
Bandung, UPI — Di balik gemerlap panggung Miss & Mister Jawa Barat 2025, para finalis berdiri tegang menanti penilaian. Namun bagi Dr. Asri Wibawa Sakti, S.Pd., M.Pd., sorotan tidak semata tertuju pada busana, rias wajah, atau gestur panggung. Baginya, ajang ini adalah ruang pendidikan— tempat karakter, etika, dan kecerdasan diuji bersamaan dengan estetika.
Dosen Program Studi Pendidikan Tata Busana Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu dipercaya menjadi juri Miss & Mister Jawa Barat 2025, sebuah ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Komite Penyelenggara Ajang Modeling dan Generasi Jabar Juara yang berlangsung pada 15 November 2025 di Studio TVRI Jawa Barat, Bandung.
Dari Ruang Kelas ke Panggung Nasional
Penunjukan Dr. Asri sebagai juri bukanlah proses instan. Ia melalui mekanisme seleksi profesional yang ketat—mulai dari rekomendasi tokoh industri fashion dan kecantikan, penilaian portofolio, hingga pertimbangan integritas akademik. Pengalaman lebih dari 15 tahun sebagai pendidik vokasi, konsultan kecantikan, pelatih grooming, koreografer, serta pembina berbagai ajang Pageant menjadi landasan kuat kepercayaan tersebut.
“Kompetisi seperti ini tidak boleh berhenti pada penampilan luar,” ujar Dr. Asri dalam wawancara melalui pesan singkat. Menurutnya, Pageant ideal adalah ruang pembelajaran yang menumbuhkan kepercayaan diri, kecakapan komunikasi, etika sosial, serta keberpihakan pada budaya lokal.
Pandangan itu tercermin dalam perannya selama rangkaian pra-karantina hingga karantina intensif. Ia tidak hanya duduk di kursi juri, tetapi juga hadir sebagai pemateri, membimbing finalis memahami personal branding yang sehat, etika publik, dan tanggung jawab sosial sebagai representasi generasi muda Jawa Barat.
Dukungan Institusi dan Tanggung Jawab Akademik
Kiprah Dr. Asri di luar kampus mendapat dukungan penuh dari UPI dan FPTI. Dukungan tersebut hadir dalam bentuk pengakuan kompetensi profesional dosen, fasilitasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dukungan administratif, hingga penguatan jejaring dengan industri kreatif dan komunitas fashion Jawa Barat.

Bagi Dr. Asri, dukungan institusi bukan sekadar formalitas. “Setiap kali saya hadir sebagai juri, saya membawa nama UPI dan standar akademik yang harus dijaga,” katanya. Karena itu, integritas penilaian dan pendekatan edukatif menjadi prinsip utama yang ia pegang.
Apresiasi terhadap kontribusi ini juga datang dari penyelenggara, yang menilai kehadiran Dr. Asri dan UPI memberi warna baru pada kualitas penyelenggaraan Miss & Mister Jawa Barat—lebih berorientasi pada pendidikan karakter, pariwisata, dan budaya.
Pageant sebagai Ruang Edukasi
Di mata Dr. Asri, Pageant bukan sekadar kompetisi kecantikan. Ia melihatnya sebagai medium strategis untuk membina generasi muda yang berdaya saing, beretika, dan berakar pada budaya daerah. Harapannya, ke depan kolaborasi antara pendidikan vokasi, pemerintah daerah, dan industri kreatif dapat semakin diperluas.
Ia juga berharap kualitas pembinaan peserta terus meningkat—tidak hanya dari sisi estetika, tetapi juga kecerdasan, komunikasi, dan karakter. Lebih jauh, kiprahnya di luar kampus diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa.
“Pendidik vokasi tidak hanya mengajar di kelas,” ujarnya. “Kami juga punya tanggung jawab hadir di masyarakat, memberi contoh bahwa ilmu dan keahlian bisa berdampak nyata.”
Di balik gemerlap panggung Miss & Mister Jawa Barat, Dr. Asri Wibawa Sakti menegaskan satu hal: pendidikan dapat hadir di mana saja—bahkan di balik sorot lampu dan tepuk tangan penonton. (RK)

