
Suara dari screen reader terdengar berulang di dalam ruang ujian itu—cepat, ritmis, dan penuh tekanan. Raisa Narendra mencoba menenangkan napasnya. Dengan bantuan pendamping dari Divisi Difusi Inklusi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jari-jarinya bergerak hati-hati di atas keyboard, sementara degup jantungnya tak kalah cepat dari suara soal yang dibacakan di balik earphone yang terpasang di telinga. Di kursi tak jauh darinya, Salis merasakan hal yang sama: tegang namun penuh harapan. Bagi mereka, Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di UPI hari Kamis, 23 April 2026 bukan sekadar ujian, Ini adalah pertaruhan mimpi.
Raisa dan Salis, dua siswa tunanetra dari SLB Negeri A Citeureup Cimahi, datang ke UPI dengan satu tujuan yang sama—melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri. Di balik langkah mereka hari itu, ada perjalanan panjang yang tak sederhana.
Sejak pagi, mereka telah berangkat dari Cimahi. Didampingi Yasir, guru yang telah mengabdikan diri sejak 2015, keduanya membawa lebih dari sekadar kesiapan akademik—mereka membawa doa, dukungan keluarga, dan keberanian untuk melampaui keterbatasan.
Di dalam ruang ujian, ketegangan menjadi hal yang tak terelakkan. Raisa mengaku, momen itu menjadi salah satu yang paling menantang dalam hidupnya.
“Rasanya sangat menegangkan. Tadi sempat deg-degan dan stres, tapi sekarang sudah lebih lega setelah selesai,” ujarnya dengan nada ringan setelah keluar dari ruangan.
Salis, di sisi lain, masih menyimpan kegelisahan yang belum usai.
“Deg-degannya masih ada, karena hasilnya belum keluar,” katanya jujur.
Bagi keduanya, ujian ini bukan hanya tentang menjawab soal. Mereka harus “mendengar” setiap pertanyaan melalui teknologi pembaca layar, lalu merespons dengan ketelitian ekstra. Bantuan dari pendamping hanya sebatas teknis, seperti membantu menemukan tombol tertentu.
“Soalnya didengarkan. Kalau ada yang tidak tahu letaknya, baru dibantu,” jelas Salis.
Namun, di balik keterbatasan itu, tersimpan tekad yang kuat. Raisa memiliki alasan yang begitu personal mengapa ia memilih Pendidikan Khusus.
“Saya ingin kembali ke sekolah saya nanti, mengajar di SLB,” ungkapnya.
Sementara Salis melihat pendidikan sebagai jalan untuk memperluas dirinya.
“Saya ingin lebih bisa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan banyak orang,” katanya.
Perjalanan mereka tidak lepas dari peran keluarga. Sebelum berangkat, pesan sederhana namun bermakna diberikan orang tua mereka.
“Jangan terburu-buru dan tetap semangat,” kata Raisa, mengingat pesan yang ia terima.
“Yang penting sudah berusaha maksimal,” tambah Salis, mengulang nasihat yang ia pegang erat.
Di balik itu semua, ada sosok Muhammad Yasir yang menjadi penguat di setiap langkah mereka. Sebagai guru sekaligus alumni UPI, ia memahami betul jalan yang sedang ditempuh anak didiknya.
Ia tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga menanamkan mental dan keyakinan. Program pemantapan, latihan penggunaan teknologi hingga penguatan konsep menjadi bagian dari perjuangan yang ia bangun bersama para siswa.
“Yang penting mereka siap, terutama mental. Anak-anak biasanya tegang. Jadi saya lebih banyak menguatkan mereka, meminta mereka rajin solat, berdoa, mendekatkan diri kepada Allah. Ikhtiar dan doa harus berjalan bersama,” tuturnya.
Hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam di dalam ruang ujian. Namun bagi Raisa dan Salis, perjalanan menuju kursi itu telah ditempuh selama bertahun-tahun—melalui latihan yang tak mudah, keterbatasan yang harus diterima, dan keberanian untuk terus melangkah.
Di luar ruangan, langkah mereka kembali terdengar pelan. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada perayaan. Hanya napas yang mulai tenang, dan harapan yang masih menggantung di antara kemungkinan.
Raisa memilih percaya bahwa jalan hidupnya akan membawanya kembali ke tempat ia berasal—sebagai seseorang yang kelak bisa memberi cahaya bagi yang lain. Sementara Salis, dengan segala kegelisahannya, tetap memegang satu keyakinan sederhana: bahwa usaha tidak pernah sia-sia.
Di sisi mereka, Muhammad Yasir berdiri sebagai saksi sekaligus penguat. Ia tahu, perjuangan ini tidak berhenti di hari itu. Namun ia juga percaya, setiap langkah kecil yang mereka ambil hari ini adalah bagian dari masa depan yang lebih besar.
“Yang penting mereka sudah berusaha maksimal,” begitu prinsip yang ia tanamkan.
Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari perjuangan ini berada—bukan pada hasil akhir semata, tetapi pada keberanian untuk mencoba, meski dunia tidak selalu memberi kemudahan.
Dalam sunyi yang mereka jalani, Raisa dan Salis telah membuktikan satu hal: bahwa mimpi tidak membutuhkan penglihatan untuk bisa terlihat. (RK)

