Bandung, UPI – Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) telah sukses menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Calon Wisudawan Gelombang 3 Tahun 2025, Senin, (13/10). Acara yang krusial ini dirancang sebagai bekal bagi para lulusan FPIPS agar mereka mampu bersikap adaptif, unggul, dan siap bersaing di dunia kerja yang semakin kompleks pasca-kampus.
Dalam sesi pembekalan yang penuh wawasan, Dr. Aang Witarsa, M.Si., memberikan arahan yang menegaskan bahwa prospek karir bagi lulusan FPIPS tidak terbatas hanya di sektor pendidikan. Dr. Aang menekankan bahwa meskipun latar belakang keilmuan berasal dari universitas yang berfokus pada pendidikan, para calon wisudawan memiliki peluang yang sangat terbuka untuk mengembangkan karir di berbagai bidang non-pendidikan, dengan potensi besar terutama di lingkungan pemerintahan.


Selanjutnya, Bapak Dr. Ir. Dede Farhan Aulawi, MM., CHT., memaparkan materi penting tentang kewirausahaan sebagai alternatif karir yang strategis. Beliau mendefinisikan wirausaha sebagai Pencipta lapangan kerja, bukan pencari kerja. Hal ini disoroti mengingat era globalisasi dan digital menuntut generasi muda untuk menjadi adaptif dan inovatif, seiring dengan tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif. Tujuan utama dari mengedepankan kewirausahaan adalah untuk Mempersiapkan diri agar unggul, mandiri, dan siap bersaing pasca lulus.

Peluang untuk berwirausaha sangat luas dan terbuka di berbagai sektor, termasuk teknologi, kuliner, fashion, pertanian modern, digital marketing, dsb.. Jiwa wirausaha dicirikan dengan beberapa atribut penting, yaitu kreatif dan inovatif, tangguh terhadap risiko, visioner, mampu memimpin dan mengelola tim, serta tahan banting.

Bapak Dr. Ir. Dede Farhan Aulawi, MM., CHT., juga menyoroti realitas yang mencerminkan perbedaan kualitas antara calon karyawan Indonesia dan luar negeri saat dihadapkan pada pertanyaan mengenai ekspektasi gaji. Ia memaparkan bahwa karyawan Indonesia cenderung langsung memberikan nominal gaji yang diinginkan, seperti menjawab “7 juta pak” (atau sebagainya). Kontrasnya, karyawan dari luar negeri akan menjawab dengan lebih berorientasi pada kinerja, misalnya, “Berikan saja saya 3 bulan untuk saya mengerjakan tugas-tugasnya. Jika hasil pekerjaan saya memuaskan, anda bisa langsung menggaji saya”. Realitas ini menjadi bahan renungan yang ditekankan dalam pembahasan sebagai tolak ukur tingkat kualitas dan kepercayaan diri yang membedakan karyawan Indonesia dengan karyawan luar negeri.

Lebih lanjut, sesi ini memperkuat pemahaman tentang Konsep Karir, yang didefinisikan sebagai perjalanan profesional seseorang dari waktu ke waktu. Karir dimaknai tidak hanya sekadar pekerjaan, tetapi juga menyangkut panggilan, kompetensi, dan kontribusi sosial. Karir didukung oleh empat pilar, yaitu Minat dan bakat, Nilai-nilai pribadi, Keterampilan dan pengalaman, serta Peluang pasar kerja.
Para calon wisudawan juga diberikan pemahaman mendalam mengenai Tantangan Pekerjaan di Era Industri 4.0 & Society 5.0, yang dikenal sebagai Era Disrupsi Teknologi. Diproyeksikan bahwa peran manusia sebagian akan digantikan oleh mesin/robot/AI. Data menunjukkan bahwa 75,375 Juta tenaga kerja global beralih profesi (McKinsey, 2024), dan 1,8 Juta pekerjaan digantikan oleh Artificial Intelligence (Gartner, 2024). Disrupsi ini menegaskan bahwa teknologi akan melahirkan berbagai profesi yang saat ini belum ada. Oleh karena itu, Indonesia perlu berupaya meningkatkan kualitas keterampilan tenaga kerja yang selaras dengan teknologi digital (Pernyataan ILO).

Visi Indonesia 2045 yang Berdaulat, Maju, Adil dan Makmur akan dicapai melalui empat pilar pembangunan: Pembangunan Manusia dan Penguasaan IPTEK, Pembangunan Ekonomi yang Berkelanjutan, Pemerataan Pembangunan, serta Ketahanan Nasional dan Tata Kelola Kepemerintahan. Dengan pembekalan yang komprehensif ini, FPIPS UPI berharap para calon wisudawan dapat menjadi lulusan yang adaptif, inovatif, berjiwa wirausaha, dan mampu berkontribusi maksimal untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

Kontributor: FPIPS UPI