
Bandung, UPI
Tercatat, sebanyak seratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen dan tendik di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengikuti kegiatan Yoga dan Seminar “Healthy Harmony: Seimbangkan Piringmu, Seimbangkan Pikiranmu”. Kegiatan ini diinisiasi oleh UPT Layanan Kesehatan UPI, berlangsung pada Selasa, (4/11/2025) di Auditorium Gedung JICA Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), Kampus UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung.
Hadir Dosen Program Studi Gizi Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) UPI Ahmad Hisbullah Amrinanto, S.Gz, M.Si., sebagai pemateri dalam Seminar Gizi. Adapau materi yang disampaikannya adalah Fuel Your Fitness: Rahasia Asupan Tepat, Defisit Kalori Aman, dan Olahraga Untuk Performa Maksimal.

Dalam paparannya, Ahmad Hisbullah Amrinanto mengingatkan kepada kita untuk memahami energi tubuh, karena tubuh itu ibarat mesin, butuh bahan bakar untuk bekerja optimal. Untuk diketahui, energi berasal dari makanan, terdiri atas karbohidrat, protein, dan lemak. Ditegaskannya,”Demi menjaga keseimbangan performa dan berat badan, maka kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara energi masuk dengan energi yang keluar.”
Untuk menciptakan defisit kalori dengan aman, lanjutnya, maka kurangi 10% hingga 20% dari kebutuhan energi harian. Gabungkan pengaturan asupan dengan aktivitas fisik. Fokus pada kehilangan lemak, bukan otot. Ingat, cepat belum tentu sehat, yang penting berkelanjutan.
Dikatakannya,”Terapkanlah menu seimbang harian, gunakan pola Isi Piringku. Menu terbaik adalah yang bisa dijalankan secara terus menerus, kemudian bangun kebiasaan makan konsisten, fokus pada pola, bukan pantangan. Terapkan prinsip 80/20 Rule, yaitu 80% sehat dan 20% fleksibel. Perkuat dengan tidur cukup, kelola stres, dan makan dengan sadar atau mindful eating. Dengan demikian, kunci keberhasilannya adalah konsistensi dan kenyamanan.”
Lebih lanjut Ahmad menjelaskan bahwa energi berfungsi sebagai bahan bakar tubuh. Energi adalah bahan bakar yang memungkinkan tubuh manusia untuk berfungsi secara optimal. Tanpa energi, jantung tidak dapat berdetak, otot tidak bisa bergerak, dan otak tidak mampu berpikir dengan baik. Energi diperoleh dari makanan yang kita konsumsi setiap hari.

“Sumber energi berasal dari karbohidrat, lemak, dan protein. Energi yang masuk dari makanan akan diubah oleh tubuh menjadi ATP (adenosine triphosphate), yaitu bentuk energi kimia yang dapat langsung digunakan oleh sel. ATP ini menjadi mata uang energi untuk berbagai aktivitas, seperti menjaga fungsi organ vital seperti jantung, paru, dan otak; mengatur suhu tubuh; menggerakkan otot untuk aktivitasharian maupun olahraga; dan mendukung proses perbaikan jaringan dan pertumbuhan,” ungkapnya.
Diungkapkan lebih lanjut bahwa faktor penentu kebutuhan energi terdiri atas Basal Metabolic Rate (BMR), yaitu jumlah energi (kalori) minimum yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi-fungsi dasar saat istirahat total, seperti bernapas, sirkulasi darah, dan menjaga suhu tubuh. Kedua, Physical Activity Level yaitu tingkat aktivitas fisik seseorang yang diukur dengan rasio pengeluaran energi harian total (TEE) dibandingkan dengan pengeluaran energi saat istirahat (REE).
Ketiga, Thermic Effect of Food (TEF) yaitu jumlah energi yang dibutuhkan tubuh untuk mencerna, menyerap, dan memetabolisme makanan yang kita makan. Peningkatan laju metabolisme setelah mengonsumsi makanan. Keempat, faktor tambahan, yaitu pertumbuhan, hamil, suhu, penyakit.
Sementara itu, lanjutnya, untuk melakukan defisit kalori yang aman dan efektif, dalam konteks pengaturan berat badan, maka defisit kalori yang dimaksud adalah jumlah energi yang masuk lebih kecil daripada energi yang dikeluarkan tubuh. “Harus dilakukan secara terukur dan aman, karena energi tidak hanya dibutuhkan untuk bergerak, tetapi juga untuk menjaga fungsi vital seperti pernapasan, kerja otot jantung, dan fungsi otak. Defisit 10% sampai 20% dari total kebutuhan energi harian aman dan efektif menghasilkan penurunan berat badan sekitar 0,25– 0,5 kg per minggu,” ungkapnya.
Adapun resiko jika melakukan defisit terlalu ekstrem yaitu berdampak pada fisiologis, seperti penurunan massa otot, gangguan metabolisme, gangguan hormone, dan penurunan densitas tulang. Kemudian dampaknya terhadap performa dan kesehatan yaitu cepat merasakan lelah, daya tahan menurun, pemulihan otot lambat setelah latihan, resiko cedera meningkat, gangguan konsentrasi dan mood, serta terjadinya penurunan system imun sehingga mudah sakit.
Oleh karena itu, lanjutnya, siapkan strategi untuk mencapai defisit aman dengan memprioritaskan makanan padat gizi, kontrol porsi makan, fokus pada protein, dan batasi makanan ultra proses dan gula tinggi.
“Tingkatkan aktivitas fisik dengan olahraga teratur, kombinasikan latihan aerobic dengan latihan kekuatan, serta bergerak lebih aktif. Tidur 7 sampai 9 jam per hari, hindari begadang dan hindari stress berlebihan,” pungkasnya.
Kesehatan fisik dan mental merupakan dua aspek yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam mewujudkan kesejahteraan hidup. Dalam lingkungan akademik, keseimbangan tersebut menjadi hal yang sangat penting, tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga bagi dosen dan tenaga kependidikan yang berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran dan pelayanan di kampus.
Pola makan yang tidak seimbang, kurangnya aktifitas fisik serta tekanan pekerjaan dan akademik seringkali menjadi faktor yang menurunkan kualitas kesehatan dan produktivitas civitas akademika. Sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat secara menyeluruh, maka UPT Layanan Kesehatan UPI menyelenggarakan kegiatan HEALTHY HARMONY – Seimbangkan Piringmu – Seimbangkan Pikiranmu yang memadukan edukasi gizi seimbang dengan praktek yoga relaksasi. (dodiangga)



