Rapat Pleno DGB: UPI Kuatkan Kelompok Bidang Kajian dan Kepakaran Dosen

Humas UPI
November08/ 2019
Spread the love

Bandung, UPI

Hari ini kita membahas tentang pengokohan jati diri pendidikan melalui penguatan kelompok bidang kajian dan kepakaran dosen, bagaimana struktur keilmuan pendidikannya serta kenapa menjadi sangat penting. Ini semua karena terkait dengan arah kebijakan dalam upaya penguatan jati diri Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam bidang pendidikan, seperti pengembangan kepakaran dosen serta arah riset dan pengabdiannya.

Pernyataan tersebut disampaikan Rektor UPI Prof. Dr. H. R. Asep Kadarohman, M.Si., usai menggelar Rapat Pleno Dewan Guru Besar (DGB) yang membahas Info ke-Dewan Guru Besar-an dan Pelibatan Guru Besar dalam Implementasi “Rumah Cerdas” di Auditorium Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Lantai 6, Kampus UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung, Jumat (8/11/2019).

Lebih lanjut dikatakan,”Untuk mendukung kepakaran dosen, riset dan pengabdiannya, kami akan me-launching 2 program. Pertama, program penguatan kelompok bidang kajian dosen dengan tujuan mempercepat publikasi dosen, percepatan jumlah guru besar dan peningkatan rekognisi UPI oleh perguruan tinggi lain.”

Kedua, ungkapnya lagi, diseminasi kepakaran dosen yang berbasis android, yang diharapkan dapat diakses secara luas oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, tujuan dari program diseminasi ini adalah untuk mendesiminasikan kepakaran dosen, menyediakan bahan ajar dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat dan meningkatkan pemanfaatan smartphone sebagai media belajar bagi masyarakat.

Diharapkan, melalui program ini kita bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat dalam pendidikan sepanjang hayat. Kaitannya dengan ke-DGB-an adalah penguatan kelompok bidang kajian, karena setiap guru besar memiliki keahliannya masing-masing dan kepakarannya dapat terdesiminasi kepada masyarakat.

“Untuk mendukung hal tersebut, kami akan membuat tim yang terdiri dari para guru besar, dosen yang sudah terkualifikasi doktor dan mahasiswa yang melakukan riset, kemudian mempublikasikannya bersama-sama. Diharapkan, terpublikasi dalam jurnal yang terindeks scopus. Para guru besar tersebut akan merancang suatu bahan ajar berupa peta konsep, materi, penjelasan materi, video dan kuis yang kemudian di upload dalam sebuah aplikasi android. Respon dari para guru besar sangat bagus, diharapkan diseminisi dapat segera terealisasi,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Guru Besar (DGB) Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si., menjelaskan bahwa kepakaran professor itu bukan hanya claim tetapi perceived, jadi bukan hanya pengakuan berdasarkan pengalaman sendiri tapi harus terkonfirmasi dari pengakuan publik, utamanya dari komunitas akademik. Hari ini kita membahas hal tersebut dengan Rektor tentang 2 tawaran untuk mengukuhkan bidang kepakaran professor itu, karena memang sebetulnya sudah terkukuhkan tetapi bagaimana implementasinya dalam 2 program yang sangat mendukung visi misi universitas terutama menuju world class university.

“Jadi yang pertama itu soal bagaimana dosen menunjukan bidang kepakarannya dalam hal membantu doktor-doktor untuk meraih guru besar. Jadi mewujudkan kepakaran dalam bidang pembinaan keprofesoran guru besar melalui riset. Riset yang sudah dirancang dengan berkerjasama dengan mitra di universitas lain atau universitas di dalam negeri. Kemudian yang kedua, bagaimana setiap guru besar mendesiminasikan kepakarannya berbasis android,” ungkapnya.

Ini bukan hal baru, tegasnya, di luar, kita sudah melihat bagaimana orang-orang dengan sangat ahli melakukan ini, tetapi ini baru bagi guru besar di UPI secara  formal, meskipun secara individu-individu mungkin saja sudah ada yang melakukannya, tapi kita butuh gerakan semacam ini untuk menghidupkan iklim akademik bahwa meskipun kita sehari-hari dikurung oleh berbagai target formal, pemeringkatan, akreditasi atau apapun itu namanya, tetapi sesungguhnya tanggung jawab kita yang paling luhur itu adalah tanggung jawab kepada publik. Tanggung jawab kepada bangsa dan negara melalui apa yang kita hasilkan dan apa yang kita pikirkan. Kita ingin membuktikan karya-karya akademik lewat perbuatan kita dan melalui apa yang kita ajarkan serta apa yang kita dokumentasikan.

“Rumah Cerdas merupakan implementasi bidang kepakaran professor berbasis android, hanya nantinya akan dijadikan sebuah aplikasi dalam android namun hingga saat ini belum di launching, masih dalam proses hukum, terutama untuk hak cipta. Seandainya itu sudah semuanya rampung, akan menjadi aplikasi yang bisa di download oleh siapa saja. Rumah cerdas hanya nama sebuah aplikasi dimana di dalamnya berisi berbagai hasil yang diciptakan para guru besar atau mungkin dosen yang lain tentang bidang kepakaran mereka dalam pengajaran baik untuk sekolah maupun luar sekolah, baik untuk sekolah dasar sampai universitas maupun komunitas lain,” jelasnya. (dodiangga)