Google

Kondisi Pendidikan di Daerah Terdepan, Terpencil dan Tertinggal

Written on:July 9, 2013
Comments are closed

3

Laporan VITALIS JEBARUS

(Peserta PPG SM3T Angkatan Pertama, Universitas Pendidikan Indonesia)

INDONESIA adalah salah satu negara yang memiliki kemajemukan (unitax multipeks) dalam pelbagai dimensi kehidupan, baik strata sosio-kultur, politik, ekonomi, juga kondisi geografis dan topografi alamnya. Diversity yang dimiliki masyarakat bangsa Indoensia itu di suatu pihak menjadi  kebanggaan, tetapi di lain pihak menjadi penghambat dalam menjalankan roda pembangunan bangsa, khususnya pembangunan di dunia pendidikan.

Kondisi dan karakter alam yang berbeda-beda berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat, dan perbedaan ekonomi berpengaruh pada partisipasi masyarakat dalam memajukan dunia pendidikan di negara ini. Perbedaan kondisi topografi alam juga berdampak pada lambat dan tidak meratanya penyebaran tenaga guru, sarana dan informasi yang bisa menunjang kegiatan pendidikan di setiap sekolah yang ada. Akibatnya kita masih ditemukan daerah-daerah yang tergolong tertinggal, terbelakang, terdepan dan belum tersentuh oleh pelayanan pendidikan yang layak dan memadai.

Permasalahan Pendidikan di Daerah 3T1

Beberapa  permasalahan  penyelenggaraan pendidikan, khususnya di daerah Terdepan, Terpencil dan Tertinggal (3T) antara lain; persedian tenaga pendidik, distribusi tidak seimbang, insentif rendah, kualifikasi dibawah standar, guru-guru yang kurang kompeten, serta ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang ditempuh, penerapan kurikulum di sekolah belum sesuai dengan mekanisme dan proses yang standarkan. Permasalahan lainnya adalah angka putus sekolah juga masih relatif tinggi.

Berangkat dari sejumlah permasalahan yang disebutkan di atas pendidikan di daerah 3T perlu dikelola secara khusus dan sungguh-sungguh supaya bisa maju sejajar dengan daerah lain. Hal ini bisa terwujud bila ada perhatian dan keterlibatan dari semua komponen bangsa ini, baik yang ada di daerah maupun di pusat. Selain itu, kebijakan pembangunan pemerintah daerah dan pusat memperioritaskan daerah 3T itu.  Menteri Pendidikan Nasional menegaskan daerah 3T memiliki peran strategis dalam memperkokoh ketahanan nasional dan keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia, (Juknis SM-3T).

Sekolah-sekolah di daerah terpencil tidak memberikan kontribusi bagi investasi politis dan ekonomi, tetapi pendidikan di daerah-daerah terpencil berkontribusi bagi pembentukan karakter manusia Indonesia yang berkualitas kedepan.

Kondisi Objektif Salah Satu Sekolah di Daerah 3T

Kondisi Geografis

Secara geografis SMPN Satap Kembang Lala berada di belahan Utara Manggarai Timur, persisnya di kampung Golo Cewo, desa Kembang Mekar, kecamatan Sambi Rampas-NTT. SMPN Satap ini berada di daerah yang sedikit jauh dari pusat pelayanan pendidikan dan terkesan teisolir karena topografi alam yang berbukit-bukit dan terjal.

SMPN Satap Kembang Lala adalah SMP Baru yang terletak di desa Kembang Mekar. SMPN Satap Kembang Lala memiliki luas area sekitar 2.500 m2.. Gedung sekolah ini merupakan gedung SDI Kembang Lala, karena kedua satuan pendidikan ini masih berada di bawah satu atap.

Secara topografis lingkungan sekolah ini berada di lereng bukit, di sebelah Timurnya area persawahan masyarakat, di sebelah Baratnya kompleks Gereja Stasi Kembang Lala dan sebelah tenggaranya berbatasan dengan kompleks postu dan kantor desa Kembang Mekar. Karena lokasi sekolah ini berada di antara kedua kompleks umum ini, maka suasana lingkungan sekolah sangat kondusif bagi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Topografi yang berbukit-bukit berpengaruh pada arus transportasi dari kota kabupaten ke daerah ini. Hanya dua kendaraan yang melintas ke desa Kembang Mekar. Jarak tempuh dari kota kabupaten kurang lebih 3 jam dengan kendaraan. Jenis kendaraan yang biasa ditumpang adalah dantruck yang telah dimodifikasi menjadi oto penumpang alias oto kol. Tempat duduk dalam oto ini terbuat dari papan. Setelah turun dari mobil tulang pinggang terasa sakit. Belum ada bus menuju kampung Golo Cewo. Dua kendaraan yang biasa bertaksi ke daerah itu hanya sampai di ujung aspal. Kami harus berjalan kaki dari ujung aspal menuju kampung itu kurang lebih 1 jam perjalanan. Kondisi aspal dari kota kabupaten ke kecamatan Sambi Rampas sangat sempit dan medannya terjal, bahkan banyak yang sudah rusak. Sampai sekarang belum ada perhatian pemerintah untuk memperbaiki kondisi jalan rusak itu.2

Kondisi Pendidikan

Kondisi Fisik Gedung Sekolah

Secara fisik gedung sekolah ini masih kelihatan bagus karena usianya masih relatif muda. Suasana sekitar gedung ini sepih dan sejuk karena di sekelilingnya masih banyak pohon yang rindang. Gedung sekolah memiliki jumlah ruangan yang terbatas; empat ruang kelas, satu ruang guru, satu ruang perpustakaan yang kosong dan 2 kamar WC. Oleh karena jumlah ruangan kelasnya masih terbatas maka sekolah belum bisa menyediakan sarana-sarana yang bisa mendukung kegiatan belajar-mengajar di satuan pendidikan itu. Kegiatan belajar-mengajar untuk para siswa/i SMP di buat sore hari karena pagi harinya ruangan-rungan kelas yang ada digunakan oleh anak-anak SD. Itu pun, karena ruangan terbatas maka anak-anak SD menggunakan gedung gereja sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan belajar-mengajar.

Kondisi Siswa

Secara kuantitatif murid SMPN Satap Kembang Lala berjumlah 21 orang dan semuanya berada dalam satu rombongan belajar. Pada awalnya mereka berjumlah 23 orang tetapi 2 orang harus berhenti sekolah karena orang tua mereka tidak mampu membiayai pendidikan. Ironisnya, SMP Negeri satu atap ini membebankan biaya pendidikan ke orang tua Rp. 100.000 per bulan, untuk biaya SPP. Angka ini melebihi SPP sekolah swasta yang ada di sekitarnya.

Menyangkut daya serap murid terhadap mata pelajaran yang ada sangat variatif. Ada beberapa anak yang memiliki daya serap yang sangat bagus, beberapa di antaranya memiliki daya serap yang cukup dan sebagian kecilnya memiliki daya serap yang rendah.

Kondisi Guru4

Guru-guru yang mengajar di SMPN Satap Kembang Lala sebagian besarnya adalah guru-guru Sekolah Dasar, dan dua di antaranya adalah Guru SM-3T. Sejak sekolah ini dibuka belum ada tenaga guru yang ditugaskan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga untuk mengabdi di SMP satap ini (persediaan guru masih kurang). Sebagai solusinya kepala sekolah (yang adalah kepala SD) memanfaatkan guru-guru sekolah dasar untuk mengisi kekosongan tenaga itu. Dampaknya guru-guru yang mengajar di SMP Satap ini ditempatkan berdasarkan loyalitas dan dibayar murah. Hal ini berdampak juga pada motivasi kerja mereka.

Masalah lainnya, dedikasi yang mereka berikan tidak berangkat dari kompetensi dan spesifikasi ilmu yang mereka miliki. Dengan demikian berdampak pada kualitas proses karena guru-guru belum memiliki spesifikasi profesionalitas untuk jenjang pendidikan pada satuan itu. Kami sendiri melihat hal ini sebagai suatu masalah serius yang harus segera dicarikan solusinya oleh dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Manggarai Timur.

Guru-guru SM-3T yang datangpun menemukan kesulitan yang sama  karena kedua guru SM-3T diminta oleh kepala sekolah untuk mengajar mata  pelajaran yang ada di luar spesifikasi dan kompetensi yang kami miliki. Guru yang berlatar belakang pendidikan pahasa inggris mengajar mata perlajaran Matematika. Ini juga berakibat pada kualitas proses.

Kurikulum Sekolah

Kurikulum yang berlaku di sekolah ini adalah KTSP sebagaimana yang berlaku secara nasional di semua wilayah di Nusantara ini. Ketika kami melihat mekanisme penerapannya di lingkungan sekolah ini, KTSP belum sungguh-sungguh diterapkan oleh karena beberapa faktor berikut ini.

Faktor pertama adalah penempatan tenaga pengajar yang belum proporsional, karena pengajar  yang ada tidak memiliki kualifikasi akademik seperti yang diharapkan oleh sekolah. Akibatnya guru yang mengajar tidak mengikuti proses dan mekanisme penerapan kurikulum yang sebenarnya. Kedua karena fasilitas pendukung belajar, sekolah belum memiliki buku-buku sumber dan saranan lain seperti laboratorium dan arus listrik yang mendukung kegiatan pembelajaran. Ketiga, untuk pembuatan perangkat dan proses, guru-guru hanya berbuat sebatas apa yang mereka tahu, tanpa mengikuti panduan yang berlaku umum. Ini juga menjadi suatu masalah yang terlihat di sekolah yang ada di daerah 3T.

Semua kondisi dan masalah ril yang ada di daerah 3T menjadi masalah bersama yang menggugah rasa nasionalisme kita untuk mengatasinya. Dalam perpektif ini rasa nasionalisme yang kita bangun terbentuk melalui kesadaran universal dari seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama memberi prioritas bagi percepatan pelayanan pendidikan dan peningkat mutu pendidikan di daerah 3T itu. Kita tidak lagi memikul senjata untuk menentang segala bentuk kolonialisme dari luar tetapi kita membangun semangat nasionalisme untuk merasakan dan mengambil sikap kongkret dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi anak-anak bangsa ini, terutama anak-anak bangsa yang terhimpit dan terlantar di balik deratan bukit dan lembah atau yang berada di daerah yang terisolir dan tertinggal.

Sorry, the comment form is closed at this time.