Jakarta, UPI — International Symposium and Workshop on Sustainable Buildings, Cities, and Communities (SBCC) 2025 digelar di Grand Ballroom Hotel Mercure, Jakarta, Senin (15/12). Forum internasional ini mengangkat tema “A Sustainable Cooling for Cities: Designing for Hot and Humid Climates” sebagai upaya mendorong solusi pendinginan berkelanjutan bagi kota-kota beriklim panas dan lembap.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Pusat Unggulan Universitas Material dan Energi Bangunan Rendah Emisi (PUU MEB) ini menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri dengan latar belakang akademisi, praktisi industri, serta pemerintah yang diwakili oleh Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah.

Dalam sambutannya, Fahri Hamzah menyoroti besarnya tantangan sektor perumahan nasional, khususnya backlog hunian yang masih tinggi. Ia menyebut pemerintah menargetkan pembangunan dan renovasi tiga juta rumah per tahun, namun menegaskan bahwa pembangunan tersebut harus memperhatikan kualitas, ketahanan bangunan, dan keberlanjutan lingkungan.


“Indonesia perlu menyiapkan rumah bagi rakyatnya dengan standar yang baik. Perumahan tidak hanya untuk tempat tinggal, tetapi untuk membangun kehidupan, keluarga, dan generasi masa depan,” ujar Fahri Hamzah.

SBCC 2025 menjadi wadah berbagi pengetahuan, riset, dan praktik inovatif untuk menjawab tantangan iklim global dan lokal. Forum ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan UPI melalui PUU MEB dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor serta mempromosikan langkah konkret menuju lingkungan binaan yang rendah karbon, tangguh, dan layak huni.

Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., mengatakan tema pendinginan berkelanjutan sangat relevan bagi kota-kota tropis yang menghadapi peningkatan suhu, fenomena urban heat island, serta tekanan pada sistem energi dan kesehatan publik.


“Masalah kota panas dan lembap tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan. Diperlukan solusi terintegrasi yang menggabungkan teknologi, desain, material, perilaku masyarakat, dan tata kelola,” kata Didi Sukyadi saat membuka acara.

Acara ini diselenggarakan PUU MEB bekerja sama dengan para mitra, Berbagai lembaga akademik, organisasi profesional, instansi pemerintah, pelaku industri, serta arsitek terkemuka—termasuk pelopor teknologi atap dan rumah dingin.

Ketua Konferensi SBCC 2025, Ar. Dr. Eng. Beta Paramita, IAI., GP., menjelaskan bahwa simposium ini dirancang untuk mempertemukan seluruh pemangku kepentingan guna mencari solusi kolektif yang aplikatif. Menurutnya, isu pendinginan berkelanjutan sangat berdampak pada masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah yang paling rentan terhadap perubahan iklim.


“Kami ingin rekomendasi yang dihasilkan tidak rumit, mudah dipahami, dan bisa langsung diterapkan oleh masyarakat serta pengambil kebijakan,” ujar Beta Paramita

Tahun ini, SBCC 2025 membahas sejumlah topik utama, antara lain pendinginan pasif dalam konteks tropis, material dan teknologi responsif iklim, bentuk kota dan perencanaan tata ruang untuk pendinginan, adaptasi komunitas dan perilaku, efisiensi energi, tata kelola dan kolaborasi pentahelix, serta pemanfaatan data dan pemodelan untuk pendinginan tropis.

Selain mendorong kolaborasi lintas sektor, SBCC 2025 juga berkontribusi terhadap kinerja universitas melalui target luaran publikasi ilmiah yang terindeks jurnal dan prosiding Scopus serta. Forum ini diharapkan dapat memperkuat upaya bersama dalam membangun kota dan hunian yang lebih sejuk, berkelanjutan, serta tahan terhadap dampak perubahan iklim. (RK)