
Oleh: Reporter JIP
Ketua dan Sekretaris Tim Kajian Filem (KALeM) Psikologi UPI, Sekar Ayu Hadi Nirbaya dan Dhafin Razaly Syarif, beserta pembimbingnya MIF. Baihaqi, menghadiri kursus filsafat ekstension (ECF, Extension Course Filsafat) yang diadakan oleh Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan Bandung. Pada sesi kedua ini (Jum’at, 16 Agustus 2024) ECF menggelar kursus agak berbeda dari biasanya. Pelaksanaan kursus yang pada sesi-sesi sebelumnya selalu diadakan di kampus Unpar, Jalan Nias Bandung, untuk kali ini diadakan di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Jl. Bukit Pakar Timur No.100 Ciburial, Kabupaten Bandung. Malam itu, topik yang dibahas “Is There Any Correlation between Love, Intelligence, and Wisdom?” disampaikan secara apik dan runut oleh Dr. Saraswati Dewi, dosen dari Fakultas Filsafat Universitas Indonesia, dan dimoderatori oleh Mbak Kristining Seva, S.S., M.Pd.

Bertempat di Bale Handap Selasar Sunaryo – yang bangunannya berbentuk Joglo Jawa – Ibu Saraswati memulai uraian dengan menceritakan bagaimana manusia pertama kali menyusun pengetahuan dan peradaban mengenai cinta. Ia menceritakan secara runut mitos Dewi Cinta dari kitab Ramayana yang biasa ia dengar dari khazanah Bali, hingga kisah cinta Rahwana terhadap Dewi Sinta. Kemudian ia menambahkan beberapa pemikiran kaum feminis, antara lain Simone de Beauvoir dan Luce Irigaray.
Simone de Beauvoir pernah mengkritik pemikiran Nietzsche yang menyatakan bahwa perempuan yang jatuh cinta akan selalu berserah diri sepenuhnya kepada laki-laki. Pemikiran akan cinta feminin ini merupakan konsep yang didekonstruksi oleh de Beauvoir. Menurutnya, kedua belah pihak harus sama-sama menaruh kepercayaan didalam relasi cinta yang romantis, sehingga hubungan percintaan tidak selalu membebani perempuan saja. Kata Saraswati, “Untuk menghindari kerugian akibat cinta romantis yang tidak setara, de Beauvoir menekankan pentingnya berkomunikasi secara terbuka antara pihak-pihak yang terlibat di dalam relasi tersebut agar dapat menghindari idolisasi di dalam relasi cinta.” Apabila idolasi hanya menekankan perjuangan satu pihak saja, maka cinta akan merugikan pihak lainnya. Sedangkan cinta yang otentik adalah proses yang memperkuat serta memerdekakan diri setiap pelakunya.
Ibu Saraswati juga pernah meneliti teks mengenai cinta dari berbagai lagu yang diciptakan oleh beberapa musisi Indonesia. Dalam temuannya, “tek-teks ini kebanyakan hanya mengungkap cinta secara mengawang-awang. Cinta diungkapkan dalam bingkai ‘maya’. Misalnya aku mencintaimu ‘sepenuh hati’, cintaku padamu ‘tak ada duanya’, engkau sangat cantik ‘bagaikan rembulan’, kuingin cintaku ‘kekal abadi’, dan ungkapan-ungkapan maya lainnya. “Jarang sekali cinta dituliskan dalam teks lagu yang dekat dengan ketubuhan,” tandasnya.
Pembahasan mengenai cinta ini semakin menarik karena dikaitkan dengan kecerdasan manusia dalam memikirkan dan merasakan cinta, dikaitkan dengan kecerdasan buatan (Artificial Inteligence), serta dikaitkan dengan kebijaksanaan atau wisdom.

Acara ECF diikuti oleh hampir 80 peserta dari beragam latar keilmuan. Ada mahasiswa S1, S2, dan S3, ada juga dosen dari beberapa kampus di Bandung. Malam itu tampak hadir Bapak Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto, guru besar bidang filsafat di kampus Universitas Parahyangan. Tampak juga pemilik galeri SSAS, Bapak Prof. Dr. Sunaryo, guru besar emeritus bidang seni rupa ITB, dan bapak Dr. Slamet sebagai salah satu penggagas dan pendamping kegiatan ECF ini.
Ada lima peserta yang aktif bertanya setelah penyajian materi. Yaitu pertanyaan dari Dewi (mahasiswa Seni Rupa ITB), pak Slamet (dosen Fakultas Filsafat Unpar), seorang mahasiswi, seorang dosen Arsitektur Unpar, dan seorang peserta berambut gondrong dari Rancamanyar, Bandung Selatan.

Pada akhir acara, moderator Mbak Kristi menyimpulkan materi dengan membaca puisi yang dia rangkai dari beberapa tokoh. Ia menggabung kalimat milik Joko Pinurbo, penyair Yogya, dengan kalimat Sapardi Djoko Damono, penyair sekaligus dosen UI, kalimat Mbak Saraswati selaku narasumber, dan kalimat B.J. Habibie, mantan presiden Indonesia, dengan untaian kalimat yang indah.
Berbincang dengan Bapak Slamet
Keinginan Tim KALeM mengikuti kuliah ECF ini muncul seusai pemutaran dan kajian film ke-85 berjudul “Sultan Agung” di Museum Pendidikan Nasional UPI. Usai sholat Ashar, empat tim KALeM berbincang ringan sambil menikmati telur dadar dan ayam panggang di Kedai Si Enggoh, belakang Masjid Darut-Tauhid Gerlong, Bandung. Secara spontan, pak MIF Baihaqi mengajak tim untuk mengikuti kajian cinta, esok hari tanggal 16 Agustus 2024. Semula, yang akan mengikuti kuliah ada tiga orang: Sekar, Dhafin, dan Rifki. Namun karena Rifki memiliki agenda rapat JIP untuk mempersiapkan kegiatan bonding JIP pada akhir Agustus2024, maka dia berhalangan ikut.

Penasaran dengan gaya sajian kudapan ringan setiap mengikuti sesi ECF di Unpar, selesai acara, reporter JIP mencoba bertanya kepada bapak Slamet mengenai kiat pengelolaan dan penyediaan konsumsi yang selalu disajikan dengan ‘nuansa cinta’ penuh keramahan. Beliau mengatakan, “Seandainya satu peserta dianggarkan Rp 10.000, seandainya peserta berjumlah 100 orang, dan seandainya mereka mengambil konsumsi dua atau tiga potong, maka kami menyediakan 100 x 2 = 200 buah kue.” Hal ini menjadi menarik, karena pada sesi kesatu (Jum’at, pernah dalam suatu momen pada saat menutup perkuliahan, Pak Slamet berkata, “Saudara-saudara, seperti biasa sehabis perkuliahan saya akan memberikan Pekerjaan Rumah. Kali ini PR-nya adalah tolong peserta menghabiskan pisang goreng yang sudah kami sediakan sebanyak dua tampah.” Gurauan ini seperti hanya seloroh, namun secara psikologis, apa yang dinyatakan benar-benar bermuatan ‘cinta’.
Sama halnya pada malam itu. Bapak Slamet menutup acara dengan sapaan, “Para peserta kalau ada yang putus cinta, silakan meniru perilaku Dewi Sinta yaitu pergi menyepi ke hutan. Nah, di sebelah tempat ini ada TAHURA, Taman Hutan Bandung Utara. Di sana ada boleh meluapkan kekesalan putus cinta. Namun jangan sampai Anda ditelan bumi.” Pilihan kalimat ini membuat beberapa peserta tertawa lepas. Malam menunjukkan pukul 09.15 menit. Udara di sekitar Bale Handap semakin dingin.

Sumber foto: Dokumentasi JIP
Penulis: Mif B.

