Google

Prodi MIK Ikuti Festival Pangan Non Beras dan Non Terigu

Written on:April 9, 2013
Comments are closed

1

Bandung, UPI

Badan Promosi Pariwisata Kota Bandung melakukan “Road Show Diversifikasi Pangan, dan Festival Penganan Berbahan Baku Non Beras, dan Non Terigu” , Rabu, 7 April 2013 di Depan Rumah Makan Dago Panyaungan Jalan Ir. H. Djuanda atau Dago saat dilaksanakan Car Free Day Minggu pagi di khalayak masyarakat Kota Bandung.

Kegiatan ini yang memiliki jargon “Mau makan? Ngga Harus Nasi Kaliii! Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama seluruh stakeholder di bidang pangan seperti Indonesia Chef Assosiasi Badan Pengurus Daerah Jawa Barat, Program Studi Manajemen Industri Katering, Lembaga Pendidikan Terapan Pariwisata,  Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Pariwisata,  J & C Cookies, ASITA, Himpunan Industri Pariwisata Restoran Indonesia, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia,   Ditjen PPHP,  Diperta BKP Jawa Barat, Indonesia Congres Convention Association, Kementrian Pertanian, Indonesia National Air Carries Association (INACA), para pengusaha bahan baku dan produk Tepung Mocaf  dan Tepung Ganyong.

Wedyana Yanuar Ketua ICA BPD Jawa Barat menyampaikan bahwa partisipasi organisas nya selalu ada dalam pengembangan kuliner kota ini.  Para kaum profesional penggerak motor industri kuliner jelas mendukung kebijakan pemerintah untuk meningkatkan pola konsumsi yang akan mensejahterakan rakyat dan pariwisata di bidang ini.  Apalagi bila pola konsumsi masyarakat sudah berubah dari beras dan terigu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya. Ia menyampaikan bahwa dalam kegiatan tersebut para chef melakukan  cooking demo dibantu mahasiswa Program Studi Manajemen Industri Katering UPI, dan LPTP membuat  beragam menu dari bahan baku non beras dan non terigu. Menu yang ditampilan adalah Sup Jagung, Salad, Nangka Muda Smoke Beef,  Bola-Bola Kentang (rasa coklat dan keju), Lapis Kentang, Colenak.2

Dedie Soekartin Ketua Asosiasi Kafe dan Restoran  Kota Bandung memaparkan “Allhamdullillah acara ini sangat baik dikaitkan dgn sinergitas kerja sama antara stakeholders kuliner dalam melakukan program promosi pariwisata kota Bandung.  Akan sangat saya tunggu hasilnya,  karena bila berhasil akan memdatangkan wisatawan domestik dan mancanegara ke Bandung.  Hal ini tentunya  akan berdampak positif kepada pertumbuhan pasar kafe dan restoran.

Fenomena yang ada masyarakat di Kota Jawa Barat adalah  pemakan nasi yang paling besar di dunia. Saat ini  untuk memenuhi kebutuhan terrsebut  maka Kota Bandung harus panen beras  3000 hektar.  Menghasilkan  panen beras seperti itu akan menjadi  persoalan. Diharapkan melalui diservasi pangan penganeka ragaman pangan maka asupan protein, karbo, vitamin, dapat dipahami bahwa masyarakat makan namun tetap berimbang. Kenyataannya  di negara Indonesia pola makan masyarakat belum berimbang karena pola makan beras terlalu banyak lebih dari 300 gram sehari,  makanan berlemak, dan  kurang sayur juga buah yang menurut FA0 harusnya minimal kira-kira 250 gram sehari.  Kenyataan lain ada pula bahwa asupan beras sekarag sudah turun namun gantinya ke bahan baku dari  terigu seperti mie dan roti, padahal bahan bakunya bukan dihasilkan petani kita sendiri.  Sebenarnya dapat beralih ke umbi-umbian dengan kebutuhan 150 gram sehari, sedangkan saat ini Indonesia hanya mengkonsumsi kurang dari 50 gr sehari. Padahal perlu diketahui bahwa umbi-umbian memiliki lebih banyak kandungan seratnya.” Ujar Jamil Direktur Pengemangan investasi.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Dr. Ir Dewi Sartika, M.Si dalam kesempatan itu melakukan soasialisasi dan pembagian kue non beras dan non terigu seperti Brownis, Kue Kering, Cake Tape, Bolu Kukus dari Tepung Mocaf dan juga Tepung Ganyong.  Kemudian dilakukan pembagian kupon untuk masyarakat yang akan mendapatkan aneka sayuran seperti kentang, paprika, cabe, tomat, brokoli.

Chef Toyo memaparkan pada dasarnya jangan khawatir sebenarnya selain beragam menu olahan yang dibuatnya buah sukun pun dapat diolah sebagai makanan utama. Buah pada dasarnya berserat, maka masyarakat harus banyak berkreasi dalam mencoba hidangan dengan gizi yang berimbang bagi keluarga.

Program Studi Manajemen Industri  Katering mengirimkan para dosennya yaitu Dewi Turgarini, S.S.,MM.Par dan Ilham Fajri, S.Par bersama  para mahasiswanya yang berjumlah 20 orang untuk mensukseskan acara ini,  Firas Dinan Ketua Himpunan Mahasiswa ketika ditanya pendapatnya tentang hari ini memaparkan bahwa kehadirannya di acara ini memberikan  pengetahuan mengenai bahan baku pengganti nasi. Ia dan rekan-rekannya mendapat kesempatan mengolah Beef Rolade Isi Nangka di bawah arahan Chef Dedy yang merupakan Exchecutif Chef Simply Valore The Edge yang merupakan anggota ICA Jabar.  Ia pun bersama rekan-rekannya senang karena mengetahui kentang ternyata juga bisa menjadi dessert dan memiliki rasanya manis. Selain itu ada pula beras analog yg terbuat dari jagung, rasa dan bentuknya mirip dengan nasi pada umumnya.  Belum lagi pengetahuan bahwa dengan mengkonsumsi nasi berlebihan tidak akan baik karena dapat menyebabkan diabetes. Pengetahuan tentang bahan pengganti nasi hasil petani Indonesia bertambah yaitu  ganyong, entang, jagung, ubi, gembiri, garut, singkong, uwi dan sebagainya.  Ia mengajak masyarakat untuk berpindah pola konsumsi bahan pengganti nasi, selain baik untuk kesehatan tubuh juga dapat mensejahterakan para petani Indonesia. (Dewi Turgarini)

Sorry, the comment form is closed at this time.