Pada tanggal 27/28 Mei setiap tahunnya, terjadi peristiwa astronomis yang menarik bagi umat Islam di seluruh dunia, yaitu momentum Matahari berada tepat di atas Ka’bah di kota Mekah, Saudi Arabia. Momen ini tidak hanya menjadi saat yang ideal untuk menyempurnakan arah kiblat masjid dan musala, tetapi juga menyimpan keterkaitan yang menarik dengan dinamika kalender Hijriah. Tahun ini, pada 27 Mei 2025, Matahari kembali mencapai titik zenit kota Mekah. Uniknya, hari tersebut juga menandai akhir bulan Zulkaidah 1446 H.

Yang lebih menarik lagi, fenomena serupa juga terjadi tepat 19 tahun sebelumnya, yaitu pada 27 Mei 2006, yang juga bertepatan dengan akhir Zulkaidah 1427 H. Kesesuaian astronomis ini bukanlah suatu kebetulan semata, melainkan jejak dari sebuah siklus alam yang dikenal sebagai siklus Metonik.

Apakah Siklus Metonik?

Siklus Metonik adalah sebuah siklus astronomis dengan periode 19 tahun di mana fase-fase Bulan (moon) hampir persis kembali ke tanggal-tanggal yang sama dalam kalender Masehi. Secara matematis, 19 tahun Matahari ≈ 6939,8 hari sangat dekat nilainya dengan 235 bulan sinodik (siklus fase Bulan dalam kalender Hijriah) ≈ 6939,6 hari. Dengan kata lain, setelah 19 tahun, fase Bulan akan terjadi lagi pada tanggal Masehi yang nyaris sama. Karena itu, dalam kalender lunisolar seperti kalender Yahudi, Hindu , dan Cina, siklus ini digunakan untuk menjaga sinkronisasi bulan-bulan (months) dengan musim-musim (seasons) maupun untuk menjaga keajegan waktu dalam perayaan-perayaan tertentu, semisal imlek dan paskah.

Meskipun kalender Hijriah murni berbasis pergerakan Bulan, dampak dari siklus ini tetap dapat terlihat secara tidak langsung, ketika bulan-bulan Hijriah kembali bersinggungan dengan tanggal Masehi tertentu. Inilah yang terjadi pada akhir Zulkaidah 1427 H silam dan 1446 H, yang sama-sama jatuh pada 27 Mei, dipisahkan oleh rentang 19 tahun.

Matahari di Zenit Ka’bah

Fenomena Matahari berada di atas Ka’bah terjadi dua kali dalam setahun, yakni sekitar tanggal 27–28 Mei dan 15–16 Juli. Kedua momentum tersebut bersamaan dengan pergerakan semu tahunan Matahari, yaitu peralihan dari posisinya di khatulistiwa langit ke langit belahan utara, dan sebaliknya dari belahan langit utara menuju ke khatulistiwa langit kembali. Pada tanggal-tanggal istimewa di atas, bayangan benda tegak di seluruh permukaan Bumi yang disinari Matahari akan dapat digunakan sebagai penunjuk arah Ka’bah, yang menjadi kiblat dalam ibadah salat umat Islam sedunia. Peristiwa ini disebut pula sebagai Istiwa’ A‘zham (istiwa utama), dan menjadi momen terbaik untuk meluruskan arah kiblat secara praktis tanpa alat bantu canggih; cukup dengan mengamati arah bayangan saat peristiwa berlangsung. Ilustrasi untuk hal ini ditunjukkan dalam Gambar 1 berikut.

menentukan-arah-kiblat-matahari-di-atas-kabah

Gambar 1. Ilustrasi Matahari di zenit Ka’bah. Bayang-bayang tongkat tegak di berbagai penjuru muka Bumi yang disinari oleh Matahari, dapat digunakan sebagai penunjuk arah kiblat. (Sumber: www.al-habib.info)

Tahun ini, peristiwa tersebut jatuh pada tanggal 27 Mei 2025 pukul 12:18 waktu Mekah, atau 16:18 WIB. Yang menjadikannya istimewa adalah kenyataan bahwa hari itu juga merupakan hari ke-29 di bulan Zulkaidah 1446 H, hari pelaksanaan rukyat sebelum masuk ke bulan Zulhijah, salah satu bulan penting dalam Islam karena berkenaan dengan ibadah Haji dan Idul Adha.

Lebih dari sekadar aspek praktis di atas, fenomena ini menunjukkan bagaimana langit tidak hanya menjadi ruang fisik, tetapi juga ruang makna yang menghubungkan ilmu pengetahuan, budaya, dan nilai-nilai spiritual. Fenomena tersebut merupakan hasil dari harmoni kosmik antara gerak Matahari, fase Bulan, dan sistem kalender manusia. Keterulangannya setelah 19 tahun menyiratkan bagaimana langit bekerja dalam pola-pola yang dapat dikenali, dipelajari, dan dimaknai. Peristiwa ini adalah pengingat bahwa sains dan spiritualitas dapat saling beriringan.

Visibilitas Hilal Awal Zulhijah 1446 H

Bilakah tibanya awal bulan Zulhijah merupakan hal penting dalam kalender Hijriah, karena menentukan waktu pelaksanaan ibadah haji dan Idul Adha. Pada tahun 1446 Hijriah, pengamatan hilal penentu awal Zulhijah akan dilakukan pada petang hari Selasa, 27 Mei 2025. Dalam hal ini, kenampakan/visibilitas hilal (Bulan sabit muda) memainkan peranan penting untuk memastikan apakah keesokan harinya akan dihitung sebagai 1 Zulhijah ataukah belum (masih menggenapkan menjadi 30 Zulkaidah).

Berdasarkan efemeris astronomi, konjungsi (ijtimak) atau fase Bulan mati untuk akhir Zulkaidah 1446 terjadi pada Selasa, 27 Mei 2025 pukul 10:02 WIB (11:02 WITA/12:02 WIT). Pada saat Matahari terbenam pada hari tersebut, di bagian barat Indonesia sudah terpenuhi kriteria teramatinya hilal MABIMS baru, yang mensyaratkan ketinggian dan elongasi minimal masing-masing sebesar 3° dan 6,4°. Meskipun demikian, kenampakan hilal tidak semata dipengaruhi oleh konfigurasi geometri Matahari-Bumi-Bulan, namun dipengaruhi pula oleh faktor lain semisal kecerahan langit senja, cuaca. bahkan psiko-fisiologi pengamat.

Untuk memprediksi terlihat/tidaknya hilal pada Selasa petang, kami memodifikasi model Kastner (1976) dari formula aslinya untuk dapat pula mengakomodasi modus pengamatan yang berbeda, yaitu pengamatan berbantuan alat optik (binokuler/teleskop). Model ini mempertimbangkan peran dari kecerahan langit senja yang berpengaruh terhadap kontras objek yang diamati. Sejumlah parameter astronomis yang terlibat dalam kalkulasi kecerahan langit senja meliputi ketinggian Bulan di atas ufuk, beda azimut antara Bulan–Matahari, dan sudut depresi Matahari. Kalkulasi dan visualisasi berupa grafik visibilitas model Kastner telah diakomodasi dalam perangkat lunak Hisab Astronomis versi 1.5 yang dikembangkan  oleh Dewan Hisab Rukyat Pengurus Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) bekerja sama dengan Pusat Unggulan Sains Data Astronomi dan Polusi Cahaya (PU SADAR-POLYA) Universitas Pendidikan Indonesia. Kurva visibilitas hilal penentu awal Zulhijah di lokasi Lhoknga (Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia) dan Mekah (Saudi Arabia) ditunjukkan dalam Gambar 2 berikut.    

Gambar 2. Kurva visibilitas hilal penentu awal Zulhijah: untuk pengamat di lokasi Lhoknga sebagai perwakilan kawasan Indonesia yang telah memenuhi kriteria visibilitas MABIMS baru (dua panel teratas) dan di lokasi Mekah (dua panel terbawah) untuk berbagai modus pengamatan (kasat mata dan berbantuan teleskop) serta beragam kondisi kejernihan atmosfer setempat.   

Menurut prediksi model Kastner, hilal akan dapat diamati dari ujung barat kawasan Indonesia, seperti dari kota Lhoknga, dengan syarat cuaca mendukung (tidak ada tutupan awan di arah hilal maupun hujan) dan pengamat menggunakan alat bantu optik (teleskop). Demikian pula untuk pengamat yang berada di kota Mekah, Saudi Arabia. Model memprediksi hilal akan dapat diamati secara kasat mata, meskipun penggunaan alat bantu optik akan lebih memudahkan mengesani kenampakan hilal karena membantu meningkatkan kontras. Pada hari Selasa 27 Mei juga akan dilangsungkan sidang isbat di Kementerian Agama RI untuk mengambil keputusan apakah 1 Zulhijah bertepatan dengan Rabu 28 Mei ataukah pada Kamis 29 Mei. Selamat Idul Adha 1446 H, semoga keteladanan kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim as dan Ismail as menjadi inspirasi kuat bagi pembangunan karakter dan semangat kebersamaan dalam membentuk masa depan Indonesia yang lebih baik. []