
Bandung, UPI
Masa usia dini merupakan Pondasi paling berharga dalam kehidupan manusia, karena pada fase ini pendidikan dan pengasuhan memberikan dampak berganda terhadap pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya (UNESCO, 2010). Tidak hanya menentukan keberhasilan akademik, usia dini juga membentuk integritas kepribadian, kecerdasan sosial-emosional, serta kualitas sumber daya manusia yang kelak menjadi pilar bangsa.
Guru Besar UPI bidang bimbingan perkembangan anak, Prof. Dr. Ernawulan Syaodih, M.Pd menyoroti kualitas dukungan keluarga, sekolah, dan masyarakat pada masa awal sangat menentukan daya adaptasi anak menghadapi tantangan kehidupan.
“Bimbingan perkembangan pada anak usia dini berfokus pada pendampingan yang membantu anak menemukan, mengekspresikan, dan mengelola potensinya secara optimal dengan cara personal dan responsif,” ujar Prof. Ernawulan pada Upacara Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025 di Gedung Achmad Sanusi Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Kota Bandung. Selasa (4/11/2025).
Ia menekankan bahwa layanan bimbingan ini bukanlah konseling formal di ruang khusus, melainkan proses pendampingan yang melekat dalam keseharian anak, baik di rumah maupun di sekolah.
Prof. Ernawulan menjelaskan, bimbingan (dukungan emosional) dan pembelajaran (dukungan kognitif) bukanlah dua hal terpisah. Keduanya menyatu secara alami melalui aktivitas bermain.

“Esensi bermain adalah menyatukan dimensi emosional dan dimensi kognitif dalam satu aktivitas yang menyenangkan sekaligus bermakna,” tegasnya.
Menurutnya, bermain tidak dapat direduksi sekadar sebagai kegiatan rekreatif. Bermain adalah strategi pedagogis dan psikologis yang integratif.
“Dalam bermain, bimbingan tampak ketika guru atau orang tua memberi ruang ekspresi dan validasi emosi. Sementara pembelajaran hadir saat mengenalkan konsep, seperti sains saat menyusun balok atau numerasi melalui permainan pasar-pasaran,” jelas Prof. Ernawulan.
Melalui bermain, anak tidak hanya belajar konsep, tetapi juga mengenali diri, memahami orang lain, membangun regulasi emosi, dan menyelesaikan konflik.
Lebih lanjut, Prof. Ernawulan menyatakan bahwa esensi bimbingan bukanlah “memperbaiki anak” agar sesuai ekspektasi orang dewasa, melainkan menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan penuh penerimaan.
Untuk itu, diperlukan gerakan kolektif dari berbagai pihak.
“Guru harus hadir sebagai pembimbing dan fasilitator. Orang tua harus menjadi teladan dan sahabat sejati yang menghadirkan kehangatan dalam keseharian,” paparnya.

Ia juga mendorong akademisi dan pembuat kebijakan untuk mengembangkan model bimbingan yang inklusif, adil, dan kontekstual yang berpijak pada budaya lokal. Sementara masyarakat berperan menciptakan ekosistem yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak.
“Dengan sinergi ini, bimbingan perkembangan akan membentuk manusia seutuhnya yang percaya diri, resilien, berempati, dan siap menghadapi tantangan kehidupan, tidak hanya sekadar menyiapkan anak untuk sekolah,” pungkasnya. (DN/Rija)

