Bandung, UPI

Kota Bandung dan sekitarnya kini menghadapi tiga tantangan lingkungan utama yang saling berkaitan, yaitu krisis penanganan sampah, kekurangan air bersih, dan banjir musiman. Volume sampah harian yang melebihi 1.500 ton tidak tertangani optimal akibat keterbatasan TPA Sarimukti, memicu penumpukan di TPS dan dampak kesehatan serius bagi warga. Di saat yang sama, krisis air bersih semakin parah tiap musim kemarau, dengan debit PDAM yang menurun tajam dan air yang keruh serta berbau. Kondisi ini diperburuk oleh banjir tahunan dari luapan sungai besar seperti Citarum, yang tidak hanya merusak infrastruktur tetapi juga memutus akses terhadap sumber air bersih.

Menanggapi hal ini tersebut, Dosen Prodi Fisika (Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Dr. Selly Ferani, M.Si., menekankan pentingnya pendekatan edukatif berbasis masyarakat dalam menangani krisis lingkungan perkotaan secara berkelanjutan.

Menurutnya, solusi jangka panjang harus mengintegrasikan pendidikan lingkungan di semua level, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sembari memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas. “Tanpa kesadaran kolektif dan literasi lingkungan yang kuat, persoalan sampah dan air akan terus menjadi bom waktu,” ujarnya.

Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh tim UPI menunjukkan bahwa keterlibatan aktif warga melalui bank sampah, konservasi air, dan partisipasi dalam program drainase alami mampu menekan dampak bencana lingkungan secara signifikan. Oleh karena itu, Selly mendorong agar kebijakan daerah tidak hanya fokus pada reaksi darurat, tetapi juga pada transformasi pola pikir warga terhadap alam dan sumber daya. Dalam hal ini, peran kampus seperti UPI menjadi vital sebagai penggerak perubahan sosial berbasis ilmu pengetahuan.

Program penelitian unggulan UPI 2025 yaitu Green tech land, merupakan penelitian kolaborasi 2 universitas dan yayasan pendidikan di Kabupaten Bandung yaitu laboratorium Geomekanika Tanah dan Batuan  Prodi Fisika UPI, laboratorium Fisika Media Berpori dan Dinamika Fluida ITB, dan Yayasan Tarbiatul Insan AN-Na’iim, telah digelar untuk mengubah lahan di pinggiran Sungai Citarum menjadi lahan reservasi air tanah melalui monetasi sampah berkelanjutan di sekitar Yayasan Tarbiatul Insan AN-Na’iim, Rancamanyar, Kec. Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Program ini adalah kompilasi  dari hasil-hasil penelitian sebelumnya yang mengarah pemenuhan SDGs, ketersediaan dan pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua (Clean Water and Sanitation) dan memperkuat sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan. (Partnerships for the Goals).

Impementasi program unggulan ini diawali dengan workshop  yang bertujuan untuk menyamakan persepsi dan pemahaman total tentang program ini dan berbagi keterampilan praktis pengolahan dan monetasi sampah berkelanjutan. Workshop diikuti oleh semua staf pengajar di lingkungan Yayasan Tarbiatul Insan AN-Na’iim, orang tua siswa, pengurus, masyarakat dan tokoh masyarakat.

Workshop “Program Green Tech Land: Lahan Industri Hijau Melalui Monetasi Sampah Berkelanjutan” yang diselenggarakan pada Sabtu (19/4/2025) di Yayasan Tarbiyatul Insan An Naim ini menghadirkan sejumlah pembicara dari akademisi dan praktisi lingkungan. Mereka adalah Ketua Lab Geomekanika Tanah dan Batuan UPI Dr. Selly Feranie, S.Si., M.Si., yang membawakan materi utama tentang program unggulan UPI 2025 dan pentingnya pemanfaatan sampah anorganik secara berkelanjutan. Kemudian ada Dr. Deni Sopiansyah, S.Pd., M.Pd., sebagai Ketua Yayasan Tarbiyatul Insan An Naim, yang menyampaikan perspektif kelembagaan pendidikan berbasis lingkungan.

Sementara itu, Uus Heoruddin dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung membahas kebijakan lokal pengelolaan sampah an organik dan bagaimana cara pemilahan yang tepat dan bisa menghasilkan uang melalui bank sampah. Berikutnya adalah Ketua Lab Pendidikan Teknologi Dasar UPI Drs. Amsor, M.Si., melengkapi sesi dengan workshop urban organik farming dengan praktek membuat POC yang jika ditekuni dengan baik dapat dijual dan manfaat banyak untuk menghasilkan sayur dan buah organik berkualitas baik. Kegiatan ini juga didukung oleh tim mahasiswa fisika UPI yang berperan sebagai asisten peneliti dan tim operasional.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Pendidikan Yayasan, Diah Martiarini menyambut baik program ini dan menyatakan siap mengimplementasikan program baik ini untuk menularkan kebiasaan baik dalam penanganan sampah di semua jenjang pendidikan di Yayasan Tarbiyatul Insan An Naim, serta berusaha menularkan program ini ke masyarakat sekitar.

Demikian pula dengan para tokoh lingkungan dan pejabat desa, mereka juga menyambut program ini dan berharap program ini dapat diimplementsikan tidak hanya di lingkungan yayasan An Na’iim tetapi juga ke daerah lain di Bale Endah.

Sementara itu, Farhan Dzulfikri Firdaus, seorang guru lulusan Bioteknologi menyambut baik program ini terutama konservasi air tanah melalui penerapan organik biopori yang berkelanjutan dan media tanam yang dihasilkan untuk produksi pangan organik bebas kimia yang dikembangkan bersama siswa MTs dan MA untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam mengelola sampah organik dan urban farming di rumah mereka. (edit:dodiangg)