Metode Tadabur Qurani Solusi Problematika Pembelajaran PAI pada PTU

Humas UPI
August08/ 2018
Spread the love

 

Bandung, UPI

Metode Tadabur Qurani merupakan solusi atas problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Perguruan Tinggi Umum (PTU). Problematika yang dimaksud adalah mutu PAI, karena tujuan pembelajarannya untuk membina ilmuwan sebagai calon pembina yang beriman. PAI lemah dan keragaman kemampuan row input, sebanyak 29,1% bisa baca quran dan 70,9% sisanya tidak bisa baca. Penyajian perkuliahan berdasarkan penelitian sangat membosankan dan kurang bermanfaat. PAI miskin metode, di Indonesia baru ada 2 metode yaitu pupujian dan wirid, keduanya sangat mempengaruhi aspek pembelajaran. Alquran belum difungsikan secara maksimal, karena pembinaan kampus condong pada pendidikan barat, oleh karena itu pembinaan kampus harus bersifat religius. PAI mengabaikan ranah afektif dan psikomotor.

Pernyataan tersebut diungkapkan Prof. Dr. H. Abas Asyafah, M.Pd.
saat menjelaskan Metode Tadabur Qurani merupakan solusi atas problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum dalam Pidato Pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar/Profesor dalam bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (FPIPS UPI) berdasarkan SK Nomor 88029/A2.3/KP/2017. Pidato Pengukuhan Guru Besar di Lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di laksanakan di Gedung Achmad Sanusi Kampus UPI Jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Selasa (7/8/2018).

Prof. Dr. H. Abas Asyafah, M.Pd., menjelaskan bahwa cara untuk mentadaburinya yaitu dengan cara iqro, kemudian meperdalam konsep tilawah quran, serta mengembangkan tadabur qurani. Dikatakannya,”Metode tadabur qurani merupakan suatu cara, prosedur praktis dalam pembelajaran yang memadukan pendekatan rasional, dan emosional yang dilakukan untuk merenungkan kandungan ayat-ayat Alquran atau suatu informasi sehingga kalbu (hati) dapat menangkap pesan-pesan nilai di balik ayat-ayat Alquran serta berupaya untuk merealisasikannya dalam kehidupan.”

Adapun yang menjadi landasannya, lanjutnya, adalah landasan religious, karena Alquran merupakan sumber pokok ajaran Islam. Kemudian landasan filosofis, terdapat kaitan yang erat antara pembelajaran dengan filsafat. Berikutnya, landasan yuridis-konstitusional, serta landasan psikologis-pedagogis.

“Terdapat 5 ciri metode tadabur qurani yang mencolok serta faktor yang mempengaruhi penggunaan metodenya, yaitu pikiran dan hati menyatu, menyentuh emosi, suasana pembelajaran khusyuk dan khidmat, merasakan terjadinya komunikasi Ilahiah, serta menangkap pesan-nilai. Sementara itu faktor yang mempengaruhinya adalah faktor manusia mereka adalah peserta didik & pengajar, kemudian tujuan pembelajaran, bahan ajar, waktu belajar, serta sarana belajar,” paparnya.

Sementara itu hirarki dan langkah-langkah metode tadabur qurani didesain dengan formula ST4, yakni Simā’ah/Tilāwah yaitu menyimak dan membaca, Tafhīm yaitu memahamkan,  Tażawwuq berarti merasakan dalam hati tentang pengaruh-pengaruh yang dikirim dari pikiran manusia, Tadīq artinya membenarkan dan mengakui, dan Tajawwub berarti memberi jawaban.

Metode Tadabur Qurani menjadi khazanah metode pembelajaran yang dikembangkan dari Alquran, berkarakter sistematis, berjenjang, komplementer, berkelanjutan, masing-masing komponen menyatu dan berhubungan. Dampaknya, merangsang mahasiswa untuk menggunakan Alquran, terlatih konsentrasinya, penggunaan metodenya lebih menarik bagi mereka yang memiliki kemampuan membaca Alquran, kemampuan bahasa Arab, dan yang memiliki minat besar terhadap PAI. Bagi guru/dosen yang memiliki kemampuan bahasa Arab, penguasaan tafsir/hadis, pengetahuan komprehensif dan aktual, memiliki suara yang merdu dalam membaca Alquran, dan keterampilan mengolah bahan informasi dapat meningkatkan keberhasilan pembelajaran dengan menggunakan metode tadabur qurani.

“Sementara itu kelemahannya yaitu durasi panjang, dosen/guru harus berada di dalam ruangan hingga akhir pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran bersifat teacher centered, diperlukan keterampilan yang memadai untuk menciptakan atau menyediakan sarana belajar yang menarik perhatian mahasiswa,” pungkasnya. (dodiangga/humasupi)