Pagi belum sepenuhnya terang ketika perjalanan dimulai dari Cimahi menuju Bandung Utara. Di dalamnya, tersimpan harapan besar yang tak selalu terlihat oleh mata. Muhammad Yasir, seorang guru dari SLB Negeri A Citeureup Cimahi, telah bersiap sejak dini hari. Bersama dua siswanya, ia menembus dinginnya pagi demi satu tujuan: mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) hari Kamis, 23 April 2026 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Bagi Yasir, perjalanan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ada ikatan emosional yang lebih dalam. Ia sendiri adalah alumni UPI, lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) angkatan 2007 yang menyelesaikan studinya pada 2011. Kini, lebih dari satu dekade kemudian, ia kembali ke kampus yang sama—bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai pendamping perjuangan anak didiknya.

Sejak 2015, Yasir mengabdikan diri sebagai guru di SLB Citeureup Cimahi. Pengalamannya sebagai guru pendamping di sekolah inklusi sebelumnya membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan: bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki peluang yang sama untuk berkembang.

Hari itu, ia mendampingi dua siswa tunanetra: Raisa Narendra dan Salis. Keduanya datang dengan mimpi besar yang mereka rajut dalam keterbatasan. Raisa menargetkan Pendidikan Agama Islam di UPI sebagai pilihan utama, sementara Salis menjadikan Pendidikan Khusus UPI sebagai pilihan keduanya.

Perjalanan menuju ruang ujian mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi mereka, ada persiapan panjang yang tak terlihat. Yasir menjelaskan bahwa tantangan terbesar bukanlah mobilitas, melainkan aspek teknis pembelajaran.

“Anak-anak kami menggunakan komputer berbasis NVDA yang mengandalkan suara. Itu harus terus dilatih,” ujarnya.

Selain itu, perbedaan kurikulum antara sekolah luar biasa dan sekolah reguler menjadi tantangan tersendiri. Untuk menjembataninya, pihak sekolah memberikan program pemantapan sejak akhir kelas 11 hingga awal kelas 12. Tambahan jam belajar diberikan agar siswa mampu mengejar ketertinggalan dan bersaing dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

Usaha itu perlahan membuahkan hasil. Sejak 2023, siswa dari SLB tersebut mulai mengikuti UTBK. Pada tahun berikutnya, beberapa di antaranya berhasil lolos ke perguruan tinggi negeri, termasuk UPI.

“Artinya, kalau dilatih sejak dini, anak-anak disabilitas juga punya peluang yang sama,” kata Yasir dengan nada penuh keyakinan.

Kini, harapan kembali bertumpu pada Raisa dan Salis. Keduanya memilih jalur pendidikan yang mencerminkan impian mereka. Namun, di balik ambisi itu, Yasir menyadari bahwa perjuangan terbesar bukan hanya soal akademik, melainkan mental.

“Anak-anak biasanya tegang. Jadi saya lebih banyak menguatkan mereka, meminta mereka berdoa, mendekatkan diri kepada Allah. Ikhtiar dan doa harus berjalan bersama,” tuturnya.

Saat Raisa dan Salis tengah berjuang di dalam ruang ujian, Yasir hanya bisa duduk menunggu di luar dengan harapan yang tak putus. Sebagai guru, ia tentu ingin melihat siswanya berhasil menembus perguruan tinggi negeri. Namun, ia juga menanamkan pemahaman bahwa hasil bukanlah satu-satunya tujuan.

 “Kalau belum berhasil, masih ada jalur lain. Yang penting mereka sudah berusaha maksimal,” katanya.

Lebih dari sekadar ujian masuk perguruan tinggi, perjalanan ini adalah tentang keberanian melawan batas diri. Tentang keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.

Di akhir percakapan, Yasir menyampaikan pesan yang sederhana namun penuh makna, khususnya bagi para penyandang disabilitas yang masih ragu melangkah.

“Jangan patah hati, jangan malu, dan tetap semangat. Di balik kekurangan, pasti ada kelebihan. Jangan mudah menyerah.”

Di tengah riuhnya UTBK dan ribuan peserta yang bersaing, kisah mereka mungkin tak banyak terdengar. Namun justru di sanalah letak kekuatannya—sebuah perjuangan sunyi yang mengajarkan arti keteguhan, harapan, dan kemanusiaan. (RK)