
Bandung, UPI
Suasana semarak dan penuh semangat menyelimuti area kampus Politeknik Negeri Bandung (POLBAN) pada Sabtu pagi (19/7), saat empat kelompok Paduan Suara Mahasiswa (PSM) dari berbagai perguruan tinggi di Bandung berkumpul dalam kegiatan Choir Visit 2025. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 15.30 WIB ini tidak hanya menjadi ajang penampilan, tetapi juga ruang dialog dan penguatan jejaring antar paduan suara mahasiswa.
Turut hadir dalam kegiatan ini yaitu PSM Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), PSM Universitas Islam Bandung (UNISBA), PSM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ekuitas (STIE Ekuitas), serta PSM POLBAN selaku tuan rumah. Masing-masing delegasi hadir dengan kostum bertema “Hogwarts House” dari dunia fiksi Harry Potter: PSM UPI dengan tema Gryffindor, PSM UNISBA Slytherin, PSM Ekuitas Ravenclaw, dan PSM POLBAN Hufflepuff. Kreativitas dan identitas kampus terlihat dari kekompakan kostum dan properti yang dikenakan setiap peserta.
Konsep kostum ini bukan sekadar hiasan, melainkan menjadi bagian dari pendekatan kreatif untuk menumbuhkan identitas kelompok sekaligus nuansa tematik yang menyenangkan dan membangun atmosfer akrab. Dalam kegiatan ini, nuansa kekeluargaan sangat terasa sejak awal para peserta datang ke lokasi. PSM POLBAN sebagai tuan rumah menyambut para peserta dengan keramahan, dan seluruh rangkaian acara tersusun dengan rapi, mencerminkan persiapan matang dari panitia.
Acara dibuka oleh MC, menyapa seluruh hadirin dengan penuh semangat dan antusias. Setelah pembukaan oleh MC, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan dari perwakilan setiap kampus. MC memberikan waktu bagi pimpinan PSM untuk memberikan sambutan, sebagai bentuk penghormatan sekaligus pembuka komunikasi lintas institusi. Sambutan pertama disampaikan oleh ketua pelaksana Choir Visit 2025, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi pengenalan dan penampilan masing-masing PSM.
Usai sesi sambutan, MC memandu sesi pengenalan setiap PSM secara bergiliran. Dalam sesi ini, masing-masing perwakilan diberi waktu untuk memperkenalkan sejarah singkat, struktur organisasi, visi-misi, serta program unggulan dari kelompok mereka.

Dalam sesi ini pula, MC mempersilakan Q&A interaktif, di mana audiens dari masing-masing kampus bisa mengajukan pertanyaan atau memberikan tanggapan. Pertanyaan yang muncul mencakup metode latihan vokal, sistem open recruitment, serta cara membangun kekompakan internal kelompok.
Sesi pengenalan ini tidak hanya membuka wawasan peserta, tetapi juga menjadi ajang refleksi dan perbandingan inspiratif antar PSM. Setiap kelompok memiliki pendekatan unik yang patut diapresiasi dan ditiru sesuai konteks masing-masing kampus.
Penampilan dari tiap PSM menjadi puncak perhatian di sesi awal karena masing-masing kelompok memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan warna khas dan kualitas mereka. Selain kekuatan teknis dan musikal, tiap grup juga menampilkan gestur tubuh dan ekspresi wajah yang mendalam menandakan bahwa mereka memahami benar pesan yang dibawa setiap lagu. Setiap kampus menampilkan satu karya unggulan yang mencerminkan karakter dan kemampuan teknis vokal masing-masing kelompok: PSM POLBAN membawakan “Gala Bunga Matahari” karya Sal Priadi, yang dikemas dengan nuansa ekspresif dan puitis; PSM UPI menampilkan “Father Thunder” karya Laura Jekabsone, dengan warna harmoni yang kompleks dan teknik vokal dinamis; PSM UNISBA menghadirkan lagu daerah “Cicilalang” yang diaransemen oleh Dudi Yudharma, menampilkan sentuhan tradisional dengan artikulasi yang khas; PSM Ekuitas mempersembahkan “Selalu Ada di Nadimu” karya Laleilmanino, sebuah lagu populer yang dibalut dalam gaya pop choir yang ringan namun menyentuh.
Keempat penampilan menunjukkan tidak hanya kualitas musikal, tetapi juga keberagaman pendekatan artistik. Ada yang menonjolkan teknik, ada pula yang mengedepankan ekspresi emosional dan kedekatan dengan audiens.
Misalnya, PSM UPI yang membawakan Father Thunder dengan penuh energi dan kontras dinamis yang tajam, memperlihatkan kepekaan mereka dalam menginterpretasikan karya kontemporer bernafaskan kekuatan alam. Lagu ini ditampilkan dengan nuansa megah dan atmosferik, menuntut presisi harmoni dan artikulasi antar suara, yang berhasil dieksekusi dengan baik. Sementara itu, PSM UNISBA menghadirkan Cicilalang, sebuah lagu rakyat yang membangkitkan rasa nostalgia dan kebanggaan budaya lokal. Aransemen karya Dudi Yudharma ini menuntut kontrol warna suara dan pemahaman terhadap elemen tradisional dalam pembawaan vokal, yang berhasil ditampilkan dengan apik oleh kelompok tersebut.
Tidak kalah menarik, PSM STIE Ekuitas yang membawakan lagu Selalu Ada di Nadimu menghadirkan kesan segar dan hangat. Lagu bergenre pop tersebut diperkaya dengan harmoni sederhana namun efektif, cocok untuk membangun kedekatan emosional dengan audiens. PSM POLBAN sebagai tuan rumah juga tampil percaya diri lewat lagu Gala Bunga Matahari, membawakan suasana puitis yang menyentuh lewat warna vokal yang lembut namun kuat.

Lebih dari sekadar ajang pertunjukan, Choir Visit 2025 menjadi ruang kolaboratif yang inklusif dan edukatif. Setelah penampilan musikal, MC memandu sesi Q&A singkat dengan masing-masing perwakilan PSM. Pertanyaan-pertanyaan seputar struktur organisasi, proses latihan, hingga strategi rekruitmen menjadi bahan diskusi ringan yang mempererat hubungan antar kampus.
Acara kemudian berlanjut dengan games interaktif, di mana seluruh peserta berbaur tanpa sekat almamater. Setelah semua penampilan selesai, peserta mendapatkan waktu untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dalam sesi Focus Group Discussion (FGD), yang dilaksanakan setelah waktu ISHOMA. Tema diskusi berkisar pada pengembangan organisasi, strategi pementasan, dan manajemen latihan vokal, yang dibahas dalam kelompok-kelompok kecil lintas kampus.
Antusiasme terlihat jelas dari semangat peserta dalam menyampaikan ide dan mendengarkan pengalaman kampus lain. Moderator dari panitia membantu agar diskusi tetap berjalan terarah dan semua peserta mendapat kesempatan menyampaikan pendapat.
Setelah diskusi, peserta kembali dihangatkan oleh sesi ice breaking, dan dilanjutkan dengan pemaparan hasil FGD, serta game kedua yang semakin mempererat suasana kebersamaan. Pada sesi ice breaking dan permainan kedua, suasana berubah lebih santai dan cair. Peserta tertawa bersama dan saling mengenal lebih dalam.
Choir Visit 2025 berhasil menghadirkan satu kegiatan yang menyatukan semangat musikal, nilai kolaboratif, dan semangat kekeluargaan. Penampilan musik menjadi pintu pembuka apresiasi, tetapi diskusi dan interaksi menjadi inti pembelajaran bersama.
Acara ditutup dengan pemberian sertifikat, dokumentasi, dan sesi foto bersama, menandai berakhirnya kegiatan yang padat namun bermakna ini. Senyum peserta yang terpancar saat sesi foto menandakan keberhasilan acara secara emosional dan sosial. Keberhasilan Choir Visit tahun ini menunjukkan bahwa kegiatan studi banding tidak harus selalu formal, tetapi bisa dibalut dalam format kreatif yang menyenangkan dan membangun jaringan.
Kegiatan ini patut diapresiasi sebagai contoh kolaborasi antar institusi dalam bidang seni, khususnya paduan suara mahasiswa, yang semakin menunjukkan identitasnya sebagai media pembinaan karakter, kerja sama tim, dan ekspresi budaya kampus.

Secara keseluruhan, Choir Visit 2025 berhasil menjadi wadah pembelajaran bersama yang santai namun bermakna. Kegiatan ini tidak hanya mencerminkan kualitas musikal masing-masing kelompok, tetapi juga menunjukkan bahwa PSM memiliki peran strategis dalam mempererat relasi antar kampus, menumbuhkan solidaritas, dan menyemai semangat berkesenian yang sehat.
Harapannya, kegiatan serupa dapat terus berlanjut di masa depan dengan melibatkan lebih banyak PSM dari berbagai daerah, membentuk jejaring nasional yang solid, dan memperkaya khazanah paduan suara mahasiswa Indonesia (Leila A’ida Fitria mahasiswa Pendidikan Seni Musik UPI angkatan 2023)

