
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan seminar bertajuk “Menggali Potensi Pedagogik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai Pengalaman Belajar di Sekolah Dasar” pada Kamis (23/4) di Auditorium B Lantai 4 FPBS UPI. Kegiatan ini menjadi bagian dari peluncuran gagasan dan Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan kerangka pedagogik dalam implementasi program MBG di satuan pendidikan.
Seminar ini dihadiri oleh akademisi, peneliti, perwakilan pemerintah, guru, serta mahasiswa. Kegiatan tersebut bertujuan menggali potensi program MBG agar tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai pengalaman belajar yang mampu membentuk karakter dan kebiasaan positif siswa sejak dini.
Ketua pelaksana seminar, Prof. Ika Lestari Damayanti, M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa program MBG memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang kontekstual. Aktivitas makan di sekolah dinilai dapat menjadi ruang edukasi untuk menanamkan nilai tanggung jawab, kebersamaan, serta kesadaran akan pola hidup sehat.
“Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar pemenuhan nutrisi, tetapi dapat menjadi pengalaman belajar yang menumbuhkan kesadaran akan konsumsi sehat, tanggung jawab, serta nilai-nilai kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, UPI juga meluncurkan gagasan Kerangka Pedagogik Program Makan Bergizi Gratis sebagai Pengalaman Belajar di Sekolah. Gagasan ini merupakan hasil penelitian berbasis kebutuhan nyata di lapangan yang diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan (policy brief) bagi pemerintah dan satuan pendidikan. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya mendukung peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga memperkuat upaya pembentukan kebiasaan hidup sehat di kalangan peserta didik.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., menjelaskan bahwa inisiatif ini dilatarbelakangi oleh perlunya integrasi nilai pedagogis dalam pelaksanaan program MBG yang selama ini masih berfokus pada aspek pemenuhan gizi.
“Kami melihat program MBG sudah berjalan, tetapi belum sepenuhnya memuat nilai pedagogis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menghasilkan panduan agar MBG menjadi aktivitas yang bermakna dan mampu membangun karakter siswa,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh pemerintah sebagai bahan rekomendasi kebijakan, tetapi juga oleh sekolah dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Kolaborasi antara universitas, pemerintah, dan satuan pendidikan menjadi faktor penting dalam memastikan program ini berjalan efektif dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, UPI menegaskan perannya dalam menghadirkan inovasi pendidikan berbasis riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Upaya ini sekaligus mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang berkelanjutan tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan generasi yang sehat, berkarakter, dan adaptif terhadap tantangan masa depan. (RK)

