
Bandung, UPI
Asosiasi Pengajar Bahasa Korea di Indonesia (AJARI) bersama Korean Education Center (KEC) Indonesia dan Korea Foundation (KF) menyelenggarakan Seminar Nasional Akademik 2025. Seminar berlangsung selama dua hari. Hari ke-1 berbicara tentang “Promoting Korean language education at indonesian secondary school: strategies and approaches”. Sementara itu untuk hari ke-2, membahas tentang “Korean Language textbook, teaching methods, and assessment in indonesia: within and beyond”.
Kegiatan ini memiliki tema The 1st KEC indonesa-Ajari Seminar 2025 dan the 6th KF-AJARI Seminar 2025, berlangsung di Auditorium Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Gedung B Lt.4 Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Kota Bandung, Jawa Barat. Kamis (24/07/2025).
Sebanyak 300 peserta yang terdiri dari dosen, guru bahasa Korea tingkat SMA/SMK, mahasiswa, serta para pemangku kepentingan pendidikan bahasa Korea di Indonesia mengikuti kegiatan ini. Seminar ini bertujuan untuk memperkuat pengembangan kurikulum, metode pengajaran, serta evaluasi pembelajaran bahasa Korea, baik di institusi formal maupun non-formal di Indonesia.
Dekan FPBS UPI Prof. Dr. Tri Indri Hardini, M.Pd., mengungkapkan bahwa penyelenggaraan seminar ini sangat relevan dan tepat waktu. Dikatakannya,”Saat ini, pendidikan bahasa Korea telah berkembang sangat pesat di Indonesia, khususnya di jenjang pendidikan menengah. Namun, pertumbuhan ini tentu memerlukan dukungan kebijakan yang kuat, kurikulum yang kontekstual, guru yang kompeten, serta strategi penyebaran yang terstruktur dan berkelanjutan.”

Melalui forum ini, lanjutnya, kita berharap akan muncul berbagai gagasan baru, hasil riset, serta pengalaman lapangan yang dapat memperkaya pendekatan kita dalam memajukan pembelajaran bahasa Korea di sekolah-sekolah menengah di Indonesia.
Lebih jauh ditegaskan,”Seminar ini menjadi jembatan sinergi antara kebijakan pendidikan nasional Indonesia dengan dukungan luar negeri khususnya dari Pemerintah Republik Korea dalam memperluas jangkauan dan mutu pengajaran bahasa Korea.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UPI Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan hal serupa. Dikatakannya,”Dalam upaya memperluas peluang kerja ke luar negeri, khususnya ke Korea Selatan, perhatian khusus diberikan kepada para siswa di luar program studi yang telah bekerja sama langsung dengan Korea. Masalah utama yang dihadapi adalah keterbatasan kemampuan bahasa Korea di kalangan siswa tersebut. Oleh karena itu, langkah awal yang akan diambil adalah melakukan pendataan terhadap siswa yang berminat bekerja di Korea.”
Setelah terdata, ujarnya lagi, para siswa tersebut akan diarahkan untuk mengikuti pelatihan bahasa Korea secara intensif. Skemanya, siswa akan tetap menjalani kegiatan belajar sesuai jurusannya, misalnya di bidang logistik atau otomotif. Pada pagi hari, dan pada siang harinya mengikuti pelatihan bahasa Korea atau Jepang. Dengan demikian, setelah lulus, para siswa diharapkan memiliki keterampilan bahasa minimal yang memadai untuk bekerja di Korea atau Jepang.
“Ke depan, diharapkan pemerintah Korea dapat memberikan dukungan tambahan, khususnya dalam pembangunan Pusat Pelatihan Bahasa Korea di Bandung, tepatnya di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia. Saat ini, lahan untuk pembangunan pusat pelatihan tersebut telah tersedia, namun masih membutuhkan dukungan pendanaan. Dengan adanya pusat pelatihan ini, diharapkan upaya peningkatan kompetensi bahasa dan kesiapan kerja lulusan di Korea dapat lebih terfokus dan berkelanjutan.” tutupnya.
Berdasarkan hal tersebut, seminar ini ditujukan bagi para pengajar yang mengajarkan bahasa Korea, serta bagi para pengajar yang menggunakan bahasa Korea dalam kegiatan mengajarnya. Seminar ini tidak hanya relevan untuk para pendidik di Bandung saja, tetapi juga untuk seluruh pendidik di Indonesia. Tujuan utamanya adalah untuk mendukung pengembangan pendidikan bahasa Korea di Indonesia secara lebih luas.
Wakil Kedutaan besar Korea Selatan untuk Indonesia H. E. Mr. Park Soo-deok mengutarakan bahwa mengapa bahasa Korea penting untuk diajarkan di Indonesia? jawabannya karena hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan semakin erat dari waktu ke waktu, terutama dalam bidang pendidikan, pertukaran pelajar, dan kerja sama tenaga kerja. Ditegaskannya,”Pemerintah Korea Selatan bahkan memiliki program beasiswa internasional yang dikenal dengan GKS (Global Korea Scholarship), yang setiap tahun memberikan beasiswa kepada sekitar 200 mahasiswa Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Indonesia bagi Korea Selatan.”
Korea Selatan juga sangat menghargai kualitas sumber daya manusia Indonesia. Mereka menilai bahwa generasi muda Indonesia adalah generasi yang pintar, rajin, dan memiliki semangat tinggi untuk belajar. Karena itulah, Korea Selatan sangat membutuhkan tenaga kerja berkualitas dari Indonesia.
Mr. Park Soo-deok berharap paling penting dari semuanya adalah bahwa sumber daya alam Indonesia memang melimpah, tetapi sumber daya manusia-lah yang paling menentukan masa depan. Maka, pengajaran bahasa Korea menjadi jembatan penting untuk mempererat hubungan, membuka peluang pendidikan, dan menyiapkan generasi muda yang mampu bersaing di tingkat internasional, khususnya dengan Korea Selatan sebagai mitra strategis yang sangat potensial. (rizaibrahim/edit:dodiangg)




