyampaikan bahwa demokrasi sulit dan tidak sempurna namun diperlukan. Ia menyampaikan pentingnya proses demokrasi yang memerlukan para demokrat yang terdidik. Warga negara memerlukan kesadaran dan partisipasi pengetahuan, keahlian kognitif, keahlian partisipatory dan disposisi.
Sudah sewajarnya bila semua warga negara memiliki pengetahuan tentang konsep dasar dan prinsip demokrasi, sejarah demokrasi, melaksanakan masyarakat demokratis, konstitusi dan institusi demokrasi, memahami isu kontemporer dan keputusannya, dan lainnya. Terdapat tantangan bagi para siswa, guru, lembaga pendidikan, pemerintahan masyarakat untuk menghadapi tidak adanya minat tentang kewarganegaraan, adanya ketidakpercayaan kepada pemerintah, upaya untuk meningkatkan ekspektasi kepada pemerintah, dan adanya sosial media yang kondusif terhadap proses pendidikan tersebut.

Pada guru pun harus menyiapkan konten, metode dan komitmen. Di level sekolah adalah adantya kurikulum yang terlalu padat, memperioritaskan tes nasional, menciptakan iklim positif dan diskusi terbuka dan menyiapkan implementasi persiapan administrasi. Kemudian di tingkat pemerintahan kurang memiliki teladan yang memahami perannya. Kemudian gagal untuk menyediakan perdamaian, dan adanya ketidakpercayaan dari masyarakat dalam mengakomodir suara dalam keputusan yang dibuat.

Pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya harus menyediakan pertama instruksi dalam pemerintah, sejarah, hukum dan demokrasi. Perlu adanya  diskusi bersama tentang masalah lokal, nasional dan isu internasional juga event dalam kelas. Ketiga menyiapkan siswa dengan peluang dalam mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari melalui pelayanan masyarakat melalui kurikulum dan instruksi di dalam kelas. Keempat menyediakan kegiatan ekstrakulikuler agar siswa terlibat dengan masyarakat. Mendorong partisipasi siswa dalam pengelolaan sekolah. Mendorong siswa berpartisipasi dalam simulasi proses dan prosedur demokratis (Dewi Turgarini Foto: Deny Nurahmat)

Sorry, the comment form is closed at this time.