Dalam upaya akademik yang signifikan, Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd., seorang dosen  dari Program Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS UPI serta Magister Pendidikan BIPA, Sekolah Pascasarjana UPI   ikut serta sebagai panelis dalam “Seminar Internasional Kesusastraan Asia Tenggara” yang diselenggarakan oleh Dewan Kesusastraan Asia Tenggara (SEALC). Acara hibrida ini, dengan tema “Menduniakan Mastera dan Karya Sastra Mastera,” diadakan pada tanggal 20 September 2023, di Aula Sasadu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Jakarta, Indonesia.

Seminar ini menarik sejumlah besar peserta, dengan sekitar 150 orang menghadiri secara fisik dan 5900 orang bergabung secara virtual. Tokoh-tokoh terkemuka dalam bidang sastra dan pendidikan bahasa turut memeriahkan acara ini, termasuk Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang memberikan pidato utama, serta Prof. Dr. Manneke Budiman, pakar sastra  dari Universitas Indonesia.

Sejumlah pemikir terkemuka dari berbagai negara Mastera termasuk Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd.,  Drs. Maman S Mahayana, M.Hum. (Indonesia), Dayang Haji Aminah bin Haji Momin dan Awang Mohamed Zefri Ariff bin Mohammed Zain Ariff (Brunei Darussalam), Prof. Madya Dr. Salmah Jan Noor Muhammad dan Encik Zakaria Ariffin (Malaysia), serta Dr. Nuraini Ismail dan Ahmad Ubaidillah (Singapura) turut meramaikan diskusi.

Prof. Dr. Yulianeta membagikan pandangannya tentang tren dan tantangan kontemporer dalam sastra Asia Tenggara. Diskusi ini sangat memperkaya pemahaman terhadap keberagaman sastra di kawasan ini. Seminar ini berhasil menciptakan wacana ilmiah dan memajukan pemahaman lintas budaya. 

Kegiatan ini dilanjutkan dengan Sidang Mastera ke-27 di mana Prof. Dr. Yulianeta menjadi salah satu wakil delegasi dari Mastera Indonesia dalam kegiatan tersebut. Acara ini memperlihatkan komitmen kuat Prof. Neta dalam memajukan wacana sastra Asia Tenggara.

Dengan demikian, partisipasi dan kontribusi Prof. Dr. Yulianeta dalam seminar dan sidang Mastera menegaskan posisinya sebagai peneliti dan pemerhati kesusastraan, yang tak hanya mengangkat karya sastra Asia Tenggara, tetapi juga memperkaya dialog budaya antarnegara. Keberhasilan acara ini tak terlepas dari kolaborasi yang erat antara para akademisi, praktisi sastra, dan komunitas pecinta sastra di Kawasan Asia Tenggara (Kontributor Humas UPI)