Istanbul, Turki – Si penjual kerupuk jengkol, anak desa dari Kabupaten Padang Pariaman itu, dahulu hanya berani bermimpi pergi ke luar negeri. Dengan keterbatasan biaya dan keterjagaan realitas, ia membiarkan mimpinya mengambang sebagai angan-angan. Namun doa tidak pernah henti ia mohonkan, berharap mimpi yang tampak mustahil itu suatu hari akan menemukan jalannya sendiri.

Keikutsertaan Ananda merupakan bagian dari fasilitas akademik yang diberikan oleh Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI), program kolaborasi antara Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Balai Pembiayaan Pendidikan Tinggi (BPPT), Kemendikbudristek, yang memberikan jatah dua kali konferensi ilmiah bagi mahasiswa jenjang doktoral.

“Bagi saya, ini bukan sekadar menghadiri konferensi. Ini adalah bagian dari janji pada diri sendiri bahwa mimpi anak kampung pun bisa menjangkau panggung akademik global,” ujar Ananda usai sesi presentasinya.

Dalam forum ilmiah tersebut, Ananda memaparkan makalah berjudul “Revitalisasi Tradisi Tabuik melalui Film Eksperimental untuk Pengembangan Pembelajaran Bahasa Indonesia.” Penelitian ini mengeksplorasi potensi tradisi Tabuik sebagai sumber kearifan lokal yang sarat nilai spiritual, sosial, dan estetika. Ia menggunakan pendekatan semiotika visual dan film eksperimental untuk mentransformasikan elemen-elemen budaya menjadi media ajar kontekstual yang menyentuh aspek afektif peserta didik.

“Tradisi lokal seperti Tabuik bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi juga untuk diinterpretasi kembali melalui media yang hidup dan kreatif. Film eksperimental memberi ruang bagi tafsir budaya yang lebih personal dan reflektif,” tambahnya.

Riset Ananda mengintegrasikan aspek budaya, seni visual, dan pembelajaran Bahasa Indonesia dalam satu model transformatif. Dengan pemilihan media berbasis seni dan pendekatan simbolik, ia berharap pembelajaran bahasa tidak hanya bersifat gramatikal, tetapi juga menjadi wahana pembentukan karakter dan kesadaran budaya.

Ananda Putriani merupakan putri daerah dari Nagari Limau Puruik, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Latar belakang keluarga sederhana tak menyurutkan semangatnya untuk menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral. Ia tumbuh membantu ibunya berdagang di pasar tradisional, sebuah realitas yang kini menjadi bagian dari kisah inspiratifnya sebagai akademisi muda.

“Tanpa dukungan dari LPDP, BPPT, dan pembimbing saya di UPI, langkah ini mungkin hanya akan tinggal angan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Dinas Pariwisata Kota Pariaman atas peminjaman referensi budaya lokal, yang memperkaya risetnya tentang tradisi Tabuik. Saya bersyukur bisa membuktikan bahwa pendidikan benar-benar bisa mengubah nasib,” tuturnya penuh syukur.

Kisah Ananda menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UPI tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai budaya lokal ke dalam wacana ilmiah global. Ia berharap, pengalaman ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk percaya bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan titik awal perjuangan. (Ananda Putriani)