
Surakarta, UPI
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan kunjungan akademik ke Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam rangka penjajakan kerja sama dan inisiasi pembukaan Program Studi Bahasa Mandarin di FPBS UPI, pada Rabu (13/8/2025).

Rombongan FPBS UPI dipimpin oleh Prof. Dr. Tri Indri Hardini, M.Pd., Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi sekaligus Plt. Dekan FPBS UPI, didampingi oleh jajaran wakil dekan, yaitu Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Wawan Gunawan, M.Ed., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya dan Umum, serta Dr. Yanty Wirza, M.A., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan.
Rombongan diterima dengan penuh kehangatan oleh Dekan FIB UNS Dr. Dwi Susanto, M.Hum., bersama jajaran pimpinan fakultas dan Kaprodi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, Dr. M. Bagus Sekar Alam, S.S., M.Si., serta dosen-dosen Prodi Mandarin.
Belajar dari Pengalaman UNS
Dalam diskusi, pimpinan FIB UNS memaparkan perjalanan Prodi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok yang dimulai sejak program D3 pada 2017, hingga berkembang menjadi Program Sarjana (S1) pada 2022. Dengan mahasiswa angkatan pertama sebanyak 40 orang, program ini menunjukkan keberhasilan dengan masa tunggu kerja lulusan nol bulan, membuktikan tingginya kebutuhan dunia kerja terhadap kompetensi bahasa Mandarin.
Program unggulan yang disampaikan adalah double degree bersama Xihua University, Tiongkok, yang memungkinkan mahasiswa menempuh dua tahun kuliah di UNS dan dua tahun di Tiongkok. Selain itu, kurikulum dirancang dengan target mahasiswa mencapai HSK 4 pada semester 4, dilengkapi dengan pendekatan team teaching, integrasi bidang linguistik, sastra, jurnalistik, media, serta kajian kebudayaan Tiongkok.
Dekan FIB UNS, Dr. Dwi Susanto, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan,“Kami menyambut baik kunjungan FPBS UPI. Semoga pengalaman UNS dalam mengelola Prodi Bahasa Mandarin dapat menjadi rujukan dan memperkuat kolaborasi antarfakultas. Ini adalah langkah penting bagi pengembangan keilmuan dan jembatan persahabatan budaya antara Indonesia dan Tiongkok.”
Komitmen FPBS UPI
Dalam sambutan pimpinan FPBS UPI disampaikan bahwa kunjungan ke FIB UNS menjadi inspirasi penting bagi FPBS dalam menyiapkan naskah akademik, merancang kurikulum, serta memperkuat jejaring kerja sama internasional. Hal ini dipandang sebagai langkah strategis UPI untuk menghadirkan Prodi Bahasa Mandarin yang unggul dan relevan dengan perkembangan global.
Dari sisi akademik, pengembangan Prodi Bahasa Mandarin perlu berpijak pada kualitas yang selaras dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), sehingga lulusannya tidak hanya menguasai bahasa, tetapi juga mampu mengaitkan sastra, budaya, dan riset lintas disiplin. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 11 tentang pelestarian budaya.
Aspek sumber daya juga menjadi perhatian, termasuk kesiapan dosen dengan latar belakang yang relevan serta dukungan universitas mitra di Tiongkok, agar prodi baru dapat berkembang sesuai standar nasional maupun internasional. Selain itu, pembukaan Prodi Bahasa Mandarin diharapkan membuka peluang mobilitas mahasiswa melalui program double degree dan pertukaran pelajar, sehingga mahasiswa FPBS UPI dapat tumbuh sebagai generasi multibahasa yang berdaya saing tinggi di tingkat global.
Langkah ke Depan: Kolaborasi Akademik dan Riset
Pertemuan ini tidak hanya berfokus pada rencana pembukaan Prodi Bahasa Mandarin, tetapi juga membuka peluang kolaborasi akademik yang lebih luas. Bidang yang dijajaki meliputi riset linguistik terapan dalam pengajaran bahasa asing berbasis teknologi digital, kajian sastra perbandingan antara sastra Indonesia dan sastra Tiongkok modern, serta pengembangan kurikulum bersama dengan dukungan asosiasi Prodi Bahasa Mandarin se-Indonesia dan jejaring universitas mitra di Tiongkok.
Kesepahaman awal ini menegaskan komitmen FPBS UPI untuk menghadirkan Prodi Bahasa Mandarin yang tidak hanya menjawab kebutuhan pasar kerja, tetapi juga memperkuat riset internasional serta berkontribusi pada pencapaian SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

