Bandung, UPI

Teater Bidadari Laut Selatan adalah pementasan kolaboratif yang melibatkan 22 mahasiswa asing dari 12 negara yang tergabung dalam Program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Pertunjukan ini berlangsung dalam dua hari, 20 dan 21 Mei 2025, di Gedung Amphiteater UPI. Kegiatan ini mengangkat cerita rakyat Nusantara dalam bentuk teater modern, disutradarai oleh Ridzky Firmansyah Fahmi (Zuki), dengan naskah yang ditulis oleh Burhan Sidiq dan diproduseri oleh Salma Hanifah Yusrizal.

Pementasan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus ajang pembuktian bahwa mahasiswa asing tak hanya mampu mempelajari bahasa Indonesia, tetapi juga meresapi dan menjiwai budaya lokal. Dengan melibatkan mahasiswa dari negara seperti Vietnam, Korea Selatan, Jepang, Uzbekistan, hingga Inggris dan Jerman, Bidadari Laut Selatan menjadi wadah nyata keberagaman yang menyatu dalam semangat seni.

Apa yang membuat pertunjukan ini terasa istimewa bukan hanya dari kisahnya, tetapi juga dari siapa yang membawakannya. Sebagian besar pemain adalah mahasiswa asing yang baru mempelajari Bahasa Indonesia. Namun keterbatasan itu tak menghalangi semangat mereka untuk tampil, berlatih, dan menyatu dalam cerita rakyat yang berasal dari tanah Sunda.

Dalam wawancara yang dilakukan sebelum pertunjukan, sang sutradara Ridzky Firmansyah Fahmi, atau akrab disapa Zuki, membagikan pengalamannya mengarahkan mahasiswa asing dari berbagai latar belakang dan kemampuan bahasa.

“Proses latihan ini bukan hanya tentang membuat pertunjukan yang layak ditonton, tapi juga tentang proses belajar yang hidup. Mereka tidak hanya belajar mengucapkan kata-kata, tapi belajar merasakan,” ujarnya.

Menurut Zuki, tantangan utama adalah membangun chemistry di antara para pemain yang datang dari kultur berbeda dan belum saling mengenal. Namun seiring waktu, mereka justru tumbuh menjadi komunitas kecil yang saling menguatkan.

Cerita rakyat yang dibalut dengan alur naratif yang menyentuh dan elemen visual yang kaya, penonton diajak menyelami nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia melalui pemeranan para mahasiswa asing. Mereka hadir bukan hanya sebagai pelajar, tetapi sebagai penutur budaya. Apa yang mereka bawakan bukan sekadar dialog dan gerak tubuh, tetapi representasi dari upaya memahami dan menghormati warisan budaya bangsa.

Melalui acara ini, terbukti bahwa pembelajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing bisa menjadi lebih dari sekadar proses akademik. Ia bisa menjadi pengalaman yang mempertemukan hati dan pikiran dari belahan dunia berbeda. Dukungan dari Balai Bahasa, DIA, dan ISA pun memperlihatkan bahwa kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang belajar, tetapi juga ruang tumbuh dan berkarya. (CS)