Ranca Bali, 15 Agustus 2025 – Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer dan Program Studi Ilmu Komputer FPMIPA UPI bekerja sama dengan BEM KEMAKOM (Keluarga Mahasiswa Komputer) menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat berupa workshop bagi guru SD dan SMP di Desa Indragiri, Kecamatan Ranca Bali. Kegiatan ini mengusung tema “Transformasi Digital Pendidikan: Peran AI dan Informatika dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Abad 21.”

Workshop ini tidak hanya berfokus pada peningkatan literasi digital para guru, tetapi juga selaras dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui penguatan kompetensi guru dalam informatika dan kecerdasan buatan, kegiatan ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan memperluas akses pada praktik pembelajaran inovatif yang berbasis teknologi. Selain itu, penerapan AI dalam pendidikan juga sejalan dengan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) yang mendorong pemanfaatan teknologi mutakhir untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan di daerah.

Workshop menghadirkan dua narasumber utama. Enjun Junaeti, M.Si. membawakan tema “Informatika sebagai Pondasi Berpikir Logis dan Kreatif dalam Pembelajaran Abad 21,” yang menekankan pentingnya informatika sebagai landasan pengembangan pola pikir sistematis, logis, dan kreatif pada siswa. Sementara itu, Herbert, M.T. menyampaikan materi “Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Media dan Strategi Pembelajaran Inovatif,” yang memberikan wawasan tentang bagaimana AI dapat membantu guru merancang media pembelajaran adaptif dan kontekstual sesuai kebutuhan siswa.

Melalui kolaborasi ini, kegiatan pengabdian masyarakat juga mencerminkan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yaitu kerja sama antara perguruan tinggi, organisasi mahasiswa, dan masyarakat sekolah untuk bersama-sama mewujudkan transformasi digital pendidikan di Indonesia.

Dalam sesi pembuka, Enjun Junaeti, M.Si. mengajak peserta terlibat aktif melalui sejumlah aktivitas interaktif yang dirancang khusus. Usai pemaparan singkat dan tayangan konseptual, para guru diajak menebak kata-kata tersembunyi dari simbol-simbol unik serta menggambar objek yang tersusun dari lingkaran dan persegi. Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi tentang makna pola pikir logis dan kreatif. Selain itu, peserta juga mengikuti simulasi menyusun ulang “parcel mini” sebagai ilustrasi konkret dari esensi berpikir komputasional, yang menjadi landasan cara berpikir para ilmuwan komputer.

Pada awalnya sebagian besar peserta tampak ragu untuk mencoba, merasa takut salah atau belum sepenuhnya fokus terhadap kegiatan. Situasi tersebut tidak menyurutkan semangat pemateri. Dengan pendekatan yang sabar dan penuh motivasi, Enjun terus mendorong peserta untuk berani mencoba tanpa rasa takut. Ia menekankan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar, dan keberanian untuk mencoba adalah langkah awal menuju pemahaman yang lebih dalam.

Menjelang akhir sesi, suasana berubah drastis. Seluruh peserta secara spontan mulai memberikan respons aktif, menunjukkan antusiasme dan keterlibatan yang tinggi. “Saya menyadari pentingnya membangun pola pikir sejak dini di setiap kegiatan pembelajaran”, ungkap seorang guru memberikan kesannya saat pelaksanaan workshop. 

Di bagian akhir penyampaian materi Enjun memberikan renungan: “Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi fasilitator yang mampu menciptakan ruang aman bagi siswa untuk bereksplorasi dan mengekspresikan pengetahuannya, inilah yang fase awal berpikir kritis”. Momen ini menjadi titik balik yang penting, sekaligus penegasan dari narasumber bahwa seorang pendidik abad 21 harus memiliki kreativitas, kesabaran, dan kemampuan untuk membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik.

Setelah sesi narasumber pertama berakhir, workshop selanjutnya diisi oleh Herbert. Interaksi yang pertama kali ia lakukan kepada peserta workshop dengan bertanya: “menurut bapak/ibu pada bagian manakah cara menyiram pohon mangga yang paling baik? Tanah, batang, atau daun?”. Dengan pendekatan tersebut narasumber memulai pembicaraan dan mengajak peserta berdiskusi secara aktif, sambil mengklarifikasi jawaban peserta.

Hampir seluruh peserta tidak ada yang menjawab “daun”, pemateri menegaskan untuk kembali mengenali dampak yang timbul pada tanaman setelah terkena hujan beberapa hari sebelumnya. Dia menyatakan “nah akan muncul tunas-tunas baru bukan? Hal itu terjadi karena permukaan daun menjadi bersih dan secara otomatis proses fotosintesis menjadi sempurna. Jadi jawabannya adalah daun”, tuturnya.

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan penayangan slide informatif mengenai perkembangan terkini kecerdasan buatan yang kini merambah hampir seluruh aspek kehidupan. Dalam paparannya, narasumber menyampaikan berbagai contoh aplikasi AI yang relevan dan dapat dimanfaatkan dalam konteks pembelajaran, baik oleh guru maupun peserta didik.

Untuk kalangan pendidik, narasumber menyoroti potensi Generative AI (seperti ChatGPT, Copilot, dan Google NotebookLM) sebagai media diskusi yang efektif dalam mendukung proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Teknologi ini dinilai mampu membantu guru menyusun konten yang lebih adaptif, merancang strategi pembelajaran yang kontekstual, serta melakukan refleksi terhadap hasil belajar secara lebih sistematis.

Sementara itu, bagi peserta didik, pemateri mendorong para guru untuk berani merancang penugasan yang bersifat mendalam dan menantang daya pikir kritis. Salah satu contoh konkret yang diberikan adalah tugas yang meminta siswa untuk mengemukakan alasan atau pendapat berdasarkan berbagai pertimbangan, bukan sekadar menyampaikan definisi atau pengertian. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun kemampuan argumentatif dan memperkuat rasa ingin tahu siswa dalam proses belajar.

Sebelum mengakhiri sesi pemaparan, narasumber memberikan demonstrasi langsung mengenai cara kerja aplikasi kecerdasan buatan TeachableMachine, yang dapat dimanfaatkan untuk klasifikasi atau penentuan kategori objek secara otomatis. Dalam simulasi tersebut, ia menggunakan dua kelompok data latih: beberapa gambar kuda dimasukkan ke dalam kelas “A”, sementara sejumlah gambar kunci dikategorikan sebagai kelas “B”.

Setelah data latih dimasukkan, aplikasi secara otomatis membangun model klasifikasi berbasis pembelajaran mesin. Model ini kemudian memungkinkan pengguna untuk menguji gambar baru yang belum pernah dikenali sebelumnya. Ketika gambar baru dimasukkan, sistem akan menganalisisnya dan secara otomatis menentukan apakah gambar tersebut termasuk dalam kelas “A” atau “B”, berdasarkan pola yang telah dipelajari dari data latih.

Sebagai penutup Herbert, tak lupa secara khusus juga memberikan “kadeudeuh” kepada peserta yang secara aktif memberikan respon pada saat kegiatan berlangsung. Semoga pendidikan Indonesia maju dan terus berkembang untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Amin.

Dampak kegiatan ini langsung dirasakan oleh para guru di Desa Indragiri. Para peserta workshop mendapatkan keterampilan baru dalam mengintegrasikan informatika dan AI ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari, sehingga mereka lebih percaya diri dalam mengajar dengan pendekatan kreatif dan berbasis teknologi. Bagi siswa, manfaatnya terlihat pada meningkatnya kesempatan untuk belajar dengan cara yang lebih interaktif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan abad 21. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas, inklusif, dan berdaya saing global.

Kontributor: Enjun Junaeti