Majalengka, UPI

Maraknya berita kekerasan yang terjadi di kalangan anak menjadi concern bagi para praktisi—sehingga pada Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2024 ini diusung tema terkait prophetic education sebagai salah satu upaya untuk mengurangi kekerasan yang terjadi, khususnya di kalangan anak usia dini. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut sejak tanggal 25 Juli 2024 hingga 27 Juli 2024 kepada 15 orang guru TK dari berbagai sekolah di Majalengka.

Pada sesi hari pertama, Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd. selaku direktur Sekolah Pascasarjana dan guru besar Universitas Pendidikan Indonesia, memaparkan tema mengenai “Menjadi Guru yang Dicintai”. Menurut Prof Jun, guru yang terlibat sepenuh hati akan dicintai oleh muridnya, dan guru yang dicintai akan menebarkan kebahagiaan bagi muridnya. Sebab, esensi pendidikan penuh dengan cinta dan memanusiakan manusia. Jika terjadi kekerasan, maka itu bukan pendidikan.

Di sesi hari kedua paparan disampaikan oleh Dr. Idat Muqodas, M.Pd. Kons selaku Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Kampus UPI Purwakarta. Materi diawali dengan ice breaking yang berkaitan dengan topik bullying yang terjadi di berbagai lingkungan, khususnya lingkungan sekolah. Peran guru cukup krusial dalam mencegah terjadinya bullying dari guru terhadap siswa dan bullying antar siswa. Guru memiliki ruang untuk menyelipkan edukasi mengenai empati di sela-sela rangkaian pembelajaran di kelas dan meningkatkan keberanian siswa agar berani untuk menjadi upstander.

Prof. Dr. Mubiar Agustin, M.Pd. selaku ketua Pengabdian kepada Masyarakat lintas bidang ilmu sekaligus guru besar UPI mengisi materi pada hari ketiga. Paparan mengenai implementasi prophetic education diawali dengan refleksi mengenai fenomena kekerasan yang marak terjadi di kalangan siswa akhir-akhir ini. Adanya loss of adab menjadi salah satu hal yang memengaruhi munculnya kekerasan akhir-akhir ini. Prophetic education dapat diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran mulai dari merancang kurikulum, menyiapkan program, menanamkan adab dalam tujuan pembelajaran, mengoptimalkan peran guru sebagai muaddib yang peduli dan menjadi teladan, serta merumuskan evaluasi dan capaian berdasarkan adab dan ilmu. Di akhir sesi, para peserta didampingi dalam membuat lesson plan dengan menerapkan prophetic education sebagai acuan dalam pembelajaran di kelas maupun kegiatan di luar kelas.

Kegiatan ini didampingi juga oleh tujuh orang mahasiswa program studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana UPI yang menjadi pemateri pendamping dalam workshop prophetic education ini. Selain pengalaman, para mahasiswa juga mendapat pengalaman baru dalam mendampingi para dosen saat paparan materi. Tak hanya itu, respon positif dari salah seorang peserta menjadi feedback yang baik untuk rangkaian workshop prophetic education ini. “Kami sangat haru dan bangga didatangi oleh para profesor yang sangat luar biasa, materinya sangat keren, baru sekarang ini mengikuti kegiatan namanya prophetic education yang diselenggarakan oleh pascasarjana psikopend UPI. Materinya luar biasa, banyak sekali ilmu yang didapat, diimplementasikan pada murid-murid kami di sekolah, guru-gurunya juga sangat antusias dengan kegiatan ini,” ujar Yulianti, M.Pd. Kepala Sekolah TK Shobarul Iman Majalengka. (Tim PkM Prophetic Education 2024)