Peresmian Cité International Bahasa Perancis di Villiers-Cotterêts

Oleh : Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)

             Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)

Di Villers-Cotterêts, Presiden Perancis Emmanuel Macron, meresmikan Pusat Internasional Bahasa Perancis (Cité internationale de la langue française) pada hari Senin 30 Oktober 2023 sekitar pukul 10.30 waktu setempat.

Villiers-Cotterêts kini menjadi salah satu pusat kebudayaan  yang  terletak di Hauts-de-France (Aisne) yang berjarak sekitar 85 km dari Paris.  Istana raja Villiers-Cotterets yang baru-baru ini selesai direnovasi adalah monumen yang sangat bersejarah tapi tidak banyak dikenal dunia. Istana ini akan menjadi pusat yang bertujuan untuk mempromosikan bahasa Perancis. Emmanuel Macron menyatakan bahwa  “Semua orang di seluruh dunia yang bekerja, berkreasi, berpikir, menulis, bermain, dan bernyanyi dalam bahasa Perancis pasti merasa betah berada di Villers-Cotterêts karena kita merasa seolah-olah di rumah sendiri”. Pernyataan ini ditekankan oleh Presiden di l’Élysée (tempat tinggal resmi Presiden).

Pusat Bahasa Perancis ini persisnya terletak di Château (istana) de Villers-Cotterêts, yang merupakan mutiara zaman Renaissance dengan raja pada saat itu adalah Raja François I   (1494-1547). François I pada tahun 1539 menandatangani peraturan yang memperlakukan bahasa Perancis sebagai bahasa resmi di negara Perancis (l’Ordonnance Villiers-Cotterets). Perlu diketahui bahwa sebelumnya bahasa resmi yang digunakan dalam dokumen resmi adalah bahasa Latin  Sejak hukum penggunaan bahasa ini diberlakukan, kitab ( Injil) mulai diterjemahkan dari bahasa Latin ke dalam bahasa Perancis. 

Presiden Macron menegaskan bahwa“Proyek ini adalah proyek pertama yang didedikasikan untuk bahasa Perancis di dunia, dan tempat ini akan menjadi jantungnya Francophonie (Negara-negara yang memakai bahasa Perancis)”.  Menteri Kebudayaan Perancis, Rima Abdul-Malak, yang  juga hadir bersama Presiden Macron menegaskan juga bahwa “Proyek ini menyatukan kekuatan bahasa Perancis dan pengakuan atas keberagamannya.”

Mengapa Villiers-Cotterets yang dipilih? Salah satu alasannya adalah karena di kota ini mengalami “kesulitan ekonomi dan sosial”. Di kota ini terdapat istana tempat menginap Raja Perancis saat pergi berburu (Bahasa Perancis : Relais du chasse ; bahasa Inggris : hunting lodge) yang berjarak 80 km dari Paris. Kota ini sebelumnya mengalami kerusakan parah dan Macron pada tahun 2017 meminta kepada Pusat Monumen Nasional (CMN: le Centre des monuments nationaux) untuk merenovasi  dan proses renovasi telah dilakukan dengan baik.

Selain tempat ini berbobot sejarah, seperti yang disebut di atas, pilihan kota ini juga dilakukan karena kota ini mengalami kesulitan ekonomi dan sosial di wilayah tersebut yang ditandai dengan banyaknya pengangguran dan penghilangan pabrik-pabrik (industri) di Villers-Cotterêts yang berpenduduk 10.000 jiwa. Melihat keadaan kota ini,  Emmanuel Macron mempertimbangkan  untuk  memulihkan perekonomian wilayah ini dengan memperbaiki dan menonjolkan potensi yang ada, apalagi kota ini memiliki istana tempat penandatanganan  l’Ordonnance Villiers-Cotterets.

Keputusan kepala negara Perancis ini merupakan “peluang luar biasa” bagi kota ini untuk memajukan bahasa Perancis. Perlu diketahui bahwa ternyata bahasa Perancis yang paling banyak digunakan  bukanlah di kota Paris, ibu kota Perancis tetapi di Kinshasa, ibu kota Republik Demokratik Kongo. (sumber : https://simonkimbangu.com/kinshasa-la-plus-grande-ville-francophone-au-monde/

Presiden menyatakan di l’Élysée bahwa ”Bahasa Prancis adalah aset utama bangsa”, karenanya bahasa Perancis juga merupakan “fondasi intelektual kita dan hubungan kita dengan dunia” (“fondatrice de ce que nous sommes intellectuellement et de notre rapport au monde”)

Di Villers-Cotterêts akan diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara Francophone ( negara negara berbahasa Perancis) pada tahun 2024, yang akan mengundang para pemimpin dari 88 negara. Walikota Villiers-Cotterets, Franck Briffaut, menyatakan dan memperkirakan kota ini akan mendatangkan sekitar 200.000 pengunjung per tahun, yang merupakan “peluang luar biasa” bagi kotanya.

Masalahnya sekarang adalah, jika kota ini bisa menarik banyak wisatawan, apakah kota ini memiliki cukup sarana seperti restoran dan perhotelan? Pusat Bahasa ini berjarak hanya 45 menit dari kota Paris jadi pemimpin wilayah ini merasa optimis dan berharap investor pada tertarik untuk menanamkan modal di sektor pariwisata dan perhotelan yang kemudian akan memajukan dan mengembangkan  perekonomian kota ini, dan harapannya adalah kota ini menjadi kota yang dinamis dan akan menarik perhatian warga Perancis untuk tinggal di kota ini.

Pusat Bahasa Perancis Internasional ini memiliki perpustakaan, gedung pertunjukan, dan tentu saja tempat ini akan menjadi tempat yang strategis bagi para artis. 

Perpustakaan “ajaib “(Bibliothèque magique) ini berbentuk kotak kubik yang berisi ribuan buku dengan fasilitas  kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang dapat melayani pengunjung untuk:

  • membaca buku yang diminati; 
  • memberikan layanan dikte interaktif;
  • melihat berbagai pertunjukan.

Tempat ini dapat dijadikan « tempat tinggal » bagi para seniman, dan Direktur Pusat Bahasa ini mengaskan bahwa Pusat ini (le cité) “bukanlah museum. “Kami di sini bukan untuk melestarikan bahasa Perancis tetapi untuk menghidupkannya, untuk mengungkap keragamannya yang luar biasa,” menurut beliau dengan antusias.

Sementara itu saat Presiden Macron meresmikan Cité Bahasa Perancis ini, gaya Bahasa Perancis baru yang disebut sebagai ”Ecriture inclusive ” ditandatangani oleh pada senator untuk pelarangan penggunaannya demi melindungi bahasa Perancis. Keputusan para senator ini didukung secara penuh oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron, yang  menyatakan bahwa bahasa Perancis ”tidak kalah oleh perubahan  waktu” « ne pas céder aux airs du temps ». Jadi ”Ecriture inclusive – Tulisan inklusif” tidak boleh dipergunakan dalam dokumentasi resmi.

Apa yang dimaksud penulisan inklusif? ”Ecriture inclusive” atau Tulisan Inklusif adalah alat komunikasi tanpa stereotip gender, tata bahasa egaliter, bahasa inklusif, bahasa epicene. Tulisan inklusif ini juga merupakan serangkaian perhatian grafis dan sintaksis untuk memastikan kesetaraan keterwakilan antara perempuan dan laki-laki, misalnya dalam Bahasa Perancis atau Inggris : She (Elle), He (Il) ‘Dia’ dalam bahasa Indonesia. Tulisan inklusif menambahkan ”iel” untuk yang bukan perempuan (féminin) atau bukan laki-laki (masculin) atau yang disebut netral.

Kilasan Sejarah Tentang François 1er yang mengukuhkan bahasa Perancis sebagai bahasa Nasional

François I (1494-1547) yang mengeluarkan Undang-undang Villiers-Cotterets adalah salah satu raja besar Perancis yang banyak dibanggakan karena membawa banyak perubahan pada negara ini. Beliau memasukkan filsafat-filsafat humanis (yang meletakkan manusia di atas agama), dan menggerakkan dunia artistik di Perancis dan sampai sekarang banyak hal yang terinspirasi oleh Raja ini. Beliau pulalah yang mengundang Leonardo da Vinci untuk mengabdi kepadanya.

Pemerintahan François 1er (François I)  (1515-1547) dianggap sebagai gelombang pertama penguatan otoritas kerajaan Perancis saat itu, baik di dalam maupun di luar negeri. Dipengaruhi oleh Italia, Raja ini menganggap dirinya sebagai seorang Pangeran Rennaissance, yang menginginkan kerajaannya bersinar di Eropa dan di dunia. Dikalahkan oleh Charles Quint dalam pemilihan untuk menjadi Emperor Eropa (Empereur du Saint-Empire ), François 1er bertekad untuk menjadi besar dan bersinar dalam bidang lain ( sastra, seni dan perdagangan). Beliau memperbesar perpustakaan yang sampai saat ini masih ada yaitu Perpustakaan Nasional Perancis. François 1er berkoalisi dengan Soleman  le Magnifique (bertahta di negara Ottoman dari tahun 1520-1566) yang membuat Perancis membuka perdagangan dengan dunia timur.

Peraturan Villers-Cotterêts (L’Ordonnance Villiers-Cotterêts)

Diadopsi pada bulan Agustus 1539, undang-undang umum ini mewajibkan pendeta di setiap paroki untuk menyimpan daftar baptisan dan otomatis  kelahiran dan penggunaan bahasa Perancis secara eksklusif – dan bukan lagi bahasa Latin yang selama ini dipakai – untuk urusan administrasi dan sistem peradilan. 

Empat puluh tahun kemudian, peraturan Blois memerintahkan untuk menyimpan catatan pernikahan dan penguburan dalam bahasa Perancis. Langkah-langkah ini memungkinkan lahirnya status sipil yang nyata. Kerajaan ini juga mendorong penyebaran bahasa Perancis di provinsi-provinsi untuk penguatan negara dan bangsa di seluruh Perancis.

Kota Villiers-Cotterets terlupakan padahal merupakan salah satu kota yang penting dalam sejarah pendirian negara Perancis. Semoga peristiwa ini dapat menghidupkan kembali kota ini  dan menjadikan Pusat Bahasa Perancis yang dikenal di seluruh dunia.