
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali mencatatkan capaian akademik membanggakan dengan dilantiknya dua profesor baru. Dengan penambahan tersebut, jumlah guru besar UPI kini mencapai 250 profesor, sebuah angka yang melampaui target awal institusi yang menargetkan proporsi guru besar sekitar 10 persen dari total dosen yang dimiliki. Penyerahan Surat Keputusan sebagai Guru Besar dilaksanakan di Ruang Rapat Partere Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Rabu (7/1/2026)
Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi M.A menyampaikan rasa syukur atas pencapaian tersebut. Menurutnya, bertambahnya jumlah guru besar merupakan modal strategis untuk memperkuat kinerja UPI, khususnya dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat
Selain penambahan jumlah, pelantikan kali ini juga menjadi sorotan karena salah satu profesor yang dilantik merupakan guru besar termuda, yakni pada usia 35 tahun. Capaian ini dinilai sebagai hal yang langka dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi UPI. Rektor berharap prestasi tersebut dapat menjadi inspirasi serta membuka peluang lahirnya profesor-profesor muda lainnya di lingkungan kampus
“Ini merupakan pencapaian yang jarang terjadi. Mudah-mudahan tidak hanya berhenti pada satu orang, tetapi akan lahir kembali guru besar-guru besar termuda lainnya di UPI,” ujarnya.
Lebih lanjut, dengan bertambahnya jumlah guru besar, UPI menargetkan peningkatan signifikan pada kinerja riset, publikasi ilmiah, serta hilirisasi hasil penelitian. Peningkatan tersebut diharapkan berdampak langsung pada kenaikan berbagai indikator kinerja utama (IKU) universitas.
Prof. Dr. Dadang Sunendar selaku Ketua Dewan Guru Besar menyatakan rasa syukur atas bertambahnya jumlah guru besar di lingkungan UPI. Menurutnya, capaian ini menunjukkan perkembangan signifikan kualitas sumber daya manusia akademik UPI.
“Yang pertama tentu bersyukur karena guru besar kita bertambah menjadi 250. Ini sudah jauh melebihi target awal, yaitu sekitar 10 persen dari jumlah dosen yang kita miliki,” ujar Prof. Dadang.
Ia menegaskan, kehadiran guru besar baru menjadi kekuatan strategis dalam meningkatkan kinerja UPI, khususnya pada pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Lebih lanjut, Prof. Dadang juga menyoroti salah satu profesor yang dilantik, yakni Prof. Eka, yang resmi menyandang gelar guru besar pada usia 35 tahun, menjadikannya salah satu profesor termuda di Indonesia.
“Kita bersyukur memiliki guru besar termuda. Ini merupakan hal yang jarang terjadi dan mudah-mudahan bisa menjadi bagian dari rekor MURI sekaligus capaian institusi,” ungkapnya.
Ia berharap prestasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi dosen-dosen lainnya untuk terus meningkatkan kapasitas akademik dan produktivitas keilmuannya, sehingga akan lahir lebih banyak guru besar muda di masa mendatang.
“Dengan bertambahnya guru besar ini, kita berharap kinerja riset dan publikasi meningkat, hilirisasi semakin kuat, dan capaian IKU UPI juga ikut naik,” pungkas Prof. Dadang.
Dalam kesempatan yang sama Prof. Dr. Mustika Fitri menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan budaya olahraga masyarakat setelah resmi meraih jabatan profesor dengan bidang kepakaran Sosiologi Olahraga dan Masyarakat Berbasis Gender.
Dalam keterangannya, Prof. Mustika menyampaikan bahwa kepakaran yang ia tekuni bukanlah bidang baru, melainkan telah dibangun sejak lama. Sejak akhir dekade 1980-an, ia telah aktif sebagai instruktur dan terlibat langsung dalam pembinaan olahraga di tengah masyarakat. Pengalaman panjang tersebut memperkuat pendekatan akademik yang ia kembangkan hingga saat ini
“Bidang sosiologi, olahraga, dan masyarakat ini sudah saya bina sejak masih muda. Saya bergaul langsung dengan pengelola dan pelaku olahraga di masyarakat, sehingga memahami kebutuhan riil di lapangan,” ujarnya.
Salah satu fokus utama Prof. Mustika adalah peningkatan angka partisipasi masyarakat dalam berolahraga. Menurutnya, olahraga harus dipandang sebagai kebutuhan dasar dan kewajiban hidup, bukan sekedar aktivitas tambahan. Ia menekankan pentingnya kebiasaan berolahraga secara rutin minimal tiga hingga empat kali dalam sepekan sebagai syarat untuk hidup sehat dan panjang umur.
Ke depan, Prof. Mustika berencana menginisiasi berbagai program yang bertujuan menggerakkan masyarakat agar lebih aktif berolahraga. Program tersebut akan dirancang berbasis kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi dan kepengurusan olahraga di tingkat masyarakat.
Selain itu, ia juga menargetkan dapat terlibat lebih strategis dalam struktur kepengurusan olahraga. Menurutnya, posisi yang kuat dalam pengambilan kebijakan sangat penting agar gagasan dan program pengembangan olahraga masyarakat dapat diimplementasikan secara luas dan berdampak nyata
“Harapan saya, kebijakan yang dihasilkan nantinya benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat,” tutupnya.
Pelantikan dua profesor baru ini menegaskan komitmen UPI dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia unggul serta memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi yang berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. (Rija/DN)

