Bandung, 3 Oktober 2025 — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menegaskan komitmennya dalam pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan riset. Dalam kegiatan Diseminasi Hasil Riset Kolaborasi LPTK Indonesia (RKLI) 2025, UPI berkolaborasi dengan Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Negeri Medan (UNIMED) menggelar webinar bertajuk “Memberdayakan Perempuan dan Pembelajaran Inklusif dari Cerita Rakyat hingga Ruang Publik.”

Isu pemberdayaan perempuan diangkat karena menjadi tantangan penting dalam dunia pendidikan, budaya, dan masyarakat global. Kegiatan daring ini berlangsung pada Jumat (3/10) pukul 09.00–11.30 WIB dan diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan, antara lain mahasiswa S1, S2, dan S3, dosen, peneliti, mitra pendidikan, masyarakat umum, serta perwakilan mahasiswa internasional dari University of Malaya, Malaysia.

Acara dipandu oleh Amirush Shaffa Fauzia, S.Pd., M.Pd., dan dibuka oleh Dr. Suharyadi, S.Pd., M.Pd., Ketua Departemen Sastra Inggris UM, yang menekankan pentingnya kolaborasi riset lintas kampus.

“Kolaborasi ini bukan hanya bermanfaat bagi akademisi, tetapi juga berdampak langsung bagi mahasiswa dan masyarakat luas,” ujarnya.

Webinar menghadirkan tiga narasumber dengan tema berbeda yang saling melengkapi, yaitu:

Dr. Nurenzia Yannuar, Ph.D. (UM) yang membahas representasi gender dalam lanskap linguistik ruang publik di Jakarta dan Malang. Ia menyoroti bagaimana bahasa dalam papan nama, iklan, dan simbol kota mengandung ideologi gender. “Ruang publik seharusnya menjadi ruang inklusif, tempat setiap identitas dan suara berhak ditampilkan,” tegasnya.

Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd. (UPI), Guru Besar Sosiologi Sastra FPBS UPI, menyoroti kekuatan cerita rakyat sebagai media pemberdayaan perempuan. Dengan mencontohkan kisah Keong Mas dan Dayang Senandung, ia menjelaskan bahwa tubuh dan kecantikan perempuan sering menjadi arena simbolik perlawanan terhadap patriarki. “Cerita rakyat mengajarkan perempuan untuk bertahan dan menang dalam pertarungannya,” jelasnya.

Dr. Tengku Ratna Soraya, M.Pd. (UNIMED) tema yang dibahas yaitu, tantangan siswi muslim Indonesia dalam pembelajaran bahasa asing di era digital. Ia memperkenalkan Lingua Safe, aplikasi pembelajaran berbasis konten islami yang ramah gender dan inklusif. “Inovasi ini bukan hanya memudahkan belajar bahasa asing, tetapi juga menciptakan ruang aman bagi siswi untuk percaya diri,” paparnya.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Salah satu topik menarik adalah peran cerita rakyat dalam membentuk persepsi gender, khususnya melalui tokoh Candra Kirana dalam Keong Mas.

Prof. Yulianeta menekankan pentingnya membaca ulang narasi tradisional dengan perspektif kritis agar perempuan dapat menemukan kekuatan dalam kisah budaya. Sementara itu, Dr. Nurenzia menambahkan bahwa bahasa di ruang publik seharusnya mencerminkan inklusivitas, bukan memperkuat dominasi gender.

Pertanyaan peserta menyoroti bagaimana narasi budaya dapat diintegrasikan dalam kurikulum modern serta bagaimana pendidikan inklusif mampu menutup kesenjangan antara masyarakat kota dan desa. Diskusi juga menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar wacana, melainkan isu nyata yang perlu dijawab melalui riset dan kolaborasi lintas kampus.

Kegiatan ini menegaskan bahwa isu gender, bahasa, dan pendidikan inklusif merupakan kebutuhan nyata dalam menghadapi tantangan global. Kolaborasi tiga LPTK—UM, UPI, dan UNIMED—menunjukkan bahwa riset bersama dapat melahirkan solusi inovatif berbasis budaya lokal dan teknologi modern yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 5 (Kesetaraan Gender).

Melalui kegiatan RKLI ini, pendidikan tinggi Indonesia memperkuat peran strategisnya sebagai ruang perubahan sosial menuju sistem yang lebih adil, setara, dan inklusif. Rekomendasi dari forum ini antara lain penguatan riset lintas disiplin, pengembangan materi pembelajaran inklusif, serta pemanfaatan teknologi untuk menciptakan pendidikan yang ramah gender dan berkeadilan sosial.

Kontributor: Neta dan Icha