Bandung, UPI — Seminar Nasional Pendidikan Vokasional (SENAVOK) 2025 diselenggarakan pada 12 November 2025 di Balai Pertemuan UPI, Universitas Pendidikan Indonesia, sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis UPI ke-71. Kegiatan yang diikuti lebih dari 300 peserta dan melibatkan 82 pemakalah ini menjadi forum strategis bagi pemerintah, akademisi, industri, dan guru SMK untuk membahas penguatan pendidikan vokasional melalui integrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Seminar Utama (Keynote Session) menjadi ruang penting bagi pemangku kepentingan pendidikan vokasi untuk menyatukan visi mengenai masa depan SMK di era kecerdasan buatan. Sesi ini memperlihatkan bagaimana pemerintah, akademisi, dan industri berdiri pada satu titik pandang yang sama: transformasi digital adalah kebutuhan mendesak yang harus dijawab bersama.

Pembicara pertama dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Dr. Sulistio Mukti Cahyono, S.E, M.B.A, membuka diskusi dengan paparan berbasis data mengenai ketidaksesuaian kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan industri. Ia mengungkapkan bahwa kesenjangan kurikulum masih menjadi akar persoalan yang harus segera ditangani.

“Sering kita dengar lulusan SMK kompetensinya tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Itu pasti terjadi karena desain kurikulum berlaku nasional, sementara kondisi setiap daerah berbeda,” tegasnya.

Paparan Dr. Sulistio memperlihatkan perlunya SMK melakukan penyelarasan berbasis data, mulai dari pemetaan kompetensi hingga tracer study. Pendekatan berbasis bukti ini menjadi dasar bagi kementerian dalam menyiapkan kebijakan vokasi yang terarah, termasuk integrasi pembelajaran coding dan AI dalam kurikulum nasional sebagaimana amanat Permendikdasmen No.13/2025.

Isu tersebut kemudian mengalir pada fokus berikutnya: peran guru dalam implementasi transformasi digital. Melalui sambungan daring, perwakilan Direktorat GTK, Ibu Neng Siti Saadah, S.Si., M.B.A., menekankan bahwa guru SMK adalah aktor utama yang akan menentukan keberhasilan penguatan kompetensi digital siswa. Kebijakan perubahan kurikulum tidak akan berjalan tanpa peningkatan kapasitas guru, terutama dalam literasi digital, kecerdasan buatan, dan pedagogi berbasis teknologi.

Pandangan dari pemerintah pusat ini disambut oleh perspektif daerah. Perwakilan Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dr. Firman Oktora, S.Si., M.Pd., M.Kom., menyoroti pentingnya memastikan kesiapan infrastruktur digital di sekolah serta memperkuat sinergi dengan industri lokal. Hal tersebut menunjukkan bahwa transformasi vokasi tidak bisa hanya dilakukan di tingkat pusat, kesiapan daerah menjadi faktor kunci dalam pemerataan kualitas.

Selanjutnya, kontribusi akademisi turut memperkaya arah diskusi. Prof. Lala Septem Riza, M.T., Ph.D., peneliti big data UPI, menunjukkan bagaimana pemanfaatan AI dan machine learning dapat mengoptimalkan asesmen, personalisasi pembelajaran, hingga pengambilan keputusan di sekolah. Pemaparannya memberikan gambaran konkret bagaimana teknologi dapat menjadi alat pengungkit peningkatan mutu SMK, bukan sekadar tren teknologi semata.

Perspektif industri kemudian menutup rangkaian paparan dengan nada yang menguatkan urgensi perubahan. Dr. Muhammad Subhan Iswahyudi, M.Eng, PCC, ACTC., dari Telkom Corporate University menekankan bahwa kompetensi digital tidak lagi menjadi nilai tambah, melainkan standar minimal dalam dunia kerja. Industri kini mencari lulusan yang mampu menggabungkan keterampilan teknis dengan kemampuan problem solving berbasis digital.

Alur pemaparan para narasumber tersebut semakin kokoh ketika dikaitkan dengan pesan Rektor UPI, Prof. Didi Sukyadi yang telah disampaikan pada sesi pembukaan. Ia memperingatkan bahwa perubahan dunia kerja sangat cepat dan tidak menunggu kesiapan lembaga pendidikan.

“Saat ini kita mengalami perubahan dunia kerja yang luar biasa… banyak pekerjaan hilang dan muncul pekerjaan baru yang menuntut penguasaan teknologi seperti AI, algoritma, dan coding,” ungkapnya.
“Kalau guru SMK tidak menguasai coding atau algoritma, tentu akan kesulitan mengajarkannya kepada para siswa,”  tambahnya.

Dengan saling menguatkan satu sama lain, seluruh paparan dalam Keynote Session SENAVOK 2025 membentuk gambaran utuh mengenai arah baru pendidikan vokasi Indonesia: kurikulum harus relevan, guru harus kompeten secara digital, sekolah harus didukung infrastruktur memadai, dan industri harus menjadi mitra strategis. (CS)