
Bandung, UPI
Program Studi (Prodi) Magister Pariwisata Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil menggelar seminar internasional yang bertajuk, “The 1st Global Forum on Regenerative Tourism.” Forum yang berfokus pada pariwisata berkelanjutan dan regeneratif ini dilaksanakan di Auditorium Gedung Sekolah Pascasarjana Baru UPI dan menarik perhatian 126 peserta dari Indonesia dan mancanegara. Rabu, (3/12/2025).
Acara yang merupakan implementasi kolaboratif mata kuliah Manajemen MICE ini dibuka oleh Prof. Dr. Juntika, M.Pd., didampingi Ketua Prodi Magister Pariwisata Dr. Ahmad Hudaeby Galihkusumah, serta dimoderatori oleh oleh Dr. Gitasiswhara. Serta menghadirkan pembicara kunci internasional ternama seperti Prof. Mohd Hafiz Hanafiah (UiTM), Dr. Jane Chen (James Cook University, Australia), dan Kudratbek Makhmudov, Ph.D. (Universitas Pedagogis Negeri Chirchik, Uzbekistan).
Prof. Mohd Hafiz Hanafiah dari UiTM Malaysia memaparkan hasil penelitiannya berjudul “Masa Depan Pariwisata Dari Adopsi Ai Hingga Sistem Destinasi Regeneratif”. Ia menyampaikan bahwa artificial intelegence penting dalam pariwisata, saat pada tahun 2024 bernilai 3 Miliar USD, diproyeksikan akan tumbuh menjadi sekitar 13–14 Miliar USD pada tahun 2030. Mengadopsi AI akan tumbuh secara eksponensial, dapat membentuk kembali praktik, struktur, dan mekanisme penciptaan nilai di industri pariwisata. Kematangan adopsi AI sangat bervariasi di berbagai negara, berdasarkan tren umum inovasi AI didorong oleh kebijakan, bukan oleh pengguna.Pada negara-negara maju (Republik Korea, Republik Rakyat Tiongkok) mereka memiliki infrastruktur yang kuat dan kerangka kerja yang terstruktur. Namun pada negara-negara berkembang (Malaysia, Indonesia, Peru) memerlukan kesiapan yang terfragmentasi walaupun memiliki potensi inovasi yang kuat. Berdasarkan wawasan lintas ekonomi kemajuan AI memerlukan dukungan pemerintah, kemitraan teknologi, ekosistem startup, industri kreatif. Namun saat ini terdapat hambatan dari adanya kesenjangan digital, disparitas infrastruktur, kurangnya literasi AI, koordinasi yang terfragmentasi. Oleh karena itu kebutuhan yang paling mendasar adalah diperlukannya peningkatan kapasitas dan keterampilan.
Terdapat risiko inovasi tak terlihat dan terlihat, untuk risiko yang terlihat contohnya adalah adanya investasi AI besar-besaran di seluruh APEC (analitik, otomatisasi, penetapan harga, logistik). namun, sebagian besar inovasi masih berada di balik layar untuk meningkatkan efisiensi, bukan pengalaman. pariwisata “digital, bukan cerdas”: kios, menu QR, robot yang tidak mentransformasi perjalanan. Sehingga muncul pertanyaan bagaimana mengukur keberhasilan teknologi. Sedangkan Risiko inovasi tak terlihat adalah adanya kesenjangan dari investasi yang tidak terdampak dimana wisatawan tidak merasakan manfaat AI, sehingga maka AI tak terlihat mengikis kepercayaan publik dan dianggap abstrak, korporat, atau manipulatif. Oleh karena itu diperlukan ajakan bertindak denga menghadirkan AI untuk menjadikan terlihat, adaptif, dan berpusat pada wisatawan. Pada dasarnya AI dalam pariwisata harus bersifat eksperiensial, bukan hanya operasional. Hal ini praktiknya dengan menyesuaikan ekspektasi wisatawan saat mereka mencari perjalanan yang dipersonalisasi (rencana perjalanan yang disesuaikan, wawasan lokal), menjadi panduan adaptif (AI yang merespons preferensi secara real-time), dan membuat pengalaman yang mulus (di mana hambatan seperti antrean, penerjemahan, atau perencanaan yang buruk menghilang). Ekspektasi ini mencerminkan pergeseran yang semakin tinggi di antara para wisatawan dari konsumsi pasif menuju pengalaman yang bermakna, bertanggung jawab, dan memulihkan dengan demikian maka pariwisata regeneratif penting di masa depan yang digerakkan oleh AI.

Destinasi Wisata membutuhkan AI yang dapat memulihkan ekosistem dengan memprediksi tekanan terhadap alam dan mengotomatiskan pemantauan lingkungan dengan memberdayakan masyarakat melalui pengembangan keterampilan, distribusi nilai yang adil, dan inovasi berbasis lokal. Tentunya perlu diperkuat tata kelola dengan mengintegrasikan data langsung ke dalam pengambilan keputusan, manajemen daya dukung, dan pengelolaan destinasi. Hal ini dapat mentransformasi wisatawan melalui jalur personal yang menyoroti alam, budaya, dan kontribusinya. Jelas bahwa batas berikutnya bukan hanya pariwisata cerdas, tetapi kompetensi komunikasi antarbudaya sebagai katalisator pariwisata regeneratif
Dr. Jane Chen memaparkan presentasi hasil risetnya bersama Prof Denis Tolkach, dan Prof Monica Jurin, James Cook University dari negara Australia dengan judul “Menelaah Interaksi Antara Musim Pariwisata dan Keberlanjutan di Cairns: Bagaimana Musim dan Keberlanjutan Membentuk Pilihan Wisatawan. Berdasarkan penelitiannya destinasi wisata Cairns di negara Australia mengalami musim kemarau dan musim hujan yang berbeda, yang secara signifikan memengaruhi jumlah pengunjung dan dinamika pariwisata. Hal ini menimbulkan tantangan pariwisata berkelanjutan dimana pada musim puncak pariwisata menyebabkan kepadatan berlebih dan tekanan lingkungan, sementara musim sepi berisiko menyebabkan pemanfaatan ekonomi yang kurang optimal. Ia dan timnya menganalisis faktor-faktor pengambilan keputusan wisatawan yang mempertimbangkan atribut musim, harga, dan keberlanjutan saat memilih waktu dan destinasi perjalanan dengan menggunakan teori pilihan diskrit, studi ini memodelkan preferensi pariwisata untuk membantu manajemen destinasi berkelanjutan. Berdasarkan temuan awal dan implikasi ditemukan bahwa terdapat faktor-faktor utama keputusan perjalanan, seperti biaya dan cuaca mendominasi pilihan perjalanan, sementara keberlanjutan juga memengaruhi kelompok wisatawan tertentu. Kebangsaan dapat mempengaruhi preferensi dan pentingnya keberlanjutan dalam keputusan perjalanan. Ia memaparkan pentingnya menentukan strategi pemasaran dan pengelolaan, untuk pemasaran tertarget yang menekankan keberlanjutan dan insentif di luar musim dapat menyeimbangkan arus pengunjung dan mengurangi dampak. Dengan membuat ukuran sampel yang kecil dalam studi percontohan membatasi kekuatan statistik dan generalisasi hasil. Serta mperluas pengumpulan data dengan membuat rencana ke depan berfokus pada peningkatan data untuk mencapai sampel yang representatif demi temuan yang lebih andal.
Ia dengan adanya keterbatasan melakukan analisis mendalam untuk mengeksplorasi perbedaan budaya dan menyempurnakan tugas pilihan berdasarkan umpan balik. Serta meengembangkan model prediktif yang memiliki tujuan jangka panjang untuk menciptakan model yang memandu kebijakan dan strategi pemasaran pariwisata berkelanjutan. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengambilan keputusan wisatawan melibatkan keseimbangan yang kompleks antara faktor musiman dan praktik berkelanjutan yang memengaruhi pilihan perjalanan, dimana wisatawan menilai berbagai faktor, meningkatkan pemahaman tentang preferensi perjalanan. Demografi pun seperti kebangsaan membentuk preferensi wisatawan, memengaruhi bagaimana destinasi mengelola permintaan dan keberlanjutan. Mendukung manajemen pariwisata berkelanjutan, dengan wawasan untuk membantu pengelola destinasi mempromosikan keberlanjutan dan secara efektif mengelola permintaan wisatawan musiman untuk kelangsungan jangka panjang.

Kudratbek Makhmudov, Ph.D. dari Universitas Pedagogis Negeri Chirchik, Uzbekistan, memaparkan materi berjudul “Dari Berkelanjutan ke Regeneratif: Mengapa Manusia dan Budaya Penting”. Ia memaparkan bahwa pariwisata regeneratif bergerak melampaui fokus keberlanjutan dalam meminimalkan dampak buruk. Pariwisata regeneratif mengajukan pertanyaan transformatif tentang bagaimana destinasi dapat berkembang melalui pariwisata, memperkuat identitas budaya, dan menginspirasi kebanggaan masyarakat. Regenerasi sepenuhnya bergantung pada hubungan, dan hubungan membutuhkan komunikasi. Setiap interaksi seperti percakapan di pasar, sambutan di wisma, tur berpemandu membentuk atmosfer emosional destinasi.
Menurut hasil penelitiannya pariwisata regeneratif membutuhkan jutaan interaksi mikro yang saling menghormati setiap tahun. Kita membutuhkan orang-orang yang memahami budaya, menjelaskan nilai-nilai dengan jelas, dan menjembatani perbedaan. Kompetensi komunikasi antarbudaya jauh melampaui kemampuan berbahasa asing. Kompetensi ini memungkinkan komunikasi yang efektif dan tepat melintasi batas budaya melalui empat dimensi esensial yaitu pengetahuan budaya dapat emahami norma, nilai, dan pandangan dunia komunikasi yang berbeda. Hal ini pun memerlukan keterampilan untuk mendengarkan secara aktif, dengan mengajukan pertanyaan yang bermakna, mengklarifikasi kesalahpahaman, dan mengadaptasi gaya komunikasi. Tentunya memerlukan kesadaran merefleksikan asumsi budaya kita sendiri dan bagaimana asumsi tersebut membentuk interpretasi dan sikap yaitu rasa ingin tahu, empati, rasa hormat, dan keterbukaan terhadap perbedaan. Pada dasarnya komunikasi bersifat budaya, bukan hanya Linguistik
Pada dasarnya kompetensi antarbudaya memicu pariwisata regeneratif yang dapat mempengaruhi pengunjung dan membentuk tindakan mereka secara mendalam. Kemudian meningkatkan kepekaan budaya, dimana pemandu menjelaskan norma dengan hormat, bukan sebagai batasan dengan memperhatikan etika lingkungan dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai alat untuk membentuk perilaku berkelanjutan. Terdapat peran pendidikan pariwisata menciptakan generasi profesional regeneratif.
Heri PD Setiyorini, PhD memaparkan penelitian bersama Caria Ningsih, Dewi Turgarini dari Prodi Magister Pariwisata UPI, dan kolaborasi risetnya bersama Dr. Jane Chen dari James Cook University dengan judul “Pariwisata diaspora dan implikasinya dalam pariwisata berkelanjutan & regeneratif”. Pariwisata diaspora mengacu pada aktivitas perjalanan dan pariwisata individu atau komunitas yang merupakan bagian dari diaspora, yang berarti mereka tinggal jauh dari tanah air leluhur atau sejarah mereka. Bentuk pariwisata ini dicirikan oleh keinginan untuk terhubung dengan akar, warisan, dan budaya seseorang, yang seringkali didorong oleh rasa memiliki atau identitas.

Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh data bahwa pengalaman pariwisata diaspora secara signifikan membentuk hubungan kembali dengan tanah air, rasa memiliki, dan penguatan identitas. Pemicu utamanya adalah interaksi emosional, kognitif, dan berbasis warisan budaya, pertama yaitu pembelian suvenir sebagai efek mediasi memiliki hubungan dengan keberlanjutan, terutama dalam mendukung pengrajin lokal, mempromosikan produk budaya, dan memperkuat ekonomi lokal. Kedua adanya identitas budaya dan pembelian suvenir sebagai variabel mediasi memiliki pengaruh signifikan terhadap keberlanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku keberlanjutan dibentuk oleh proses budaya dan simbolik. Ketiga pariwisata diaspora sebagai agen keberlanjutan sosial dan budaya.
Penelitian ini memiliki kontribusi teoretis untuk mengintegrasikan pariwisata diaspora, teori budaya material, dan model keberlanjutan. Serta meningkatkan pemahaman artefak dalam konstruksi identitas. Menyorot simbolisme budaya sebagai pendorong perilaku berkelanjutan. Juga memiliki implikasi praktis dan kebijakan dimana kunjungan diaspora dapat dimanfaatkan untuk inisiatif pelestarian budaya, sebagai berikut; pertama industri suvenir dan kerajinan berperan sebagai mitra strategis keberlanjutan, dengan perlunya kebijakan untuk mendukung pengrajin lokal, untuk mempromosikan artefak budaya autentik dan memperkuat program keterlibatan diaspora. Terdapat jalur menuju pariwisata regeneratif dengan tujuan untuk memulihkan, meremajakan, dan meningkatkan destinasi wisata, dengan fokus pada dampak positif jangka panjang terhadap lingkungan, komunitas lokal, dan perekonomian. Pariwisata Regeneratif melampaui keberlanjutan dengan berkontribusi aktif terhadap kesejahteraan ekosistem dan komunitas lokal.
Terdapat tantangan dan pertimbangan, terdapat risiko disonansi pasca pembelian, di mana wisatawan mungkin merasa menyesal atau kecewa setelah membeli suvenir, yang dapat memengaruhi kepuasan mereka secara keseluruhan dan perilaku pembelian di masa mendatang. Memastikan keaslian dan kualitas suvenir sangat penting untuk mempertahankan dampak positif bagi komunitas lokal dan menghindari komodifikasi. Serta trinketisasi mengacu pada proses di mana suvenir, yang seringkali diproduksi secara massal dan kurang autentik, menjadi sekadar pernak-pernik, alih-alih representasi bermakna dari budaya dan warisan suatu destinasi. Fenomena ini dapat menyebabkan beberapa dampak negatif, baik bagi wisatawan maupun destinasi yang mereka kunjungi. Kesimpulan pariwisata diaspora memainkan peran penting dalam membentuk identitas budaya, praktik keberlanjutan, pembelian suvenir memperdalam makna budaya dan tanggung jawab jangka panjang, menawarkan wawasan baru tentang pembangunan pariwisata berkelanjutan di Indonesia.
Setelah itu dilakukan parallel sesson yang diikuti secara hybrid dengan tema-tema pariwisata regeneratif yang dapat berdampak pada pariwisata di Indonesia dan mancanegara di masa mendatang. (Kontributor Dewi Turgarini)

