Bandung, UPI
Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2025, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Upacara Hari Pendidikan Nasional yang bertempat di halaman depan gedung Gymnasium UPI, Jl. Dr. Setiabudi No. 229, Bandung, Jawa Barat pada hari Jum’at (2/5/2025).
Rektor UPI Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., yang tampil sebagai Pembina Upacara, membacakan amanat Pidato Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dikatakannya bahwa Pemerintah Indonesia menekankan bahwa pendidikan adalah kunci dalam menghadapi tantangan global yang kompleks, seperti krisis iklim, ketimpangan sosial, serta disrupsi teknologi. Adapun tema peringatan tahun ini adalah Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua, yang mengajak seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama mewujudkan pendidikan yang berkualitas, merata, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Prof. Solehuddin melanjutkan, bahwa lebih dari sekadar tempat belajar, ia adalah jantung peradaban yang membentuk akal, karakter, dan masa depan bangsa. Oleh karena itu, kolaborasi menjadi kunci utama dalam mewujudkan tujuan tersebut. Pemerintah mengajak masyarakat, sekolah, perguruan tinggi, industri, dan komunitas untuk saling bersinergi dalam menciptakan pendidikan yang lebih baik.
“Beberapa kebijakan strategis yang telah dan terus dijalankan oleh pemerintah antara lain adalah program Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggulan Garuda untuk menjangkau anak-anak dari berbagai latar belakang sosial, perluasan akses beasiswa melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP), KIP Kuliah, LPDP, dan beasiswa riset. Selain itu, perhatian besar diberikan kepada kesejahteraan guru dan dosen melalui tunjangan profesi dan tunjangan kinerja, serta bantuan untuk guru honorer,” ungkapnya.
Dalam bidang pendidikan tinggi, lanjutnya, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menekankan lima perilaku utama untuk menciptakan pendidikan yang berdampak, yaitu fokus pada hasil dan dampak nyata, riset yang menjawab masalah sosial, ilmu pengetahuan sebagai solusi sosial-ekologis, hilirisasi riset untuk kesejahteraan, serta evaluasi yang akuntabel dan terbuka.
Pemerintah juga mendorong pelaksanaan Wajib Belajar 13 Tahun untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, serta terus bekerja untuk meningkatkan kualifikasi akademik dan profesionalisme tenaga pendidik agar pendidikan Indonesia dapat bersaing di tingkat global.
Pemerintah menegaskan bahwa penguasaan sains dan teknologi adalah fondasi untuk mencapai kemakmuran bangsa, sebagaimana diungkapkan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, “Hanya bangsa yang menguasai sains dan teknologi yang akan menjadi bangsa yang makmur.”
Dengan semangat bersama, pendidikan Indonesia diharapkan dapat terus maju, relevan, dan memberikan dampak positif bagi masa depan bangsa.

